Balikpapan TV - Hai Cess! ZTE kembali menggoda pasar smartphone entry-level lewat ZTE Axon 60 Lite, perangkat murah dengan penyimpanan besar yang diklaim siap menantang para kompetitor. Meski dibanderol Rp2,6 jutaan (sekitar $165 USD), banyak yang menilai harga ini sedikit di atas ekspektasi untuk segmen low-end. Namun, dengan storage 256 GB di kelas ini, ponsel ini jelas menarik perhatian.
Kalau kamu lagi cari HP baru buat kebutuhan harian tapi pengin tetap punya ruang lega buat foto, video, dan aplikasi tanpa harus sering hapus data, mungkin ini salah satu yang perlu kamu tengok. Tapi, tentu saja, ada catatan penting sebelum kamu buru-buru checkout. Yuk, kita kupas tuntas performa, fitur, dan sisi menarik ZTE Axon 60 Lite — biar kamu nggak salah langkah!
Apakah Desain ZTE Axon 60 Lite Bikin Percaya Diri di Kelasnya?
Secara tampilan, Axon 60 Lite mengusung desain yang lumayan manis untuk ukuran entry-level. Bodinya berbahan plastik dengan finishing reflektif mengilap yang tersedia dalam tiga warna — Emas, Biru, dan Ungu. Sementara itu, bagian belakangnya punya modul kamera triple mirip iPhone, meski faktanya hanya satu kamera yang benar-benar berfungsi.
Namun, buat kamu yang memperhatikan detail, bezel bawahnya cukup tebal dan belum punya sertifikasi ketahanan air maupun debu. Layarnya sendiri mengusung panel IPS 6,6 inci dengan resolusi HD+ (1612 x 720 piksel). Teks kecil agak terlihat “pecah” karena densitas piksel rendah, dan sudut pandangnya terbatas — warna dan kecerahan cepat turun kalau dilihat dari samping. Tapi, refresh rate 90Hz jadi nilai jual utama, bikin scrolling dan animasi terasa lebih mulus dari rata-rata HP di kelas harga ini.
Bagaimana Performa ZTE Axon 60 Lite untuk Aktivitas Harian dan Gaming?
Soal tenaga, Axon 60 Lite dibekali prosesor Unisoc T606, chip yang cukup sering muncul di HP murah. RAM 4 GB terasa agak terbatas untuk multitasking berat — apalagi beberapa pengguna melaporkan aplikasi sering reload saat berpindah. Namun, kabar baiknya, penyimpanan internal 256 GB membuatnya unggul jauh dibanding pesaing lain di harga yang sama.
Untuk urusan game, HP ini bisa diajak main Mobile Legends atau Asphalt 9 di setting grafis rendah hingga sedang tanpa masalah. Tapi, performanya bisa drop signifikan kalau kamu merekam layar sambil bermain. Untungnya, sistem pendinginannya cukup baik, sehingga tidak terasa panas berlebih saat sesi gaming agak lama.
Apakah Kamera Axon 60 Lite Sekadar Pemanis atau Layak Diandalkan?
Beralih ke sektor kamera, meski tampak memiliki tiga lensa di belakang, sebenarnya hanya satu yang aktif — kamera utama 50 MP. Dua sisanya (Depth 2 MP dan “AI Camera”) lebih bersifat kosmetik. Hasil foto di siang hari cukup oke untuk dokumentasi ringan, tapi detail dan akurasi warna masih tertinggal. Pada kondisi backlight, chromatic aberration terlihat jelas di tepi objek.
Namun, saat malam, Night Mode jadi penyelamat. Fitur ini benar-benar membantu menangkap cahaya lebih banyak dan mengontrol noise. Untuk kamera depan 8 MP, hasil selfie cukup terang dan warna kulit lumayan natural, walau fokusnya tetap — kamu harus memanjangkan tangan untuk hasil maksimal. Video? Hanya Full HD 30fps tanpa stabilisasi, jadi jangan berharap hasilnya halus saat merekam sambil berjalan.
Seberapa Tahan Baterai dan Lengkap Fitur Tambahannya?
Axon 60 Lite dibekali baterai 5.000 mAh, kapasitas standar di segmennya, dengan adaptor 22,5 Watt bawaan. Mengisi penuh butuh waktu sekitar dua jam — bukan yang tercepat, tapi masih bisa diterima. Sayangnya, daya tahannya tergolong di bawah harapan karena prosesor yang kurang efisien dan sistem yang agresif menutup aplikasi di latar belakang.
Untuk fitur tambahan, HP ini masih menyediakan jack audio 3,5mm dan radio FM (butuh earphone). Speaker-nya hanya satu, dengan karakter suara yang cenderung menonjol di mid-tone. Bluetooth masih terbatas di codec SBC, jadi kualitas audio wireless standar saja. Di sisi konektivitas, ia hanya mendukung 4G, Wi-Fi 5, dan tanpa NFC.
Sektor sensor juga minim — tidak ada giroskop atau sensor geomagnetik. Untungnya, ada fingerprint sensor di sisi bodi yang cukup responsif, serta fitur keamanan “My Vault” untuk mengunci aplikasi dan file sensitif. Sistem operasinya menjalankan Android 13 dengan MyOS 13, lengkap dengan animasi “Active Island” ala iPhone yang muncul saat charging atau notifikasi tertentu.
Apakah Layak Dibeli ZTE Axon 60 Lite di Tahun 2025 Ini?
ZTE Axon 60 Lite bukan ponsel sempurna, tapi punya nilai jual yang kuat: memori besar, layar 90Hz, dan desain menawan. Sayangnya, performa dan kamera jadi dua hal yang menahan potensinya bersinar. Untuk kamu yang butuh perangkat sekadar buat komunikasi, media sosial, dan hiburan ringan, HP ini cukup worth it — apalagi kalau bisa mendapatkannya di bawah harga rilis resmi.
Tapi kalau kamu tipe pengguna yang sering buka banyak aplikasi, main game berat, atau butuh kamera tajam di segala kondisi, mungkin perlu melirik opsi lain di kisaran harga yang sama.
ZTE mencoba memberikan pengalaman premium di harga hemat, tapi masih harus berbenah di sektor efisiensi daya dan optimasi performa. Meski begitu, langkah ini patut diapresiasi karena berani memberi storage besar di level entry — sesuatu yang jarang ditemukan.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'(Rohman)
FAQ
1. Apakah ZTE Axon 60 Lite cocok untuk gaming?
Masih bisa, tapi hanya untuk game ringan-menengah di pengaturan grafis rendah.
2. Apakah kamera ZTE Axon 60 Lite bagus untuk foto malam?
Cukup baik jika menggunakan Night Mode, tapi jangan berharap hasil profesional.
3. Apakah Axon 60 Lite mendukung jaringan 5G?
Belum, perangkat ini hanya mendukung jaringan 4G LTE.
DISKLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.
Editor : Arya Kusuma