Produksi Tempe di Loa Pari Hasilkan Limbah 1.500 Liter, IPAL Jadi Solusi

Riafandi • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:44 WIB
Unmul terapkan IPAL di UMKM tempe Loa Pari, atasi hingga 1.500 liter limbah cair produksi setiap hari. (BTV/AI)
Unmul terapkan IPAL di UMKM tempe Loa Pari, atasi hingga 1.500 liter limbah cair produksi setiap hari. (BTV/AI)

Durasi Baca: 6 menit

Ikhtisar: Universitas Mulawarman menerapkan teknologi Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL pada UMKM tempe di Desa Loa Pari, Kutai Kartanegara, untuk menangani limbah cair produksi hingga 1.500 liter per hari.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Aktivitas produksi tempe di Desa Loa Pari, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, tidak hanya menghasilkan produk pangan yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Proses produksinya juga menghasilkan limbah cair yang perlu dikelola agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Universitas Mulawarman atau Unmul. Melalui penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL, limbah cair dari aktivitas UMKM tempe di Loa Pari kini mendapat penanganan dengan pendekatan teknologi pengolahan limbah.

Jumlah limbah yang menjadi perhatian tidak sedikit. Produksi tempe di wilayah tersebut menghasilkan sekitar 1.500 liter limbah cair setiap hari.

Penerapan IPAL ini menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran langsung dalam membantu pelaku UMKM menyelesaikan persoalan lingkungan yang muncul dari aktivitas produksi.

Produksi Tempe dan Persoalan Limbah Cair

Desa Loa Pari bukan wilayah yang asing dengan aktivitas produksi tempe. Penelitian Universitas Mulawarman yang diterbitkan dalam Jurnal Agribisnis dan Komunikasi Pertanian sebelumnya juga secara khusus mengkaji produksi tempe bungkus daun pisang di Desa Loa Pari, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 20 responden pelaku produksi tempe dan membahas antara lain biaya produksi, penerimaan, pendapatan, serta hubungan penggunaan kedelai dengan tingkat produksi.

Artinya, aktivitas usaha tempe di Loa Pari telah menjadi bagian dari perhatian akademik Unmul dalam konteks pengembangan ekonomi masyarakat.

Kini, perhatian tersebut berkembang ke sisi lain dari kegiatan produksi, yakni bagaimana limbah yang dihasilkan dapat dikelola.

Limbah Mencapai 1.500 Liter Setiap Hari

Berdasarkan laporan Kaltim Post, produksi tempe di Loa Pari menghasilkan sekitar 1.500 liter limbah cair per hari.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan limbah bukan sesuatu yang bisa dipandang sebagai persoalan kecil apabila aktivitas produksi dilakukan secara rutin.

Limbah yang dihasilkan dari kegiatan produksi membutuhkan sistem pengelolaan yang sesuai agar tidak sekadar dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.

Karena itu, keberadaan IPAL menjadi penting.

Dengan adanya fasilitas pengolahan, limbah cair dapat melalui tahapan penanganan sebelum hasil akhirnya dilepaskan ke lingkungan sesuai ketentuan yang berlaku.

Unmul Turun Tangan melalui Teknologi IPAL

Universitas Mulawarman mengambil peran dalam membantu UMKM tempe di Loa Pari melalui penerapan IPAL.

Pendekatan seperti ini menunjukkan hubungan antara perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan penelitian di lingkungan akademik, tetapi juga dapat membawa pengetahuan dan teknologi tersebut untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi pelaku usaha.

Dalam kasus Loa Pari, persoalan yang dihadapi cukup konkret: bagaimana mengelola limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan produksi tempe setiap hari.

Teknologi IPAL kemudian menjadi salah satu solusi yang diterapkan untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Baca Juga: Cara Menata Dekorasi Rumah Sederhana agar Estetik dengan Anggaran Terbatas

Mengapa Limbah Produksi Perlu Diolah?

Dalam kegiatan industri maupun usaha pengolahan pangan, limbah merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan sejak proses produksi dirancang.

Semakin besar aktivitas produksi, semakin penting pula sistem pengelolaan limbah yang memadai.

Jika limbah cair tidak dikelola dengan baik, pembuangan secara langsung dapat berpotensi memberikan tekanan terhadap lingkungan di sekitar lokasi usaha.

Karena itu, konsep pengolahan limbah tidak seharusnya ditempatkan sebagai kegiatan tambahan setelah produksi selesai.

Pengelolaan limbah justru perlu menjadi bagian dari sistem produksi itu sendiri.

Untuk UMKM, tantangannya adalah menyediakan sistem pengolahan yang sesuai dengan kapasitas usaha tanpa membuat biaya operasional menjadi terlalu berat.

Di titik inilah dukungan teknologi dan pendampingan dari perguruan tinggi dapat memiliki nilai penting.

