Pemkab Kubar Dorong B2SA dari Rumah, Pekarangan Bisa Jadi Sumber Pangan Keluarga

Ahla Najwa • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:44 WIB
Sosialisasi pola konsumsi pangan B2SA digelar Ketapang Kubar untuk memperkuat gizi keluarga dan ketahanan pangan rumah tangga. (DOK. SUNARDI/KP)
Sosialisasi pola konsumsi pangan B2SA digelar Ketapang Kubar untuk memperkuat gizi keluarga dan ketahanan pangan rumah tangga. (DOK. SUNARDI/KP)

Durasi Baca: 4 Menit

Ikhtisar: Pemkab Kutai Barat memperkuat edukasi B2SA melalui keluarga, pemanfaatan pekarangan, dan kolaborasi kader masyarakat.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Pemerintah Kabupaten Kutai Barat mendorong keluarga menerapkan pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman untuk memperkuat gizi anak serta kualitas SDM.

Kebiasaan makan sehat ternyata bisa dimulai dari rumah. Pekarangan sempit pun dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan keluarga, sekaligus mendukung ketahanan pangan rumah tangga.

Mengapa B2SA Perlu Dimulai dari Keluarga?

Pemenuhan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi setiap hari. Keragaman, keseimbangan, serta keamanan pangan juga perlu diperhatikan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kutai Barat, Rion, menilai keluarga memiliki posisi penting dalam membentuk kebiasaan makan anak sejak usia dini.

“Kalau ingat anak, kita akan ingat bagaimana makanan yang baik, makanan bergizi dan makanan sehat. Beragam, bergizi, seimbang, dan aman,” ujar Rion, Selasa (11/8/2026).

Konsep B2SA sendiri merupakan bagian dari kebijakan penganekaragaman konsumsi pangan nasional. Badan Pangan Nasional menjelaskan bahwa pangan beragam mencakup sumber karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral dari berbagai jenis makanan.

Penerapannya juga berkaitan dengan prinsip gizi seimbang dan keamanan makanan, mulai dari bahan, pengolahan hingga penyimpanan.

Baca Juga: Kesbangpol Kutai Barat Bagikan 500 Bendera, Semangat Nasionalisme Warga Menguat

Pekarangan Rumah Bisa Mendukung Kebutuhan Pangan

Keterbatasan lahan bukan alasan untuk mengabaikan potensi pangan di sekitar rumah. Dinas Ketahanan Pangan Kubar mendorong masyarakat memanfaatkan area yang tersedia, termasuk teras.

Tanaman pangan dapat ditempatkan dalam pot, polybag, maupun wadah sederhana yang diisi tanah. Pola tersebut memungkinkan keluarga menghasilkan sebagian kebutuhan pangan secara mandiri.

“Tanaman nanti bisa dibuat di dalam pot atau polybag. Bisa juga dibuat di depan teras dengan menggunakan cetakan atau papan, kemudian diisi tanah,” ungkap Rion.

Pemanfaatan pekarangan sejalan dengan pendekatan B2SA berbasis sumber daya lokal yang didorong Badan Pangan Nasional. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan dan pemanfaatan pangan hingga tingkat keluarga.

Bagi masyarakat yang membutuhkan bibit atau media tanam, Dinas Ketahanan Pangan Kubar membuka ruang koordinasi dengan instansi terkait sesuai dukungan yang tersedia.

Dukungan CSR Bisa Membantu Kegiatan Produktif

Upaya membangun ketahanan pangan keluarga juga membutuhkan dukungan sumber daya. Pemerintah daerah mendorong masyarakat melihat peluang pembiayaan alternatif untuk kegiatan produktif.

Salah satu peluang yang disebut Rion ialah program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari sektor perbankan.

Menurutnya, masih terdapat masyarakat yang belum mengetahui mekanisme untuk mengakses program tersebut. Edukasi mengenai akses dukungan menjadi bagian penting agar kegiatan pangan di tingkat masyarakat dapat berkembang.

Konteks ini relevan dengan penguatan ketahanan pangan Kubar yang juga melibatkan berbagai pihak. Pada 2026, Dinas Ketahanan Pangan termasuk dalam kolaborasi lintas sektor untuk menyiapkan kawasan pertanian terpadu seluas 1.400 hektare di Kecamatan Siluq Ngurai.

