Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Juhu Singkah, Sayur Umbut Rotan Khas Dayak yang Menyimpan Cita Rasa Hutan Kalimantan

istikhomah • Senin, 13 Juli 2026 | 18:05 WIB
Semangkuk Juhu Singkah dengan umbut rotan muda dan ikan sungai khas masyarakat Dayak di Kalimantan. (BTV/AI)
Semangkuk Juhu Singkah dengan umbut rotan muda dan ikan sungai khas masyarakat Dayak di Kalimantan. (BTV/AI)
Durasi Baca: 7 Menit

Topik: Kuliner tradisional Dayak berbahan umbut rotan yang mencerminkan kearifan pangan hutan Kalimantan

Ikhtisar: Artikel ini membahas keunikan Juhu Singkah, hubungan masyarakat Dayak dengan hutan, serta peluangnya menjadi ikon kuliner Kalimantan yang autentik.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Juhu Singkah, sayur tradisional berbahan umbut rotan muda khas masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Barat, menjadi salah satu warisan kuliner yang menunjukkan bagaimana hutan selama ratusan tahun bukan hanya menjadi tempat hidup, tetapi juga sumber pangan yang dijaga keberlanjutannya.

Di tengah ramainya makanan modern dan tren kuliner kekinian, hidangan sederhana ini justru menyimpan cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa. Ada budaya, pengetahuan lokal, sekaligus cara hidup yang tumbuh bersama alam, Ces!

Baca Juga: Nasi Subut, Kuliner Tradisional Tana Tidung yang Memadukan Nasi, Jagung, dan Ubi Ungu

Proses membersihkan umbut rotan muda sebelum dimasak menjadi Juhu Singkah tradisional. (BTV/AI)
Proses membersihkan umbut rotan muda sebelum dimasak menjadi Juhu Singkah tradisional. (BTV/AI)

Bagaimana rotan bisa berubah menjadi hidangan khas masyarakat Dayak?

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, rotan identik dengan bahan baku kursi, keranjang, atau perabot rumah tangga. Namun di dapur masyarakat Dayak, tanaman yang tumbuh liar di hutan Kalimantan itu memiliki fungsi lain yang mungkin terdengar tidak biasa, yakni menjadi bahan makanan sehari-hari. Bagian yang digunakan bukan batang tuanya, melainkan umbut atau inti batang rotan muda yang masih lunak dan berwarna putih kekuningan setelah lapisan luarnya dikupas.

Umbut rotan memiliki tekstur yang renyah menyerupai rebung, tetapi menawarkan karakter rasa yang berbeda. Ada sedikit pahit alami yang langsung terasa saat disantap, namun justru itulah ciri khas yang membuat Juhu Singkah memiliki identitas kuat di tengah ragam kuliner Nusantara. Bagi masyarakat Dayak, rasa tersebut bukan dianggap kekurangan, melainkan bagian dari keseimbangan rasa yang memberikan sensasi segar dan membuat hidangan terasa lebih hidup.

Dalam beberapa komunitas Dayak, umbut rotan bahkan memiliki nama yang berbeda sesuai bahasa lokal yang digunakan. Masyarakat Dayak Ngaju mengenalnya sebagai Juhu Singkah, sementara sebagian komunitas Dayak lainnya memiliki penyebutan tersendiri untuk bahan pangan yang sama. Meski nama berbeda, makna yang dibawanya tetap serupa, yakni kedekatan masyarakat adat dengan hutan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mengapa pemanfaatan umbut rotan dianggap memiliki nilai budaya yang kuat?

Juhu Singkah bukan sekadar menu makan siang atau pelengkap lauk di meja makan keluarga. Hidangan ini mencerminkan cara masyarakat Dayak memandang alam sebagai mitra kehidupan yang harus dijaga, bukan sekadar sumber daya yang bisa diambil tanpa batas. Karena itu, pengambilan rotan untuk kebutuhan pangan dilakukan secara selektif agar tanaman tetap dapat tumbuh kembali dan hutan tetap terjaga keberlangsungannya.

