Konsorsium Sempekat Lestari Perkuat Kolaborasi Pembangunan Berkelanjutan di Kutai Barat

Ahla Najwa • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 07:25 WIB
Suasana sosialisasi Konsorsium Sempekat Lestari di Kutai Barat membahas program dan pemberdayaan masyarakat setempat. (DOK. IST/KP)
Suasana sosialisasi Konsorsium Sempekat Lestari di Kutai Barat membahas program dan pemberdayaan masyarakat setempat. (DOK. IST/KP)

Durasi Baca: 4 Menit

Ikhtisar: Konsorsium Sempekat Lestari memperkuat kolaborasi lingkungan, pangan lokal, pendidikan pemuda, dan masyarakat adat di Kutai Barat.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Konsorsium Sempekat Lestari (KSL) memperkenalkan program kerja 2026–2027 di Kutai Barat untuk memperkuat kolaborasi menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan potensi ekonomi masyarakat.

Program tersebut disosialisasikan di Ruang Rapat I Bappeda Litbang Kutai Barat, Rabu (9/9/2026), dengan melibatkan pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat sipil, dan sejumlah kelompok lokal. Menariknya, program ini tidak hanya bicara soal lingkungan, tetapi juga menyentuh pangan, pendidikan, dan masyarakat adat. Ces!

KSL Dorong Empat Pilar untuk Kutai Barat

KSL membawa tema Bersama untuk Manusia dan Bumi sebagai arah program kerja 2026–2027. Gagasan tersebut menempatkan kelestarian alam dan kebutuhan masyarakat dalam satu jalur pembangunan.

Ketua KSL Marselinus Mitehari mengatakan konsorsium berupaya mengelola kekayaan sumber daya alam dan manusia di Kutai Barat secara berkelanjutan.

Ada empat pilar yang menjadi fokus KSL, yakni kelestarian lingkungan, kemandirian pangan lokal, pendidikan kaum muda, serta penguatan masyarakat hukum adat.

"Pilar tersebut meliputi kelestarian lingkungan untuk menjaga keanekaragaman hayati, kemandirian pangan lokal guna memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat, pendidikan kaum muda untuk mencetak penggerak pembangunan, serta penguatan masyarakat hukum adat dalam menjaga kearifan lokal dan warisan leluhur," ujarnya.

Empat bidang tersebut saling berkaitan. Lingkungan yang terjaga menjadi dasar bagi produksi pangan, sementara masyarakat dan generasi muda membutuhkan ruang untuk mengembangkan pengetahuan serta potensi daerah.

Karena itu, pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi. Cara masyarakat menjaga sumber daya alam, mempertahankan pengetahuan lokal, dan menyiapkan generasi penerus juga menjadi bagian penting.

Dari Kopi hingga Gula Semut, Ekonomi Lokal Jadi Bagian Program

Program KSL juga menyentuh pengembangan komoditas yang sudah hidup di tengah masyarakat Kutai Barat.

Direktur WWF Mahakam Kayan Project Sri Jimmy Kustini menjelaskan KSL menjadi ruang kolaborasi sejumlah lembaga dan kelompok masyarakat di tingkat lokal.

Di dalamnya terdapat kelompok seperti Kopi Kola Lestari, Pokdarwis Linggang Melapeh, Klub Sahabat Bumi Borneo (CSBB) Bongan, hingga kelompok pengolah gula semut di Kecamatan Penyinggahan.

"Pengembangan komoditas unggulan seperti kopi, lada, aren, dan pangan khas daerah diarahkan untuk memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan," ucapnya.

Arah tersebut menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan tidak harus berjalan terpisah dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Kopi, lada, aren, dan pangan khas daerah justru dapat menjadi sumber penghasilan ketika kualitas produk, pengelolaan, dan akses pasar dikembangkan dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan.

Pengalaman pengembangan kopi Linggang di Linggang Melapeh dan gula semut di Penyinggahan menjadi contoh yang disebut pemerintah daerah dalam melihat peluang tersebut.

Baca Juga: Warga Kutai Barat Keluhkan Sulitnya BBM Subsidi, Harga Eceran Pertalite Capai Rp15 Ribu

Mengapa Pendidikan Kaum Muda Ikut Jadi Prioritas?

KSL juga memberi perhatian pada generasi muda. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga pembentukan karakter pembangunan berkelanjutan sejak usia sekolah.

Gagasan ini penting karena keberlanjutan program lingkungan, pangan lokal, dan budaya sangat bergantung pada siapa yang akan meneruskannya pada masa mendatang.

