BalikpapanTv.id-Lagu "Internasionale" biasanya dinyanyikan oleh massa pada Hari Buruh Internasional (May Day). Awalnya berasal dari Benua Biru, namun telah diterjemahkan oleh Ki Hajar Dewantara ke dalam bahasa Indonesia.
Di Abad ke-19, para buruh di Amerika Serikat bekerja selama 19 hingga 20 jam sehari dengan hanya empat jam waktu untuk istirahat. Pada tanggal 1 Mei 1886, para buruh turun ke jalan dan memprotes tuntutan pengurangan jam kerja hingga 8 jam per hari.
Akhirnya, tuntutan tersebut disetujui. Setahun kemudian, pada 1889, Kongres Sosialis Dunia di Paris menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh yang diperingati setiap tahun secara internasional.
Indonesia juga memperingati Hari Buruh Sedunia pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya. Pada tahun 1946, masyarakat menjalankan ritual tersebut dengan mengadakan pertemuan di Balai Agung Jakarta pada pukul 10.00 WIB pagi.
Acaranya dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pemaknaan 1 Mei, pidato, dan terakhir dilantunkan lagu Internationale.
Ki Hajar Dewantara menggunakan lagu "L'Internationale" sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa nasionalisme di kalangan masyarakat. Syair tersebut ditulis dalam Bahasa Prancis oleh Eugene Pottier pada tahun 1871, di mana ia sedang melarikan diri setelah kudeta pemerintahan borjuis di Paris.
Meskipun kudeta itu berhasil dan pemerintahan proletar terbentuk, namun hanya berlangsung selama dua tahun.
Lagu "L'Internationale" sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, terutama bahasa-bahasa yang digunakan di negara-negara sosialis seperti Cina, Vietnam, Korea, Rusia, dan lainnya.
Terdapat juga versi dalam bahasa Inggris. Pada tahun 1922 hingga 1944, "L'Internationale" bahkan pernah dijadikan sebagai lagu kebangsaan Uni Soviet.
Sejak saat itu, lagu "L'Internationale" semakin terkait dengan kaum sosialis yang menentang kapitalisme dan penjajahan. Lagu itu menjadi relevan bagi orang-orang di seluruh dunia yang berada dalam situasi penjajahan.
Ki Hajar Dewantara yang disebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, kemudian menerjemahkan syair lagu "L'Internationale" dalam bahasa Prancis ke bahasa Melayu.
Terjemahan lagu "L'Internationale" oleh Ki Hajar Dewantara (Soewardi Suryaningrat) ke dalam bahasa Melayu di susun dengan gaya rima pada tiap akhiran kalimatnya seperti pantun. Ki Hajar Dewantara memang dikenal sebagai sosok yang sangat mahir dalam bidang sastra dan pemerhati bahasa.
Meskipun terjemahan lagu "L'Internationale" versi Suwardi menunjukkan estetika bahasa yang indah dan pemilihan kata yang tepat, isi serta maknanya masih banyak menjadi bahan perdebatan di kalangan akademisi, khususnya oleh para penganut paham komunis internasional.
Terjemahan lagu tersebut pertama kali diterbitkan di harian Sinar Hindia pada tanggal 5 Mei 1920, yang dikeluarkan oleh Sarekat Islam Semarang, juga dikenal sebagai "Sarekat Islam Merah".
Ki Hajar Dewantara, pengarang terjemahan lagu "L'Internationele" ke dalam bahasa Melayu, meskipun menerjemahkan lagu tersebut, ia bukanlah orang yang beraliran kiri secara institusional.
Ki Hajar Dewantara tidak pernah menjadi anggota Sarekat Islam Merah, ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeninging) yang didirikan tahun 1914, atau PKI (Partai Komunis Indonesia) yang didirikan tahun 1924.
Ini adalah syair lagu Internasionale yang diterjemahkan oleh Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara.
Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!
Kehendak yang mulia dalam dunia
Senantiasa bertambah besar
Lenyapkan adat dan faham tua
Kita rakyat sadar! Sadar!
Dunia sudah berganti rupa
Untuk kemenangan kita
Perjuangan penghabisan
Kumpulah melawan
Internasionale
Pasti di dunia
Editor : Cakra Agung