Durasi Baca: 8 menit
Rencana rights issue PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk. (BMAS) untuk memperkuat permodalan dan mendukung ekspansi penyaluran kredit.
Ikhtisar: Bank Kasikorn Indonesia menyiapkan aksi penambahan modal melalui PMHMETD IV. Berdasarkan informasi yang dikutip dari keterbukaan informasi BEI, perseroan berencana menerbitkan maksimal 2,87 miliar saham baru. Dana hasil aksi korporasi tersebut diarahkan untuk mendukung modal kerja dan meningkatkan penyaluran kredit.
Balikpapan TV - Hai Ces!PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk. (BMAS) kembali menyiapkan langkah untuk memperkuat struktur permodalannya.
Bank yang sebelumnya dikenal sebagai PT Bank Maspion Indonesia Tbk. tersebut berencana melakukan penambahan modal melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) IV atau rights issue.
Rencana tersebut menjadi perhatian karena dana hasil aksi korporasi akan diarahkan untuk mendukung ekspansi bisnis, terutama peningkatan penyaluran kredit.
Namun, perlu dicatat bahwa harga pelaksanaan dan jumlah final saham yang diterbitkan masih menunggu penetapan lebih lanjut melalui prospektus.
BMAS Rencanakan Penerbitan Maksimal 2,87 Miliar Saham
Berdasarkan informasi yang dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, BMAS berencana menerbitkan maksimal sekitar 2,87 miliar saham baru dalam PMHMETD IV.
Setiap saham memiliki nilai nominal Rp100 per saham. Saham baru tersebut nantinya akan memiliki hak yang sama dengan saham BMAS yang telah beredar, termasuk hak atas dividen.
Rencana tersebut masih merupakan aksi korporasi yang harus mendapatkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB.
Sumber berita menyebut RUPSLB dijadwalkan pada 27 Agustus 2026. Karena tanggal tersebut merupakan bagian dari agenda yang masih akan berlangsung, pembaca sebaiknya memahami bahwa pelaksanaan rights issue belum dapat dianggap final sebelum seluruh persetujuan dan tahapan regulasi terpenuhi.
Baca Juga: BTPN Syariah Likuidasi Anak Usaha Ventura, Fokus Bisnis Kini Sepenuhnya ke Perbankan Syariah
Mengapa BMAS Ingin Menambah Modal?
Penambahan modal menjadi bagian dari strategi BMAS untuk memperkuat kapasitas bisnis perbankan.
Manajemen mengarahkan dana hasil rights issue, setelah dikurangi biaya emisi, untuk kebutuhan modal kerja yang secara khusus berkaitan dengan peningkatan penyaluran kredit.
Dengan tambahan modal tersebut, bank memiliki ruang yang lebih besar untuk mengembangkan portofolio pembiayaan sekaligus menjaga struktur permodalan ketika bisnis terus bertumbuh.
Strategi memperkuat modal melalui rights issue juga bukan hal baru bagi BMAS. Perseroan sebelumnya telah melakukan PMHMETD II dan PMHMETD III sebagai bagian dari pengembangan bisnis serta penguatan permodalan. Pada PMHMETD II, sebagian dana digunakan untuk memperluas bisnis dan kapabilitas, termasuk penyaluran kredit.
Kinerja Kredit BMAS Terus Bertumbuh
Rencana ekspansi tersebut tidak terlepas dari perkembangan bisnis BMAS dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data yang dikutip dalam sumber berita, portofolio kredit BMAS meningkat dari sekitar Rp8,78 triliun pada 2022 menjadi Rp17,34 triliun pada 2025.
Artinya, nilai kredit hampir berlipat ganda dalam kurun tiga tahun.
Pada periode yang sama, total aset perseroan juga meningkat dari sekitar Rp14,96 triliun menjadi Rp22,4 triliun.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya ekspansi bisnis yang cukup signifikan sehingga kebutuhan terhadap modal dan sumber pendanaan menjadi semakin penting.
Laba Bersih BMAS Capai Rp31,8 Miliar pada 2025
Dari sisi profitabilitas, BMAS mencatat laba bersih setelah pajak sekitar Rp31,8 miliar sepanjang 2025.
Kinerja tersebut menjadi bagian dari proses transformasi bisnis perseroan setelah sebelumnya menghadapi tekanan pada kinerja operasional.
