Balikpapan TV - Hai Cess! Krisis air bersih di Balikpapan masih terasa di banyak sudut kota. Aliran air yang sering melemah, tekanan tak stabil, hingga distribusi bergilir masih jadi cerita harian warga, terutama saat musim kemarau. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kota Balikpapan memacu langkah serius lewat perencanaan jangka panjang penyediaan air baku.
Penasaran ke mana arah solusi yang sedang disiapkan pemerintah, dan proyek apa saja yang benar-benar dikejar agar krisis ini pelan-pelan terurai? Ikuti terus sampai akhir, karena ceritanya bukan sekadar wacana, tapi soal kebutuhan hidup bubuhan Balikpapan sehari-hari Cess!
Kenapa krisis air bersih di Balikpapan belum tuntas sampai sekarang?
Krisis air bersih di Balikpapan bukan cerita baru. Persoalan utamanya ada pada keterbatasan air baku yang bisa diolah menjadi air bersih untuk warga. Kepala Bappeda-Litbang Kota Balikpapan, Murni, menegaskan air bersih adalah kebutuhan dasar, sehingga Pemkot menyusun Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum atau RISPAM untuk mendukung PTMB sebagai operator layanan.
Dalam RISPAM tersebut, tercatat ada 11 lokasi potensial sumber air baku. Mulai dari bendungan, intake sungai, hingga opsi pengolahan air laut. Namun, tidak semua alternatif bisa langsung dijalankan. Faktor biaya, teknis, dan kesiapan lahan menjadi pertimbangan besar yang membuat sebagian opsi belum realistis untuk dieksekusi dalam waktu dekat.
Upaya desalinasi air laut sempat dikaji sebagai solusi. Sayangnya, biaya investasinya dinilai terlalu tinggi. “Upaya mengatasi krisis ini sempat diarahkan ke desalinasi air laut, tapi biaya investasinya sangat besar,” ujar Murni. Nah, dari situ arah kebijakan pun bergeser ke opsi yang lebih memungkinkan secara anggaran dan waktu, pahamlah ikam.
Kenapa Embung Aji Raden jadi fokus utama Pemkot Balikpapan?
Pemkot Balikpapan kini memusatkan perhatian pada percepatan pembangunan Embung Aji Raden. Proyek ini dianggap paling realistis untuk menambah pasokan air baku dalam waktu relatif lebih cepat. “Sekarang kami fokus penuh pada Embung Aji Raden agar bisa mendapatkan pembiayaan dari pemerintah pusat,” kata Murni.
Saat beroperasi penuh, Embung Aji Raden ditargetkan mampu menyuplai sekitar 200 liter per detik air baku. Pembangunannya diproyeksikan rampung pada 2027 hingga 2028. Namun sebelum konstruksi dimulai, pembebasan lahan seluas lebih dari 72 hektare masih harus dituntaskan.
Pemkot saat ini mengalokasikan APBD untuk pembebasan lahan sambil menunggu pelimpahan kewenangan dari Pemprov Kaltim, karena penetapan lokasi sebelumnya sudah kedaluwarsa. Harapannya, proses ini bisa segera beres. “Semoga pembebasan lahan ini cepat selesai. Bappeda bekerja maksimal,” ujar Murni, nah’ itu sudah, tinggal komitmen bersama.
Bagaimana peran SPAM Sepaku Semoi menutup defisit air baku?
Selain Embung Aji Raden, Pemkot Balikpapan juga menyiapkan SPAM Sepaku Semoi sebagai opsi tambahan. Proyek ini diharapkan mampu menutup defisit air baku eksisting yang saat ini mencapai sekitar 1.000 liter per detik. “SPAM Sepaku Semoi diharapkan bisa menutup kekurangan pasokan air baku eksisting sebesar seribu liter per detik,” kata Murni.
Pemanfaatan Bendungan Sepaku Semoi direncanakan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha atau KPBU bersifat unsolicited. Konstruksinya diperkirakan memakan waktu dua tahun, dengan masa operasional hingga 30 tahun dan total biaya sekitar Rp1,2 triliun.
Lingkup pekerjaannya cukup luas, mulai dari pembangunan intake, jaringan transmisi, reservoir, pipa distribusi, hingga sambungan rumah. Meski melibatkan badan usaha, pemerintah tetap memperhitungkan keterjangkauan tarif. “Harapannya nanti sesuai perhitungan tarif, ada garansi harga jual air di kisaran Rp10 ribu,” jelas Murni, sambil menegaskan diskusi masih berjalan.
Apa saja langkah tambahan selain proyek bendungan besar?
Di luar proyek besar, Pemkot Balikpapan juga menjalankan berbagai program pendukung. Pengembangan air minum dilakukan lewat sumur dalam hibah Kementerian ESDM sejak 2018 hingga 2020. Pada 2026, APBD juga disiapkan untuk program Dinas Pekerjaan Umum, termasuk perluasan jaringan perpipaan dan kajian kapasitas sumur dalam.
Selain itu, pemanfaatan air hujan mulai didorong lewat pembangunan instalasi pemanenan air hujan di 19 unit. Semua langkah ini diarahkan untuk memperkuat ketersediaan air baku dan air bersih di masyarakat.
Murni menegaskan, potensi air baku di Balikpapan sebenarnya masih ada. Namun prosesnya panjang dan harus masuk rencana bisnis PDAM. “PDAM itu hanya operator. Penyediaan air baku harus dilakukan bersama dan didukung multi-stakeholder,” tegasnya. Nah, ikam pasti pahamlah, urusan air ini urusan semua bubuhan kota.
Ikhtisar
Krisis air bersih di Balikpapan masih menjadi tantangan serius. Pemkot memprioritaskan Embung Aji Raden sebagai solusi realistis penambah pasokan air baku, didukung rencana SPAM Sepaku Semoi dan program sumur dalam serta pemanenan air hujan. Semua upaya ini dirancang bertahap, dengan perencanaan matang dan keterlibatan banyak pihak demi kebutuhan dasar warga.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam dan kekawalan ikam supaya makin banyak yang paham arah solusi krisis air bersih di Balikpapan Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!' (Rafi)
FAQ
Apa itu RISPAM yang disusun Pemkot Balikpapan?
RISPAM adalah rencana induk penyediaan air minum untuk mendukung layanan PTMB dalam jangka panjang.
Kapan Embung Aji Raden diproyeksikan mulai beroperasi?
Target manfaatnya pada 2027 hingga 2028 setelah pembebasan lahan dan pembangunan selesai.
Berapa tambahan pasokan air dari Embung Aji Raden?
Sekitar 200 liter per detik untuk memperkuat suplai air bersih Balikpapan.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.