Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Wadai Cincin, Jajanan Tradisional yang Masih Bertahan di Pasar-Pasar Kalimantan Timur

Nasya Syafira • Jumat, 10 Juli 2026 | 13:31 WIB
Wadai Cincin khas Kalimantan Timur tersusun rapi di lapak pasar tradisional dengan warna cokelat mengilap. (BTV/AI)
Wadai Cincin khas Kalimantan Timur tersusun rapi di lapak pasar tradisional dengan warna cokelat mengilap. (BTV/AI)

Durasi Baca: 6 Menit

Topik: Mengenal sejarah, cita rasa, dan keberlangsungan Wadai Cincin sebagai kuliner tradisional Kalimantan Timur.

Ikhtisar: Artikel membahas asal-usul Wadai Cincin, bahan pembuatannya, alasan masih diminati masyarakat, serta upaya menjaga keberadaan jajanan tradisional ini di Kalimantan Timur.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Wadai Cincin masih menjadi salah satu jajanan tradisional yang mudah dijumpai di berbagai pasar tradisional Kalimantan Timur. Kue bercita rasa manis ini tetap diminati lintas generasi karena memiliki tekstur khas, proses pembuatan yang unik, serta menjadi bagian dari tradisi masyarakat Banjar dan Kutai yang berkembang di wilayah ini.

Masih sering melihat kue berbentuk cincin berwarna cokelat di pasar? Nah, itu bukan sekadar jajanan biasa. Ada cerita panjang di balik rasanya, Ces!

Apa yang Membuat Wadai Cincin Masih Dicari Masyarakat?

Di tengah menjamurnya roti modern, dessert kekinian, hingga aneka camilan impor, Wadai Cincin masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Kalimantan Timur.

Kue tradisional ini banyak dijumpai di pasar-pasar seperti Pasar Segiri Samarinda, Pasar Pandansari Balikpapan, hingga berbagai pasar tradisional di Kabupaten Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, dan Berau.

Bentuknya menyerupai cincin dengan bagian tengah berlubang. Warnanya cokelat mengilap, sementara bagian luarnya sedikit renyah tetapi tetap lembut ketika digigit.

Cita rasa manis berasal dari gula merah yang menjadi bahan utama adonan. Aroma khas gula aren berpadu dengan tepung beras menghasilkan rasa yang sulit ditemukan pada jajanan modern.

Tidak sedikit masyarakat yang sengaja mencari Wadai Cincin sebagai teman minum teh atau kopi pada pagi maupun sore hari.

Bagaimana Asal-Usul Wadai Cincin di Kalimantan Timur?

Wadai Cincin dikenal sebagai salah satu kue tradisional masyarakat Banjar yang penyebarannya meluas hingga berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Mobilitas masyarakat sejak puluhan tahun lalu membawa beragam tradisi kuliner ke Samarinda, Balikpapan, Bontang, hingga wilayah pesisir lainnya. Dari proses tersebut, Wadai Cincin kemudian menjadi bagian dari kekayaan kuliner daerah.

Dalam berbagai acara keluarga, syukuran, hingga perayaan keagamaan, kue ini masih sering disajikan bersama aneka wadai tradisional lainnya.

Keberadaannya menjadi bukti bahwa resep turun-temurun tetap mampu bertahan meski tren makanan terus berubah.

Yang menarik, sebagian besar pembuat Wadai Cincin masih mempertahankan cara memasak tradisional menggunakan wajan besar dan api sedang agar tingkat kematangan merata.

Proses tersebut membutuhkan ketelatenan karena adonan tidak boleh terlalu encer maupun terlalu padat agar bentuk cincin tetap sempurna saat digoreng.

Baca Juga: Ketupat Kandangan, Kuliner Khas Kalimantan Selatan yang Wajib Dicoba Saat Berkunjung! Lengkap dengan Cara Pembuatan & Tips Penyajian

Mengapa Proses Membuat Wadai Cincin Tidak Bisa Terburu-buru?

