Balikpapan TV - Hai Cess! Di Kutai Kartanegara, urusan sampah bukan cuma soal bersih-bersih, tapi soal cinta. Cinta pada lingkungan, cinta pada rumah sendiri. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) lagi serius banget ngajak semua orang bareng-bareng jaga bumi. Bukan kampanye sesaat, tapi upaya panjang buat bikin gaya hidup bersih jadi kebiasaan.
Bayangin aja, setiap orang di Kukar rata-rata menghasilkan hampir setengah kilo sampah per hari (0,49 kg). Di TPA Bekotok, Tenggarong, tiap harinya numpuk sekitar 85 ton sampah. Angka segitu bikin kita sadar: kalau bukan kita yang berubah, siapa lagi?
Tapi yang keren, Kukar nggak cuma berhenti di angka. Mereka mulai dari langkah nyata — ngajak warga bareng-bareng buat hidup lebih peduli, mulai dari hal paling sederhana di rumah sendiri.
Kolaborasi Jadi Kunci
Sekretaris Daerah Kabupaten Kukar, Sunggono, percaya banget kalau perubahan besar selalu dimulai dari kebersamaan.
“Untuk itu, dinas terkait perlu terus menggandeng semua elemen dalam melakukan penguatan kesadaran dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengelolaan sampah untuk mengurangi beban TPA dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat,” ujarnya di Tenggarong, Ahad.
Kalimatnya sederhana tapi dalam banget — intinya, Pemkab Kukar nggak mau jalan sendiri. Mereka pengin semua ikut andil: dari siswa, ibu rumah tangga, pelaku usaha, sampai perangkat desa. Karena kalau bareng-bareng, masalah sampah bisa diubah jadi gerakan bersama.
Dari Dapur ke Dunia: Peran Rumah Tangga yang Penting Banget
Kadang kita ngerasa hal kecil nggak ada artinya. Tapi buat Sunggono, memilah sampah dari rumah justru bisa jadi awal perubahan besar.
Bayangin kalau setiap keluarga di Kukar rajin memilah sampah — organik, anorganik, dan sisa dapur. Sedikit demi sedikit, beban TPA bakal berkurang. Lebih dari itu, kesadaran kolektif terbentuk: bahwa rumah kita adalah bagian dari bumi yang harus dijaga.
Langkah Nyata Pemerintah dan DLHK
Gerakan ini nggak cuma soal himbauan. Pemkab Kukar bareng Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) bener-bener turun tangan. Mereka udah ngumpulin perwakilan dari berbagai instansi, kecamatan, sampai desa buat duduk bareng ngerancang sistem pengelolaan sampah yang lebih rapi dan berkelanjutan.
“Dengan dasar hukum yang jelas, pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif,” ujar Sunggono.
Mereka punya Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah, ditambah surat edaran bupati yang jadi panduan resmi. Jadi bukan cuma niat, tapi ada payung hukum biar semua pihak bisa kerja bareng dengan arah yang jelas.
DLHK Kukar: Gerakan Ini Soal Hati dan Kesadaran
Kepala DLHK Kukar, Slamet Hadi Raharjo, ngasih pandangan yang menyentuh banget tentang arti menjaga lingkungan.
“Program dedikasi jaga lingkungan lestari menjadi langkah strategis dalam membangun budaya bersih dan ramah lingkungan. Dalam konteks ini, penyusunan kebijakan pengelolaan sampah sangat penting agar program ini makin kuat dengan dukungan dan keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat mulai perkotaan hingga pedesaan,” ungkap Slamet.
Buat Slamet, program ini bukan cuma urusan teknis kayak ngangkut dan buang. Tapi tentang menyentuh kesadaran — biar setiap orang punya rasa tanggung jawab atas sampah yang dia hasilkan. Permasalahan sampah bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga tata kelola dan kesadaran kolektif
Kalimat itu kayak tamparan lembut — ngingetin kita bahwa semua berawal dari pola pikir. Kalau kita sadar, solusi bakal ikut terbuka.
Mulai dari Diri Sendiri, Sekarang
Gerakan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dari kamu, dari aku, dari kita semua.
Coba deh mulai dari hal sederhana:
-
Pisahin sampah organik dan nonorganik.
-
Kurangin plastik sekali pakai.
-
Daur ulang yang masih bisa dipakai.
-
Bikin kompos dari sisa dapur.
Nggak harus sempurna. Yang penting mulai. Karena bumi cuma satu, dan dia butuh kita sekarang — bukan nanti.
Penutup: Tentang Harapan
Gerakan pengelolaan sampah di Kukar adalah cerita tentang harapan. Tentang mimpi sederhana: hidup di lingkungan bersih dan sehat, di mana anak-anak bisa main tanpa khawatir, udara segar, dan sungai tetap jernih.
Pemkab Kukar udah kasih contoh nyata, DLHK udah gerak bareng, tinggal kita yang nyusul. Karena menjaga bumi bukan tugas siapa-siapa, tapi tugas kita semua.
Kukar ngajak kita bukan cuma buang sampah pada tempatnya, tapi menanam kebaikan di tempat yang tepat.
FAQ – Gerakan Pengelolaan Sampah di Kukar
1. Apa tujuan utama gerakan pengelolaan sampah di Kutai Kartanegara?
Tujuannya untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan, dengan cara mengelola dan mengurangi sampah mulai dari rumah tangga.
2. Siapa yang terlibat dalam gerakan ini?
Semua pihak ikut ambil bagian — mulai dari pemerintah daerah, DLHK Kukar, pelaku usaha, sekolah, perangkat desa, hingga masyarakat umum.
3. Apakah ada dasar hukum yang mengatur pengelolaan sampah di Kukar?
Ada. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara berpedoman pada Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah, serta surat edaran bupati yang memperkuat pelaksanaannya.
4. Apa langkah konkret yang sudah dilakukan Pemkab Kukar dan DLHK?
Mereka sudah membentuk kolaborasi lintas instansi, membuat sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, dan mengajak masyarakat berpartisipasi aktif melalui edukasi serta aksi nyata di lapangan.
5. Bagaimana masyarakat bisa ikut berkontribusi?
Mulai dari hal sederhana: memilah sampah di rumah, mengurangi plastik sekali pakai, mendaur ulang barang bekas, dan membuat kompos dari sisa dapur.
Langkah kecil kalau dilakukan bersama, bisa berdampak besar untuk bumi.
Disclaimer
Artikel ini disusun berdasarkan kegiatan dan pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar dalam upaya pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.
Semua kutipan dalam berita ini diambil dari sumber dan narasumber yang relevan.
Balikpapan TV menyajikan informasi secara netral, edukatif, dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup di Kalimantan Timur.