Topik: Kuliner tradisional masyarakat pesisir yang menyimpan sejarah dan filosofi laut.
Ikhtisar: Artikel ini membahas asal-usul Tehe-Tehe, filosofi budaya masyarakat pesisir, proses pembuatan, hingga alasan kuliner ini semakin sulit ditemukan.
Balikpapan TV - Hai Ces! Tehe-Tehe merupakan kuliner tradisional masyarakat pesisir di wilayah Berau yang menggunakan cangkang bulu babi sebagai wadah memasak ketan dan santan. Makanan ini berasal dari tradisi masyarakat Suku Bajau dan menjadi bagian penting dari identitas budaya pesisir yang diwariskan selama ratusan tahun.
Di balik tampilannya yang tidak biasa, tersimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakat laut yang tumbuh bersama ombak dan terumbu karang. Menarik, kan? Nah, di sinilah kisahnya mulai terasa berbeda, Ces!
Baca Juga: Mengenal Soto Banjar, Kuliner Khas Kalimantan Selatan yang Kaya Rempah dan Sarat Tradisi
Apa sebenarnya sejarah Tehe-Tehe di pesisir Berau?
Tehe-Tehe dipercaya lahir dari kreativitas masyarakat Bajau yang tinggal di pulau-pulau kecil dan kawasan pesisir seperti Pulau Maratua serta wilayah Kepulauan Derawan.
Selama berabad-abad, masyarakat Bajau dikenal sebagai pengembara laut atau sea nomads. Kehidupan mereka sangat bergantung pada hasil laut, mulai dari menangkap ikan hingga menyelam mencari berbagai hasil perairan dangkal.
Kondisi geografis tersebut membentuk cara hidup yang berbeda dibanding masyarakat pedalaman. Jika daerah daratan memanfaatkan bambu atau tanah liat sebagai alat memasak, masyarakat Bajau memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar laut.
Bulu babi menjadi salah satu jawabannya.
Setelah bagian dagingnya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, cangkangnya dibersihkan dan digunakan kembali sebagai wadah memasak ketan bercampur santan. Dari kebiasaan sederhana inilah Tehe-Tehe kemudian berkembang menjadi tradisi kuliner khas pesisir Berau.
Dari mana asal nama Tehe-Tehe?
Dalam bahasa lokal masyarakat Bajau dan kawasan Maratua, kata "tehe" merujuk pada bulu babi yang banyak ditemukan di sekitar terumbu karang dangkal.
Karena makanan tersebut dimasak menggunakan cangkang bulu babi, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Tehe-Tehe atau makanan yang berasal dari tehe.
Ada pula cerita yang berkembang di kalangan masyarakat pesisir bahwa nama tersebut muncul dari bunyi khas ketika cangkang diketuk atau dibuka menggunakan sendok sebelum disantap.
Walaupun belum terdapat catatan tertulis mengenai asal-usul penamaannya, kisah tersebut masih hidup sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat setempat.
Mengapa Tehe-Tehe dianggap memiliki filosofi yang kuat?
Bagi masyarakat Bajau, laut bukan hanya tempat mencari nafkah. Laut adalah sumber kehidupan sekaligus ruang budaya yang membentuk identitas mereka.
Karena itulah muncul prinsip untuk memanfaatkan hasil laut secara menyeluruh tanpa menyisakan bagian yang masih dapat digunakan.
Daging bulu babi dikonsumsi sebagai bahan makanan, sedangkan cangkangnya digunakan kembali sebagai wadah memasak. Filosofi ini sejalan dengan konsep modern seperti zero waste, keberlanjutan, hingga pemanfaatan sumber daya secara menyeluruh.
Menariknya, praktik tersebut telah dilakukan masyarakat Bajau jauh sebelum istilah-istilah itu dikenal luas.
Ada pula makna lain yang melekat pada Tehe-Tehe, yakni simbol kedekatan manusia dengan laut. Jika masyarakat agraris memiliki padi sebagai lambang kehidupan, maka bagi masyarakat Bajau, laut adalah sawah mereka sendiri.
Tehe-Tehe juga menjadi simbol kebersamaan.
Kuliner ini umumnya tidak hadir dalam menu harian. Makanan tersebut biasanya dibuat ketika ada acara keluarga, penyambutan tamu, kegiatan adat, hingga perayaan kampung.
Karena proses pembuatannya membutuhkan waktu dan tenaga, masyarakat biasanya mengerjakannya secara bersama-sama.
Di situlah nilai gotong royong ikut terjaga.
Kenapa harus menggunakan cangkang bulu babi?
Banyak orang mengira penggunaan cangkang bulu babi hanya bertujuan menghadirkan tampilan unik. Kenyataannya, ada alasan praktis yang membuat tradisi ini terus dipertahankan.
Bentuk cangkang yang menyerupai mangkuk kecil mampu menjaga panas dan kelembapan lebih lama selama proses memasak berlangsung.
Santan pun meresap secara perlahan ke dalam ketan sehingga menghasilkan tekstur yang lebih padat sekaligus lembut.
Selain itu, proses tersebut menciptakan aroma laut yang tipis namun khas dan sulit ditemukan pada metode memasak biasa.
Efeknya mirip seperti lemang yang dimasak menggunakan bambu atau nasi tradisional yang dimasak memakai wadah tanah liat.
