Mengapa Orang Mudah Menghakimi di Media Sosial? Psikolog Ungkap Penjelasannya Lewat Kasus Yurizal

istikhomah • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 13:03 WIB
Tangkapan layar unggahan almarhum Yurizal Tri Chaerawan di Threads.
Tangkapan layar unggahan almarhum Yurizal Tri Chaerawan di Threads.
Durasi Baca: 6 Menit

Psikologi Menghujat di Media Sosial Terungkap, Kasus Yurizal Jadi Pengingat Penting

Ikhtisar: Kasus Yurizal memicu perbincangan tentang penyebab seseorang mudah menghujat di media sosial serta pentingnya mengendalikan emosi dan membangun empati sebelum berkomentar.

 

Balikpapan TV – Hai Ces! Kasus meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan setelah menerima komentar bernada sinis di media sosial kembali memunculkan perhatian publik terhadap budaya berkomentar di ruang digital. Peristiwa ini tidak hanya menyoroti etika bermedia sosial, tetapi juga membuka diskusi mengenai faktor psikologis yang membuat seseorang mudah menghakimi orang lain.

Masalah ini ternyata lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dibanding yang banyak disadari. Yuk pahami penyebabnya sampai tuntas agar aktivitas di media sosial tetap sehat, saling menghargai, dan tidak menyakiti orang lain, Ces!

Baca Juga: Berapa Gaji Manajer Kopdes Merah Putih? Kaltim Diperkirakan Rp3,76 Juta

Mengapa kasus Yurizal memicu perhatian publik?

Kasus bermula ketika Yurizal Tri Chaerawan mengunggah pengalamannya melalui akun Threads pada 23 Juli 2026. Dalam unggahan tersebut, ia mengaku telah menunggu sekitar delapan jam di rumah sakit tetapi belum memperoleh ruang perawatan. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya merupakan peserta BPJS Kesehatan.

Alih-alih memperoleh simpati, unggahan itu justru dibanjiri komentar bernada sinis. Sejumlah akun yang disebut berasal dari kalangan tenaga kesehatan ikut memberikan tanggapan yang dinilai tidak menunjukkan empati kepada pasien.

Situasi berubah drastis setelah publik mengetahui bahwa Yurizal kemudian meninggal dunia. Peristiwa tersebut memicu kritik luas terhadap budaya berkomentar di media sosial, terutama mengenai pentingnya menjaga empati ketika seseorang sedang menyampaikan pengalaman pribadi.

Kasus ini kemudian berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas, yakni mengenai bagaimana ruang digital mampu memengaruhi perilaku seseorang hingga lebih mudah menghakimi dibanding ketika berinteraksi secara langsung.

Apa penyebab seseorang mudah menghujat di media sosial?

Psikolog klinis sekaligus dosen Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Yunita Setiyani Subardjo, menjelaskan bahwa perilaku menghakimi di media sosial merupakan fenomena yang memang sering ditemukan dalam berbagai kasus.

"Dari sisi psikologi memang pernah dan bisa dibilang sering terjadi dalam kasus yang berbeda."

Menurutnya, salah satu penyebab utama berasal dari konsep online disinhibition effect yang diperkenalkan psikolog John Suler. Kondisi ini membuat seseorang merasa lebih bebas mengungkapkan pendapat karena tidak berhadapan langsung dengan orang yang menjadi sasaran komentar.

Tidak adanya kontak tatap muka membuat pengguna media sosial sulit melihat ekspresi wajah, bahasa tubuh, maupun kondisi emosional orang lain. Akibatnya, kemampuan berempati dapat menurun sehingga komentar yang muncul menjadi lebih tajam dibanding ketika berbicara secara langsung.

"Di dunia online orang merasa anonim, tidak ketemu langsung, dan ada jeda waktu. Ini bikin rem sosial jadi lepas. Orang jadi lebih berani berkomentar kasar yang di dunia nyata mungkin tidak akan dia lakukan."

Selain faktor anonimitas, kondisi emosi juga berpengaruh besar. Yunita menjelaskan bahwa seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional lebih mudah bereaksi secara spontan ketika membaca sebuah unggahan.

Dalam psikologi, kondisi tersebut berkaitan dengan kegagalan melakukan cognitive reappraisal, yaitu kemampuan menilai kembali suatu situasi secara lebih tenang sebelum memberikan respons.

