Durasi Baca: 7 menit
Ikhtisar: Kebakaran di Danau Aji, Tenggarong, menghanguskan sekitar 75 bangunan pada Senin (5/10/2026). Kawasan ini sebenarnya sudah dipetakan sebagai zona rawan selama lebih dari tiga tahun. Damkarmatan Kukar telah menyiapkan hidran kering, dua tandon air, simulasi drone hingga pola pemasangan selang. Namun ketika api benar-benar membesar, petugas kembali berhadapan dengan persoalan lama: keterbatasan sumber air di tengah permukiman padat.
Balikpapan TV - Hai Ces! Sekitar 75 bangunan di kawasan Danau Aji, Kelurahan Melayu, Tenggarong, berubah menjadi puing setelah kebakaran besar melanda permukiman padat pada Senin (5/10/2026) sore. Api mulai dilaporkan sekitar pukul 16.30 WITA dan kemudian bergerak cepat di antara bangunan yang berdempetan.
Di tengah operasi pemadaman, ada satu persoalan yang membuat situasi semakin sulit: air tidak selalu tersedia ketika paling dibutuhkan. Padahal, kawasan Danau Aji bukan wilayah yang baru diketahui memiliki risiko kebakaran tinggi. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bahkan telah menetapkannya sebagai zona merah rawan kebakaran sejak sekitar tiga tahun lalu.
Danau Aji Sudah Lama Masuk Radar Risiko
Bagi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kutai Kartanegara atau Damkarmatan Kukar, nama Danau Aji bukan sesuatu yang baru muncul dalam daftar kewaspadaan.
Kepala Damkarmatan Kukar, Fida Hurasani, mengatakan kawasan tersebut telah menjadi perhatian sejak dirinya masih bertugas di BPBD Kukar. Pemetaan dilakukan karena karakter permukimannya padat, akses terbatas dan sumber air sulit diperoleh ketika kebakaran terjadi.
Bahkan, dalam rapat internal, Fida mengaku berulang kali mengingatkan personelnya mengenai risiko di kawasan tersebut.
“Kalau kita diuji di sini, kita akan mati kutu.”
Fida Hurasani, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pernyataan itu terdengar keras, tetapi justru menggambarkan persoalan utama Danau Aji: petugas sudah mengetahui titik lemahnya sebelum api datang.
Kawasan yang dipetakan sebagai titik rawan itu mencakup sisi Jalan Danau Aji, Jalan AM Alimuddin hingga kawasan Danau Lipan. Simulasi penanganan juga pernah dilakukan untuk mencari pola yang paling memungkinkan diterapkan ketika kebakaran benar-benar terjadi.
Baca Juga: Erau 2026 Makin Dekat, Pemkab Kukar Siapkan Empat Lapis Mitigasi Hadapi Gangguan
Mitigasi Sudah Disiapkan, Api Datang dalam Skenario yang Lebih Berat
Damkarmatan tidak datang ke Danau Aji tanpa persiapan.
Pemetaan menggunakan drone pernah dilakukan untuk melihat kondisi kawasan dan membantu menentukan pola penanganan. Petugas juga melakukan simulasi pemasangan selang serta menyiapkan fasilitas hidran kering.
Di permukiman tersebut tersedia dua tandon air dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter. Selain itu, terdapat fasilitas hidran kering yang terhubung dari arah Sungai Tenggarong.
ANTARA melaporkan hidran kering sepanjang sekitar satu kilometer tersebut berfungsi membantu pengisian air. Artinya, sebagian infrastruktur mitigasi memang bekerja ketika dibutuhkan.
Masalahnya, kebakaran kali ini berkembang menjadi jauh lebih besar daripada sekadar satu titik api.
Ketika api menyebar di antara rumah-rumah yang berdempetan, kebutuhan air meningkat cepat. Dua tandon dengan total kapasitas 10.000 liter menjadi cadangan yang terbatas untuk menghadapi kobaran dalam kawasan permukiman padat.
Fida bahkan menggambarkan situasi tersebut secara sederhana: ketika air habis, petugas harus mengisi kembali sementara api masih terus bergerak.
“Kita tadi menyaksikan pada saat air kita habis, kita mengisi, kita hanya menonton api itu memakan satu unit rumah.”
Fida Hurasani, Kepala Damkarmatan Kukar.
Di titik inilah cerita Danau Aji menjadi lebih besar daripada sekadar angka 75 bangunan.
Ketika Air Menjadi Faktor yang Menentukan
Kebakaran terjadi saat kondisi panas dan kemarau. Tiupan angin juga cukup kencang. Rumah-rumah yang berdiri rapat membuat api memiliki jalur yang mudah untuk berpindah dari satu bangunan ke bangunan berikutnya.
