Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: Kasus ISPA dan diare meningkat di Kukar saat kemarau dan kabut asap, mendorong pembelajaran siswa dialihkan ke rumah.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kondisi kesehatan masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi perhatian di tengah kemarau panjang yang disertai cuaca panas dan kabut asap.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare. Di saat bersamaan, pemerintah daerah mengambil langkah untuk mengurangi aktivitas anak-anak di luar ruangan dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa PAUD hingga SMP mulai Kamis, 3 September 2026.
Kebijakan tersebut bukan sekadar perubahan pola belajar. Pemerintah Kukar mengaitkannya dengan kondisi udara dan meningkatnya risiko kesehatan yang muncul selama kemarau serta kabut asap.
Kasus ISPA Kukar Naik, Tapi Dinkes Tak Langsung Menyalahkan Asap
Data Dinkes Kukar hingga 24 Agustus 2026 mencatat 3.639 kasus ISPA. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli 2026 yang berada di angka 2.865 kasus, atau sekitar 27 persen.
Sejumlah wilayah disebut mengalami peningkatan kasus, antara lain Tenggarong, Loa Ipuh, Kota Bangun, Sebulu, serta kawasan pantai seperti Samboja, Handil dan Muara Jawa.
Namun, Dinkes Kukar memberikan catatan penting. Kenaikan kasus ISPA tidak serta-merta dapat disimpulkan seluruhnya akibat asap kebakaran hutan dan lahan.
| “Penyebab ISPA itu macam-macam. Bisa juga karena kondisi cuaca yang cukup panas, ekstrem. Jadi kalau itu harus diteliti lagi lebih jauh, pengaruh asap terhadap kasus ISPA yang terjadi.”
Pernyataan Kepala Dinkes Kukar Ismi Mufiddah tersebut menunjukkan bahwa faktor lingkungan yang sedang terjadi cukup kompleks. Kabut asap memang menjadi perhatian, tetapi cuaca panas dan kondisi udara secara umum juga menjadi bagian yang perlu diperhitungkan.
Diare Juga Melonjak di Tengah Kemarau
Persoalan kesehatan di Kukar tidak berhenti pada gangguan pernapasan.
Kasus diare juga menunjukkan peningkatan yang jauh lebih tinggi. Pada Juli 2026, Dinkes mencatat 724 kasus diare. Hingga 24 Agustus, jumlahnya telah mencapai sekitar 1.800 kasus.
Dinkes mengaitkan kondisi tersebut dengan situasi kemarau yang dapat memengaruhi ketersediaan dan kualitas air.
Ketika debit air sungai menyusut, persoalan kualitas air menjadi semakin penting. Air yang tidak dikelola dengan baik berpotensi meningkatkan risiko pencemaran, termasuk pada makanan dan minuman.
| “Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas air bersih serta meningkatkan risiko pencemaran kuman dan bakteri pada makanan maupun minuman.”
Karena itu, kewaspadaan masyarakat tidak hanya diperlukan terhadap udara yang dihirup, tetapi juga terhadap air dan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Mengapa Siswa Dipindahkan Belajar ke Rumah?
Perubahan sistem pembelajaran menjadi salah satu dampak paling nyata dari kondisi lingkungan tersebut.
Pemkab Kukar menetapkan siswa PAUD, SD, hingga SMP untuk mengikuti pembelajaran dari rumah mulai 3 September 2026. Kebijakan itu diambil setelah pemerintah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, serta perangkat daerah yang menangani lingkungan.
Keputusan tersebut juga mempertimbangkan hasil pengujian kualitas udara ambien yang dilakukan di tiga lokasi, yakni Kantor DLHK Kukar, Kantor Bupati Kukar, dan Taman Tangga Arung Square.
Dalam hasil pengujian per 24 Agustus, beberapa parameter seperti PM2,5, PM10, nitrogen dioksida, dan karbon monoksida disebut masih memenuhi standar. Namun, sulfur dioksida (SO2) dan oksidan (O3) tercatat melampaui baku mutu yang menjadi acuan.
Kondisi inilah yang kemudian menjadi pertimbangan pemerintah untuk mengurangi aktivitas anak-anak di luar rumah.
| “Sehingga untuk keamanan anak-anak kita, maka kita memutuskan untuk membuat belajar online.”
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menyebut kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga keselamatan anak-anak selama kualitas udara belum membaik.
Belajar dari Rumah Bukan Berarti Bebas Bermain di Luar
Ada satu hal yang menjadi perhatian pemerintah dalam penerapan PJJ.