Artinya, ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai produksi dalam skala besar. Rumah tangga juga memiliki ruang untuk berkontribusi melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

Edukasi Gizi Diperluas Bersama PKK

Pemahaman mengenai pangan sehat perlu diteruskan secara konsisten agar tidak berhenti sebagai kegiatan sosialisasi. Karena itu, Dinas Ketahanan Pangan Kubar menggandeng Tim Penggerak PKK Kabupaten Kutai Barat.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas edukasi dan pendampingan hingga tingkat kecamatan dan kampung, termasuk Kecamatan Penyinggahan.

Masyarakat juga mendapat ruang konsultasi mengenai kebutuhan gizi. Dinas Ketahanan Pangan menghadirkan Kepala Bidang terkait, Rahel, yang memiliki latar belakang kesehatan dan keahlian di bidang gizi.

Pendekatan melalui keluarga dan kader menjadi penting karena kebiasaan makan terbentuk dari aktivitas sehari-hari. Edukasi yang dekat dengan kehidupan warga berpeluang lebih mudah diterapkan.

Pemkab Kubar sebelumnya juga aktif menjalankan edukasi B2SA melalui program B2SA Goes to School. Pada Juli 2026, kampanye serupa dilakukan di SMAN 1 Jempang untuk mengenalkan pola konsumsi pangan sehat kepada pelajar.

B2SA Berkaitan dengan Ketahanan Pangan Rumah Tangga

B2SA bukan sekadar ajakan memilih makanan sehat. Konsep ini juga berkaitan dengan bagaimana keluarga memanfaatkan pangan lokal dan mengatur konsumsi sesuai kebutuhan.

Badan Pangan Nasional menyebut konsumsi B2SA bertujuan membentuk masyarakat yang sehat, aktif, dan produktif. Pemerintah dan pemerintah daerah memiliki kewajiban mendorong penganekaragaman konsumsi pangan berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.

Bagi Kubar, pendekatan tersebut memiliki konteks tersendiri. Pemkab menyebut kondisi geografis dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah menjadi tantangan dalam sistem pangan daerah.

Karena itu, pemanfaatan pekarangan dapat menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat ketersediaan pangan pada tingkat keluarga.

Baca Juga: Bujuran Run Merdeka di Kubar Gabungkan Olahraga, Silaturahmi dan UMKM

Tips Menerapkan B2SA dari Rumah

Poin Penting

Insight Redaksi

Pangan sehat kada selalu harus mahal. Di Kubar, pekarangan dan pangan lokal punya peluang besar menjadi bagian dari ketahanan keluarga. Edukasi harus berujung praktik, bukan sekadar sosialisasi. Bubuhan warga perlu mendapat akses bibit, pengetahuan, dan pendampingan yang jelas supaya gerakan B2SA terasa manfaatnya sehari-hari.

Mulai dari tanaman yang mudah dirawat dan menu keluarga yang tersedia. Kada perlu menunggu lahan luas untuk bergerak.

Bagikan informasi ini ke kawalan ikam supaya makin banyak keluarga memahami pentingnya pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman.

Ingin terus mendapat informasi daerah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari? Selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu pola konsumsi B2SA?

B2SA merupakan pola konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman untuk mendukung kesehatan dan produktivitas.

2. Apakah penerapan B2SA harus menggunakan makanan mahal?

Tidak. Pemenuhan B2SA dapat memanfaatkan bahan pangan lokal dan sumber pangan yang tersedia di sekitar rumah.

3. Apa manfaat memanfaatkan pekarangan rumah?

Pekarangan dapat digunakan untuk menghasilkan sebagian bahan pangan keluarga sekaligus mendukung ketahanan pangan rumah tangga.

4. Siapa yang terlibat dalam edukasi B2SA di Kubar?

Dinas Ketahanan Pangan Kubar menggandeng Tim Penggerak PKK Kabupaten Kutai Barat untuk memperluas sosialisasi dan pendampingan.

5. Apakah masyarakat dapat memperoleh dukungan bibit atau media tanam?

Dinas Ketahanan Pangan membuka ruang bagi masyarakat untuk berkoordinasi dengan instansi terkait mengenai kebutuhan bibit dan media tanam.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul “Pemkab Kubar Dorong Pola Makan B2SA untuk Tingkatkan Gizi dan Kualitas SDM”, oleh Sunardi Kaltim Post. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id. Artikel juga diperkaya dengan konteks dari Badan Pangan Nasional dan informasi resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Barat.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Rion Kutai Barat B2SA