Psikologi Menghujat di Media Sosial Terungkap, Kasus Yurizal Jadi Pengingat Penting
Ikhtisar: Kasus Yurizal memicu perbincangan tentang penyebab seseorang mudah menghujat di media sosial serta pentingnya mengendalikan emosi dan membangun empati sebelum berkomentar.
Balikpapan TV – Hai Ces! Kasus meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan setelah menerima komentar bernada sinis di media sosial kembali memunculkan perhatian publik terhadap budaya berkomentar di ruang digital. Peristiwa ini tidak hanya menyoroti etika bermedia sosial, tetapi juga membuka diskusi mengenai faktor psikologis yang membuat seseorang mudah menghakimi orang lain.
Masalah ini ternyata lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dibanding yang banyak disadari. Yuk pahami penyebabnya sampai tuntas agar aktivitas di media sosial tetap sehat, saling menghargai, dan tidak menyakiti orang lain, Ces!
Baca Juga: Berapa Gaji Manajer Kopdes Merah Putih? Kaltim Diperkirakan Rp3,76 Juta
Mengapa kasus Yurizal memicu perhatian publik?
Kasus bermula ketika Yurizal Tri Chaerawan mengunggah pengalamannya melalui akun Threads pada 23 Juli 2026. Dalam unggahan tersebut, ia mengaku telah menunggu sekitar delapan jam di rumah sakit tetapi belum memperoleh ruang perawatan. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya merupakan peserta BPJS Kesehatan.
Alih-alih memperoleh simpati, unggahan itu justru dibanjiri komentar bernada sinis. Sejumlah akun yang disebut berasal dari kalangan tenaga kesehatan ikut memberikan tanggapan yang dinilai tidak menunjukkan empati kepada pasien.
Situasi berubah drastis setelah publik mengetahui bahwa Yurizal kemudian meninggal dunia. Peristiwa tersebut memicu kritik luas terhadap budaya berkomentar di media sosial, terutama mengenai pentingnya menjaga empati ketika seseorang sedang menyampaikan pengalaman pribadi.
Kasus ini kemudian berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas, yakni mengenai bagaimana ruang digital mampu memengaruhi perilaku seseorang hingga lebih mudah menghakimi dibanding ketika berinteraksi secara langsung.
Apa penyebab seseorang mudah menghujat di media sosial?
Psikolog klinis sekaligus dosen Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Yunita Setiyani Subardjo, menjelaskan bahwa perilaku menghakimi di media sosial merupakan fenomena yang memang sering ditemukan dalam berbagai kasus.
"Dari sisi psikologi memang pernah dan bisa dibilang sering terjadi dalam kasus yang berbeda."
Menurutnya, salah satu penyebab utama berasal dari konsep online disinhibition effect yang diperkenalkan psikolog John Suler. Kondisi ini membuat seseorang merasa lebih bebas mengungkapkan pendapat karena tidak berhadapan langsung dengan orang yang menjadi sasaran komentar.
Tidak adanya kontak tatap muka membuat pengguna media sosial sulit melihat ekspresi wajah, bahasa tubuh, maupun kondisi emosional orang lain. Akibatnya, kemampuan berempati dapat menurun sehingga komentar yang muncul menjadi lebih tajam dibanding ketika berbicara secara langsung.
"Di dunia online orang merasa anonim, tidak ketemu langsung, dan ada jeda waktu. Ini bikin rem sosial jadi lepas. Orang jadi lebih berani berkomentar kasar yang di dunia nyata mungkin tidak akan dia lakukan."
Selain faktor anonimitas, kondisi emosi juga berpengaruh besar. Yunita menjelaskan bahwa seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional lebih mudah bereaksi secara spontan ketika membaca sebuah unggahan.
Dalam psikologi, kondisi tersebut berkaitan dengan kegagalan melakukan cognitive reappraisal, yaitu kemampuan menilai kembali suatu situasi secara lebih tenang sebelum memberikan respons.
"Artinya, ketika baca postingan, emosi pertama yang muncul adalah marah, kesal, defensif. Kalau tidak bisa di-'reappraisal' jadi 'oh mungkin dia sedang sakit dan butuh didengar', maka yang keluar adalah reaksi menyerang."
Lebih jauh, media sosial juga memperkuat fenomena moral outrage dan group polarization. Ketika satu orang mulai menghakimi, pengguna lain cenderung mengikuti arus karena terdorong untuk berada dalam kelompok yang sama atau merasa perlu membela pihak tertentu.
Fenomena tersebut membuat komentar negatif dapat berkembang sangat cepat meski belum seluruh fakta diketahui secara utuh. Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi arena saling menyerang, bukan tempat bertukar pandangan secara sehat.
"Media sosial memperkuat rasa 'kita vs mereka'. Saat satu orang mulai menghakimi, orang lain ikut karena takut 'tidak satu kubu'. Ini juga bentuk pelepasan frustrasi mereka terhadap sistem kesehatan secara umum, tapi sasarannya ke individu yang lagi curhat."
Baca Juga: Kabar Baik bagi Petani, Harga Sawit Kaltim Periode II Juli 2026 Menguat hingga Rp3.528 per Kg