Balikpapan TV - Hai Cess! Putaran terakhir perundingan damai antara Afghanistan dan Pakistan dipastikan berakhir tanpa kesepakatan.
Pertemuan yang berlangsung di Turki pada Kamis (6 November 2025) itu belum membuahkan hasil, padahal sebelumnya kedua negara telah sepakat melakukan gencatan senjata pada 19 Oktober 2025 di Qatar.
Pemerintah Taliban melalui juru bicara Zabihullah Mujahid menilai Pakistan berusaha mengalihkan seluruh persoalan keamanan kepadanya, sementara Islamabad menyebut Kabul perlu mengambil peran lebih besar dalam pemberantasan terorisme.
Hubungan dua negara ini memang sudah meregang dalam beberapa tahun terakhir. Saling tuduh dukungan terhadap kelompok bersenjata membuat situasi semakin sensitif. Biar makin jelas soal masalahnya, yuk lanjut baca sampai tuntas, Cess!
Apa Pemicu Kegagalan Perundingan Terakhir Ini?
Taliban Afghanistan menilai Pakistan ingin mengalihkan beban keamanan sepenuhnya kepada Kabul, tanpa komitmen timbal balik.
"Selama perundingan, pihak Pakistan berupaya mengalihkan seluruh tanggung jawab keamanan kepada Pemerintah Afghanistan, sementara mereka sendiri tidak menunjukkan kesediaan untuk turut bertanggung jawab terhadap keamanan Afghanistan maupun keamanan dalam negeri mereka," ungkap Zabihullah Mujahid.
Sikap yang dianggap tidak kooperatif itu membuat pembicaraan terhenti tanpa hasil. Delegasi Pakistan juga disebut tidak menunjukkan inisiatif menuju titik temu baru dalam diskusi.
Baca Juga: Gempa 6,3 Magnitudo Guncang Afghanistan Dini Hari, Mengapa Wilayah Ini Rawan?
Bagaimana Sikap Pakistan Menyikapi Situasi Ini?
Pemerintah Pakistan melalui Menteri Informasi Attaullah Tarar menegaskan bahwa Afghanistan tetap bertanggung jawab atas pemberantasan terorisme.
"Pakistan akan menggunakan seluruh opsi untuk menjaga keamanan rakyat sekaligus mempertahankan kedaulatannya," ujar Tarar dalam pernyataannya.
Pakistan menegaskan tetap menghormati gencatan senjata sejauh tidak ada pelanggaran baru. Delegasinya bahkan telah meninggalkan lokasi pertemuan dan kembali ke Islamabad.
Apa Dampak Ketegangan Ini di Wilayah Perbatasan?
Sehari sebelum perundingan bubar, terjadi bentrokan di wilayah perbatasan yang menewaskan empat warga sipil dan melukai lima lainnya.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik bersenjata dapat kembali memanas meskipun gencatan senjata masih berlaku.
Taliban menekankan bahwa gencatan senjata tetap berjalan. Namun, rentetan insiden kecil berpotensi memicu eskalasi jika tidak dikelola secara tepat.
Apa Harapan Kedua Negara ke Depannya?
Pakistan ingin jaminan tegas agar Afghanistan menghentikan dukungan terhadap kelompok bersenjata, khususnya Taliban Pakistan.
Sebaliknya, Afghanistan menuntut penghormatan atas kedaulatan wilayahnya dan menolak tuduhan keterlibatan dalam aksi bersenjata lintas batas.
Mediator, termasuk Turki dan Qatar, tetap berperan menjaga komunikasi terbuka. Namun, prospek dialog lanjutan belum tampak dalam waktu dekat.
Sejenak mengambil inti kabarnya, situasi hubungan Afghanistan–Pakistan menunjukkan betapa rapuhnya proses damai bila tidak dibarengi komitmen jangka panjang.
Masyarakat di kedua negara tentu berharap stabilitas, keamanan, dan ruang hidup yang tenteram tanpa bayang-bayang konflik berkepanjangan.
Yuk, share artikel ini ke teman-temanmu, Cess! Biar makin banyak orang yang update.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
1. Apakah gencatan senjata masih berlaku?
Ya, Taliban menyatakan gencatan senjata tetap berjalan selama tidak ada pelanggaran dari pihak Pakistan.
2. Apakah kedua negara akan kembali berunding?
Belum ada jadwal resmi, namun mediator internasional diperkirakan masih akan mendorong dialog lanjutan.
3. Apa isu inti dalam perselisihan ini?
Saling tuduh dukungan terhadap kelompok bersenjata dan tuntutan pembagian tanggung jawab keamanan.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.