10 Ribu Hektare Komoditas Alor Disiapkan, 40 Ribu Warga Diproyeksikan Menikmati Manfaat

istikhomah • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:37 WIB
Mentan Targetkan Pengembangan Komoditas Jangka Panjang 10 Ribu Hektare di Alor.
Mentan Targetkan Pengembangan Komoditas Jangka Panjang 10 Ribu Hektare di Alor.
Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Mentan Amran menargetkan 10 ribu hektare komoditas jangka panjang untuk menopang pendapatan masyarakat Alor.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Andi Amran Sulaiman menargetkan pengembangan kelapa, kakao, dan jambu mete seluas 10 ribu hektare di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, sebagai sumber pendapatan jangka panjang bagi masyarakat.

Target itu bukan sekadar soal luas lahan. Pemerintah menghitung potensi manfaatnya bagi sekitar 10 ribu keluarga atau 40 ribu orang jika satu hektare dikelola satu keluarga. Lantas, bagaimana program ini akan dijalankan?

Baca Juga: Tragedi Drag Race Kotamobagu: 8 Tewas, Polda Sulut Periksa 5 Orang dan Panitia

Mengapa Alor Dipilih untuk Komoditas Jangka Panjang?

Kondisi agroklimat Alor menjadi pertimbangan pemerintah dalam menentukan komoditas yang dikembangkan. Kelapa, kakao, dan jambu mete dinilai sesuai untuk menjadi tanaman perkebunan jangka panjang.

Mentan Amran menyampaikan target tersebut saat meninjau perkembangan tanaman kakao di Alor pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Kunjungan itu juga menjadi bagian dari upaya pemerintah melihat langsung kebutuhan masyarakat.

Pemerintah menempatkan pertanian sebagai salah satu jalan untuk mendorong perekonomian daerah. Program jangka pendek dan jangka panjang dijalankan secara bersamaan.

“Kita tidak boleh hanya berbicara dari Jakarta. Saya datang ke sini untuk melihat langsung, mendengar langsung, dan langsung memutuskan apa yang harus dikerjakan,” ujar Amran.

Target 10 Ribu Hektare Menyasar Ribuan Keluarga

Rencana pengembangan tersebut memiliki sasaran ekonomi yang cukup luas. Pemerintah memperkirakan sekitar 10 ribu keluarga dapat memperoleh sumber penghasilan apabila setiap hektare dikelola satu keluarga.

Dengan asumsi satu keluarga terdiri dari empat orang, manfaat program diproyeksikan menyentuh sekitar 40 ribu orang. Angka tersebut menjadi alasan pemerintah meminta program dikawal secara serius.

“Kita targetkan tanaman minimal 10 ribu hektare di Alor. Kalau satu hektare dikelola satu keluarga, berarti ada 10 ribu keluarga yang mendapat sumber penghasilan,” kata Amran.

Apa Saja Dukungan Pemerintah bagi Petani?

Pemerintah menyiapkan dukungan sejak tahap awal penanaman. Bibit unggul dan biaya tanam menjadi bagian dari bantuan yang ditanggung pemerintah sehingga masyarakat tidak dibebani biaya awal.

Selain bantuan tersebut, Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL diminta melakukan pendampingan hingga tanaman tumbuh dan berhasil. Pendekatan ini penting karena tanaman perkebunan membutuhkan perawatan dalam waktu panjang.

“Bibitnya dari pemerintah, biaya tanamnya juga dari pemerintah. Gratis untuk rakyat. PPL harus mengawal sampai tumbuh dan berhasil,” ujar Amran.

Kakao, Kelapa, dan Jambu Mete Jadi Investasi Puluhan Tahun

Pemerintah melihat tiga komoditas tersebut sebagai investasi pertanian yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Karena itu, kualitas bibit dan pengelolaan tanaman menjadi perhatian sejak awal.

Amran menyebut kakao, mete, dan kelapa dapat menjadi sumber kesejahteraan masyarakat Alor dalam jangka panjang. Pemerintah pun meminta proses penanaman dan pendampingan dilakukan secara optimal.

