Saham IPO Ramai Diburu? BEI Ingatkan Investor Cermati Fundamental dan Risiko

Revan Prasetya Irwansyah Putra • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 05:18 WIB
BEI mengingatkan investor memahami prospektus dan risiko sebelum mengikuti euforia saham IPO di pasar modal Indonesia [BTV:AI]
BEI mengingatkan investor memahami prospektus dan risiko sebelum mengikuti euforia saham IPO di pasar modal Indonesia [BTV:AI]

Durasi Baca: 7 menit

Ikhtisar: BEI mengingatkan investor memahami prospektus, bisnis, valuasi, dan risiko sebelum membeli saham IPO.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Saham yang baru melantai di bursa memang punya daya tarik tersendiri. Harga yang bergerak cepat pada hari pertama perdagangan bisa membuat investor tergoda ikut membeli karena khawatir ketinggalan momentum.

Namun, kenaikan harga pada awal perdagangan belum otomatis menunjukkan bahwa sebuah saham memiliki fundamental yang kuat untuk jangka panjang.

Pesan itu kembali disampaikan Bursa Efek Indonesia (BEI). Investor diminta tidak menjadikan euforia pasar sebagai satu-satunya dasar ketika mengambil keputusan terhadap saham hasil Initial Public Offering (IPO).

Hingga akhir Agustus 2026, sebanyak tujuh perusahaan telah resmi mencatatkan saham di BEI dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. Pada periode yang sama, masih ada tujuh perusahaan dalam pipeline IPO.

Angka tersebut menunjukkan aktivitas IPO tetap menjadi bagian penting dari pasar modal Indonesia. Tetapi bagi investor, bertambahnya pilihan saham juga berarti semakin penting untuk memilah perusahaan sebelum menempatkan dana.

Ramainya Hari Pertama Bukan Ukuran Fundamental

Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI Listyorini Dian Pratiwi mengatakan aktivitas IPO menunjukkan pasar modal Indonesia masih menjadi salah satu alternatif pendanaan bagi dunia usaha.

“Semakin banyak dan besar perusahaan yang melakukan IPO menunjukkan pasar modal Indonesia masih menjadi pilihan pendanaan yang menarik bagi dunia usaha,” kata Listyorini.

Bagi investor, kehadiran perusahaan baru di bursa memang memperluas pilihan untuk melakukan diversifikasi portofolio. Namun, kesempatan tersebut tetap perlu diikuti pemahaman mengenai perusahaan yang dibeli.

Harga saham setelah tercatat di BEI bergerak berdasarkan permintaan dan penawaran. Pergerakannya juga dapat dipengaruhi kinerja perusahaan, kondisi industri, perekonomian, serta sentimen pasar.

Artinya, lonjakan harga pada hari pertama lebih tepat dilihat sebagai bagian dari dinamika perdagangan, bukan sebagai bukti tunggal bahwa perusahaan tersebut bernilai tinggi dalam jangka panjang.

Dari tujuh perusahaan yang telah IPO hingga akhir Agustus, total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. Jika sekadar dihitung secara rata-rata, nilainya sekitar Rp308,6 miliar per perusahaan.

Tetapi angka rata-rata itu tidak bisa digunakan untuk menilai kualitas masing-masing emiten. Setiap perusahaan memiliki ukuran bisnis, kebutuhan pendanaan, model usaha, prospek industri, dan risiko yang berbeda.

Aktivitas IPO memperluas pilihan investasi, namun investor perlu mencermati fundamental, valuasi, bisnis, prospek, dan risiko emiten [BTV:AI]
Aktivitas IPO memperluas pilihan investasi, namun investor perlu mencermati fundamental, valuasi, bisnis, prospek, dan risiko emiten [BTV:AI]

 Baca Juga: OJK Ungkap Kenapa Kredit Rp2.548 Triliun Masih Nganggur, Ini Penyebabnya

Prospektus Jadi Dokumen yang Tak Boleh Dilewatkan

Sebelum membeli saham IPO, investor perlu membaca prospektus.

Dokumen ini memuat informasi penting mengenai profil perusahaan, bidang usaha, kondisi keuangan, strategi bisnis, penggunaan dana hasil IPO, hingga berbagai risiko yang dihadapi perusahaan.

Bagi investor pemula, prospektus mungkin terasa penuh istilah dan angka. Namun justru dari sinilah gambaran awal mengenai perusahaan bisa diperoleh secara lebih utuh.

