Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek

Naim Qassem Tegaskan Hizbullah Tak Akan Setujui Perlucutan Senjata.

Novaldy Yulsa Polii • Jumat, 19 Juni 2026 | 13:32 WIB
Naim Qassem menyampaikan pidato terkait Hizbullah, Israel Raya, dan posisi Lebanon dalam konflik kawasan.
Naim Qassem menyampaikan pidato terkait Hizbullah, Israel Raya, dan posisi Lebanon dalam konflik kawasan.

Durasi Baca: 4 Menit

Topik: Pernyataan terbaru Pemimpin Hizbullah mengenai konflik dengan Israel, isu perlucutan senjata, dan posisi politik Lebanon di tengah ketegangan kawasan.

Ikhtisar: Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menegaskan kelompoknya menolak perlucutan senjata dan mengklaim perlawanan telah menggagalkan proyek "Israel Raya". Ia juga mendorong dialog internal Lebanon tanpa campur tangan pihak luar dalam menentukan masa depan negara.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Pemimpin Hizbullah Naim Qassem kembali menegaskan posisi kelompoknya dalam konflik dengan Israel. Dalam pidato yang direkam, ia menyatakan perlawanan telah berhasil menggagalkan apa yang disebutnya sebagai proyek "Israel Raya" serta menjaga eksistensi Lebanon dari ancaman pemusnahan dan pengusiran.

Isu ini masih terus menarik perhatian dunia. Ada banyak pesan politik yang disampaikan dalam pidato tersebut, mulai dari keamanan Lebanon hingga penolakan perlucutan senjata. Simak sampai habis pang, supaya gambarnya makin jelas dan kada setengah-setengah memahami situasinya, Ces!

Mengapa Naim Qassem Menyebut Perlawanan Berhasil Menggagalkan "Israel Raya"?

Menurut Naim Qassem, perkembangan konflik sejak 1948 menunjukkan adanya ambisi ekspansionis Israel. Ia menilai gagasan yang disebutnya sebagai proyek "Israel Raya" menjadi puncak dari arah kebijakan tersebut.

Qassem menyebut perlawanan yang dilakukan Hizbullah telah mampu menghambat proyek itu. Dalam pandangannya, langkah tersebut sekaligus melindungi keberlangsungan Lebanon dari ancaman yang ia gambarkan sebagai upaya pemusnahan dan pengusiran.

Apa Sikap Hizbullah terhadap Perlucutan Senjata?

Jawabannya tegas. Hizbullah menolak setiap usulan perlucutan senjata yang diarahkan kepada kelompok tersebut.

Qassem menyebut proposal itu sebagai "resep Israel" yang tidak akan diterima. Baginya, isu perlucutan senjata bukan bagian dari solusi, melainkan pendekatan yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan kelompok perlawanan.

Pernyataan ini kembali menegaskan posisi lama Hizbullah yang mempertahankan keberadaan persenjataannya di tengah dinamika keamanan kawasan.

Baca Juga: Pengamat Teheran Ungkap Alasan Ketegangan Israel-Lebanon Bisa Picu Respons Iran.

Bagaimana Hizbullah Memandang Negosiasi dengan Israel?

Qassem mengatakan dasar setiap negosiasi harus bertumpu pada prinsip "keamanan bersama". Pernyataan itu menunjukkan bahwa isu keamanan menjadi titik utama yang menurutnya harus dibahas terlebih dahulu.

Meski demikian, ia tetap menolak negosiasi langsung yang melibatkan campur tangan eksternal dalam urusan nasional Lebanon. Fokus yang ia dorong adalah penyelesaian melalui mekanisme yang dianggap menjaga kedaulatan negara.

Mengapa Dialog Internal Lebanon Ditekankan?

Pemimpin Hizbullah itu menyerukan otoritas dan kekuatan politik Lebanon untuk memperkuat dialog di dalam negeri. Tujuannya adalah mengatur berbagai urusan nasional melalui kesepahaman antarkelompok politik.

Menurut Qassem, proses tersebut perlu dilakukan tanpa intervensi dari luar. Ia juga menyatakan kesiapan Hizbullah untuk bekerja sama dalam upaya menjaga kedaulatan Lebanon.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa isu keamanan dan politik domestik dipandang saling berkaitan dalam situasi yang sedang berlangsung.

Baca Juga: 4 Faktor yang Membuat Iran Dianggap Mampu Menekan AS dan Israel.

Apa Tuduhan Hizbullah terhadap Israel dalam Konflik Saat Ini?

Dalam pidatonya, Qassem menuduh Israel melakukan agresi berkelanjutan terhadap warga sipil. Ia menyatakan persoalan yang dihadapi bukan sekadar soal niat masa depan, melainkan tindakan yang menurutnya telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Ia juga mengklaim perempuan dan anak-anak menjadi sasaran di bawah apa yang disebutnya sebagai kedok internasional. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari kritik keras yang disampaikan terhadap kebijakan Israel dalam konflik kawasan.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Pernyataan Naim Qassem menunjukkan bahwa isu perlucutan senjata masih menjadi garis batas yang sulit ditembus dalam dinamika politik Lebanon. Dari sudut pandang kawasan, pesan yang disampaikan bukan hanya ditujukan kepada Israel, tetapi juga kepada aktor politik di dalam negeri Lebanon. Bagi pembaca di Balikpapan, situasi ini memperlihatkan bagaimana keamanan, kedaulatan, dan politik domestik sering saling terkait dalam konflik berkepanjangan. Isunya jauh dari sederhana pang. Karena itu, memahami konteks utuh menjadi hal penting agar kada hanya melihat satu sisi cerita.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami perkembangan konflik Timur Tengah dari berbagai sudut pandang yang relevan dan berbasis fakta.

Perkembangan geopolitik dunia terus bergerak cepat. Ikuti informasi terkini, analisis kontekstual, dan kabar internasional pilihan hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Siapa Naim Qassem?
Naim Qassem adalah pemimpin Hizbullah yang menyampaikan pidato mengenai konflik dengan Israel dan situasi Lebanon.

2. Apa yang dimaksud proyek "Israel Raya" dalam pidato tersebut?
Istilah itu digunakan oleh Qassem untuk menggambarkan apa yang ia sebut sebagai ambisi ekspansionis Israel.

3. Apakah Hizbullah setuju dengan perlucutan senjata?
Tidak. Hizbullah menolak proposal perlucutan senjata yang ditujukan kepada kelompok tersebut.

4. Apa dasar negosiasi dengan Israel menurut Hizbullah?
Qassem menyatakan dasar negosiasi harus berlandaskan keamanan bersama.

5. Apa yang didorong Hizbullah untuk Lebanon?
Hizbullah mendorong dialog internal Lebanon tanpa campur tangan eksternal.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
#Naim Qassem #lebanon #hizbullah