Karhutla Kukar Capai 1.704 Hektare, Helikopter Water Bombing Sasar 5 Kecamatan

Ahla Najwa • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 05:41 WIB
Upaya pemadaman Water bombing dilakukan untuk memadamkan karhutla di Kecamatan Muara Badak, Kukar. (DOK. IST/KP)
Upaya pemadaman Water bombing dilakukan untuk memadamkan karhutla di Kecamatan Muara Badak, Kukar. (DOK. IST/KP)

Durasi Baca: 6 Menit

Ikhtisar: Karhutla Kukar meluas hingga 1.704 hektare, water bombing dikerahkan untuk membantu pemadaman di lima kecamatan rawan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kebakaran hutan dan lahan di Kutai Kartanegara mencapai sekitar 1.704 hektare dalam 216 kejadian, sehingga BPBD memperkuat pemadaman dengan helikopter water bombing.

Operasi udara dimulai dari Muara Badak dengan sasaran awal Desa Saliki dan Tanjung Limau. Kenapa pemadaman dari udara mulai dibutuhkan? Bagian ini penting disimak, Ces!

Api Meluas, Pemadaman Tak Cukup Hanya dari Darat

Luasan karhutla yang mencapai sekitar 1.704 hektare menunjukkan besarnya area yang harus ditangani tim gabungan di Kutai Kartanegara.

Dari 216 kejadian yang tercatat, sebagian titik api berada di lokasi yang tidak mudah dijangkau regu pemadam. Kondisi inilah yang membuat dukungan dari udara dibutuhkan untuk mempercepat penanganan.

Kepala Pelaksana BPBD Kukar Setianto Nugroho Aji mengatakan pengerahan helikopter merupakan hasil koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan BNPB.

“Jadi dalam rangka penanganan karhutla khusus di Kabupaten Kukar, kami telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dengan BNPB untuk melaksanakan water bombing membantu pemadaman yang ada di lapangan,” kata Setianto.

Langkah tersebut juga sejalan dengan penguatan operasi udara yang dilakukan Pemprov Kaltim. Pada 9 September, BPBD Kaltim menyatakan operasi water bombing bergerak secara estafet ke wilayah terdampak, dengan Kukar menjadi salah satu sasaran penanganan.

Muara Badak Jadi Titik Awal Water Bombing

Satu unit helikopter mulai digunakan di Kecamatan Muara Badak pada Kamis (10/9/2026).

Untuk tahap awal, operasi water bombing diarahkan ke sekitar Desa Saliki dan Tanjung Limau. Pemadaman udara direncanakan dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan siang.

Pola ini bukan berarti seluruh pekerjaan pemadaman dipindahkan ke udara. Regu darat tetap menjadi bagian utama dalam penanganan, sementara helikopter digunakan ketika ada titik yang sulit dijangkau atau membutuhkan penyiraman tambahan.

Setianto menjelaskan water bombing ditujukan untuk membantu personel di lapangan sekaligus mempercepat penanganan titik api yang tidak efektif dijangkau dari darat.

“Ini sebagai upaya kami untuk membantu regu pemadaman yang ada di lapangan, bilamana masih memerlukan pemadaman lanjutan dan titik-titik api yang tidak terjangkau. Jadi untuk efisiensi mempercepat penanganan karhutla,” ujarnya.

Baca Juga: Polisi Geledah BPKAD Kukar, Penyidikan Honor Non-ASN Masuk Babak Baru

Lima Kecamatan Masuk Wilayah Penanganan

Cakupan operasi tidak berhenti di Muara Badak. BPBD Kukar menyiapkan penanganan di lima kecamatan yang dinilai membutuhkan dukungan pemadaman.

Wilayah tersebut meliputi Muara Badak, Anggana, Sanga-Sanga, Muara Jawa, dan Samboja.

Catatan kejadian karhutla juga menunjukkan bahwa kebakaran masih muncul di sejumlah wilayah Kukar hingga awal September. Data BPBD Kaltim, misalnya, mencatat kejadian karhutla di Loa Kulu dan Sanga-Sanga pada 8 September, serta Tenggarong Seberang pada 7 September.

Artinya, penanganan tidak cukup hanya memadamkan api yang terlihat. Pemantauan dan pengecekan lapangan tetap dibutuhkan untuk memastikan tidak ada titik yang kembali menyala.

Angin Bisa Menggeser Sasaran Siraman Helikopter

Ada satu persoalan yang ikut menentukan efektivitas water bombing: arah angin. Air yang dijatuhkan dari helikopter harus dipantau untuk memastikan jatuh sedekat mungkin dengan sasaran.

Pergeseran arah angin dapat membuat siraman tidak tepat mengenai titik api.

Karena itu, BPBD Kukar meminta tim di lapangan mengawasi posisi jatuhnya air. Jika hasil penyiraman belum sesuai sasaran, operasi dapat kembali dilakukan pada titik yang masih membutuhkan penanganan.