Data yang dikutip sumber juga menunjukkan adanya perbaikan pada sejumlah indikator perbankan.
Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat dari 31,55% menjadi 45,76%.
Sementara itu, rasio BOPO membaik dari 120,13% menjadi 97,15%.
Perbaikan juga terlihat pada kualitas kredit. Rasio gross Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,26% pada 2024 menjadi 2,26% pada 2025.
Di sisi pendanaan, rasio CASA atau dana murah meningkat dari 22,58% menjadi 27,16%.
Angka-angka tersebut menggambarkan adanya perubahan positif dalam struktur permodalan, efisiensi, kualitas aset, dan pendanaan perseroan.
Bank Kasikorn Indonesia, Kelanjutan Transformasi Bank Maspion
Ces, ada satu perubahan nama penting yang perlu diperhatikan ketika membaca informasi mengenai BMAS.
PT Bank Maspion Indonesia Tbk. telah berganti nama menjadi PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk. Perubahan nama tersebut efektif pada Juli 2026 setelah mendapatkan persetujuan regulator.
Karena itu, sejumlah dokumen dan pemberitaan lama masih menggunakan nama Bank Maspion, sementara informasi terbaru menggunakan nama Bank Kasikorn Indonesia.
Pergantian nama tersebut berkaitan dengan transformasi perseroan setelah masuknya kelompok usaha KASIKORNBANK atau KBank sebagai pemegang saham pengendali.
Data kepemilikan yang tersedia per 30 Juni 2026 menunjukkan kelompok KBank menguasai sekitar 89,48% saham perseroan melalui entitas-entitas terkait.
KBank Sudah Mendukung Penguatan Pendanaan
Penguatan modal BMAS juga berlangsung bersamaan dengan peningkatan dukungan pendanaan dari kelompok KBank.
Pada 2026, BMAS memperoleh fasilitas pinjaman bilateral dari KBank yang digunakan untuk memperkuat likuiditas dan mendukung ekspansi kredit.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa strategi pertumbuhan BMAS tidak hanya mengandalkan modal ekuitas, tetapi juga memanfaatkan sumber pendanaan perbankan.
Dengan demikian, rencana PMHMETD IV dapat dilihat sebagai salah satu bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas bisnis.
Apa Dampaknya bagi Pemegang Saham?
Rights issue memberikan kesempatan kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru sesuai dengan hak yang diberikan.
Namun, aksi ini juga dapat menimbulkan dilusi kepemilikan bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya.
Karena itu, investor perlu menunggu prospektus resmi untuk mengetahui beberapa informasi penting, antara lain:
- jumlah final saham baru;
- rasio HMETD;
- harga pelaksanaan;
- jadwal pelaksanaan;
- periode perdagangan HMETD;
- penggunaan dana secara rinci;
- serta dampaknya terhadap struktur kepemilikan.
Informasi tersebut akan menjadi dasar yang lebih lengkap bagi pemegang saham dalam menilai aksi korporasi BMAS.
Angka 2,87 Miliar Saham Masih Perlu Dibaca sebagai Maksimum
Satu hal penting dalam membaca rencana rights issue BMAS adalah penggunaan kata “maksimal”.
Angka maksimal sekitar 2,87 miliar saham bukan berarti jumlah tersebut sudah pasti menjadi jumlah final saham yang akan diterbitkan.
Jumlah final dan harga pelaksanaan masih dapat ditentukan dalam tahapan berikutnya sesuai dengan ketentuan pasar modal.
Berdasarkan data saham perseroan sekitar 18,10 miliar saham, penerbitan 2,87 miliar saham secara kasar setara dengan sekitar 15,85% dari jumlah saham yang ada saat ini. Persentase 15,88% yang tercantum dalam sumber berita kemungkinan menggunakan angka saham dasar yang lebih presisi.
Karena itu, angka final sebaiknya mengacu pada dokumen resmi perseroan dan prospektus ketika telah diterbitkan.
Regulasi Menjadi Dasar Pelaksanaan Rights Issue
Pelaksanaan PMHMETD merupakan aksi korporasi yang harus mengikuti ketentuan pasar modal dan mendapatkan persetujuan pemegang saham sesuai agenda yang ditetapkan.
Sumber berita mengacu pada POJK Nomor 32/POJK.04/2015 mengenai Penambahan Modal Perusahaan Terbuka dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu.
