Kasus MBG Berastagi Jadi Sorotan, BGN Tutup 1.300 Dapur dan Siapkan Test Kit

Arya Kusuma • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 07:59 WIB
Dugaan Keracunan MBG Berastagi: 353 Siswa Terdampak
Dugaan Keracunan MBG Berastagi: 353 Siswa Terdampak

Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Dugaan keracunan MBG di Berastagi memicu evaluasi keamanan pangan, penutupan dapur, serta ancaman sanksi bagi petugas lalai.

 

Balikpapan TV - Selasa, 18 Agustus 2026, Hai Ces! Dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, membuat 353 siswa mengalami keluhan kesehatan dan mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat evaluasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Peristiwa ini menjadi perhatian karena sebagian siswa harus menjalani perawatan setelah mengalami keluhan kesehatan usai menyantap makanan MBG. Di sisi lain, BGN menyatakan sekitar 1.300 dapur telah ditutup selama tiga minggu terakhir karena dinilai belum memenuhi standar.

Kasus Berastagi kini bukan sekadar soal makanan yang dibagikan kepada siswa. Ada pertanyaan penting mengenai bagaimana keamanan pangan dijaga sejak bahan diterima, disimpan, dimasak, hingga makanan sampai kepada penerima manfaat.

353 Siswa Mengalami Keluhan Setelah Menyantap MBG

Peristiwa dugaan keracunan tersebut terjadi pada Kamis, 13 Agustus 2026. Keluhan kesehatan kemudian muncul pada sejumlah siswa dari tiga sekolah di Berastagi.

Sekolah yang terdampak terdiri dari SMA Negeri 1 Berastagi, SMA Bersama, dan SMK Negeri 1 Berastagi. Hingga Jumat, 14 Agustus 2026, jumlah siswa yang mengalami keluhan dilaporkan mencapai 353 orang.

Keluhan yang muncul beragam, mulai dari mual, muntah, pusing hingga kondisi tubuh yang melemah. Sebagian siswa kemudian mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.

Beberapa fasilitas tersebut antara lain Rumah Sakit Efarina Berastagi, RSU Amanda Berastagi, Rumah Sakit Umum Kabanjahe, serta Puskesmas Berastagi.

Dalam perkembangan berikutnya, sebanyak 64 anak dilaporkan masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Berastagi. Kondisi tersebut menunjukkan penanganan medis masih menjadi perhatian utama di tengah proses pemeriksaan.

Mengapa Keamanan Makanan MBG Menjadi Sorotan?

Program MBG memiliki tugas besar karena makanan yang disiapkan langsung dikonsumsi anak sekolah dan penerima manfaat lainnya.

Karena itu, keamanan pangan perlu diperhatikan pada setiap tahap. Mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, sampai makanan diterima oleh penerima manfaat.

Kepala BGN Sudaryono menegaskan bahwa petugas SPPG memegang tanggung jawab besar. Ia meminta setiap pihak menjalankan prosedur secara serius karena kelalaian dapat berdampak langsung terhadap kesehatan penerima manfaat.

Dalam kasus Berastagi, Sudaryono menyebut hasil pemeriksaan menemukan kelalaian dalam pengelolaan makanan. Ia menyatakan kelalaian tersebut tergolong fatal dan telah diikuti tindakan terhadap pihak yang bertanggung jawab.

BGN kemudian menutup dapur terkait dan mencopot kepala SPPG yang disebut bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Baca Juga: Prabowo Dorong 1 Juta Motor Listrik, Ini Syarat IESR Agar BBM Bisa Dihemat

Sudaryono Minta Petugas yang Kada Mampu Memilih Mundur

Pernyataan Sudaryono menjadi salah satu bagian paling tegas dari evaluasi kasus tersebut.

Ia mengingatkan seluruh petugas bahwa pekerjaan di dapur MBG berkaitan langsung dengan keselamatan manusia. Karena itu, kemampuan menjalankan standar keamanan pangan menjadi bagian penting dari tanggung jawab setiap petugas.

"Jangan nyawa orang jadi permainan. Kalau enggak mampu jadi kepala dapur, kalau enggak mampu jadi chef, kalau enggak mampu jadi petugas di situ, kau mundur aja. Karena nyawa seseorang enggak bisa dipertaruhkan," tutur Sudaryono dalam keterangan resmi, Senin, 17 Agustus 2026.

Sudaryono juga membuka kemungkinan proses investigasi diserahkan kepada aparat penegak hukum apabila ditemukan dugaan kelalaian atau pelanggaran yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Untuk kepala SPPG yang berstatus ASN, ia menyebut sanksi dapat berupa pemecatan melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN).

1.300 Dapur MBG Disebut Sudah Ditutup BGN

Evaluasi BGN ternyata memiliki cakupan yang jauh dari kasus Berastagi.