IPAL Membantu UMKM Mengelola Limbah

Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL pada dasarnya merupakan sistem yang digunakan untuk mengolah air limbah sebelum dibuang atau dimanfaatkan kembali sesuai peruntukannya.

Dalam konteks UMKM tempe Loa Pari, penerapan IPAL diarahkan untuk menangani limbah cair yang dihasilkan dari aktivitas produksi.

Kapasitas penanganan menjadi perhatian karena limbah yang dihasilkan mencapai 1.500 liter setiap hari.

Dengan sistem pengolahan yang tersedia, pelaku usaha memiliki sarana untuk menangani limbah secara lebih terstruktur.

Hal tersebut berbeda dengan pola pembuangan tanpa pengolahan yang membuat limbah langsung berhadapan dengan lingkungan.

Namun, efektivitas sebuah IPAL pada akhirnya tetap bergantung pada pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas tersebut.

Artinya, pembangunan instalasi saja belum cukup.

Penggunaannya harus dilakukan secara konsisten agar manfaatnya dapat dipertahankan.

Tantangan Setelah IPAL Diterapkan

Penerapan teknologi pengolahan limbah sering kali menghadapi tantangan setelah fasilitas selesai dibuat.

Salah satunya adalah bagaimana memastikan pelaku UMKM dapat mengoperasikan fasilitas secara rutin.

IPAL membutuhkan pemahaman mengenai cara kerja, perawatan, serta pemantauan kondisi sistem.

Jika fasilitas tidak dirawat atau tidak digunakan sesuai prosedur, kemampuan pengolahan dapat menurun.

Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting dalam penerapan teknologi di tingkat UMKM.

Dalam konteks kerja sama perguruan tinggi dan masyarakat, transfer pengetahuan menjadi sama pentingnya dengan penyediaan teknologi.

Pelaku usaha perlu memahami mengapa limbah harus diolah dan bagaimana sistem tersebut menjadi bagian dari kegiatan produksi sehari-hari.

Lingkungan dan Ekonomi Bisa Berjalan Bersamaan

Persoalan lingkungan sering kali dianggap sebagai beban tambahan bagi pelaku usaha.

Padahal, pengelolaan lingkungan yang baik dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi masyarakat.

Produksi tempe tetap dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat Loa Pari, sementara limbah produksinya ditangani melalui sistem yang lebih terukur.

Pendekatan tersebut penting karena keberlanjutan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan dan menjual produk.

Kondisi lingkungan tempat usaha berada juga menjadi bagian dari keberlanjutan aktivitas ekonomi.

Jika lingkungan mengalami persoalan akibat aktivitas produksi, dalam jangka panjang masyarakat dan pelaku usaha juga dapat terkena dampaknya.

Karena itu, pengolahan limbah dapat dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan usaha.

Baca Juga: Rumah Minimalis Bisa Semewah Ini! 6 Inspirasi Desain Eropa Modern dengan Courtyard dan Pool House

Loa Pari Punya Potensi Usaha Tempe

Keterlibatan Unmul dalam pengelolaan limbah tempe juga menarik jika dilihat dari sejarah penelitian mengenai produksi tempe di Loa Pari.

Studi yang diterbitkan Unmul menunjukkan bahwa produksi tempe bungkus daun pisang memang menjadi aktivitas usaha yang diteliti di desa tersebut.

Penelitian itu menggunakan data dari 20 responden pelaku usaha dan dilakukan pada April hingga Juni 2016.

Kehadiran aktivitas produksi yang berlangsung dalam jangka panjang membuat pengelolaan limbah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan usaha.

Ketika produksi berkembang, sistem pengelolaan limbah juga perlu mengikuti.

Dengan begitu, pengembangan UMKM tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan dampak dari proses produksi tersebut.

Perguruan Tinggi Berperan Lebih Dekat dengan Masyarakat

Penerapan IPAL di Loa Pari juga memperlihatkan salah satu bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat.

Unmul memiliki berbagai program yang melibatkan masyarakat desa di wilayah Kutai Kartanegara. Fakultas Kedokteran Unmul, misalnya, pernah melaksanakan KKN Tematik di Desa Loa Pari bersama sejumlah desa lain di Kecamatan Tenggarong Seberang.

Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa hubungan kampus dan masyarakat tidak berhenti pada aktivitas akademik.

Pengetahuan yang dimiliki perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan yang benar-benar ditemui masyarakat.

Dalam persoalan limbah UMKM, pendekatan teknologi menjadi salah satu bentuk kontribusi yang bisa memberikan dampak langsung.

Bukan Hanya Soal Mengurangi Limbah

Penerapan IPAL memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengurangi jumlah limbah yang masuk ke lingkungan.

Ada perubahan pola pikir yang juga penting.

Pelaku usaha didorong untuk melihat bahwa limbah merupakan bagian dari proses produksi yang perlu dikelola.