“Ini masa depan Alor. Kakao, mete, dan kelapa bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang,” kata Amran.

Potensi tersebut juga sejalan dengan data pemerintah daerah yang mencatat jambu mete sebagai salah satu komoditas perkebunan Alor. Satu Data Kabupaten Alor mencantumkan dataset produksi tanaman perkebunan yang diperbarui pada Juli 2026.

Program Pertanian Alor Berjalan dari Hulu hingga Hilir

Pengembangan tanaman jangka panjang menjadi bagian dari strategi yang berjalan bersama program pangan jangka pendek. Pemerintah juga menyiapkan benih padi dan jagung, alat dan mesin pertanian, serta pompa untuk mendukung produksi pangan.

Untuk kebutuhan beras, Amran meminta ketersediaan stok dan keterjangkauan harga menjadi perhatian. Pemerintah juga menyatakan Bulog dapat melakukan operasi pasar apabila diperlukan.

Pola tersebut menunjukkan pemerintah ingin menangani kebutuhan masyarakat saat ini sambil membangun sumber pendapatan perkebunan untuk masa mendatang. Dua kebutuhan itu berjalan bersamaan.

Baca Juga: Festival Budaya Lembah Baliem di Walesi Diwarnai Penembakan, Dua Orang Terluka

Kunci Program Ada pada Pendampingan

Bantuan bibit dan biaya tanam menjadi modal awal, tetapi keberhasilan program tidak berhenti pada distribusi. Tanaman harus dirawat dan dipantau sampai mampu menghasilkan.

Karena itu, peran PPL menjadi penting untuk membantu masyarakat menjaga pertumbuhan tanaman. Pendampingan yang konsisten juga menjadi bagian dari upaya memastikan investasi pertanian pemerintah benar-benar memberi manfaat.

Pemerintah Kabupaten Alor sendiri terus mengembangkan basis data sektoral sebagai pendukung perencanaan pembangunan daerah. Satu Data Alor mencatat Dinas Pertanian dan Perkebunan sebagai salah satu produsen data sektoral dengan sejumlah dataset pertanian yang diperbarui pada 2026.

Poin Penting

Insight Redaksi

Target 10 ribu hektare menunjukkan pertanian Alor sedang diarahkan menjadi mesin ekonomi, bukan sekadar program tanam. Tantangan sesungguhnya ada pada perawatan, produktivitas, dan keberlanjutan. Kalau pengawalan kuat, manfaatnya bisa panjang. Jangan sampai bibit banyak, hasil kada seberapa.

Bagian penting yang perlu dikawal masyarakat adalah kesinambungan pendampingan, karena investasi tanaman perkebunan baru terasa saat pengelolaannya konsisten.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham arah pembangunan pertanian Alor.

Penasaran apakah target 10 ribu hektare mampu mengubah ekonomi masyarakat Alor? Ikuti terus perkembangan pertanian daerah dan selalu update info hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Berapa luas lahan yang ditargetkan pemerintah di Alor?

Pemerintah menargetkan pengembangan komoditas jangka panjang seluas 10 ribu hektare.

2. Komoditas apa yang akan dikembangkan?

Komoditas yang diprioritaskan ialah kelapa, kakao, dan jambu mete.

3. Siapa yang menanggung biaya awal penanaman?

Pemerintah menanggung penyediaan bibit dan biaya tanam untuk masyarakat.

4. Berapa banyak masyarakat yang diproyeksikan mendapat manfaat?

Jika satu hektare dikelola satu keluarga, program diproyeksikan menjangkau 10 ribu keluarga atau sekitar 40 ribu orang.

5. Apa peran PPL dalam program tersebut?

PPL bertugas mendampingi dan mengawal tanaman agar tumbuh serta berkembang hingga berhasil.

Sumber Informasi: Artikel ini mengacu pada pemberitaan Radio Republik Indonesia (RRI) mengenai target Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam pengembangan komoditas jangka panjang seluas 10 ribu hektare di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Artikel disusun ulang secara orisinal dengan gaya jurnalistik Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Amran Sulaiman kabupaten alor nusa tenggara timur mentan amran