Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek Mimbar Opini

Mengapa Usulan Produksi Rokok Murah Dikritik? Ini Dampaknya

Nazwa Deriska Noviyanti • Rabu, 24 Juni 2026 | 17:48 WIB
Ilustrasi produk rokok dan cukai hasil tembakau yang menjadi sorotan dalam perdebatan batas produksi tarif rendah.
Ilustrasi produk rokok dan cukai hasil tembakau yang menjadi sorotan dalam perdebatan batas produksi tarif rendah.

Durasi Baca: 5 Menit

Topik: Usulan kenaikan batas produksi rokok tarif rendah memicu perdebatan terkait rokok murah, penerimaan negara, dan struktur cukai hasil tembakau.

Ikhtisar: Usulan peningkatan batas produksi rokok golongan tarif rendah memunculkan pro dan kontra. Sejumlah pengamat menilai kebijakan tersebut berpotensi memperluas peredaran rokok murah, memperkuat fenomena downtrading, serta mengurangi potensi penerimaan negara dari cukai hasil tembakau.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Wacana menaikkan batas produksi rokok golongan tarif rendah tengah menjadi sorotan setelah muncul usulan yang dikaitkan dengan upaya menekan peredaran rokok ilegal. Namun, sejumlah pihak menilai langkah tersebut justru dapat membawa dampak lain yang perlu dicermati.

Perdebatan ini menarik karena menyangkut harga rokok, penerimaan negara, hingga strategi pengendalian pasar. Simak sampai habis, pahami duduk perkaranya supaya kada salah menangkap isu yang sedang ramai dibahas ini, Ces!

Baca Juga: Gangguan Listrik di Poliklinik Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, Begini Cara Layanan Pasien Tetap Berjalan

Mengapa usulan batas produksi rokok tarif rendah memicu perdebatan?

Perdebatan muncul karena usulan tersebut dinilai memiliki dampak yang berbeda bagi setiap pihak. Anggota Komisi XI DPR RI Andi Yuliani Paris mengusulkan adanya cukai rokok khusus bagi kalangan menengah ke bawah dan peningkatan ambang batas produksi rokok.

Menurut Andi, ketersediaan rokok dengan harga yang lebih terjangkau dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi peredaran rokok ilegal. Dari sudut pandang tersebut, harga produk menjadi salah satu faktor yang ikut diperhitungkan.

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai kebijakan itu berpotensi menciptakan efek lanjutan yang perlu diperhatikan. Terutama terkait jumlah rokok murah yang beredar di pasar.

Apa risiko yang disorot terkait peredaran rokok murah?

Kekhawatiran utama datang dari kemungkinan meningkatnya pasokan rokok murah. Project Lead Tobacco Control Center CISDI, Beladenta Amalia, menilai perusahaan dapat meningkatkan produksi tanpa harus masuk ke golongan tarif yang lebih tinggi.

Menurut Amalia, kondisi tersebut berpotensi memperbanyak produk dengan harga murah di pasaran. Dampaknya dinilai dapat mengubah dinamika pasar karena produsen memperoleh ruang produksi yang lebih besar dengan tarif yang masih rendah.

“Kalau produsen bisa memproduksi lebih banyak dengan tarif cukai yang masih rendah, tentu keberadaan rokok murah di pasar akan semakin banyak,” jelas Amalia.

Bagaimana kaitannya dengan penerimaan negara dari cukai?

Kritik lain berkaitan dengan potensi penerimaan negara. Saat ini terdapat perbedaan tarif antara sigaret kretek mesin golongan I dan golongan II yang mencapai Rp485 per batang.

Menurut Beladenta Amalia, kenaikan batas produksi di golongan tarif rendah dapat membuat potensi penerimaan yang lebih besar tidak tercapai. Ia menyebut gejala tersebut sudah terlihat dalam dua tahun terakhir.

