Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: LPS mengejar dua juta rekening baru setiap tahun, sembari memperkuat literasi dan mencegah penyalahgunaan rekening dormant.
Balikpapan TV - Hai Ces! Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menargetkan sekitar dua juta masyarakat tanpa rekening membuka rekening setiap tahun untuk memperluas inklusi keuangan. Target tersebut disampaikan Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution dalam Lampung Financial Festival di Bandar Lampung, Minggu, 6 September 2026.
Target itu menjadi penting karena LPS memperkirakan masih ada sekitar 15 juta masyarakat yang belum memiliki rekening. Jika dua juta orang berhasil masuk ke sistem perbankan dalam setahun, jumlah tersebut secara matematis dapat turun menjadi sekitar 13 juta orang.
Tapi punya rekening saja belum cukup. LPS juga menyoroti rekening yang sudah dimiliki masyarakat tetapi tidak lagi digunakan, sementara literasi mengenai keamanan simpanan masih menghadapi tantangan geografis.
Dua Juta Rekening Baru Jadi Target LPS Setiap Tahun
LPS ingin memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal dengan mendorong sekitar dua juta orang yang belum memiliki rekening untuk membuka rekening setiap tahun.
Farid menyebut target tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah masyarakat tanpa rekening dari sekitar 15 juta orang menjadi sekitar 13 juta orang pada tahun berikutnya.
Secara hitungan sederhana, target dua juta rekening berarti pengurangan sekitar 13,3% dari basis 15 juta orang tersebut jika seluruh target tercapai.
Angka itu menunjukkan pekerjaan yang cukup besar. Pembukaan rekening harus benar-benar diikuti penggunaan layanan keuangan secara sehat.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Tembus Rp17.600, Sinyal The Fed Jadi Angin Segar
Inklusi Keuangan Indonesia Sudah Tinggi, Mengapa Target Ini Masih Penting?
Data terbaru memberikan gambaran yang menarik mengenai kondisi inklusi keuangan nasional.
OJK, LPS, dan BPS dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan atau SNLIK 2026 mencatat indeks inklusi keuangan mencapai 93,61%. Angka tersebut naik dari 92,74% pada SNLIK 2025.
Namun, indeks inklusi keuangan tidak bisa begitu saja disamakan dengan jumlah masyarakat yang memiliki rekening bank.
SNLIK 2026 mencakup berbagai sektor dan produk jasa keuangan, termasuk perbankan, pasar modal, asuransi, dana pensiun, pergadaian, fintech lending, sistem pembayaran, serta lembaga jasa keuangan lainnya.
Artinya, capaian inklusi nasional yang tinggi tetap menyisakan kelompok masyarakat yang belum terhubung secara memadai dengan layanan keuangan formal.
Di sinilah target LPS dua juta rekening baru memiliki relevansi. Fokusnya bukan sekadar memperbesar angka inklusi, tetapi menjangkau masyarakat yang masih berada di luar sistem.
Rekening Dormant Jadi Perhatian Berikutnya
Masuk ke sistem perbankan belum otomatis berarti rekening tersebut digunakan secara aktif.
LPS juga mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan rekening yang sudah tidak digunakan tetap aktif. Rekening yang tidak terkelola dapat membuka ruang penyalahgunaan untuk aktivitas yang tidak semestinya.
Perhatian terhadap rekening dormant juga sejalan dengan penguatan tata kelola rekening perbankan oleh OJK.
Dalam aturan OJK, rekening dormant didefinisikan sebagai rekening yang tidak memiliki aktivitas pemasukan, penarikan, atau pengecekan saldo selama lebih dari 1.800 hari. Bank juga diwajibkan memiliki mekanisme penandaan, komunikasi, serta fasilitas pengaktifan kembali atau penutupan rekening.
Bagi masyarakat, pesan sederhananya adalah jangan membiarkan rekening lama begitu saja. Jika sudah tidak diperlukan, status dan pengelolaannya sebaiknya diperiksa melalui kanal resmi bank.
Literasi Keuangan Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Kanal Digital
LPS melihat faktor geografis sebagai salah satu tantangan dalam meningkatkan literasi penjaminan simpanan, khususnya bagi generasi muda.
Di satu sisi, masyarakat semakin mudah memperoleh informasi melalui internet. Namun, kemudahan akses informasi tidak selalu berarti pemahaman yang mendalam.
LPS karena itu memadukan edukasi secara langsung dengan kanal digital. Pendekatan tersebut diarahkan agar masyarakat tidak hanya mengetahui keberadaan layanan keuangan, tetapi juga memahami bagaimana menggunakannya dengan aman.
Temuan SNLIK 2026 memperkuat persoalan tersebut. Sebanyak 62,51% pemilik rekening mengetahui bahwa simpanannya dijamin, tetapi hanya 46,31% yang mengenal LPS.
Jarak antara mengetahui adanya jaminan dan mengenal lembaga penjaminnya menunjukkan masih adanya ruang besar untuk edukasi yang lebih spesifik.
Tantangannya Bukan Sekadar Membuka Rekening
LPS sebenarnya menghadapi dua pekerjaan sekaligus. Pertama, memperluas akses bagi masyarakat yang belum mempunyai rekening; kedua, memastikan rekening yang sudah ada digunakan dan dikelola secara aman.