Sudaryono mengungkapkan sekitar 1.300 SPPG atau dapur MBG telah ditutup selama tiga minggu masa kepemimpinannya. Angka tersebut berasal dari penutupan sekitar 800 dapur, kemudian disusul sekitar 500 dapur lainnya.

Ia menegaskan dapur yang belum mampu memenuhi standar dan kada bersedia melakukan perbaikan dapat ditutup secara permanen.

Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya mencegah kejadian serupa kembali muncul. Namun, Sudaryono juga meminta masyarakat kada menganggap seluruh dapur MBG bermasalah.

Menurut keterangannya, sebagian besar dari sekitar 27.000 dapur MBG masih berjalan dengan baik. Evaluasi diarahkan kepada dapur yang dinilai masih memiliki kekurangan agar dapat diperbaiki.

Baca Juga: Jangan Terlewat! Upacara HUT RI ke-81 17 Agustus 2026 Bisa Ditonton Live, Ini Jadwalnya

Pemeriksaan Makanan Kada Cukup Hanya dari Bau dan Rasa

Salah satu evaluasi penting BGN berkaitan dengan metode pemeriksaan makanan sebelum disajikan.

Sudaryono menyebut pemeriksaan secara organoleptik, seperti melihat bau, rasa, atau mencicipi makanan, belum tentu mampu mendeteksi seluruh persoalan keamanan pangan.

Dalam kasus Berastagi, ia mengatakan makanan dapat saja terlihat normal ketika diperiksa secara sederhana, tetapi kemudian menimbulkan persoalan setelah dikonsumsi.

Karena itu, BGN mempertimbangkan penggunaan test kit di setiap dapur MBG. Alat tersebut disebut dapat membantu pemeriksaan terhadap kandungan tertentu dalam makanan.

Sudaryono mencontohkan penggunaan test kit oleh sejumlah SPPG yang dinilai berhasil menjaga keamanan pangan. Salah satunya adalah SPPG yang dikelola Bhayangkari dari Polri.

Langkah ini memperlihatkan bahwa pengawasan makanan mulai diarahkan pada pemeriksaan yang lebih terukur, bukan sekadar mengandalkan pemeriksaan fisik dan pencicipan.

Apa Artinya bagi Pelaksanaan MBG di Daerah?

Kasus Berastagi memberi gambaran bahwa skala besar program MBG membutuhkan sistem pengawasan yang juga kuat.

Bagi daerah lain, termasuk Kalimantan Timur, isu keamanan pangan menjadi bagian penting ketika program makanan bergizi dijalankan dalam jumlah penerima yang besar. Setiap dapur memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan makanan aman sebelum dikonsumsi.

Konteks ini penting karena kualitas program bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak makanan dapat diproduksi dan didistribusikan. Keamanan, pengawasan, pencatatan, dan kemampuan merespons persoalan juga menjadi bagian dari keberhasilan layanan.

Bagi masyarakat Kaltim, perkembangan evaluasi BGN dapat menjadi perhatian ketika pelaksanaan MBG berjalan di wilayah masing-masing. Standar keamanan pangan perlu dipahami sebagai bagian utama dari layanan, bukan sekadar tahapan teknis dapur.

Poin Penting

Insight Redaksi

Kasus Berastagi mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan MBG bukan sekadar jumlah porsi yang tersalur. Keamanan pangan harus menjadi fondasi utama. Untuk bubuhan pelaksana di daerah, disiplin SOP perlu dijaga sejak bahan datang sampai makanan diterima siswa. Jangan ambil risiko, Ces. Nyawa manusia kada punya ruang untuk percobaan.

Dapur MBG di daerah perlu memperkuat pencatatan bahan, suhu penyimpanan, pemeriksaan makanan, dan respons keluhan secara cepat agar masalah kada melebar.

Kalau informasi ini penting, bagikan ke kawalan ikam supaya makin banyak yang memahami bahwa keamanan makanan adalah tanggung jawab bersama.

Pantau terus perkembangan MBG dan isu penting yang berdampak bagi masyarakat daerah hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Berapa siswa yang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan di Berastagi?

Hingga Jumat, 14 Agustus 2026, sebanyak 353 siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan MBG.

2. Berapa dapur MBG yang disebut sudah ditutup BGN?

Kepala BGN Sudaryono menyebut sekitar 1.300 dapur SPPG telah ditutup selama tiga minggu masa kepemimpinannya.

3. Mengapa BGN mempertimbangkan penggunaan test kit?

BGN mempertimbangkan test kit karena pemeriksaan makanan berdasarkan bau, rasa, dan pencicipan dinilai belum cukup untuk mendeteksi seluruh potensi persoalan keamanan pangan.

Sumber Informasi: Artikel ini mengacu pada keterangan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengenai dugaan keracunan MBG di Berastagi, evaluasi SPPG, penutupan dapur, serta rencana penguatan pemeriksaan keamanan pangan. Artikel disusun secara orisinal dengan gaya jurnalistik Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sudaryono 1.300 dapur MBG ditutup BGN Mbg Berastagi