Prinsip semacam ini sebenarnya sudah dipraktikkan masyarakat adat jauh sebelum istilah keberlanjutan atau pembangunan ramah lingkungan menjadi pembahasan global seperti sekarang. Apa yang diambil dari hutan harus seimbang dengan apa yang dijaga untuk generasi berikutnya. Filosofi tersebut masih terasa kuat dalam berbagai tradisi masyarakat Dayak hingga hari ini.

Tidak mengherankan jika banyak peneliti budaya dan pemerhati pangan lokal menilai kuliner tradisional seperti Juhu Singkah sebagai bagian penting dari pengetahuan lokal yang perlu dipertahankan. Sebab yang diwariskan bukan hanya resep masakan, tetapi juga cara pandang terhadap lingkungan dan sumber pangan lokal yang semakin jarang ditemukan di berbagai daerah Indonesia.

Baca Juga: Rahasia Dapur Sate Payau Tetap Eksis Kulineran Tanpa Melanggar Hukum Perlindungan Satwa

Juhu Singkah kuah santan dengan rempah dan ikan sungai yang menggugah selera. (BTV/AI)
Juhu Singkah kuah santan dengan rempah dan ikan sungai yang menggugah selera. (BTV/AI)

Seperti apa proses memasak Juhu Singkah secara tradisional?

Mengolah Juhu Singkah membutuhkan proses yang jauh lebih panjang dibanding memasak sayur biasa. Umbut rotan muda harus dibersihkan terlebih dahulu dari duri dan lapisan keras di bagian luar sebelum dipotong tipis agar teksturnya menjadi lebih lembut ketika dimasak. Setelah itu, umbut rotan direbus beberapa saat untuk mengurangi rasa pahit yang terlalu kuat sekaligus membuat seratnya menjadi lebih empuk.

Setelah proses awal selesai, masyarakat Dayak biasanya memasaknya bersama berbagai bahan pendamping yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan mereka. Ikan sungai seperti patin atau baung menjadi pasangan yang paling umum karena mampu memberikan rasa gurih alami yang berpadu dengan segarnya umbut rotan. Selain itu digunakan pula rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, serai, lengkuas, hingga cabai untuk memperkaya aroma masakan.

Sebagian daerah memilih menggunakan santan agar kuah terasa lebih gurih dan lembut. Namun ada pula yang mempertahankan kuah bening sehingga karakter asli umbut rotan tetap menjadi rasa dominan dalam hidangan tersebut. Variasi ini membuat Juhu Singkah memiliki banyak versi tanpa kehilangan identitas utamanya sebagai sayur khas berbahan umbut rotan muda dari hutan Kalimantan.

Mengapa Juhu Singkah masih jarang ditemukan di luar Kalimantan?

Meski memiliki keunikan yang sulit ditemukan di daerah lain, Juhu Singkah hingga kini masih tergolong kuliner yang jarang muncul di restoran besar atau pusat kuliner nasional. Salah satu penyebab utamanya adalah bahan baku yang tidak mudah diperoleh karena membutuhkan rotan muda segar yang umumnya hanya tersedia di kawasan hutan Kalimantan.

Selain persoalan distribusi, cita rasa pahit alami dari umbut rotan juga membutuhkan proses adaptasi bagi sebagian orang yang baru pertama kali mencobanya. Selera masyarakat perkotaan yang lebih terbiasa dengan rasa gurih atau manis membuat kuliner seperti ini belum memiliki pasar yang terlalu luas di luar daerah asalnya.

Faktor lain yang membuat Juhu Singkah tetap eksklusif adalah proses pewarisan resep yang masih berlangsung di lingkungan keluarga atau komunitas adat. Banyak pengetahuan memasak yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi sehingga penyebarannya berjalan lebih lambat dibanding makanan yang diproduksi secara massal oleh industri kuliner modern.

