UMKM Tempe Loa Pari Kukar Mulai Kelola Limbah dengan Teknologi IPAL

Ahla Najwa • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 17:50 WIB
M Aidil Fitrah bersama tim Unmul dan pelaku usaha tempe rumahan Desa Loa Pari. (DOK. DENNY/KP)
M Aidil Fitrah bersama tim Unmul dan pelaku usaha tempe rumahan Desa Loa Pari. (DOK. DENNY/KP)

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: Unmul mendampingi UMKM tempe Loa Pari mengolah limbah cair dan padat melalui IPAL serta komposter berkelanjutan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Universitas Mulawarman menerapkan teknologi pengolahan limbah pada Rumah Tempe di Desa Loa Pari, Kukar, untuk menangani 1.500 liter limbah cair setiap hari sekaligus mendukung keberlanjutan usaha.

Persoalan limbah menjadi tantangan bagi industri tempe rumahan karena produksi juga menyisakan ampas dan kulit kedelai. Program Unmul mencoba mengubah persoalan tersebut menjadi bagian dari pengelolaan usaha yang lebih tertata.

Mengapa limbah tempe Loa Pari perlu dikelola?

Produksi tempe di Rumah Tempe yang dipimpin Mariana menghasilkan limbah cair sekitar 1.500 liter setiap hari.

Selain cairan sisa produksi, kegiatan tersebut menghasilkan sekitar 15 kilogram ampas dan kulit kedelai dalam sehari.

Sebelum program pendampingan berlangsung, pengelolaan limbah tersebut belum dilakukan secara optimal.

Kondisi itu berpotensi menimbulkan bau, endapan, serta gangguan pada saluran lingkungan apabila limbah dibuang tanpa pengolahan memadai.

Temuan tersebut menjadi dasar Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Mulawarman memberikan pendampingan kepada pelaku usaha.

Program berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026 dengan fokus pada penerapan teknologi sederhana yang dapat dioperasikan secara mandiri oleh UMKM.

Baca Juga: Campus Fair Perdana Digelar di Tenggarong, Jadi Panduan Pelajar Memilih Kampus

IPAL menjadi solusi untuk limbah cair

Teknologi utama yang diterapkan Unmul untuk limbah cair adalah instalasi pengolahan air limbah atau IPAL.

Sistem tersebut dirancang melalui beberapa tahapan, mulai dari penampungan hingga proses pengolahan biologis.

Tahap awal dilakukan melalui penampungan dan pengendapan untuk memisahkan material yang terbawa dalam limbah.

Selanjutnya, air limbah melewati proses biologis anaerob dan aerob sebelum memasuki tahap penyaringan.

Media filter digunakan sebagai bagian akhir pengolahan sebelum air dialirkan ke lingkungan.

Menurut Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unmul Muhammad Aidil Fitrah, pendekatan tersebut dibuat agar mudah digunakan oleh pelaku UMKM.

“Program yang kami jalankan berupa pendampingan pengelolaan limbah dengan memanfaatkan teknologi sederhana yang mudah digunakan oleh UMKM,” ungkap Muhammad Aidil Fitrah.

Penggunaan IPAL juga relevan dengan kebutuhan pengelolaan air limbah yang memenuhi ketentuan lingkungan. Pemerintah telah memberlakukan Permen LH/BPLH Nomor 11 Tahun 2025 mengenai baku mutu dan standar teknologi pengolahan air limbah domestik.

Namun, penerapan ketentuan teknis tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik dan klasifikasi limbah dari kegiatan usaha masing-masing.

Bagaimana limbah padat dimanfaatkan kembali?

Limbah padat berupa ampas dan kulit kedelai juga memperoleh penanganan melalui teknologi sederhana.

Tim Unmul menggunakan komposter untuk mengolah material tersebut menjadi kompos dan pupuk cair.

Pendekatan ini membuat pengelolaan limbah tidak hanya berorientasi pada pembuangan, tetapi juga pemanfaatan kembali material sisa produksi.

Bagi usaha rumah tangga, pengolahan limbah padat seperti ini dapat membantu mengurangi material yang menumpuk di sekitar lokasi produksi.

Pengelolaan tersebut juga membuka peluang pemanfaatan hasil olahan sebagai bahan pendukung kegiatan pertanian apabila memenuhi kebutuhan penggunaannya.

Teknologi sederhana membutuhkan pengoperasian yang konsisten

IPAL dan komposter bukan sekadar perangkat yang dipasang, kemudian dibiarkan bekerja sendiri.

Tim pengabdian memberikan sosialisasi, pelatihan, praktik pengoperasian, serta pendampingan langsung kepada mitra.

Mitra juga memperoleh pedoman dan SOP sederhana mengenai pengoperasian serta perawatan IPAL dan komposter.