Perpindahan kegiatan belajar ke rumah tidak akan banyak membantu apabila siswa justru menghabiskan waktu di luar rumah.
Tujuan kebijakan tersebut adalah mengurangi paparan terhadap udara yang sedang buruk. Karena itu, peran orang tua menjadi penting untuk memastikan anak tetap mengikuti pembelajaran sekaligus membatasi aktivitas di ruang terbuka selama kondisi kabut asap belum membaik.
| “Sama saja ketika kita di sekolah kita liburkan, akan tetapi mereka di rumah bermain di luar rumah, mereka juga akan terpapar dengan udara yang penuh dengan asap ini.”
Dengan kata lain, PJJ bukan masa liburan. Anak-anak tetap menjalankan kegiatan belajar, sementara aktivitas luar ruangan dikurangi sebagai langkah perlindungan.
Baca Juga: Kemarau Panjang dan Kabut Asap, Ribuan Warga Kukar Bersatu Memohon Hujan
Kebijakan Awal Berlaku Satu Minggu
Pemkab Kukar tidak menetapkan PJJ sebagai kebijakan tanpa batas waktu.
Pada tahap awal, pembelajaran dari rumah direncanakan berlangsung selama satu minggu. Pemerintah akan mengevaluasi perkembangan kualitas udara sebelum menentukan apakah kebijakan tersebut dihentikan atau diperpanjang.
| “Kita akan evaluasi secara berkala, mungkin di tahap awal kita liburkan selama satu minggu. Nanti kita evaluasi, kalaupun harus ditambah kita tambah lagi sampai kondisi udara itu sehat untuk anak-anak bisa bersekolah kembali.”
Artinya, kembalinya siswa ke sekolah sangat bergantung pada perkembangan kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Dinkes Siapkan Fasilitas Kesehatan
Di tengah kenaikan kasus penyakit, Dinkes Kukar memastikan fasilitas pelayanan kesehatan telah melakukan persiapan.
Obat-obatan disebut tersedia di puskesmas dan fasilitas kesehatan. Dinkes juga terus memantau perkembangan kunjungan pasien yang berkaitan dengan kondisi cuaca dan kabut asap.
Untuk masker, ketersediaan di fasilitas kesehatan juga telah disiapkan, meski penggunaannya diprioritaskan untuk petugas. Dinkes belum melakukan pembagian masker secara luas kepada masyarakat.
Langkah ini memperlihatkan bahwa penanganan dampak kemarau tidak hanya dilakukan melalui kebijakan pendidikan, tetapi juga melalui kesiapan layanan kesehatan.
Kukar Menghadapi Dua Persoalan Kesehatan Sekaligus
Jika dilihat secara keseluruhan, situasi Kukar saat ini memperlihatkan dua persoalan kesehatan yang berjalan bersamaan.
Pertama, ISPA meningkat ketika masyarakat menghadapi cuaca panas dan kondisi udara yang terganggu kabut asap.
Kedua, diare meningkat ketika kemarau berpotensi memengaruhi ketersediaan serta kualitas air.
Keduanya memiliki jalur risiko yang berbeda. Gangguan pernapasan berkaitan dengan kondisi udara, sedangkan diare sangat erat dengan kebersihan makanan, minuman dan air yang digunakan masyarakat.
Karena itu, penanganannya juga tidak bisa mengandalkan satu kebijakan saja.
Pembelajaran dari rumah dapat mengurangi aktivitas anak di luar ruangan, tetapi tidak secara otomatis menyelesaikan persoalan kualitas udara. Begitu pula penyediaan obat di fasilitas kesehatan tidak menghilangkan sumber risiko apabila kondisi lingkungan belum membaik.
Kabut Asap Masih Jadi Perhatian
Kondisi udara Kukar juga terlihat dari aktivitas pemerintah dan masyarakat dalam beberapa hari terakhir.
Pada 2 September 2026, ribuan warga Kukar dari berbagai agama menggelar doa bersama untuk memohon turunnya hujan. Kegiatan tersebut berlangsung ketika kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Tenggarong.
Bupati Kukar menyebut kondisi udara di daerah tersebut berada pada kisaran ISPU 100–150 dan mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika berada di luar ruangan. Pemerintah juga memantau titik api serta kemungkinan asap kiriman dari daerah lain.
Situasi ini memperkuat gambaran bahwa persoalan yang dihadapi Kukar bukan hanya mengenai proses pembelajaran, tetapi juga menyangkut kondisi lingkungan yang memengaruhi aktivitas masyarakat.
