Durasi Baca: 5 menit
Ikhtisar: Komunitas Stand Up Comedy Tenggarong yang berkembang secara mandiri mulai mendapat perhatian Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara. Kolaborasi dengan komika Samarinda disiapkan untuk memperkuat materi, membuka peluang tampil di Simpang Odah Etam, dan mencari talenta baru melalui program Ekraf Goes to School mulai 2027.
Balikpapan TV - Hai Ces! Panggung komedi tidak harus dimulai dari gedung pertunjukan besar. Di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), komunitas Stand Up Comedy Tenggarong membangun ruangnya sendiri lewat pertunjukan rutin di kafe, mengumpulkan penonton, sekaligus memberi kesempatan bagi siapa saja yang ingin mencoba melucu di depan publik.
Perjalanan yang dibangun tanpa pembiayaan APBD itu mulai mendapat perhatian Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar. Kini, komunitas tersebut didorong berkembang melalui kolaborasi dengan komika Samarinda dan berpeluang tampil di Simpang Odah Etam, ruang publik dengan karakter penonton yang lebih beragam.
Dari Delapan Anggota, Kini Berkembang Menjadi 14 Orang
Perkembangan Stand Up Comedy Tenggarong tidak lepas dari inisiatif para anggotanya yang terus menghidupkan panggung secara mandiri. Dari awalnya sekitar delapan orang, komunitas ini kini memiliki sekitar 14 anggota yang terdaftar.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan pihaknya telah beberapa kali memantau kegiatan komunitas tersebut. Salah satunya dengan menghadiri pertunjukan rutin di Haha Cafe Tenggarong pada Rabu malam, 7 Oktober 2026.
Menurut Zikri, upaya komunitas untuk berkembang tanpa dukungan pembiayaan APBD menjadi salah satu alasan mereka mendapat perhatian dari dinas.
“Memang komunitas ini non-APBD, tidak ada pembiayaan. Mereka mau tumbuh dan berkembang secara mandiri, dan itu memang mendapat atensi kami. Kami, secara komunitas, apalagi dinas, sangat mengapresiasi sekali,” kata Zikri.
Bagi komunitas yang sedang bertumbuh, keberlanjutan panggung menjadi pekerjaan penting. Komika perlu terus berlatih, menyusun materi baru, dan membangun pengalaman menghadapi penonton yang berbeda-beda.
Tantangan tersebut juga terlihat dari kehadiran anggota dan penonton yang belum selalu konsisten. Dalam beberapa pertunjukan, jumlah komika yang tampil bisa mencapai lima hingga enam orang, sementara penonton terkadang hanya mengisi beberapa meja.
Meski demikian, kegiatan open mic tetap direncanakan berlangsung rutin setiap Rabu malam.
Baca Juga: KPK Dalami Aset Rita Widyasari, Dugaan Gratifikasi Rp436 Miliar Kembali Disorot
Kolaborasi dengan Komika Samarinda untuk Mematangkan Materi
Dispar Kukar menyiapkan skema pengembangan komunitas dengan melibatkan Stand Up Samarinda. Dalam kegiatan di Tenggarong tersebut, lebih dari delapan anggota komunitas dari Samarinda hadir memberikan dukungan.
Kolaborasi ini tidak hanya dimaksudkan untuk meramaikan pertunjukan. Penguatan materi menjadi perhatian karena kemampuan stand up comedy tidak berhenti pada keberanian berbicara di depan penonton.
Komika juga harus mampu menyusun cerita, menemukan sudut pandang yang mengundang tawa, dan menyampaikan materi dengan cara yang tepat.
Zikri menilai pendampingan dari komunitas yang lebih berpengalaman dapat membantu komika Tenggarong mempersiapkan diri sebelum menjajal panggung dengan audiens yang lebih luas.
“Materi stand up comedy kan intinya ada di materi, bagaimana penyampaiannya. Jadi, memang kami juga minta bantuan dari teman-teman stand up dari Samarinda untuk datang ke sini,” ujarnya.
Dukungan tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kemampuan komika lokal sekaligus membangun hubungan antarkomunitas di wilayah sekitar.
Simpang Odah Etam Jadi Tantangan Baru bagi Komika Lokal
Peluang tampil di Simpang Odah Etam menjadi salah satu arah pengembangan yang tengah didorong Dispar Kukar. Namun, tampil di ruang publik menghadirkan tantangan berbeda dibandingkan pertunjukan di kafe.