Salah satu bagian yang perlu diperhatikan adalah rencana penggunaan dana hasil IPO.

Dana yang diperoleh perusahaan dapat digunakan untuk ekspansi usaha, belanja modal, pembayaran utang, maupun kebutuhan lain sesuai rencana perusahaan. Setelah saham tercatat di bursa, penggunaan dana tersebut juga perlu dipantau melalui Laporan Realisasi Penggunaan Dana (LRPD).

Ketentuan mengenai penggunaan dana hasil penawaran umum tersebut mengacu pada POJK Nomor 40 Tahun 2025 tentang Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum.

Jadi, perhatian investor seharusnya tidak berhenti ketika saham mulai diperdagangkan. Bagaimana dana investor kemudian mendukung kegiatan perusahaan juga menjadi bagian dari cerita setelah IPO.

Investor perlu membaca prospektus untuk memahami bisnis, penggunaan dana IPO, kondisi keuangan, strategi, dan risiko perusahaan. [BTV:AI]
Investor perlu membaca prospektus untuk memahami bisnis, penggunaan dana IPO, kondisi keuangan, strategi, dan risiko perusahaan. [BTV:AI]

Kenali Cara Perusahaan Menghasilkan Uang

Membaca prospektus belum cukup jika investor belum memahami model bisnis perusahaan.

Pertanyaan sederhananya: perusahaan ini sebenarnya mendapatkan pendapatan dari mana?

Investor dapat melihat target pasar, sumber pendapatan, keunggulan kompetitif, hingga strategi perusahaan untuk mengembangkan bisnis.

Prospek industri juga perlu diperhatikan. Perusahaan yang memiliki model bisnis jelas tetap menghadapi risiko, tetapi pemahaman terhadap industri dapat membantu investor melihat ruang pertumbuhan sekaligus tantangan yang mungkin dihadapi.

Di sinilah investor perlu membedakan antara cerita bisnis yang menarik dengan kemampuan perusahaan menghasilkan kinerja.

Sebuah perusahaan bisa saja memiliki rencana ekspansi besar. Namun, rencana tersebut tetap perlu dibaca bersama kondisi keuangan, model pendapatan, kebutuhan modal, dan risiko bisnis yang tercantum dalam informasi perusahaan.

Harga IPO Murah Belum Tentu Murah

Ada jebakan lain yang perlu diperhatikan: melihat nominal harga saham semata.

Harga penawaran Rp100 per saham, misalnya, tidak otomatis lebih murah daripada saham lain yang ditawarkan Rp1.000. Nilai sebuah perusahaan tidak bisa ditentukan hanya dari angka harga per lembar saham.

Investor perlu melihat harga tersebut dalam konteks valuasi dan fundamental perusahaan.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah membandingkan valuasi dengan perusahaan lain yang memiliki karakteristik atau bergerak di sektor serupa. Rasio seperti Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) dapat menjadi bahan pertimbangan.

PER membandingkan harga saham dengan laba per saham, sedangkan PBV melihat hubungan harga saham dengan nilai buku perusahaan.

Keduanya bukan alat untuk memastikan saham akan naik atau turun. Rasio tersebut lebih berguna sebagai bagian dari proses memahami apakah harga saham berada pada valuasi yang masuk akal dibandingkan perusahaan pembanding, dengan tetap memperhatikan karakteristik masing-masing bisnis.

Karena itu, tujuan analisis bukan sekadar menemukan saham yang terlihat murah.

Yang lebih penting adalah memahami apakah harga yang ditawarkan sebanding dengan fundamental dan potensi pertumbuhan perusahaan.

Tujuh IPO Masuk, Tujuh Lagi Masih Antre

Aktivitas IPO hingga akhir Agustus 2026 juga memperlihatkan masih adanya perusahaan yang menunggu proses untuk masuk ke pasar modal.

BEI mencatat tujuh perusahaan telah resmi mencatatkan sahamnya, sementara tujuh perusahaan lainnya masih berada dalam pipeline IPO.

Bagi pasar modal, bertambahnya perusahaan tercatat berarti pilihan investasi semakin beragam. Bagi investor, kondisi tersebut sekaligus membuat proses seleksi menjadi semakin penting.

Tidak semua IPO harus diikuti.