Dengan cara tersebut, kegiatan ekonomi dan perlindungan lingkungan tidak ditempatkan sebagai dua kepentingan yang bertentangan.

UMKM tetap dapat menjalankan produksi, sementara limbahnya mendapatkan penanganan.

Pendekatan semacam ini dapat menjadi model yang relevan bagi usaha pengolahan pangan lainnya yang menghadapi persoalan serupa.

Bisa Menjadi Contoh bagi UMKM Lain

Persoalan limbah cair bukan hanya dimiliki oleh usaha tempe.

Berbagai usaha pengolahan makanan juga dapat menghasilkan air limbah dari proses pencucian, perebusan, pengolahan bahan, maupun kegiatan produksi lainnya.

Karena itu, pengalaman di Loa Pari berpotensi menjadi pembelajaran bahwa solusi lingkungan dapat diterapkan pada skala usaha masyarakat.

Tentu, jenis teknologi dan kapasitas IPAL perlu disesuaikan dengan karakteristik serta jumlah limbah yang dihasilkan masing-masing usaha.

Tidak semua UMKM membutuhkan sistem yang sama.

Namun, prinsip dasarnya tetap serupa: aktivitas produksi perlu disertai pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.

Keberlanjutan Menjadi Kunci

Keberhasilan penerapan IPAL tidak hanya dapat diukur dari keberadaan instalasinya.

Yang lebih penting adalah keberlanjutan penggunaannya.

IPAL perlu dioperasikan, dirawat, dan dipantau agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Pelaku UMKM juga perlu mendapatkan pengetahuan yang cukup agar fasilitas tersebut tidak berhenti digunakan setelah program pendampingan selesai.

Karena itu, keberlanjutan program menjadi bagian penting dari evaluasi.

Jika sistem dapat digunakan dalam jangka panjang, manfaatnya akan lebih besar bagi lingkungan sekaligus bagi keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Bukan Bubur Biasa, Ancur Paddas Berau Diracik dari 41 Rempah dan Warisan Dua Kesultanan

Langkah Kecil dengan Dampak Lingkungan

Limbah cair sebanyak 1.500 liter setiap hari memberikan gambaran mengenai skala persoalan yang perlu ditangani dari aktivitas produksi tempe di Loa Pari.

Penerapan IPAL oleh Unmul menjadi salah satu langkah untuk menjawab persoalan tersebut.

Di satu sisi, UMKM tetap dapat menjalankan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, limbah yang dihasilkan tidak dibiarkan tanpa pengelolaan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa teknologi sederhana yang diterapkan sesuai kebutuhan masyarakat dapat memiliki nilai penting dalam menjaga lingkungan.

Bagi bubuhan Kukar, upaya seperti ini juga menunjukkan bahwa pengembangan UMKM dan kepedulian lingkungan bisa berjalan bersama.

Poin Penting

Insight Redaksi:Penerapan IPAL pada UMKM tempe di Loa Pari menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak harus menunggu usaha berkembang menjadi industri besar untuk mulai ditangani. Limbah 1.500 liter per hari merupakan volume yang perlu dikelola secara serius, tetapi solusi yang tepat tetap harus disesuaikan dengan kemampuan pelaku usaha. Peran Unmul menjadi penting karena teknologi perlu dibarengi pendampingan agar fasilitas benar-benar digunakan dan dirawat. Bagi bubuhan Kukar, langkah ini bisa menjadi contoh bahwa UMKM dapat terus berkembang tanpa mengabaikan lingkungan di sekitarnya.

Selalu update info terbaru hanya di Bontang TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Di mana penerapan IPAL dilakukan?

Penerapan IPAL dilakukan pada UMKM tempe di Desa Loa Pari, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara.

2. Berapa banyak limbah yang dihasilkan?

Produksi tempe di Loa Pari menghasilkan sekitar 1.500 liter limbah cair setiap hari.

3. Siapa yang menerapkan teknologi IPAL?

Universitas Mulawarman atau Unmul membantu menerapkan teknologi IPAL untuk menangani limbah cair dari produksi tempe.

4. Mengapa IPAL dibutuhkan?

IPAL digunakan untuk membantu mengolah air limbah sebelum dilepaskan ke lingkungan sehingga pengelolaan limbah dapat dilakukan secara lebih terstruktur.

5. Apakah Loa Pari memang memiliki usaha tempe?

Ya. Penelitian Unmul sebelumnya secara khusus mengkaji produksi tempe bungkus daun pisang di Desa Loa Pari dan melibatkan 20 responden pelaku usaha.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Kaltim Post", dengan judul "Unmul Terapkan IPAL di UMKM Tempe Loa Pari Kukar, Atasi 1.500 Liter Limbah Cair Setiap Hari",oleh penulis Denny Saputra. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sumber : Kaltim Post
Desa Loa Pari UMKM tempe produksi tempe Universitas Mulawarman Tenggarong Seberang