Sekilas bahan pembuatannya terlihat sederhana. Tepung beras, gula merah, air, dan sedikit garam menjadi komposisi utama.

Namun, menghasilkan tekstur yang lembut sekaligus padat memerlukan teknik khusus yang biasanya diwariskan dalam keluarga.

Adonan harus diaduk hingga mencapai kekentalan tertentu sebelum dicetak membentuk lingkaran menggunakan tangan.

Setelah itu, adonan digoreng menggunakan minyak panas dengan api yang stabil.

Jika suhu terlalu tinggi, bagian luar cepat matang tetapi bagian dalam masih mentah. Sebaliknya, api yang terlalu kecil membuat kue menyerap minyak berlebihan.

Karena itulah tidak semua orang dapat menghasilkan Wadai Cincin dengan tekstur yang konsisten.

Selain menjadi sumber penghasilan bagi pelaku usaha rumahan, pembuatan Wadai Cincin juga menunjukkan bagaimana keterampilan tradisional tetap memiliki nilai ekonomi hingga sekarang.

Bahan-bahan

Cara Membuat

1. Buat larutan gula

Rebus gula merah bersama air, garam, dan daun pandan hingga gula larut sempurna. Saring untuk menghilangkan kotoran, lalu biarkan hingga hangat.

2. Campurkan adonan

Masukkan tepung beras ke dalam wadah besar. Tuang larutan gula sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga menjadi adonan yang lembut dan kental. Diamkan sekitar 30–60 menit agar tepung menyerap cairan dengan baik.

3. Bentuk adonan

Ambil sedikit adonan menggunakan tangan yang telah diolesi minyak. Bentuk menyerupai cincin dengan membuat lubang di bagian tengah.

4. Goreng

Panaskan minyak dengan api sedang. Masukkan adonan secara perlahan.

Goreng sambil sesekali disiram minyak panas hingga kedua sisi berwarna cokelat tua dan matang merata.

5. Tiriskan

Angkat Wadai Cincin, tiriskan minyaknya, lalu biarkan sedikit dingin sebelum disajikan.

Tips Agar Wadai Cincin Berhasil

Ciri Wadai Cincin yang Matang Sempurna

Wadai Cincin paling nikmat disantap selagi hangat bersama teh tawar hangat atau kopi hitam. Hingga kini, jajanan tradisional ini masih banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional Samarinda, Balikpapan, Bontang, dan sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur.

Tips Menikmati Wadai Cincin Agar Rasanya Semakin Nikmat

  1. Pilih Wadai Cincin yang masih hangat agar aroma gula merah terasa lebih kuat.

  2. Nikmati bersama teh hangat atau kopi hitam tanpa gula untuk menghasilkan perpaduan rasa yang seimbang.

  3. Simpan di wadah tertutup jika belum habis agar teksturnya tetap lembut.

  4. Belilah langsung dari pedagang pasar tradisional untuk memperoleh produk yang baru selesai dibuat.

Keberadaan Wadai Cincin juga memberi ruang bagi pelaku usaha mikro untuk terus berkembang. Banyak pembuat kue tradisional mengandalkan penjualan harian di pasar maupun pesanan untuk berbagai acara keluarga.

Permintaan biasanya meningkat menjelang Ramadan, Idulfitri, Iduladha, hingga peringatan hari besar lainnya. Pada periode tersebut, Wadai Cincin menjadi salah satu kue yang hampir selalu masuk dalam daftar hidangan untuk menjamu tamu.

Mengapa Wadai Cincin Masih Relevan di Tengah Tren Kuliner Modern?

Perubahan gaya hidup memang menghadirkan banyak pilihan makanan baru. Meski begitu, kuliner tradisional tetap memiliki daya tarik yang sulit tergantikan karena menyimpan nilai budaya sekaligus kenangan bagi banyak orang.