Baca Juga: Kuliner Sungai Kalimantan Ini Hampir Tak Terlihat, Padahal Rasa dan Ceritanya Bikin Kaget
Bagaimana resep tradisional Tehe-Tehe dibuat?
Secara umum bahan yang digunakan relatif sederhana, yakni:
-
500 gram beras ketan putih
-
500 mililiter santan kental
-
1 sendok teh garam
-
10 hingga 15 cangkang bulu babi yang telah dibersihkan
-
Daun pandan secukupnya
-
Daging bulu babi sesuai tradisi setempat
Beras ketan terlebih dahulu direndam selama tiga hingga empat jam agar teksturnya lebih lembut setelah matang.
Cangkang bulu babi kemudian dibersihkan hingga benar-benar bebas dari pasir dan sisa duri yang masih menempel.
Campuran ketan, santan, dan garam dimasukkan ke dalam cangkang hingga sekitar tiga perempat bagian sebelum ditambahkan daging bulu babi pada beberapa resep tradisional masyarakat Maratua.
Bagian atasnya ditutup menggunakan daun pandan atau daun pisang kecil agar isi tidak tumpah selama proses pemasakan.
Setelah itu, seluruh cangkang dikukus selama sekitar tiga puluh hingga enam puluh menit sampai ketan matang sempurna.
Untuk menikmatinya, cangkang biasanya diketuk atau dibuka menggunakan sendok karena bagian luarnya cukup keras.
Rasanya sering digambarkan sebagai perpaduan gurih santan, kenyalnya ketan, aroma pandan, serta sentuhan rasa laut yang lembut dengan sedikit nuansa umami khas bulu babi.
Sebagian penikmat bahkan menyebutnya seperti gabungan lemper, ketupat ketan, dan nasi uduk laut dalam satu sajian.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Ayam Cincane, Warisan Kuliner Kalimantan Timur Sarat Sejarah dan Filosofi
Mengapa Tehe-Tehe kini semakin sulit ditemukan?
Ada beberapa alasan yang membuat Tehe-Tehe menjadi salah satu kuliner paling langka di Kalimantan Timur.
Bulu babi tidak tersedia sepanjang tahun dan keberadaannya sangat bergantung pada kondisi ekosistem pesisir.
Pengolahan cangkangnya juga membutuhkan keterampilan khusus agar aman digunakan sebagai wadah memasak.
Di sisi lain, generasi muda masyarakat pesisir mulai jarang memproduksi makanan tradisional ini secara rutin.
Akibatnya, Tehe-Tehe kini lebih sering ditemukan di kawasan Maratua dan beberapa kampung pesisir Berau dibanding kota-kota besar di Kalimantan Timur.
Padahal, kuliner ini menyimpan nilai budaya yang sangat besar.
Tehe-Tehe bukan sekadar makanan unik dari cangkang bulu babi. Ia merupakan representasi hubungan manusia dengan laut, penghormatan terhadap alam, dan pentingnya kebersamaan dalam kehidupan masyarakat pesisir.
Tips jika berkesempatan mencicipi Tehe-Tehe:
-
Cari informasi festival budaya atau acara kampung di kawasan pesisir Berau.
-
Nikmati saat masih hangat agar tekstur ketan dan aroma santan terasa maksimal.
-
Hormati tradisi penyajian yang biasanya dilakukan bersama keluarga atau tamu kehormatan.
Poin Penting:
-
Tehe-Tehe berasal dari tradisi masyarakat Bajau di wilayah pesisir Berau.
-
Kuliner ini menggunakan cangkang bulu babi sebagai wadah memasak ketan dan santan.
-
Filosofi utamanya adalah penghormatan terhadap laut dan pemanfaatan hasil alam secara menyeluruh.
-
Tehe-Tehe identik dengan kebersamaan dan kegiatan adat masyarakat pesisir.
-
Produksinya semakin terbatas sehingga kini tergolong kuliner langka di Kalimantan Timur.
Insight Redaksi: Di tengah tren kuliner modern yang berlomba menghadirkan tampilan menarik, Tehe-Tehe justru menunjukkan bahwa identitas budaya bisa menjadi nilai yang jauh lebih mahal. Masyarakat pesisir Berau sudah menerapkan konsep keberlanjutan sejak lama tanpa perlu istilah rumit. Kaitu pang keadaannya, Ces. Ketika tradisi mulai jarang diwariskan, yang hilang bukan hanya resep, tetapi juga cara pandang terhadap laut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang mengenal warisan kuliner pesisir Kalimantan Timur yang mulai jarang ditemui.
FAQ
1. Apa bahan utama Tehe-Tehe?
Bahan utamanya adalah beras ketan, santan, garam, dan cangkang bulu babi sebagai wadah memasak.
2. Dari mana asal Tehe-Tehe?
Kuliner ini berasal dari masyarakat Bajau di wilayah pesisir Berau, terutama Maratua dan Derawan.
3. Mengapa Tehe-Tehe jarang ditemukan?
Karena bulu babi tidak selalu tersedia dan proses pembuatannya membutuhkan keterampilan khusus.
4. Apa filosofi utama Tehe-Tehe?
Filosofinya adalah menghormati laut, memanfaatkan sumber daya secara menyeluruh, dan menjaga kebersamaan.