“Ini justru merugikan dari sisi penerimaan negara karena potensi penerimaan yang lebih besar tidak tercapai. Gejalanya sudah terlihat dalam dua tahun terakhir,” sambungnya.

Mengapa fenomena downtrading ikut menjadi perhatian?

Fenomena downtrading menjadi salah satu isu yang paling sering disebut dalam perdebatan ini. Istilah tersebut merujuk pada perpindahan konsumen dari produk dengan harga lebih tinggi ke produk yang lebih murah.

Kepala Center of Human and Economic Development (CHED) ITB Ahmad Dahlan, Roosita Meilani Dewi, menilai kenaikan batas produksi pada golongan tarif rendah dapat memperbesar peluang terjadinya kondisi tersebut.

“Menaikkan batas produksi di golongan tarif rendah akan membuat pabrikan besar bisa membanjiri pasar dengan rokok murah tanpa perlu naik kelas ke tarif cukai yang lebih tinggi. Ini akan memperparah fenomena downtrading dan memicu lonjakan konsumsi,” ujarnya.

Siapa yang dinilai paling diuntungkan dan apa alternatif yang diusulkan?

Menurut Roosita, perusahaan yang berada di sekitar batas produksi saat ini berpotensi memperoleh keuntungan paling besar jika kebijakan tersebut diterapkan. Mereka dapat memperluas produksi tanpa harus masuk ke kelompok tarif yang lebih tinggi.

“Pihak yang paling diuntungkan adalah korporasi rokok besar yang mendapat insentif untuk tidak naik ke golongan I,” katanya.

Sebagai alternatif, Roosita mendorong pemerintah memfokuskan perhatian pada reformasi kebijakan cukai. Langkah yang disebut antara lain penyederhanaan struktur tarif dan penguatan pemberantasan rokok ilegal.

“Prioritas utama pemerintah harus menyederhanakan struktur tarif cukai dan mempersempit celah harga antar golongan, bukan memperlonggar batas produksinya,” pungkasnya.

Poin Penting:

Baca Juga: Gangguan Air di BDS Mulai Pulih, PTMB Ungkap Rangkaian Masalah yang Hambat Distribusi

Insight Redaksi: Dari sudut pandang daerah seperti Balikpapan, isu cukai rokok sering terlihat sebagai persoalan nasional. Padahal dampaknya menyentuh banyak aspek, mulai dari harga produk hingga penerimaan negara. Menariknya, perdebatan kali ini bukan hanya soal tarif, tetapi juga tentang arah kebijakan yang dipilih. Sebagian pihak melihat ruang produksi sebagai solusi, sementara pihak lain menilai pembenahan struktur tarif menjadi langkah yang lebih tepat. Nah, itu sudah, diskusinya berada pada pilihan kebijakan yang berbeda.

Bagikan artikel ini ke kawalan ikam agar makin banyak yang memahami perdebatan mengenai batas produksi rokok, fenomena downtrading, dan dampaknya terhadap penerimaan negara. Informasi yang utuh membantu melihat isu dari berbagai sisi, Ces!

Perkembangan kebijakan ekonomi sering membawa dampak yang terasa hingga ke masyarakat. Ikuti terus informasi terbaru dan pembahasan yang mudah dipahami hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa yang diusulkan terkait produksi rokok tarif rendah?
Peningkatan ambang batas produksi rokok pada golongan tarif rendah.

2. Apa alasan munculnya usulan tersebut?
Salah satunya untuk membantu menekan peredaran rokok ilegal.

3. Apa yang dikhawatirkan CISDI?
Meningkatnya jumlah rokok murah di pasaran.

4. Apa itu downtrading?
Perpindahan konsumen dari produk yang lebih mahal ke produk yang lebih murah.

5. Apa rekomendasi yang disampaikan CHED?
Penyederhanaan struktur tarif cukai dan penguatan pemberantasan rokok ilegal.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
#Andi Yuliani Paris #Beladenta Amalia #downtrading