Ilustrasi musim kemarau menurunkan debit Sungai Tenggarong, mengganggu pasokan air baku dan produksi PDAM Tirta Mahakam (BTV/AI)Durasi Baca: 5 Menit
Ikhtisar: Kemarau panjang mulai menekan sumber air baku di Kukar. PDAM memantau risiko penurunan produksi, intrusi air laut, serta mengimbau masyarakat menghemat dan menampung air.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kemarau yang berlangsung hampir dua setengah bulan mulai memengaruhi ketersediaan air baku di Kutai Kartanegara. PDAM Tirta Mahakam mencatat pendangkalan sejumlah sungai yang menjadi sumber utama produksi air bersih sehingga perlu langkah antisipasi sejak dini.
Kondisi ini belum mengganggu layanan secara luas. Namun jika hujan belum turun dalam waktu dekat, tekanan terhadap pasokan air bersih berpotensi meningkat. Karena itu, masyarakat diminta mulai menggunakan air secara lebih bijak dan menyiapkan cadangan di rumah.
Air Baku Mulai Menyusut di Sejumlah Sungai Kukar
Musim kemarau yang berkepanjangan membuat debit air pada sejumlah sungai di Kutai Kartanegara terus menurun. Kondisi paling terasa terjadi pada anak-anak sungai yang selama ini menjadi sumber air baku bagi instalasi pengolahan PDAM.
Di Tenggarong, intake PDAM yang mengambil pasokan dari Sungai Tenggarong mulai menghadapi kondisi air dangkal. Penurunan muka air tersebut berdampak langsung terhadap kemampuan pompa dalam mengalirkan air sesuai kapasitas normal.
Direktur Utama PDAM Tirta Mahakam, Suparno, menjelaskan bahwa produksi air sangat bergantung pada ketinggian permukaan sungai. Semakin rendah permukaan air, semakin besar potensi penurunan debit yang dapat diproduksi.
“Kalau kapasitas pompa 150 liter per detik, misalnya, bisa menghasilkan sesuai kapasitasnya. Tetapi kalau permukaan air menurun, pasti akan berpengaruh terhadap debit yang dihasilkan,” ujarnya.
Mengapa Produksi Air Bisa Terganggu Saat Kemarau Panjang?
Banyak warga menganggap persoalan hanya terjadi ketika air benar-benar habis. Padahal gangguan sering dimulai jauh lebih awal, yakni saat sumber air mengalami penyusutan.
Ketika kedalaman sungai berkurang, pompa pengambilan air tidak dapat bekerja secara optimal. Akibatnya, jumlah air yang masuk ke instalasi pengolahan ikut menurun.
Jika kondisi tersebut berlangsung lama tanpa tambahan pasokan dari hujan, kapasitas produksi dapat terus berkurang. Dampaknya bisa berupa penurunan tekanan distribusi hingga gangguan layanan di wilayah tertentu.
Karena itu, pemantauan debit sungai menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan air bersih bagi masyarakat.
Baca Juga: Lima Rumah Terbakar di Loa Duri Ilir Kukar, Tiga Bangunan Ikut Terdampak
Pasang Laut Membantu, Tetapi Memunculkan Risiko Baru
Di tengah penurunan debit sungai, PDAM Tirta Mahakam masih mendapat bantuan alami dari pasang air laut yang mendorong kenaikan muka air Sungai Mahakam.
Dorongan air dari arah muara membuat permukaan sungai bertahan pada level tertentu sehingga intake masih dapat beroperasi. Kondisi ini sementara membantu menjaga pasokan air baku.
Namun manfaat tersebut datang bersama risiko lain, yakni intrusi air laut. Fenomena ini terjadi ketika air asin masuk ke badan sungai dan meningkatkan kadar garam pada sumber air baku.
Menurut PDAM, kadar garam yang ideal untuk pengolahan air bersih berada di bawah 200 PPM. Saat kadar garam sempat menyentuh sekitar 400 PPM, operasional instalasi di wilayah tertentu terpaksa dihentikan sementara selama beberapa jam.
Anggana dan Sangasanga Jadi Wilayah yang Paling Dipantau
Ancaman intrusi air laut paling besar berada di wilayah yang lokasinya dekat dengan muara sungai. Di Kutai Kartanegara, dua kecamatan yang menjadi perhatian utama adalah Anggana dan Sangasanga.
Kedua wilayah tersebut memiliki intake yang relatif lebih dekat ke arah hilir sehingga lebih rentan terhadap peningkatan kadar garam saat pasang laut terjadi.
PDAM melakukan pemantauan harian terhadap kondisi pasang surut dan tingkat salinitas sumber air. Langkah tersebut dilakukan agar gangguan pelayanan dapat diantisipasi lebih cepat.