Pendekatan tersebut penting karena keberhasilan pengolahan limbah sangat berkaitan dengan konsistensi pengoperasian dan pemeliharaan perangkat.

Program ini juga melibatkan mahasiswa Unmul dalam survei, perakitan alat, pengujian, pelatihan, dokumentasi, hingga pendampingan.

Baca Juga: Tabang Kukar Kondusif Usai Pembakaran Rumah, Warga Diminta Tahan Diri

Program Unmul menghubungkan lingkungan dan keberlanjutan usaha

Program bertajuk “Implementasi Teknologi Pengolahan Limbah Cair dan Padat Berkelanjutan dalam Mendorong Kemandirian UMKM Tempe Daun di Desa Loa Pari Kukar” merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.

Pendanaan program berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi 2026.

Muhammad Aidil Fitrah mengatakan program tersebut diarahkan untuk mendukung keberlanjutan industri rumah tangga dari sisi lingkungan dan ekonomi desa.

“Itu menjadi bentuk dukungan terhadap keberlanjutan industri rumah tangga dari sisi lingkungan dan ekonomi desa,” jelasnya.

Tim pengabdian terdiri atas Muhammad Aidil Fitrah dari Program Studi Kesehatan Masyarakat Unmul, Searphin Nugroho dari Teknik Lingkungan, dan Vivi Filia Elvira dari Kesehatan Masyarakat.

Mahasiswa Aura Nurani Pangastiti, Nadhif Naoya, dan Rangga Aditya Pratama turut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengabdian perguruan tinggi dapat diarahkan pada persoalan konkret yang dihadapi pelaku usaha di tingkat desa.

Baca Juga: Nelayan Hilang di Sungai Mahakam Kutai Kartanegara Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Resmi Berakhir

Apa manfaat pengelolaan limbah bagi UMKM tempe?

Pengolahan limbah memberikan manfaat pada dua sisi sekaligus, yakni pengendalian dampak lingkungan dan penguatan keberlanjutan kegiatan usaha.

Bagi lingkungan sekitar, pengelolaan limbah membantu mencegah pembuangan material produksi secara langsung.

Bagi pelaku usaha, keberadaan sistem pengolahan memberikan mekanisme kerja yang lebih teratur untuk menangani limbah dari aktivitas produksi harian.

Program seperti ini juga memberi pengetahuan teknis kepada mitra sehingga pengelolaan perangkat dapat dilakukan secara mandiri.

Yang paling penting, keberlanjutan program bergantung pada kemampuan mitra menjalankan SOP dan melakukan perawatan perangkat secara rutin.

Tips menerapkan pengelolaan limbah usaha

Poin Penting

Insight Redaksi

Kasus Loa Pari menunjukkan persoalan lingkungan UMKM bisa diselesaikan dari teknologi yang membumi, asal pendampingannya berjalan. Kada cukup memasang alat; pengelolaan harian justru menentukan hasil. Pola seperti ini layak diperkuat di sentra produksi desa lain agar usaha tumbuh tanpa meninggalkan beban limbah bagi lingkungan sekitar.

Langkah berikutnya bisa diarahkan pada pemantauan kualitas hasil olahan secara berkala agar manfaat IPAL terukur.

Bagikan informasi ini ke kawalan ikam supaya makin banyak pelaku usaha memahami pentingnya mengelola limbah produksi sejak awal.

Selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Berapa banyak limbah cair yang dihasilkan Rumah Tempe Loa Pari?

Rumah Tempe tersebut menghasilkan sekitar 1.500 liter limbah cair setiap hari berdasarkan informasi dalam sumber berita.

2. Apa saja limbah yang dihasilkan produksi tempe?

Produksi menghasilkan limbah cair serta sekitar 15 kilogram ampas dan kulit kedelai setiap hari.

3. Bagaimana IPAL mengolah limbah cair tempe?

Sistemnya mencakup penampungan, pengendapan awal, proses biologis anaerob dan aerob, lalu penyaringan menggunakan media filter.

4. Apa yang dilakukan terhadap ampas dan kulit kedelai?

Limbah padat tersebut diolah menggunakan komposter menjadi kompos dan pupuk cair.

5. Siapa saja yang terlibat dalam program Unmul?

Program diketuai Muhammad Aidil Fitrah dengan anggota Searphin Nugroho dan Vivi Filia Elvira, serta melibatkan tiga mahasiswa Unmul.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, “Unmul Terapkan IPAL di UMKM Tempe Loa Pari Kukar, Atasi 1.500 Liter Limbah Cair Setiap Hari”, oleh Denny Saputra. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Desa Loa Pari Muhammad Aidil Fitrah IPAL