ANTARA menyebut angin kemarau yang kencang dan himpitan rumah kayu padat penduduk sebagai kendala utama petugas. Minimnya sumber air di lokasi juga memperberat operasi.
Fida mengatakan sebagian unit armada saat itu juga sedang menangani kebakaran hutan dan lahan di Sanga-Sanga.
“Minimnya sumber air di lokasi kejadian menjadi hambatan lapangan.”
Fida Hurasani, Kepala Damkarmatan Kukar.
Untuk menjaga operasi tetap berjalan, petugas tidak hanya mengandalkan armada pemadam. Tim gabungan memanfaatkan air dari kolong rumah warga dan kolam sekitar menggunakan mesin pompa portabel.
Dukungan juga datang dari BPBD, PDAM, kepolisian dan relawan dari sejumlah wilayah. Damkarmatan Kukar mengerahkan sembilan armada serta 90 personel dari regu piket dan siaga.
Jadi, persoalannya bukan tidak ada upaya.
Justru kebakaran Danau Aji memperlihatkan sesuatu yang lebih rumit: upaya sudah ada, tetapi kapasitas sistem harus berhadapan dengan skenario kebakaran yang bergerak sangat cepat.
Baca Juga: Erau 2026 Dimulai, Ini Pantangan Sultan Kutai yang Masih Dijaga
75 Bangunan dan Satu Pertanyaan Besar
Api akhirnya dapat dikendalikan setelah operasi pemadaman dan pendinginan berlangsung sekitar dua jam menurut keterangan Damkarmatan kepada ANTARA. Sekitar 75 bangunan milik warga dilaporkan hangus.
Laporan lapangan juga menyebut sejumlah warga mengalami gangguan kesehatan dan beberapa orang dibawa ke rumah sakit karena sesak napas dan syok. Penyebab pasti kebakaran sendiri belum dipastikan dan masih dalam penyelidikan.
Karena itu, tidak tepat jika seluruh kerusakan langsung disimpulkan hanya akibat kekurangan air.
Ada rangkaian faktor yang bertemu pada waktu yang sama: permukiman padat, bangunan yang berdempetan, kondisi kemarau, angin, keterbatasan sumber air, serta kebutuhan mengisi ulang armada ketika api masih berkembang.
Namun justru karena Danau Aji telah lama diketahui sebagai kawasan rawan, persoalan air menjadi pertanyaan yang sulit diabaikan.
Jika sebuah kawasan sudah dipetakan sebagai zona merah, seberapa besar cadangan air yang sebenarnya dibutuhkan ketika skenario terburuk terjadi?
Pertanyaan itu berbeda dengan menyalahkan petugas.
Sebaliknya, pertanyaan tersebut penting agar pemetaan risiko tidak berhenti sebagai informasi di atas peta, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi sistem yang siap bekerja ketika menit-menit pertama kebakaran menentukan nasib puluhan rumah.
Kepala Damkarmatan Mengakui Masih Ada PR
Fida sendiri tidak menutup mata terhadap keterbatasan tersebut.
Ia ikut turun dalam operasi pemadaman dan mengatakan dirinya menghabiskan dua tangki air ketika berada di lapangan. Namun setelah api berhasil dikendalikan, persoalan yang tersisa bukan hanya bangunan yang terbakar.
Ada pekerjaan rumah yang harus dibawa pulang.
“Ini memang PR saya yang belum tuntas, belum bisa saya pecahkan untuk wilayah Danau Aji ini dari dulu.”
Fida Hurasani, Kepala Damkarmatan Kukar.
Kalimat itu penting karena menunjukkan bahwa kebakaran Danau Aji tidak selesai ketika api padam.
Pemetaan sudah dilakukan. Simulasi sudah dilakukan. Hidran sudah tersedia. Tandon juga sudah ditempatkan. Tetapi pengalaman 5 Oktober menunjukkan bahwa sistem mitigasi perlu terus diuji terhadap kondisi paling buruk, bukan hanya kondisi ideal.
Danau Aji mungkin menjadi contoh paling jelas bahwa mengetahui sebuah kawasan rawan hanyalah langkah pertama.
Langkah berikutnya adalah memastikan petugas memiliki cukup ruang untuk bergerak, cukup air untuk menyerang api, cukup akses untuk mencapai titik kebakaran, dan sistem cadangan yang tetap bekerja ketika satu sumber tidak tersedia.
Baca Juga: Sensus Ekonomi Dibahas di Tenggarong, Ketepatan Data Bantuan Jadi Perhatian
Pelajaran dari Danau Aji: Peta Merah Harus Punya Jawaban Nyata
Kebakaran ini meninggalkan lebih dari 75 bangunan yang terbakar. Ia juga meninggalkan pertanyaan tentang bagaimana kawasan padat yang sudah lama dikenal rawan harus dipersiapkan menghadapi kebakaran besar.
