Topik: Revitalisasi Tangga Arung Square Disorot DPRD Kukar Demi Hidupkan Aktivitas Pedagang Lokal
Durasi Baca: 6 menit
Baca Ringkas 30 Detik: Aktivitas di Tangga Arung Square menjadi perhatian serius setelah pedagang mengeluhkan sepinya pembeli dan beban retribusi. DPRD Kutai Kartanegara turun langsung meninjau kondisi pasar, mendorong pengisian kios, pembukaan akses, hingga evaluasi biaya agar ekonomi kembali bergerak dan pedagang mendapatkan kepastian usaha. Scroll Kebawah Lanjut Baca Selengkapnya, Cess!...
Balikpapan TV - Hai Cess! Tangga Arung Square di Kutai Kartanegara lagi jadi sorotan setelah keluhan pedagang soal sepinya pembeli dan retribusi yang terasa berat sampai ke telinga DPRD. Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani langsung turun sidak, Kamis 30 April, buat lihat kondisi di lapangan tanpa basa-basi.
Nah, jangan buru-buru pindah, Cess. Cerita ini kada cuma soal pasar sepi, tapi juga soal harapan pedagang yang ingin tempat usaha mereka benar-benar hidup dan jadi sumber penghasilan yang stabil!
Kenapa Tangga Arung Square masih sepi pengunjung?
Masalah utama yang langsung terlihat itu sederhana tapi krusial: banyak kios dan lapak kosong. Kondisi ini bikin suasana pasar terasa mati, padahal bangunannya megah dan sudah disiapkan untuk aktivitas ekonomi. Ahmad Yani menegaskan bahwa pasar yang dibangun dari uang rakyat harus dimanfaatkan maksimal.
“Pasar ini dibangun menggunakan uang rakyat dengan nilai yang sangat besar, sehingga harus benar-benar dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Yani.
Kalau banyak ruang kosong, otomatis aktivitas jadi lesu. Orang yang datang pun cepat pergi. Nah, di sinilah awal persoalannya—pasar belum hidup karena isinya belum penuh.
Apa langkah cepat DPRD Kukar biar pasar kembali ramai?
Langkah awal yang didorong cukup tegas: semua kios harus terisi. Kada boleh ada yang dibiarkan kosong. Menurut Yani, kalau semua terisi, aktivitas ekonomi bakal ikut bergerak dengan sendirinya.
Selain itu, ada strategi yang langsung menyentuh pengunjung. Parkir digratiskan sementara. Kendaraan yang biasa parkir di pinggir jalan diminta masuk ke area pasar. Semua pintu masuk juga wajib dibuka.
“Kalau akses terbuka, pergerakan orang dan rezeki juga akan mengalir,” tegasnya. Sederhana, tapi berdampak. Akses yang mudah bikin orang kada ragu masuk. Pahamlah ikam, pasar itu hidup dari arus orang.
Bagaimana solusi soal retribusi yang dikeluhkan pedagang?
Soal retribusi pedagang, DPRD kada tutup mata. Mereka membuka opsi evaluasi. Prinsipnya jelas, saat kondisi pasar masih sepi, pedagang jangan dibebani dulu.
“Kalau retribusi dirasa masih berat, bisa kita evaluasi. Prinsipnya sekarang memudahkan dulu, bukan membebani,” ujar Yani.
Ini jadi angin segar buat pedagang. Karena realitanya, kalau penghasilan belum stabil tapi biaya jalan terus, usaha bisa tersendat. Nah, pendekatannya sekarang lebih ke pemulihan dulu, baru bicara optimalisasi pendapatan daerah.
Baca Juga: Jam Layanan Pajak Kaltimtara Diperpanjang Sampai Tengah Malam Jelang Akhir SPT 2026
Kenapa praktik jual beli lapak dilarang keras?
Ada satu hal yang juga jadi perhatian serius: praktik jual beli lapak. DPRD tegas melarang ini. “Tidak boleh ada jual beli lapak. Tempat usaha harus benar-benar dimanfaatkan oleh pedagang yang berjualan,” kata Yani.
Kenapa penting? Karena kalau lapak jadi komoditas, yang benar-benar ingin berdagang bisa tersingkir. Akhirnya, banyak tempat kosong atau tidak produktif.
Pasar itu bukan sekadar ruang fisik, tapi ruang hidup ekonomi. Jadi harus diisi oleh pelaku usaha yang aktif, bukan sekadar pemilik lapak.
Apa strategi jangka pendek agar Tangga Arung Square hidup lagi?
Selain pengisian kios, DPRD juga mendorong optimalisasi ruang, termasuk area terbuka untuk pedagang yang belum dapat tempat. Ini langkah praktis biar semua bisa ikut berjualan.
Penataan produk juga jadi sorotan. Barang harus ditampilkan menarik supaya jadi alasan orang datang. “Penataan produk harus menarik. Kalau bisa, jadi alasan orang dari luar datang berbelanja ke sini,” ucap Yani.
Ditambah lagi, rencana promosi lewat event bakal digencarkan bersama pemerintah daerah. Harapannya, pasar ini bukan cuma tempat transaksi, tapi juga tujuan kunjungan.
Pedagang juga diingatkan soal harga. Ambil untung boleh, tapi jangan berlebihan. Perputaran cepat jauh lebih penting daripada margin tinggi tapi sepi pembeli.
Poin Penting
1. DPRD Kukar sidak Tangga Arung Square setelah keluhan pedagang.
2. Banyak kios kosong jadi penyebab utama pasar sepi.
3. Parkir gratis dan akses pintu dibuka penuh.
4. Retribusi berpotensi dievaluasi agar tidak membebani.
5. Praktik jual beli lapak dilarang keras.
6. Promosi event dan penataan produk jadi strategi lanjutan.
Insight: Pasar modern kadang terlihat megah di luar, tapi kosong di dalam kalau strategi pengelolaannya kada tepat. Tangga Arung Square ini contoh nyata. Fokusnya sekarang bukan angka pendapatan dulu, tapi menghidupkan aktivitas. Itu langkah realistis. Nah, pendekatan seperti ini bisa jadi pelajaran daerah lain juga, bahwa ekonomi lokal itu harus dirawat dari bawah, bukan cuma dibangun dari atas, pahamlah ikam.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham kondisi pasar kita, siapa tahu jadi perhatian bersama, Cess!
Ikuti terus perkembangan pasar daerah dan cerita ekonomi lokal yang relate dengan kehidupan sehari-hari hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Kenapa Tangga Arung Square masih sepi?
Karena banyak kios dan lapak belum terisi sehingga aktivitas ekonomi belum berjalan maksimal.
2. Apa solusi dari DPRD Kukar?
Mengisi semua kios, membuka akses pintu, dan menggratiskan parkir sementara.
3. Apakah retribusi akan diubah?
Ada kemungkinan evaluasi agar tidak memberatkan pedagang saat kondisi masih sepi.
4. Kenapa jual beli lapak dilarang?
Agar tempat usaha digunakan langsung oleh pedagang aktif, bukan diperjualbelikan.