Selain pemantauan rutin, perusahaan daerah ini juga mulai mengidentifikasi beberapa lokasi yang berpotensi menjadi sumber air baku alternatif apabila kondisi kemarau semakin panjang.
Dampaknya Tidak Hanya Terjadi di Kutai Kartanegara
Fenomena penurunan debit sungai juga dirasakan di wilayah lain yang terhubung dengan Daerah Aliran Sungai Mahakam.
Berdasarkan komunikasi antarperusahaan daerah air minum di Kalimantan Timur, kondisi sungai pada sejumlah kawasan mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan yang cukup signifikan.
Informasi yang diterima PDAM Tirta Mahakam menunjukkan bahwa wilayah Kutai Barat juga menghadapi tekanan serupa. Jika hujan tidak turun dalam beberapa hari ke depan, produksi air berpotensi terganggu akibat pendangkalan sungai.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kemarau tahun ini bukan hanya persoalan lokal, melainkan tantangan yang dirasakan di berbagai daerah sepanjang aliran Mahakam.
Langkah yang Bisa Dilakukan Masyarakat Mulai Sekarang
Meski pelayanan air bersih masih berjalan relatif normal, masyarakat dianjurkan tidak menunggu sampai terjadi gangguan distribusi.
Penggunaan air secara hemat menjadi langkah paling sederhana yang dapat dilakukan. Aktivitas yang tidak mendesak dan membutuhkan banyak air sebaiknya dikurangi sementara waktu.
Warga juga disarankan menyiapkan penampungan cadangan di rumah. Langkah ini dapat membantu kebutuhan sehari-hari apabila sewaktu-waktu terjadi penurunan produksi atau distribusi.
Selain persoalan air bersih, cuaca kering yang berkepanjangan juga meningkatkan risiko kebakaran lahan dan permukiman. Kewaspadaan bersama menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kemarau tahun ini.
Baca Juga: Campus Fair Perdana Digelar di Tenggarong, Jadi Panduan Pelajar Memilih Kampus
Poin Penting
- Kemarau hampir 2,5 bulan menyebabkan debit air baku mulai menurun.
- Anak sungai di Kukar mengalami pendangkalan.
- Intake Sungai Tenggarong mulai menghadapi kondisi air dangkal.
- Pasang laut membantu menjaga muka air Sungai Mahakam.
- Intrusi air laut meningkatkan risiko kadar garam tinggi.
- Anggana dan Sangasanga menjadi wilayah paling rentan.
- PDAM mulai memetakan sumber air baku alternatif.
- Masyarakat diminta menghemat dan menampung air.
Insight Redaksi
Kemarau panjang menunjukkan bahwa ketahanan air bersih tidak hanya bergantung pada instalasi pengolahan, tetapi juga kondisi ekosistem sungai dari hulu hingga hilir. Saat debit menurun dan intrusi air laut meningkat bersamaan, tantangannya menjadi berlapis. Ini bukan sekadar urusan PDAM, tetapi juga kesiapan daerah menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering muncul. Jangan tunggu keran mengecil baru bergerak.
Mulai isi penampungan seperlunya, hemat pemakaian harian, dan pantau informasi resmi agar kada kaget bila ada penyesuaian layanan.
Bagikan jua informasi ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak warga yang bisa bersiap sejak awal.
Penasaran bagaimana perkembangan debit sungai dan pasokan air bersih di Kalimantan Timur? Ikuti terus kabar terbarunya hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apakah layanan air bersih di Kukar saat ini masih normal?
Ya. Hingga saat ini PDAM Tirta Mahakam menyatakan pelayanan masih relatif aman dan berjalan normal.
2. Mengapa masyarakat diminta menampung air?
Sebagai langkah antisipasi apabila terjadi penurunan produksi atau distribusi akibat berkurangnya debit air baku.
3. Apa itu intrusi air laut?
Intrusi air laut adalah masuknya air asin ke badan sungai sehingga meningkatkan kadar garam pada sumber air baku.
4. Wilayah mana yang paling rentan terdampak intrusi air laut?
Kecamatan Anggana dan Sangasanga karena berada lebih dekat dengan muara sungai.
5. Apa dampak lain dari kemarau panjang?
Selain mengurangi debit air baku, kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran lahan dan lingkungan sekitar.
Sumber Informasi
Media Kaltim Post, dengan judul “Debit Air Baku Terus Menurun karena Kemarau, PDAM Kukar Imbau Masyarakat Hemat Air”, oleh penulis Muhhammad Rifqi Hidayatullah. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.