Wadai Cincin menjadi contoh bagaimana makanan sederhana mampu bertahan berkat cita rasa yang konsisten. Banyak pembeli mengaku mengenal jajanan ini sejak kecil, kemudian memperkenalkannya kembali kepada anak-anak mereka.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak hanya dinikmati sebagai makanan, tetapi juga menjadi media pewarisan budaya antargenerasi.

Di sejumlah festival kuliner dan pameran UMKM Kalimantan Timur, Wadai Cincin juga masih rutin ditampilkan bersama berbagai makanan khas daerah. Kehadirannya memperkenalkan kekayaan kuliner lokal kepada wisatawan maupun generasi muda.

Pemerintah daerah bersama pelaku UMKM pun terus mendorong promosi makanan tradisional melalui berbagai kegiatan ekonomi kreatif. Langkah ini membuka peluang agar Wadai Cincin semakin dikenal di luar Kalimantan Timur.

Bagi wisatawan, membeli Wadai Cincin langsung di pasar tradisional juga menjadi pengalaman menarik. Selain memperoleh jajanan yang masih segar, pengunjung dapat melihat aktivitas pedagang lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Bagaimana Cara Ikut Melestarikan Wadai Cincin?

Melestarikan kuliner tradisional tidak selalu harus melalui kegiatan besar. Langkah sederhana justru memberikan dampak nyata apabila dilakukan secara konsisten.

Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Membeli langsung dari pedagang pasar tradisional atau pelaku UMKM lokal.
  2. Mengenalkan Wadai Cincin kepada anggota keluarga, terutama generasi muda.
  3. Menjadikannya pilihan oleh-oleh khas saat berkunjung ke Kalimantan Timur.
  4. Mendukung promosi kuliner lokal melalui media sosial dengan informasi yang akurat.
  5. Menghadiri festival kuliner daerah yang menampilkan jajanan tradisional.

Semakin banyak masyarakat mengenal kuliner daerah, semakin besar pula peluang resep-resep warisan tetap bertahan menghadapi perubahan zaman.

Poin Penting:

Baca Juga: Mengapa Tudai Pedas Manis Jadi Kuliner Khas Kalimantan yang Selalu Diburu Pecinta Seafood?

Insight Redaksi: Wadai Cincin menunjukkan bahwa kekuatan kuliner lokal bukan hanya berada pada rasa, tetapi juga cerita yang menyertainya. Di Kalimantan Timur, pasar tradisional masih menjadi ruang penting bagi makanan warisan untuk bertahan. Promosi digital memang penting, tetapi pengalaman membeli langsung dari pembuatnya memiliki nilai yang kada tergantikan. Kaitu pang keadaannya, Ces. Jika terus didukung masyarakat, peluang kuliner tradisional berkembang bersama sektor pariwisata akan semakin terbuka.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang mengenal kekayaan kuliner khas Kalimantan Timur dan ikut mendukung pelaku usaha lokal, Ces.

Selalu ikuti informasi kuliner, budaya, dan destinasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu Wadai Cincin?
Wadai Cincin adalah kue tradisional berbentuk cincin yang terbuat dari tepung beras dan gula merah, populer di Kalimantan Timur.

2. Di mana Wadai Cincin mudah ditemukan?
Jajanan ini banyak dijual di pasar tradisional seperti Pasar Segiri Samarinda, Pasar Pandansari Balikpapan, serta berbagai pasar di kabupaten dan kota Kalimantan Timur.

3. Mengapa Wadai Cincin masih diminati?
Karena memiliki cita rasa khas, resep turun-temurun, dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat.

4. Kapan permintaan Wadai Cincin biasanya meningkat?
Menjelang Ramadan, Idulfitri, Iduladha, dan berbagai acara keluarga maupun keagamaan.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#Pelaku UMKM Kalimantan Timur #Wadai Cincin #pasar tradisional Kalimantan Timur