"Artinya, ketika baca postingan, emosi pertama yang muncul adalah marah, kesal, defensif. Kalau tidak bisa di-'reappraisal' jadi 'oh mungkin dia sedang sakit dan butuh didengar', maka yang keluar adalah reaksi menyerang."

Lebih jauh, media sosial juga memperkuat fenomena moral outrage dan group polarization. Ketika satu orang mulai menghakimi, pengguna lain cenderung mengikuti arus karena terdorong untuk berada dalam kelompok yang sama atau merasa perlu membela pihak tertentu.

Fenomena tersebut membuat komentar negatif dapat berkembang sangat cepat meski belum seluruh fakta diketahui secara utuh. Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi arena saling menyerang, bukan tempat bertukar pandangan secara sehat.

"Media sosial memperkuat rasa 'kita vs mereka'. Saat satu orang mulai menghakimi, orang lain ikut karena takut 'tidak satu kubu'. Ini juga bentuk pelepasan frustrasi mereka terhadap sistem kesehatan secara umum, tapi sasarannya ke individu yang lagi curhat." 

Baca Juga: Kabar Baik bagi Petani, Harga Sawit Kaltim Periode II Juli 2026 Menguat hingga Rp3.528 per Kg

Apakah pelaku penghujatan pasti memiliki kepribadian buruk?

Meski komentar kasar sering menuai kecaman, Yunita menilai perilaku tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang memiliki karakter yang jahat. Dalam banyak kasus, tindakan itu muncul akibat kombinasi emosi sesaat, lemahnya kontrol diri, serta pengaruh lingkungan digital yang mendorong pengguna mengikuti arus percakapan.

Seseorang dapat terdorong memberikan komentar tanpa mempertimbangkan dampaknya karena ingin membela kelompok tertentu, merasa memiliki pengalaman serupa, atau terbawa suasana diskusi yang semakin memanas.

Menurut Yunita, kondisi tersebut juga bisa dipengaruhi oleh ego kelompok. Ketika seseorang merasa menjadi bagian dari profesi atau komunitas tertentu, muncul kecenderungan membela sesama anggota meski belum memahami seluruh fakta yang terjadi.

"Apalagi merasa sebagai sesama nakes dengan ego yang tinggi, merasa perlu membela teman tanpa melihat kasus senyatanya. Artinya, ini juga menandakan orang itu tidak dewasa secara emosi dalam berkomentar."

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi menjadi salah satu faktor penting dalam membangun interaksi yang sehat di media sosial. Semakin baik seseorang mengendalikan emosinya, semakin kecil kemungkinan memberikan komentar yang dapat melukai orang lain.

Bagaimana cara agar tidak mudah menghujat di media sosial?

Sebagai psikolog klinis, Yunita membagikan sejumlah langkah sederhana agar masyarakat lebih bijak ketika menggunakan media sosial. Langkah pertama adalah memberi jeda sebelum menulis komentar, terutama ketika sedang merasa marah atau tersinggung.

Ia menyarankan setiap orang bertanya kepada diri sendiri apakah komentar yang akan ditulis benar-benar berdasarkan fakta atau hanya dipengaruhi emosi sesaat. Kebiasaan memberi jeda dinilai mampu mengurangi risiko munculnya komentar impulsif.

"Sebelum berkomentar, tanyakan pada diri sendiri dulu, apakah ini fakta atau hanya emosi saya? Apakah ini akan membantu atau justru melukai? Jeda seperti ini penting untuk melatih kesabaran dan kesadaran agar tidak menyesal kemudian."

Selain itu, masyarakat juga diajak membiasakan diri melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Membayangkan apabila diri sendiri atau anggota keluarga mengalami situasi serupa dapat membantu menumbuhkan empati sebelum memberikan penilaian.

Yunita juga mengingatkan bahwa media sosial memang dirancang agar pengguna bereaksi cepat terhadap berbagai konten. Karena itu, apabila ada akun atau unggahan yang terus memicu emosi negatif, memanfaatkan fitur membisukan akun, menyembunyikan komentar, atau berhenti mengikuti akun tertentu dapat menjadi pilihan yang lebih sehat.