Pengalaman KSL dalam program kepemudaan sebelumnya juga memperlihatkan keterlibatan anak muda dalam isu pangan lokal dan konservasi. Pada 2025, KSL bersama sejumlah mitra menggelar Jambore Pemuda Peduli Pangan Lokal di Kutai Barat yang melibatkan pelajar dari berbagai kecamatan.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pangan lokal, pengetahuan masyarakat adat, dan kepedulian lingkungan dapat dikenalkan kepada generasi muda melalui kegiatan yang konkret.

Artinya, pendidikan lingkungan dan pangan tidak berhenti pada pemahaman teori. Anak muda juga diarahkan agar memiliki ruang untuk mengenali potensi wilayahnya dan ikut terlibat dalam pengembangannya.

Pemkab Kutai Barat Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Pemerintah Kabupaten Kutai Barat memberikan apresiasi terhadap kontribusi KSL dalam mendorong pembangunan berbasis lingkungan dan potensi masyarakat.

Plt Asisten Administrasi Umum Sekretariat Kabupaten Kutai Barat, Mobilala, yang mewakili Bupati Kutai Barat Frederick Edwin, menilai tema Bersama untuk Manusia dan Bumi sejalan dengan visi pembangunan daerah.

Pengembangan kopi Linggang di Linggang Melapeh serta gula semut di Penyinggahan menjadi contoh bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat.

"Pemerintah daerah berharap produk-produk lokal terus dikembangkan kualitas dan jangkauan pasarnya dengan tetap menjadikan kelestarian lingkungan serta kearifan lokal sebagai fondasi utama," pungkasnya.

Dorongan memperluas pasar menjadi bagian penting dari pengembangan produk lokal. Produk yang memiliki potensi ekonomi membutuhkan kualitas yang konsisten sekaligus akses pasar agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Pada titik ini, kolaborasi antara komunitas, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan dunia usaha menjadi penting. Masing-masing memiliki peran berbeda, tetapi dapat diarahkan pada tujuan yang sama.

Baca Juga: Kabut Asap Kubar Belum Reda, Gerindra Bagikan 10.000 Masker Gratis

Kolaborasi Jadi Kunci Pembangunan Kutai Barat

Program kerja KSL 2026–2027 memperlihatkan bahwa pembangunan berkelanjutan di Kutai Barat tidak hanya berkaitan dengan menjaga kawasan alam.

Ada persoalan pangan, peluang ekonomi petani, masa depan generasi muda, serta keberadaan masyarakat hukum adat yang perlu berjalan beriringan.

Kekuatan program justru berada pada keterhubungan tersebut. Ketika lingkungan dijaga, komoditas lokal dapat dikembangkan. Ketika anak muda mendapat pendidikan yang relevan, mereka memiliki peluang menjadi penggerak. Sementara masyarakat adat tetap memiliki ruang untuk menjaga pengetahuan dan kearifan lokal.

Dengan pendekatan seperti itu, tema Bersama untuk Manusia dan Bumi tidak berhenti sebagai slogan kegiatan. Nilainya akan terlihat dari seberapa jauh kolaborasi tersebut menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga ruang hidup Kutai Barat.

Poin Penting:

Insight Redaksi

Kutai Barat memiliki kekuatan pada hubungan antara alam, pangan, budaya, dan masyarakat. Tantangannya bukan sekadar menjaga semuanya tetap ada, tetapi memastikan potensi tersebut menghasilkan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan fondasi ekologis dan kearifan lokal. Kolaborasi KSL akan bernilai ketika program tidak berhenti pada kegiatan, melainkan menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan komunitas.

FAQ

1. Apa itu Konsorsium Sempekat Lestari?
Konsorsium Sempekat Lestari merupakan wadah kolaborasi berbagai lembaga dan kelompok masyarakat untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam, masyarakat, pangan lokal, kepemudaan, serta pembangunan berkelanjutan di Kutai Barat.

2. Apa tema program KSL 2026–2027?
Tema yang diusung adalah Bersama untuk Manusia dan Bumi.

3. Apa saja fokus utama program KSL?
Fokusnya meliputi kelestarian lingkungan, kemandirian pangan lokal, pendidikan kaum muda, serta penguatan masyarakat hukum adat.

4. Komoditas lokal apa yang dikembangkan?
Beberapa komoditas yang disebut antara lain kopi, lada, aren, dan pangan khas daerah.

5. Mengapa generasi muda menjadi bagian penting program?
Generasi muda dipandang perlu mendapat pendidikan dan pembentukan karakter pembangunan berkelanjutan agar dapat menjadi penggerak di wilayahnya.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul “Konsorsium Sempekat Lestari Paparkan Program 2026–2027, Perkuat Kolaborasi Demi Manusia dan Bumi”, ditulis Sunardi Kaltim Post dan dipublikasikan pada 9 September 2026.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Konsorsium Sempekat Lestari lingkungan sendawar pembangunan berkelanjutan