Akibatnya, Juhu Singkah lebih sering ditemukan dalam acara adat, pertemuan keluarga besar, maupun rumah makan tradisional tertentu di wilayah pedalaman Kalimantan. Justru karena itulah pengalaman mencicipinya terasa jauh lebih berkesan bagi banyak orang.

Bisakah Juhu Singkah menjadi ikon wisata kuliner Kalimantan?

Tren wisata beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa wisatawan mulai mencari pengalaman yang lebih autentik, termasuk dalam urusan makanan. Mereka tidak lagi hanya mencari rasa yang enak, tetapi juga cerita, budaya, serta identitas daerah yang melekat pada sebuah hidangan.

Dalam konteks tersebut, Juhu Singkah memiliki modal yang sangat kuat. Tidak banyak daerah di Indonesia yang menjadikan rotan sebagai bahan pangan utama. Keunikan itu menjadikan hidangan ini memiliki nilai jual yang tinggi sebagai bagian dari wisata gastronomi Kalimantan sekaligus kekayaan kuliner nasional yang layak diperkenalkan lebih luas.

Bagi wisatawan, mencicipi Juhu Singkah bukan hanya soal menikmati rasa pahit segar dari umbut rotan atau gurihnya kuah ikan sungai. Ada pengalaman memahami bagaimana masyarakat Dayak memanfaatkan hasil hutan secara bijak dan bagaimana tradisi tersebut tetap bertahan di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.

Kuliner sering kali menjadi cara paling sederhana untuk mengenal sebuah daerah. Dan Juhu Singkah memperlihatkan bahwa Kalimantan memiliki cerita rasa yang jauh melampaui apa yang selama ini dikenal publik.

Tips singkat jika berkesempatan mencicipi Juhu Singkah:

  1. Cobalah versi kuah bening untuk mengenali karakter asli umbut rotan.
  2. Padukan dengan ikan sungai agar rasa khasnya semakin seimbang.
  3. Nikmati saat masih hangat karena aroma rempah biasanya terasa lebih kuat.
  4. Jangan terburu-buru menilai rasa pahitnya karena sensasi segar muncul setelahnya.
  5. Pilih rumah makan tradisional Dayak untuk mendapatkan cita rasa paling autentik.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Di Balikpapan, pembicaraan soal kuliner khas sering berputar pada seafood pesisir. Padahal pang, Kalimantan juga memiliki warisan rasa dari pedalaman yang sama berharganya. Juhu Singkah memperlihatkan bahwa identitas daerah kada hanya dibangun oleh destinasi wisata atau bangunan ikonik, tetapi juga oleh makanan yang membawa cerita panjang tentang hubungan manusia dan alam. Kalau kuliner seperti ini mulai diperkenalkan secara serius, kadada alasan Kalimantan kada bisa menjadi tujuan wisata gastronomi nasional, Ces.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam yang hobi berburu kuliner Nusantara supaya makin banyak yang mengenal rasa khas dari hutan Kalimantan, Ces!

Masih banyak cerita menarik dari dapur tradisional Borneo yang belum banyak diketahui publik. Tetap update bersama Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa arti Juhu Singkah dalam bahasa Dayak?
Juhu berarti masakan berkuah, sedangkan singkah merujuk pada umbut atau rotan muda.

2. Apa bahan utama Juhu Singkah?
Bahan utamanya adalah umbut rotan muda atau inti batang rotan yang masih lunak.

3. Mengapa Juhu Singkah memiliki rasa pahit?
Rasa pahit berasal dari karakter alami umbut rotan yang digunakan sebagai bahan utama.

4. Apakah Juhu Singkah selalu dimasak menggunakan santan?
Tidak. Sebagian daerah menggunakan santan, sementara daerah lain memilih kuah bening.

5. Mengapa Juhu Singkah sulit ditemukan di luar Kalimantan?
Karena bahan bakunya berupa rotan muda segar yang tidak mudah diperoleh di luar Kalimantan.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Kuliner Kalimantan Makanan Tradisional Juhu Singkah