Evaluasinya tidak harus berhenti pada penyebab api.
Yang tidak kalah penting adalah mengevaluasi rantai respons: dari sumber air, kapasitas tandon, fungsi hidran, akses armada, jalur selang, koordinasi lintas wilayah hingga pembagian kekuatan ketika beberapa titik bencana terjadi bersamaan.
Sebab bagi warga yang melihat rumahnya terbakar, peta zona merah tidak banyak berarti jika air baru ditemukan setelah api sudah berpindah ke rumah berikutnya.
Danau Aji sudah memberi sinyal sejak lama.
Pada Senin sore, 5 Oktober 2026, sinyal itu berubah menjadi kenyataan.
Poin Penting
-
Kebakaran terjadi Senin, 5 Oktober 2026 sore di kawasan Danau Aji dan Jalan Sultan Alimuddin/AM Alimuddin, Kelurahan Melayu, Tenggarong.
-
Sekitar 75 bangunan dilaporkan terdampak atau hangus terbakar.
-
Damkarmatan Kukar mengerahkan sembilan armada dan 90 personel.
-
BPBD, PDAM, kepolisian dan relawan ikut mendukung penanganan.
-
Angin kencang, kemarau, kepadatan bangunan dan keterbatasan sumber air menjadi kendala pemadaman.
-
Danau Aji telah ditetapkan sebagai zona merah rawan kebakaran sekitar tiga tahun sebelumnya.
-
Mitigasi sebelumnya mencakup pemetaan drone, simulasi pemasangan selang, hidran kering dan dua tandon berkapasitas masing-masing 5.000 liter.
-
Fida Hurasani menyebut persoalan penanganan kebakaran di Danau Aji masih menjadi pekerjaan rumah.
-
Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan.
Insight Redaksi
Kebakaran Danau Aji menunjukkan bahwa pemetaan risiko dan kesiapan respons adalah dua hal yang saling membutuhkan.
Mengetahui titik rawan memang penting. Tetapi bagi kawasan padat penduduk, mitigasi baru benar-benar terasa ketika hasil pemetaan diterjemahkan menjadi infrastruktur dan prosedur yang mampu bekerja dalam situasi paling buruk.
Di Danau Aji, sebagian persiapan terbukti membantu. Hidran kering berfungsi, personel dan armada dikerahkan, serta bantuan lintas wilayah bergerak. Namun kebutuhan air yang tinggi dan cepatnya perambatan api memperlihatkan masih adanya celah yang perlu ditutup.
Bagi kawasan lain yang memiliki karakter serupa, pelajaran paling penting mungkin sederhana: zona merah bukan sekadar warna pada peta. Ia harus menjadi dasar untuk menentukan seberapa siap sebuah kawasan menghadapi api.
Bagi warga, kewaspadaan juga tetap menjadi lapisan pertahanan paling dekat. Saat musim kemarau dan kondisi lingkungan kering, satu sumber api kecil bisa berubah menjadi persoalan besar ketika bangunan berdiri rapat dan akses pemadaman terbatas.
Danau Aji sudah memberi pelajaran yang mahal. Yang paling penting sekarang adalah memastikan pelajaran itu tidak ikut terbakar bersama puing-puing yang tersisa.
FAQ
Mengapa kebakaran Danau Aji cepat meluas?
Kondisi permukiman yang padat dan bangunan yang berdempetan, ditambah cuaca panas, kemarau serta angin kencang, membuat api lebih mudah berpindah.
Apakah Danau Aji memang sudah dipetakan sebagai kawasan rawan kebakaran?
Ya. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah menetapkannya sebagai zona merah rawan kebakaran sekitar tiga tahun lalu. Pemetaan dilakukan karena kepadatan permukiman, akses yang terbatas dan persoalan sumber air.
Apa saja persiapan yang sudah dilakukan Damkarmatan?
Di antaranya pemetaan menggunakan drone, simulasi pola pemasangan selang, hidran kering dan dua tandon air berkapasitas masing-masing 5.000 liter.
Apakah kekurangan air menjadi satu-satunya penyebab 75 bangunan terbakar?
Tidak. Keterbatasan sumber air merupakan salah satu kendala utama. Faktor lain yang disebut dalam laporan adalah angin kencang, kondisi kemarau, kepadatan bangunan dan sulitnya akses di permukiman.
Apakah penyebab kebakaran sudah diketahui?
Belum. Fida Hurasani menyatakan pihaknya belum memperoleh kepastian mengenai titik maupun penyebab awal api. Informasi mengenai dugaan titik awal masih perlu diverifikasi oleh pihak berwenang.
Sumber Informasi
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kutai Kartanegara; ANTARA
Editor : Arya Kusuma