Penonton di ruang publik dapat berasal dari berbagai kelompok usia dan latar belakang. Materi yang cocok bagi penonton dewasa belum tentu dapat diterima dengan cara yang sama oleh anak-anak atau keluarga yang datang bersama.
Karena itu, komika perlu mempertimbangkan karakter audiens saat menyiapkan materi dan menentukan cara penyampaiannya.
Zikri menjelaskan bahwa perbedaan karakter penonton menjadi salah satu hal yang harus dipersiapkan sebelum komunitas tampil di Simpang Odah Etam.
“Di sana penontonnya audiensnya berbeda-beda. Ada anak-anak, ada orang tua, jadi sense of humor-nya berbeda-beda. Karena mereka juga pasti melihat audiens,” jelasnya.
Pendampingan bersama Stand Up Samarinda diharapkan membantu komika Tenggarong menghadapi tantangan tersebut. Pengembangan tidak hanya diarahkan pada kesempatan tampil, tetapi juga pada kesiapan membawakan materi di hadapan penonton yang lebih beragam.
Baca Juga: Danau Aji Sudah Dipetakan Rawan Kebakaran, Mengapa 75 Bangunan Tetap Ludes?
Open Mic Terbuka untuk Pelajar hingga Mahasiswa
Ketua Komunitas Stand Up Comedy Tenggarong, Muhammad Zakaria Alfarizi, melihat perkembangan kegiatan dalam beberapa bulan terakhir cukup positif. Antusiasme penonton mulai tumbuh, termasuk kehadiran sejumlah orang yang datang dari Samarinda.
“Alhamdulillah, saya senang dengan banyaknya penonton yang hadir. Ada juga beberapa orang dari Samarinda. Harapannya ke depan bukan hanya dari Samarinda, tetapi masyarakat Tenggarong sendiri semakin banyak yang ikut menonton,” ujarnya.
Pertumbuhan komunitas juga terlihat dari munculnya anggota baru. Sejumlah orang yang bergabung sekitar tiga bulan terakhir bahkan sudah mampu menyiapkan materi komedi berdurasi sekitar lima menit.
Bagi Zakaria, open mic bukan hanya tempat bagi mereka yang ingin berkarier sebagai komika. Panggung tersebut juga terbuka untuk masyarakat yang ingin belajar berbicara di depan umum atau menyampaikan pengalaman dan keresahan melalui komedi.
“Kami terbuka untuk umum. Misalnya ada yang ingin belajar public speaking atau hanya ingin menyampaikan keluh kesah, bisa disampaikan melalui open mic. Untuk usia juga terbuka, mulai SMP, SMA hingga mahasiswa,” katanya.
Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung setiap Rabu malam, biasanya mulai pukul 20.00 Wita. Masyarakat yang ingin mencoba tampil dapat memanfaatkan panggung itu sebagai ruang latihan dan belajar.
Keterbukaan ini memberi fungsi lain bagi komunitas. Selain menjadi tempat mengembangkan kemampuan komedi, open mic dapat menjadi ruang bagi orang-orang yang ingin membangun kepercayaan diri saat berbicara di hadapan orang lain.
Baca Juga: Erau 2026 Makin Dekat, Pemkab Kukar Siapkan Empat Lapis Mitigasi Hadapi Gangguan
Ekraf Goes to School Disiapkan Mulai 2027
Pengembangan Stand Up Comedy Tenggarong juga berkaitan dengan upaya Dispar Kukar mencari talenta baru di sektor ekonomi kreatif.
Mulai 2027, Dispar Kukar menyiapkan program Ekraf Goes to School yang akan menyasar sekolah untuk mencari bibit baru dari berbagai subsektor. Selain stand up comedy, program tersebut mencakup film, fotografi, tari, dan musik.
Zikri mengatakan pencarian talenta baru diperlukan agar perkembangan ekonomi kreatif tidak hanya bergantung pada pelaku yang sudah lebih dahulu berkecimpung di bidangnya.
“Jadi, kombinasinya memang dari sektor film, fotografi, tari, musik, nanti akan turun bersama-sama ke sekolah untuk kita mencari bibit-bibit. Karena kalau yang lama-lama ini kan memang ya sampai di situ saja, jadi kita harus mencari bibit-bibit baru,” kata Zikri.
