Balikpapan TV – Hai Cess! Film horor Indonesia Getih Ireng garapan Hitmaker Studios ramai jadi bahan obrolan setelah tayang di bioskop. Diangkat dari utas viral karya JeroPoint, film ini digadang sebagai sajian teror keluarga dengan sentuhan mistik “darah hitam” yang menghantui keturunan manusia. Dibintangi Titi Kamal dan Darius Sinathrya, cerita berpusat pada pasangan muda yang pindah ke Wonosobo era 90-an, lalu dihantui kutukan leluhur yang tak bisa mereka elak.
Meski tampil megah secara visual, Getih Ireng justru tersandung di naskah dan ritme cerita. Banyak yang bilang—eh, maaf, banyak yang menilai—film ini seperti terjebak di formula lama: seram di luar, tapi kosong di dalam. Nah, penasaran kan, sebenarnya apa yang membuat film ini terasa "nanggung"? Yuk lanjut baca sampai habis, Cess!
Apa yang Bikin “Getih Ireng” Terlihat Menjanjikan di Awal?
Satu hal yang patut diacungi jempol: Getih Ireng tampil niat. Secara visual, film ini menunjukkan kelas produksi yang serius. Estetika latar tahun 90-an di Solo dan Wonosobo digarap detail—dari tata busana, set rumah, sampai suasana kampung yang kelam tapi eksotis. Semua terasa “hidup” dan punya nuansa nostalgia tersendiri.
Desain makhluk halusnya juga efektif membangun suasana. Wujud “demit” yang muncul dengan efek prostetik dan makeup praktikal justru terasa lebih real daripada CGI murahan. Beberapa adegan gore pun tampil berani, bikin beberapa penonton menutup mata sambil nyengir kak
Sayangnya, niat mulia ini belum sepenuhnya terwujud. Di balik kemegahan visual, ada celah besar yang sulit ditutupi: ceritanya kurang greget.
Kenapa Ceritanya Terasa Kehilangan Arah?
Film ini sebenarnya punya fondasi kuat. Santet turunan, konflik keluarga, dan rahasia masa lalu—semuanya bahan bakar bagus buat horor psikologis. Tapi di tangan naskah Getih Ireng, bahan itu justru terasa hambar.
Alur cerita yang semula padat di awal mulai melempem di pertengahan. Penonton dibiarkan menebak-nebak tanpa arah karena pengungkapan misteri utama terlalu telat. Saat kunci cerita muncul, rasanya malah terburu-buru, seperti ingin cepat selesai. Twist yang seharusnya jadi pukulan pamungkas malah terasa seperti jalan pintas.
Dengan pacing yang tak konsisten, tensi horor pun terasa naik-turun. Ada momen seram, tapi cepat hilang sebelum benar-benar menggigit.
Apakah Karakternya Kurang Kuat?
Betul, di sinilah titik paling lemah Getih Ireng. Meski Titi Kamal (sebagai Rina) dan Darius Sinathrya (Pram) tampil solid secara akting, karakter mereka tidak tumbuh secara emosional. Pram digambarkan rasional tapi kaku, sementara Rina terlalu sering bereaksi tanpa motivasi yang jelas. Akibatnya, penonton susah empati pada ketakutan mereka.
Yang paling disayangkan adalah karakter Mawar, diperankan Sara Wijayanto. Dengan reputasi Sara sebagai aktris sekaligus praktisi spiritual, publik berharap banyak. Namun sayang, perannya baru dimunculkan di babak akhir. Kehadirannya terasa seperti “penyelamat dadakan”, bukan bagian utuh dari alur cerita.
Hasilnya? Chemistry antar tokoh terasa hambar, dan hubungan keluarga yang seharusnya jadi pusat konflik justru tenggelam oleh efek horor teknikal.
Terlalu Banyak Suara, Kurang Sunyi yang Mencekam?
Kalau kamu penggemar horor sejati, kamu pasti tahu: keheningan justru yang bikin ngeri. Nah, di Getih Ireng, hal itu hilang karena scoring dan efek suara yang terlalu mendominasi. Hampir setiap adegan diiringi dentuman keras atau jeritan menggelegar, sampai-sampai kengerian visualnya tenggelam di balik bising audio.
Alih-alih takut karena makhluk gaibnya, penonton justru kaget karena volumenya. Banyak yang menyebut teknik ini “jump scare murahan”—terlalu sering, terlalu bisa ditebak. Akibatnya, bukan tegang, malah lelah.
Film ini seperti lupa, bahwa teror paling efektif sering muncul dari diam dan imajinasi penonton. Jadi bukan cuma soal siapa yang muncul dari balik pintu, tapi kapan dan kenapa dia muncul.
Getih Ireng tampil meyakinkan di visual tapi kehilangan arah di cerita. Akting solid, tapi karakter kurang kuat. Efek audio dominan, tapi tensi horor malah bocor. Secara keseluruhan, film ini adalah bukti bahwa produksi besar belum tentu berbanding lurus dengan kedalaman narasi.
Kalau kamu penikmat horor yang haus tontonan lokal baru, film ini tetap layak masuk daftar akhir pekanmu.
Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar dan ajak temanmu nonton bareng!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV, teman update setia — “Bukan Sekadar Info Biasa!” (khoiorul)
FAQ
1. Apakah “Getih Ireng” diangkat dari kisah nyata?
Tidak secara langsung, tapi inspirasinya berasal dari utas viral di media sosial karya JeroPoint yang terinspirasi mitos lokal.
2. Apakah film ini cocok untuk penonton sensitif terhadap kekerasan?
Sebagian adegannya cukup intens dan berdarah, jadi sebaiknya disiapkan mental lebih dulu.
3. Di mana film “Getih Ireng” bisa ditonton?
Film ini sudah tayang di jaringan bioskop nasional dan rencananya akan masuk platform streaming setelah periode penayangan selesai.
Editor : Arya Kusuma