"Namanya digital literacy emosi. Sadar bahwa medsos dirancang memicu reaksi cepat."

Di sisi lain, ia menilai kritik terhadap pelayanan publik tetap penting disampaikan. Namun kritik sebaiknya diarahkan melalui jalur yang tepat, seperti mekanisme pengaduan resmi atau forum diskusi yang membangun, bukan menyerang individu yang sedang menghadapi musibah.

Bagi pengguna media sosial yang sudah terlanjur ikut menghujat dan kemudian menyadari kesalahannya, Yunita mengatakan meminta maaf merupakan langkah yang baik. Pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran untuk meningkatkan kontrol diri sehingga perilaku serupa tidak kembali terulang.

"Rasa bersalah yang sehat bisa melatih kontrol diri ke depan. Meskipun ini tidak boleh juga berulang, karena tidak pada tempatnya dan tidak etis."


Poin Penting

  • Kasus Yurizal memicu diskusi luas mengenai budaya menghujat di media sosial.
  • Fenomena online disinhibition effect membuat pengguna lebih berani berkomentar kasar karena tidak berinteraksi langsung.
  • Emosi yang tidak dikelola dengan baik meningkatkan risiko memberikan komentar yang menyakitkan.
  • Moral outrage dan group polarization membuat komentar negatif mudah menyebar.
  • Memberi jeda, melatih empati, serta menggunakan media sosial secara bijak dapat mengurangi perilaku menghujat.

Insight Redaksi

Kasus Yurizal menunjukkan bahwa dampak media sosial tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kualitas pengendalian emosi para penggunanya. Kemudahan menulis komentar sering kali lebih cepat daripada kemampuan memahami kondisi orang lain. Di sinilah literasi digital seharusnya berkembang, bukan hanya soal kemampuan menggunakan platform, tetapi juga membangun empati dan tanggung jawab sosial. Jangan sampai budaya mengikuti arus komentar mengalahkan kebiasaan memeriksa fakta. Pikir dulu sebelum mengetik. Itu jauh lebih penting, pang. Mulailah membiasakan jeda beberapa detik sebelum berkomentar agar ikam lebih mampu memilah emosi dan fakta secara objektif.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang memahami pentingnya menjaga empati saat bermedia sosial.

Setiap komentar meninggalkan jejak. Pastikan jejak yang ditinggalkan membawa manfaat. Selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa! 

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan online disinhibition effect?

Online disinhibition effect adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa lebih bebas mengungkapkan pendapat di internet karena tidak berhadapan langsung dengan lawan bicaranya. Kondisi ini dapat menurunkan hambatan sosial sehingga komentar yang muncul cenderung lebih keras dibandingkan interaksi tatap muka.

2. Mengapa empati bisa berkurang saat berinteraksi di media sosial?

Karena pengguna tidak melihat ekspresi wajah, bahasa tubuh, maupun kondisi emosional orang lain secara langsung. Akibatnya, seseorang lebih mudah memberikan penilaian tanpa memahami situasi yang sebenarnya.

3. Apakah semua orang berpotensi ikut menghujat di media sosial?

Ya. Menurut psikolog, siapa pun dapat terdorong memberikan komentar negatif apabila dipengaruhi emosi sesaat, tekanan kelompok, atau terbawa arus percakapan di media sosial.

4. Bagaimana cara mengurangi kebiasaan berkomentar secara impulsif?

Memberi jeda sebelum menulis komentar, memeriksa kembali fakta, mencoba memahami sudut pandang orang lain, serta menghindari konten yang memicu emosi berlebihan menjadi langkah yang disarankan.

5. Apa pelajaran penting dari kasus Yurizal?

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa setiap komentar di media sosial memiliki dampak nyata. Karena itu, etika digital, empati, dan kemampuan mengendalikan emosi sama pentingnya dengan kebebasan menyampaikan pendapat.

Sumber Informasi

Sumber Informasi: Media RRI Radio Republik Indonesia, dengan judul "Viral Kasus Yurizal, Psikolog Ungkap Mengapa Orang Mudah Menghujat di Medsos". Di-update kembali dengan angle, struktur, dan gaya jurnalistik Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Kasus Yurizal Yurizal Tri Chaerawan Yunita Setiyani Subardjo psikologi media sosial