Durasi Baca: 5 menit
Ikhtisar: Tradisi Beseprah Kutai resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2026, membawa pesan persatuan lintas status sosial.
Balikpapan TV – Hai Ces! Hamparan kain putih dibentangkan. Beragam hidangan disajikan, kemudian masyarakat duduk bersila dan makan bersama.Tidak ada meja khusus pejabat, bangsawan, tokoh masyarakat, maupun warga biasa. Semua berada dalam satu ruang dan menikmati hidangan bersama.
Pemandangan tersebut menjadi gambaran sederhana dari Beseprah, tradisi masyarakat Kutai yang lekat dengan rangkaian Erau.
Kini, tradisi makan bersama itu mendapat pengakuan nasional. Beseprah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia 2026 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Bagi Kutai Kartanegara, penetapan tersebut bukan sekadar penghargaan. Ada tanggung jawab baru untuk memastikan Beseprah tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bukan Sekadar Makan Bersama
Beseprah memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada aktivitas makan bersama.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat duduk bersila di atas tikar atau kain panjang sambil menikmati hidangan secara bersama-sama. Latar belakang sosial tidak menjadi pembatas.
Nilai tersebut membuat Beseprah menjadi simbol kebersamaan, persatuan, rasa syukur, sekaligus kedekatan antara pemimpin dan masyarakat.
Dalam rangkaian Erau, tradisi ini juga menjadi ruang perjumpaan ketika Sultan Kutai hadir dan berkomunikasi langsung dengan rakyat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah, menyambut penetapan Beseprah sebagai WBTb sebagai langkah penting untuk menjaga identitas budaya Kutai.
“Kita juga sangat bersyukur bahwa Beseprah masuk dalam Warisan Budaya Takbenda. Tahun ini merupakan bagian dari upaya kita supaya Beseprah juga diakui, tidak hanya secara nasional, tetapi bahkan internasional,” ujarnya, Rabu (9/9/2026).
Baca Juga: Polisi Geledah BPKAD Kukar, Penyidikan Honor Non-ASN Masuk Babak Baru
Filosofi Berdiri Sama Tinggi, Duduk Sama Rendah
Salah satu nilai yang paling kuat dalam Beseprah adalah filosofi “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.”
Ketika masyarakat duduk bersama dan menikmati hidangan dalam satu ruang, perbedaan status sosial seolah dilepaskan untuk sementara.
Nilai tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi bukan hanya tentang bentuk pelaksanaan, tetapi juga pesan yang terkandung di dalamnya.
Heriansyah menilai pesan tersebut penting dikenalkan kepada generasi muda. Mereka tidak cukup hanya mengetahui Beseprah sebagai bagian dari agenda adat, tetapi juga perlu memahami nilai historis dan sosial yang ada di baliknya.
“Kalau kita tidak mendaftarkan, nanti bisa diklaim oleh pihak lain. Beseprah memiliki nilai historis yang cukup bagus untuk generasi muda kita,” katanya.
Nilai Budaya Bisa Masuk ke Kehidupan Modern
Menariknya, nilai yang dibawa Beseprah tidak hanya relevan dalam kegiatan adat.
Semangat duduk bersama, mendengarkan, dan memberikan ruang kepada masyarakat juga dapat diterapkan dalam tata kelola pemerintahan.
Heriansyah mengaitkan nilai tersebut dengan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), yang menjadi salah satu ruang pemerintah untuk mendengarkan aspirasi masyarakat dari bawah.
“Nilai tersebut juga sudah diakomodasi dalam kegiatan-kegiatan pemerintah, seperti Musrenbang, yaitu bagaimana kita mendengarkan aspirasi dari bawah. Ini menjadi bagian dari upaya kita untuk melestarikan adat, istiadat, dan budaya,” jelasnya.
Dengan demikian, Beseprah tidak hanya ditempatkan sebagai tradisi masa lalu. Nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya masih dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Tradisi yang Tumbuh Bersama Erau
Secara historis, Beseprah memiliki hubungan erat dengan Erau yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi ini dipahami sebagai salah satu cara Sultan Kutai menjamu sekaligus mendekatkan diri dengan rakyat.
Dari sana, aktivitas makan bersama berkembang menjadi ruang untuk berbagi cerita, menyampaikan persoalan, sekaligus membangun hubungan sosial.
Dalam pelaksanaan Erau belakangan ini, ribuan orang yang duduk berbanjar di sekitar Museum Mulawarman menjadi salah satu gambaran bahwa tradisi tersebut masih hidup.