Pendekatan kedua penting karena pertumbuhan jumlah rekening tidak otomatis menggambarkan kualitas inklusi keuangan.
Bank Indonesia juga menekankan bahwa peningkatan inklusi perlu diimbangi penguatan literasi agar akses keuangan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
SNLIK 2026 menunjukkan kelompok dengan tingkat literasi dan inklusi relatif lebih rendah antara lain masyarakat perdesaan, kelompok usia tertentu, masyarakat berpendidikan rendah, serta beberapa kelompok pekerjaan seperti petani, nelayan, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat yang belum bekerja.
Karena itu, strategi membuka rekening perlu berjalan bersama edukasi yang sesuai karakter kelompok sasaran.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Jika target dua juta orang tercapai setiap tahun, semakin banyak masyarakat berpotensi memiliki akses terhadap tabungan dan layanan keuangan formal.
Akses tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan menyimpan uang secara lebih terstruktur, melakukan transaksi formal, serta mengenal produk keuangan sesuai kebutuhan.
Namun, manfaat tersebut baru terasa jika masyarakat memahami biaya, fitur, risiko, keamanan transaksi, dan ketentuan produk yang digunakan.
Bagi masyarakat di daerah dengan akses layanan yang belum merata, kombinasi edukasi offline dan online menjadi penting karena tidak semua kebutuhan literasi dapat diselesaikan melalui konten digital.
Dari Target Kuantitas Menuju Kualitas Inklusi
Ada perbedaan penting antara punya rekening dan aktif menggunakan rekening secara sehat.
Target dua juta orang memang memberikan ukuran kuantitatif yang mudah dipantau. Tetapi kualitas program akan lebih terlihat jika rekening yang dibuka benar-benar digunakan dan masyarakat memahami perlindungan simpanannya.
Data SNLIK 2026 bahkan menunjukkan indeks literasi keuangan nasional sebesar 69,57%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 93,61%. Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan tumbuh lebih cepat daripada pemahaman masyarakat mengenai keuangan.
Bagi LPS, kondisi itu membuat literasi penjaminan simpanan menjadi bagian penting dari agenda inklusi.
Masyarakat bukan hanya perlu tahu rekeningnya aman, tetapi juga memahami siapa yang menjamin dan bagaimana ketentuan penjaminannya berlaku.
Poin Penting
- LPS menargetkan sekitar dua juta masyarakat tanpa rekening membuka rekening setiap tahun.
- Jumlah masyarakat yang belum memiliki rekening diperkirakan sekitar 15 juta orang.
- Jika target tercapai, jumlah tersebut secara matematis dapat turun menjadi sekitar 13 juta orang.
- LPS juga menyoroti risiko rekening dormant yang tidak lagi digunakan.
- OJK mendefinisikan rekening dormant sebagai rekening tanpa aktivitas tertentu selama lebih dari 1.800 hari.
- SNLIK 2026 mencatat inklusi keuangan 93,61% dan literasi keuangan 69,57%.
- Literasi mengenai penjaminan simpanan masih perlu diperluas karena belum seluruh pemilik rekening mengenal LPS.
Insight Redaksi
Target dua juta rekening menunjukkan inklusi keuangan kini bukan sekadar mengejar angka kepemilikan. Tantangan berikutnya adalah memastikan rekening benar-benar digunakan, dipahami, dan aman. Buka rekening itu awal, bukan garis finis. Di tengah masyarakat yang makin digital, edukasi langsung tetap penting agar akses finansial tidak berhenti di layar ponsel.
Jangan cuma punya rekening, pahami juga cara menjaganya tetap aman dan berguna buat kebutuhan harian.
Kalau informasi ini terasa berguna, bagikan ke keluarga atau teman yang masih menyimpan rekening lama tanpa pernah mengeceknya.
Mau tetap update soal ekonomi, perbankan, dan uang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari? Pantau Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Berapa target masyarakat yang ingin memiliki rekening setiap tahun?
LPS menargetkan sekitar dua juta masyarakat yang belum memiliki rekening untuk membuka rekening setiap tahun.
2. Berapa jumlah masyarakat yang masih belum memiliki rekening?
LPS menyebut masih ada sekitar 15 juta orang yang belum memiliki rekening.
3. Apa yang dimaksud rekening dormant?
Rekening dormant merupakan rekening yang tidak memiliki aktivitas pemasukan, penarikan, atau pengecekan saldo selama lebih dari 1.800 hari menurut ketentuan OJK.
4. Apakah memiliki rekening otomatis berarti sudah memahami keuangan?
Tidak. Data SNLIK 2026 menunjukkan indeks inklusi keuangan 93,61%, sedangkan literasi keuangan 69,57%, sehingga pemahaman masyarakat masih perlu diperkuat.
5. Mengapa literasi penjaminan simpanan masih diperlukan?
Karena sebagian pemilik rekening mengetahui simpanannya dijamin, tetapi belum seluruhnya mengenal LPS sebagai lembaga yang menjalankan fungsi penjaminan tersebut.
Editor : Arya Kusuma