“Apakah sudah tepat posisi jatuhnya air atau mungkin ada pergeseran supaya bisa dilakukan pengulangan water bombing karena ada pengaruh pergeseran sebab angin,” kata Setianto.

Pemantauan tersebut menjadi penting karena operasi udara tidak berdiri sendiri. Hasil dari satu sortie menjadi bahan bagi tim untuk menentukan apakah titik yang sama masih perlu disiram atau sasaran berikutnya harus dialihkan.

September Masih Jadi Periode Kritis Karhutla

Penguatan pemadaman juga berlangsung ketika kondisi cuaca masih mendukung munculnya kebakaran.

BMKG menyebut September 2026 masih menjadi fase kritis karhutla di Indonesia. Kondisi kering, pengaruh El Niño, dan tingginya jumlah titik panas menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Sebelumnya, BMKG juga mencatat kondisi Kaltim mengalami periode Hari Tanpa Hujan dengan durasi bervariasi. Pada akhir Agustus hingga awal September, peluang hujan di sejumlah wilayah Kaltim cenderung menurun.

Situasi tersebut membuat pemadaman tidak hanya bergantung pada turunnya hujan. Ketika titik api muncul, respons cepat tetap diperlukan agar api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Baca Juga: Ketua DPRD Kutim Soroti Standar Desil DTSEN, Kondisi Kalimantan Dinilai Berbeda

Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar Masih Jadi Perhatian

BPBD Kukar juga menyoroti faktor aktivitas manusia. Selain kondisi kering, pembakaran lahan oleh sebagian masyarakat masih menjadi persoalan yang harus dicegah.

Karena itu, edukasi mengenai pembukaan lahan tanpa membakar tetap diperlukan. Pencegahan menjadi bagian penting karena pemadaman akan jauh lebih sulit ketika api sudah menyebar ke area luas.

Kondisi di Kukar juga menjadi bagian dari situasi karhutla Kaltim yang lebih luas. BNPB sebelumnya mencatat kejadian karhutla masih muncul di berbagai wilayah Kaltim, termasuk Kukar, selama awal September.

Dengan kondisi tersebut, operasi water bombing di Kukar bukan sekadar tambahan peralatan. Dukungan udara menjadi cara untuk menjangkau titik yang sulit ditangani dari darat, sementara regu lapangan tetap menjalankan pemadaman, pengecekan, dan pendinginan.

Poin Penting

Insight Redaksi

Karhutla Kukar memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran membutuhkan dua pekerjaan sekaligus: memadamkan api yang sudah muncul dan mencegah titik baru bertambah. Helikopter memberi keunggulan untuk menjangkau lokasi sulit, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada koordinasi dengan tim darat. Pada saat yang sama, pencegahan pembakaran lahan menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting karena kondisi kering membuat api lebih mudah berkembang.

Operasi udara juga bukan hal baru dalam penanganan karhutla di kawasan Kaltim. Pada awal September, helikopter Caracal yang beroperasi dari Lanud Dhomber Balikpapan digunakan untuk water bombing di wilayah delineasi IKN dengan dukungan pemantauan darat.

Bagi masyarakat, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa munculnya asap atau titik api perlu segera dilaporkan. Semakin cepat lokasi diketahui, semakin besar peluang api ditangani sebelum meluas.

Kalau informasi ini terasa berguna, bagikan artikel ini kepada keluarga atau lingkungan sekitar agar kewaspadaan terhadap karhutla tidak berhenti di lokasi pemadaman.

Karena di musim kering, satu titik api bisa menjadi perhatian banyak orang. Tetap ikuti update Balikpapan TV, Ces!

FAQ

1. Berapa luas karhutla di Kukar?

Berdasarkan data yang disampaikan dalam sumber utama, luasan karhutla di Kukar mencapai sekitar 1.704 hektare dari 216 kejadian.

2. Di mana water bombing pertama dilakukan?

Operasi water bombing mulai dilakukan di Kecamatan Muara Badak, dengan sasaran awal sekitar Desa Saliki dan Tanjung Limau.

3. Apa fungsi helikopter dalam pemadaman karhutla?

Helikopter digunakan untuk membantu regu darat, terutama menjangkau titik api yang sulit diakses secara langsung serta mempercepat pemadaman.

4. Kecamatan mana saja yang masuk wilayah penanganan?

BPBD Kukar menetapkan Muara Badak, Anggana, Sanga-Sanga, Muara Jawa, dan Samboja sebagai wilayah penanganan.

5. Apakah pemadaman udara menggantikan tim darat?

Tidak. Water bombing merupakan dukungan tambahan. Regu darat tetap melakukan pemadaman dan pemantauan titik api.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul “Karhutla Kukar Capai 1.704 Hektare, BPBD Kerahkan Helikopter ke Muara Badak”, oleh Muhhammad Rifqi Hidayatullah. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Water Bombing karhutla Kutai Kartanegara Muara Badak