Hidangan khas Kutai disajikan di atas kain panjang. Warga dan tamu dari berbagai latar belakang kemudian duduk bersama.
Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa Beseprah bukan hanya sesuatu yang tercatat dalam sejarah, tetapi masih memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Sudah Bayar 80 Persen, Pemkab Kukar Kejar Pelunasan Utang Bankaltimtara
Status WBTb Membawa Tanggung Jawab Baru
Penetapan sebagai WBTb Indonesia 2026 tentu memberikan pengakuan lebih luas terhadap Beseprah.
Namun, status tersebut sekaligus membawa tanggung jawab untuk menjaga agar tradisi tidak berhenti sebagai simbol budaya dalam perayaan Erau.
Beseprah perlu terus dipraktikkan dan maknanya dipahami oleh generasi muda.
Sebab, warisan budaya akan benar-benar hidup ketika masyarakat masih menjalankannya, bukan hanya ketika namanya tercatat dalam dokumen pengakuan.
Harapan untuk membawa Beseprah lebih jauh pun muncul setelah pengakuan nasional tersebut.
Ketika tradisi tetap hidup di tengah masyarakat dan nilai-nilainya dipahami generasi muda, Beseprah berpeluang terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Poin Penting
-
Beseprah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2026.
-
Beseprah merupakan tradisi makan bersama masyarakat Kutai yang lekat dengan rangkaian Erau.
-
Tradisi ini mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang tanpa sekat status sosial.
-
Filosofi Beseprah dikenal melalui nilai “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”.
-
Beseprah memiliki hubungan historis dengan tradisi Erau dan kehidupan Kesultanan Kutai.
-
Nilai kebersamaan dan mendengarkan aspirasi masyarakat dinilai tetap relevan dalam kehidupan modern.
-
Penetapan WBTb menjadi dorongan sekaligus tanggung jawab untuk mewariskan Beseprah kepada generasi muda.
Insight Redaksi
Pengakuan sebagai WBTb bukanlah garis akhir bagi sebuah tradisi.
Justru setelah pengakuan diberikan, tantangan berikutnya adalah bagaimana Beseprah tetap menjadi budaya yang dijalankan, bukan sekadar nama yang tersimpan dalam daftar warisan budaya.
Nilai “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah” menjadi kekuatan utama Beseprah. Di tengah kehidupan modern yang semakin beragam, pesan tentang kebersamaan dan keterbukaan tersebut masih relevan.
Bagi generasi muda, mengenal Beseprah berarti bukan hanya mengetahui bagaimana tradisi makan bersama dilakukan, tetapi memahami mengapa masyarakat Kutai mempertahankannya.
Pernah melihat langsung tradisi Beseprah saat Erau, Ces? Bagikan informasi ini ke kawalan dan bubuhan yang ingin mengenal lebih jauh budaya Kutai.
Ikuti info budaya dan tradisi Kalimantan Timur hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
Apa itu Beseprah?
Beseprah merupakan tradisi makan bersama masyarakat Kutai yang dilakukan dengan duduk bersila dan menikmati hidangan bersama tanpa sekat status sosial.
Apa makna Beseprah bagi masyarakat Kutai?
Beseprah menjadi simbol kebersamaan, persatuan, rasa syukur, serta kedekatan antara pemimpin dan masyarakat.
1. Apa filosofi utama dalam Beseprah?
Salah satu filosofi yang kuat adalah “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”, yang menggambarkan kebersamaan tanpa membedakan status sosial.
2. Kapan Beseprah ditetapkan sebagai WBTb Indonesia?
Beseprah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2026.
3. Apa hubungan Beseprah dengan Erau?
Beseprah memiliki hubungan erat dengan Erau dan secara historis dipahami sebagai salah satu cara Sultan Kutai menjamu serta mendekatkan diri dengan rakyat.
4. Mengapa Beseprah perlu diwariskan kepada generasi muda?
Agar generasi muda tidak hanya mengenal bentuk tradisinya, tetapi juga memahami nilai historis, sosial, dan budaya yang terkandung di dalamnya.
5. pakah nilai Beseprah masih relevan saat ini?
Ya. Nilai kebersamaan dan mendengarkan aspirasi masyarakat dinilai masih dapat diterapkan dalam kehidupan modern, termasuk melalui kegiatan pemerintahan seperti Musrenbang.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Kaltim Post", dengan judul "Treadisi Beseprah Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Takbenda",oleh penulis Muhhammad Rifqi Hidayatullah. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma
Sumber : Kaltim Post