Balikpapan TV - Hai Cess! Desa Wisata Pela di Kutai Kartanegara kini jadi magnet wisata alam dan budaya yang bikin siapa pun betah berlama-lama. Di sini, pengunjung tak hanya disuguhi panorama Sungai Mahakam yang menenangkan, tapi juga kesempatan langka melihat langsung pesut Mahakam — lumba-lumba air tawar yang jadi ikon kebanggaan Kalimantan Timur.
Desa Pela, yang terletak di Kecamatan Kota Bangun, telah menjelma menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam. Warga desa hidup berdampingan dengan pesut selama bertahun-tahun dan percaya bahwa hewan ini adalah titipan leluhur yang harus dijaga. Dari semangat itulah, lahir konsep ekowisata berbasis komunitas yang kini makin dikenal luas hingga ke mancanegara.
Apa yang Membuat Desa Pela Begitu Istimewa?
Keunikan Desa Pela terletak pada kombinasi alami antara budaya masyarakat sungai dan keindahan ekosistem Mahakam. Wisatawan bisa menyusuri sungai dengan perahu tradisional sambil menunggu momen munculnya pesut Mahakam yang sering “menyapa” di permukaan air.
Warga setempat berperan aktif sebagai pemandu wisata. Mereka memastikan setiap aktivitas wisata tidak mengganggu habitat pesut, menjaga kebersihan perairan, dan bahkan mengajak pengunjung ikut menanam pohon di sekitar bantaran sungai sebagai bentuk nyata menjaga keseimbangan alam.
Bagaimana Kehidupan Masyarakat Pela Sehari-hari?
Sebagian besar warga Pela masih menggantungkan hidup pada sungai — baik sebagai nelayan, petani, maupun pemandu wisata. Tapi kini, desa ini mulai menumbuhkan sektor ekonomi baru melalui produk olahan lokal.
Keripik ikan, olahan hasil sungai, hingga kuliner khas Mahakam jadi daya tarik tambahan. Beberapa rumah warga bahkan dibuka untuk homestay, memberi kesempatan pengunjung merasakan kehidupan pedesaan yang hangat dan penuh kearifan lokal.
Apakah Pesut Mahakam Masih Bisa Ditemui di Sana?
Meski populasinya menurun, pesut Mahakam masih bisa ditemui di sekitar perairan Desa Pela — terutama di pagi dan sore hari. Wisatawan yang beruntung bisa melihat sekawanan pesut muncul dari air, memberi pengalaman yang sulit dilupakan.
Untuk menjaga keberlangsungan spesies langka ini, pengelola desa menerapkan aturan ketat. Kapal wisata wajib menjaga jarak aman dari area pesut, tidak boleh membuang sampah ke sungai, dan jumlah kunjungan wisata dikontrol agar tidak mengganggu ekosistem alami.
Apa Saja Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di Desa Pela?
Selain menyusuri Sungai Mahakam, pengunjung bisa berkeliling kampung untuk mengenal kehidupan masyarakat Pela lebih dekat. Spot foto dermaga dengan latar hamparan air tenang jadi favorit wisatawan.
Kamu juga bisa ikut menanam mangrove, belajar menenun, menebar benih ikan, hingga menikmati malam bersama warga lewat kegiatan api unggun atau camping di tepian sungai. Aktivitas ini bukan hanya seru, tapi juga menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Desa Wisata Pela kini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian alam bisa berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat. Dari harmoni manusia dan pesut Mahakam, Desa Pela menebarkan pesan: wisata tak harus merusak alam, justru bisa menjadi jembatan untuk menjaganya.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"(ROhman)
FAQ
1. Di mana lokasi Desa Wisata Pela?
Desa Pela berada di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
2. Kapan waktu terbaik mengunjungi Desa Pela?
Waktu terbaik adalah pagi atau sore hari, saat cuaca cerah dan pesut Mahakam aktif muncul ke permukaan.
3. Apakah ada penginapan di Desa Pela?
Ya, tersedia homestay yang dikelola oleh warga dengan fasilitas sederhana tapi nyaman, cocok buat wisatawan yang ingin merasakan kehidupan lokal.
DISKLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.