Regulasi tersebut kemudian mengalami perubahan melalui POJK Nomor 14/POJK.04/2019.
Dokumen perseroan sebelumnya juga menggunakan kerangka regulasi tersebut dalam pelaksanaan PMHMETD.
Apa yang Perlu Ditunggu Investor?
Ada beberapa tahapan penting yang perlu diperhatikan sebelum rencana rights issue BMAS dapat dinilai secara menyeluruh.
Pertama adalah persetujuan RUPSLB.
Kedua, penerbitan informasi dan prospektus yang menjelaskan struktur aksi korporasi secara lebih detail.
Ketiga, penetapan harga pelaksanaan serta rasio HMETD.
Keempat, pelaksanaan rights issue dan pencatatan saham baru di Bursa Efek Indonesia.
Dengan menunggu informasi tersebut, investor dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai potensi dampak aksi korporasi terhadap kepemilikan maupun kinerja BMAS.
Poin Penting
- BMAS berencana melakukan rights issue melalui PMHMETD IV.
- Maksimal 2,87 miliar saham baru akan diterbitkan.
- Dana rights issue akan digunakan untuk modal kerja, terutama meningkatkan penyaluran kredit.
- Harga pelaksanaan dan jumlah final saham belum ditetapkan dan akan dijelaskan dalam prospektus.
- RUPSLB dijadwalkan 27 Agustus 2026, berdasarkan informasi dalam sumber berita.
- Kredit BMAS tumbuh dari Rp8,78 triliun pada 2022 menjadi Rp17,34 triliun pada 2025.
- Aset meningkat dari Rp14,96 triliun menjadi Rp22,4 triliun.
- Laba bersih 2025 mencapai Rp31,8 miliar.
- CAR meningkat menjadi 45,76%, sementara gross NPL turun menjadi 2,26%.
- Bank Maspion kini menggunakan nama Bank Kasikorn Indonesia, sebagai bagian dari transformasi bisnis dan penguatan kelompok KBank.
Insight Redaksi
Rencana rights issue BMAS menunjukkan bahwa perseroan masih melihat pertumbuhan kredit sebagai salah satu mesin utama ekspansi bisnis.
Di satu sisi, peningkatan modal dapat memberikan ruang bagi bank untuk memperbesar penyaluran kredit. Di sisi lain, pertumbuhan kredit tetap perlu diikuti dengan pengelolaan kualitas aset, likuiditas, efisiensi, dan risiko kredit yang hati-hati.
Kinerja 2025 menunjukkan sejumlah indikator BMAS mengalami perbaikan, termasuk CAR, BOPO, NPL, dan CASA. Namun, kemampuan mempertahankan kualitas pertumbuhan tersebut akan menjadi faktor penting setelah modal baru masuk.
Karena itu, keberhasilan rights issue tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang dihimpun, tetapi juga oleh seberapa efektif modal tersebut dikonversikan menjadi pertumbuhan kredit yang sehat dan menguntungkan.
FAQ
1.Apa itu rights issue BMAS?
Rights issue BMAS merupakan rencana penambahan modal melalui PMHMETD IV dengan menerbitkan saham baru kepada pemegang saham sesuai hak yang diberikan.
2. Berapa saham baru yang direncanakan diterbitkan?
Berdasarkan informasi sumber, jumlah maksimal yang direncanakan sekitar 2,87 miliar saham baru. Jumlah final masih menunggu tahapan selanjutnya.
3. Untuk apa dana rights issue BMAS?
Dana setelah dikurangi biaya emisi direncanakan digunakan sebagai modal kerja, khususnya untuk meningkatkan penyaluran kredit.
4. Kapan RUPSLB BMAS?
Sumber berita menyebut RUPSLB dijadwalkan pada 27 Agustus 2026. Investor perlu mengacu pada pengumuman resmi perseroan untuk memastikan jadwal tersebut.
5. Apakah harga rights issue BMAS sudah ditentukan?
Belum. Harga pelaksanaan dan jumlah final saham akan dijelaskan lebih lanjut dalam prospektus.
6. Apakah Bank Maspion dan Bank Kasikorn Indonesia sama?
Ya. PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk. merupakan nama baru dari PT Bank Maspion Indonesia Tbk. setelah perubahan nama perseroan.
Editor : Arya Kusuma