Investor dapat menyesuaikan keputusan dengan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, serta profil risiko masing-masing. Momentum IPO dapat menjadi salah satu bagian dari strategi membangun portofolio, tetapi keputusan tetap perlu didasarkan pada informasi perusahaan dan analisis yang memadai.

Jangan Hanya Melihat Pergerakan Harga

Saham IPO tetap merupakan instrumen investasi yang memiliki risiko.

Setelah tercatat di bursa, harga dapat bergerak fluktuatif mengikuti permintaan dan penawaran. Kinerja perusahaan juga dapat berubah seiring kondisi internal, industri, dan perekonomian.

Karena itu, investor perlu memiliki ekspektasi yang realistis. Pergerakan harga dalam hitungan hari tidak cukup untuk menggambarkan perjalanan sebuah perusahaan sebagai bisnis.

Bagi investor pemula, pendekatan yang lebih terukur dapat dimulai dari empat hal: baca prospektus, pahami model bisnis, cermati valuasi, lalu ukur risikonya.

Dengan cara tersebut, keputusan investasi tidak semata-mata lahir karena melihat saham baru sedang ramai dibicarakan atau harganya bergerak cepat.

Informasi mengenai perusahaan yang sedang melaksanakan IPO, jadwal penawaran umum, dan prospektus dapat diakses melalui platform e-IPO serta situs resmi BEI.

Poin Penting

Insight Redaksi

Euforia IPO biasanya paling mudah terlihat dari pergerakan harga pada awal perdagangan. Namun, nilai investasi tidak berhenti pada bagaimana sebuah saham membuka atau menutup perdagangan perdananya.

Bagi investor, bagian yang lebih penting justru dimulai setelah rasa penasaran terhadap saham baru itu muncul: memahami perusahaan, membaca penggunaan dana, melihat kemampuan bisnis menghasilkan pendapatan, dan menimbang harga terhadap fundamental.

Dengan tujuh perusahaan sudah melantai dan tujuh lainnya berada dalam pipeline hingga akhir Agustus 2026, pilihan saham baru memang bertambah. Tetapi semakin banyak pilihan bukan berarti semakin sedikit pekerjaan rumah bagi investor.

Justru sebaliknya, kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting.

Yuk, sebelum ikut membeli saham IPO karena sedang ramai, luangkan waktu membaca prospektus dan memahami bisnisnya. Dengan begitu, keputusan investasi tidak hanya mengikuti suasana pasar, tetapi punya dasar yang lebih terukur.

Kalau informasi pasar modal seperti ini terasa berguna, bagikan artikel ini kepada teman atau keluarga yang sedang mulai mengenal investasi saham.

Perjalanan memahami investasi tidak berhenti pada satu IPO. Tetap ikuti update ekonomi, keuangan, dan pasar modal lainnya bersama Balikpapantv.id, teman update setia, bukan sekadar berita biasa.

FAQ

1. Apa itu IPO?
IPO atau Initial Public Offering merupakan proses ketika perusahaan menawarkan saham kepada masyarakat untuk pertama kalinya sebelum saham tersebut dicatatkan dan diperdagangkan di BEI.

2. Apakah harga saham IPO yang naik pada hari pertama berarti perusahaan bagus?
Tidak otomatis. Kenaikan harga awal perdagangan dipengaruhi permintaan dan penawaran serta sentimen pasar. Fundamental perusahaan perlu dilihat secara lebih menyeluruh.

3. Mengapa investor perlu membaca prospektus?
Prospektus memuat informasi mengenai profil perusahaan, bisnis, kondisi keuangan, strategi, penggunaan dana IPO, serta risiko yang perlu dipahami investor.

4. Apa yang perlu diperhatikan selain harga saham IPO?
Investor dapat memperhatikan model bisnis, sumber pendapatan, kondisi keuangan, prospek industri, valuasi, penggunaan dana hasil IPO, dan risiko perusahaan.

5. Apa fungsi PER dan PBV dalam menilai saham?
PER dan PBV merupakan rasio yang dapat digunakan sebagai bagian dari analisis valuasi. Keduanya perlu dibaca bersama karakteristik dan prospek perusahaan, bukan sebagai penentu tunggal keputusan investasi.

6. Apakah semua IPO harus dibeli investor?
Tidak. IPO merupakan pilihan investasi yang perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan profil risiko masing-masing investor.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Investasi Saham BEI saham IPO pasar modal