Rencana tersebut membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal subsektor ekonomi kreatif sejak sekolah. Namun, pengembangan talenta juga membutuhkan ruang praktik agar kemampuan yang mulai tumbuh bisa terus diasah.
Dalam konteks stand up comedy, keberadaan open mic rutin dan pendampingan antarkomunitas menjadi bagian dari proses tersebut. Panggung memberi kesempatan untuk mencoba materi, menerima respons penonton, dan belajar dari pengalaman tampil.
Bagi Stand Up Comedy Tenggarong, tantangan berikutnya bukan sekadar mendapat kesempatan tampil di Simpang Odah Etam. Komunitas juga perlu menjaga konsistensi kegiatan, menumbuhkan penonton lokal, dan memberi ruang bagi anggota baru untuk berkembang.
Jika kolaborasi dan pencarian talenta baru berjalan beriringan, ekosistem komedi di Kukar berpeluang tumbuh melalui lebih banyak pelaku dan ruang pertunjukan. Perjalanannya memang dimulai dari panggung kecil, tetapi keberlanjutannya ditentukan oleh kesempatan untuk terus belajar dan tampil.
Poin Penting
-
Stand Up Comedy Tenggarong tumbuh secara mandiri tanpa pembiayaan APBD dan kini memiliki sekitar 14 anggota terdaftar.
-
Dispar Kukar mendorong kolaborasi dengan Stand Up Samarinda untuk memperkuat kemampuan komika, terutama dalam penyusunan dan penyampaian materi.
-
Simpang Odah Etam diproyeksikan menjadi ruang tampil yang menantang karena memiliki audiens dari berbagai kelompok usia.
-
Open mic direncanakan berlangsung setiap Rabu malam sekitar pukul 20.00 Wita dan terbuka untuk masyarakat umum.
-
Dispar Kukar menyiapkan program Ekraf Goes to School mulai 2027 untuk mencari talenta baru di sejumlah subsektor ekonomi kreatif.
Insight Redaksi
Pertumbuhan komunitas kreatif tidak hanya ditentukan oleh tersedianya panggung, tetapi juga oleh kesempatan untuk berlatih, memperoleh pendampingan, dan menjangkau audiens baru. Pengalaman Stand Up Comedy Tenggarong memperlihatkan bagaimana inisiatif komunitas dapat menjadi titik awal pengembangan talenta lokal. Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan kegiatan agar kesempatan tampil tidak berhenti sebagai agenda sesaat.
Bagi masyarakat Tenggarong yang ingin belajar berbicara di depan umum atau mencoba menyampaikan cerita melalui komedi, open mic bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal dunia stand up comedy secara langsung.
Komunitas yang terus membuka ruang bagi anggota baru juga membutuhkan dukungan penonton agar panggung rutin memiliki kehidupan dan regenerasi yang berkelanjutan.
Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Di mana komunitas Stand Up Comedy Tenggarong menggelar open mic?
Komunitas ini mengadakan pertunjukan rutin di Haha Cafe Tenggarong.
2. Kapan open mic Stand Up Comedy Tenggarong berlangsung?
Kegiatan direncanakan setiap Rabu malam, biasanya mulai pukul 20.00 Wita.
3. Apakah masyarakat umum boleh mengikuti open mic?
Boleh. Kegiatan terbuka bagi masyarakat yang ingin mencoba stand up comedy, belajar berbicara di depan umum, atau menyampaikan pengalaman melalui komedi. Pelajar SMP, SMA, hingga mahasiswa juga dipersilakan.
4. Apa dukungan yang disiapkan Dispar Kukar?
Dispar Kukar mendorong kolaborasi dengan Stand Up Samarinda untuk memperkuat materi dan kemampuan komika lokal, sekaligus memproyeksikan kesempatan tampil di Simpang Odah Etam.
5. Apa itu program Ekraf Goes to School?
Program yang direncanakan mulai 2027 tersebut bertujuan mencari talenta baru di sekolah dalam berbagai subsektor ekonomi kreatif, termasuk stand up comedy, film, fotografi, tari, dan musik.
Sumber Informasi
Prokal, laporan Elmo Satria Nugraha mengenai perkembangan Komunitas Stand Up Comedy Tenggarong dan dukungan Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara.
Editor : Arya Kusuma