Baca Juga: Kebakaran Lahan Gambut di Muara Muntai Kukar Petugas Berperang Melawan Kobaran Api dan Asap
PJJ Menjadi Sinyal bahwa Dampak Kemarau Sudah Masuk ke Ruang Publik
Ketika sekolah harus mengubah pola pembelajaran karena kondisi lingkungan, dampak kemarau sudah tidak lagi hanya menjadi persoalan cuaca.
Ia mulai memengaruhi kesehatan, aktivitas pendidikan, pekerjaan masyarakat hingga pelayanan pemerintah.
Bagi keluarga yang memiliki anak usia sekolah, perubahan ini juga berarti adanya penyesuaian rutinitas. Orang tua perlu membantu memastikan pembelajaran tetap berlangsung sekaligus menjaga anak agar tidak banyak beraktivitas di luar ruangan.
Sementara pemerintah harus terus mengevaluasi apakah kondisi udara sudah cukup aman untuk mengembalikan aktivitas sekolah seperti biasa.
Di sinilah pentingnya keputusan berbasis data. Peningkatan kasus penyakit, hasil pemantauan kualitas udara, perkembangan kabut asap, dan kondisi lapangan perlu dibaca secara bersamaan.
Sebab, kemarau tidak hanya menghasilkan suhu panas. Ketika berlangsung bersamaan dengan kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air, dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor kehidupan.
Untuk Kukar, sekolah belajar dari rumah menjadi salah satu tanda bahwa dampak tersebut sudah mulai terasa langsung di tengah masyarakat.
Poin Penting
-
Dinkes Kukar mencatat 3.639 kasus ISPA hingga 24 Agustus 2026, naik dari 2.865 kasus pada Juli.
-
Kasus diare meningkat dari 724 kasus pada Juli menjadi sekitar 1.800 kasus hingga 24 Agustus.
-
Dinkes tidak menyimpulkan seluruh kenaikan ISPA semata-mata akibat asap karhutla.
-
Pemkab Kukar menerapkan PJJ bagi siswa PAUD hingga SMP mulai 3 September 2026.
-
Kebijakan awal PJJ direncanakan selama satu minggu dan akan dievaluasi berdasarkan kondisi udara.
-
Dinkes memastikan obat-obatan tersedia di puskesmas dan fasilitas kesehatan.
-
Masyarakat juga diminta memperhatikan kebersihan makanan, minuman dan air selama kemarau.
Insight Redaksi
Kenaikan penyakit dan penerapan PJJ menunjukkan kemarau Kukar mulai berdampak langsung pada kesehatan serta aktivitas pendidikan masyarakat. Penanganan harus menggabungkan pemantauan udara, perlindungan anak, kesiapan layanan kesehatan, dan pengawasan kualitas air secara berkelanjutan. Kemarau bukan cuma soal panas, tapi juga bisa berdampak ke kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Ikuti info kesehatan dan kondisi Kaltim hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Mengapa siswa Kukar belajar dari rumah?
Pemkab Kukar menerapkan pembelajaran dari rumah untuk mengurangi aktivitas anak di luar ruangan di tengah kondisi udara yang memburuk.
2. Jenjang sekolah apa yang mengikuti PJJ?
Kebijakan tersebut mencakup PAUD, SD, hingga SMP yang berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten.
3. Kapan PJJ mulai diterapkan?
Pembelajaran dari rumah mulai diterapkan pada Kamis, 3 September 2026.
4. Berapa kasus ISPA di Kukar?
Dinkes Kukar mencatat 3.639 kasus ISPA hingga 24 Agustus 2026, meningkat dari 2.865 kasus pada Juli.
5. Apakah ISPA di Kukar seluruhnya disebabkan kabut asap?
Belum dapat disimpulkan demikian. Dinkes menyebut cuaca panas ekstrem juga dapat menjadi salah satu faktor dan pengaruh asap masih perlu diteliti lebih lanjut.
6. Bagaimana dengan kasus diare?
Kasus diare meningkat dari 724 kasus pada Juli menjadi sekitar 1.800 kasus hingga 24 Agustus 2026.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Kaltim Post", dengan judul "ISPA dan Diare Meningkat Akibat Kemarau, Siswa Kukar Mulai Belajar dari Rumah",oleh penulis Muhhammad Rifqi Hidayatullah. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.
Editor : Redaksi BTV
Sumber : Kaltim Post