Ikhtisar: Program Rumah Pangan B2SA Kaltim memperkuat ketahanan pangan desa dan pemenuhan gizi kelompok rentan.
Balikpapan TV - Hai Ces! DPTPH Kalimantan Timur memperkuat Rumah Pangan B2SA di desa untuk membantu memenuhi gizi ibu hamil dan kelompok rentan sekaligus mendukung pencegahan stunting.
Kebutuhan pangan bergizi bukan hanya soal tersedia di meja makan, tetapi juga bagaimana keluarga mampu memenuhinya secara berkelanjutan. Program ini menarik dicermati karena menggabungkan intervensi gizi dengan kemandirian pangan desa.
Baca Juga: Pertamina Perketat Pemeriksaan Tabung LPG di Kaltim, Cegah Kebocoran Beredar
Siapa yang Menjadi Sasaran Rumah Pangan B2SA?
Program Rumah Pangan B2SA diarahkan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi. Sasaran utamanya mencakup anak stunting, anak dengan gizi kurang atau buruk, ibu hamil, ibu menyusui, serta calon pengantin.
Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan DPTPH Kaltim Rika Nuzli Furkanti menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga dari tingkat desa.
“Penerima manfaat dari kegiatan ini difokuskan pada anak stunting, anak gizi kurang atau buruk, ibu hamil, ibu menyusui, serta calon pengantin,” ungkap Rika.
Pendekatan tersebut menempatkan keluarga dan masyarakat desa sebagai bagian penting dalam upaya memperbaiki kualitas konsumsi pangan.
Intervensi Gizi Dilakukan Secara Langsung
Pemenuhan kebutuhan gizi dalam program ini dilakukan melalui pembagian makanan sehat yang memenuhi prinsip B2SA. Intervensi diberikan sebanyak 40 hingga 60 kali kepada penerima manfaat.
Setiap Kelompok Penerima Manfaat (KPM) menyasar sedikitnya 40 orang. Pola tersebut membuat program tidak berhenti pada edukasi, tetapi disertai pemberian makanan secara langsung kepada kelompok sasaran.
Program Rumah Pangan B2SA memang memiliki keterkaitan dengan upaya perbaikan status gizi. Secara nasional, program serupa juga diarahkan kepada kelompok rentan pangan dan sasaran stunting, termasuk anak serta ibu hamil.
Dukungan Anggaran Menguat dari Tahun ke Tahun
Pelaksanaan program turut mendapat dukungan anggaran pemerintah. Berdasarkan informasi yang disampaikan DPTPH Kaltim, bantuan melalui APBN mencapai Rp75 juta per kelompok pada 2023 dan Rp60 juta per kelompok pada 2024.
Dukungan kemudian berlanjut melalui APBD Kaltim pada periode 2025-2026. Nilai bantuan disebut meningkat menjadi Rp81,4 juta untuk setiap kelompok.
Besaran tersebut menunjukkan bahwa program tidak hanya diarahkan pada pemberian makanan, tetapi juga penguatan aktivitas pangan masyarakat di tingkat desa.
Data terbaru dari DPTPH Kaltim juga menunjukkan lembaga tersebut masih aktif mendorong diversifikasi pangan dan penguatan ketahanan pangan masyarakat pada 2026.
PKK Jadi Penggerak Program di Tingkat Desa
Pelaksanaan di lapangan melibatkan kelompok masyarakat dan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). DPTPH Kaltim melibatkan sedikitnya 25 kader PKK pada setiap desa sebagai penggerak program.
Peran kader bukan sekadar membantu distribusi makanan. Mereka juga mendapat fasilitas pengolahan pangan dan bimbingan teknis untuk mengembangkan Teras Pangan.
Konsep tersebut mengintegrasikan kebun sayur, kolam ikan lele, serta peternakan skala kecil. Dengan begitu, sumber pangan lokal dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan keluarga.
Model penguatan pangan berbasis kelompok juga sejalan dengan pengembangan Rumah Pangan B2SA Kaltim yang pada 2026 diarahkan untuk membangun kemandirian pangan keluarga melalui kebun, kolam ikan, dan peternakan kecil.
Baca Juga: KDMP Kaltim Kejar 470 Gerai, 234 Gerai, 82 Koperasi Sudah Layani Warga
Mengapa Kemandirian Pangan Desa Jadi Penting?
Program ini memiliki nilai tambah karena intervensi gizi dipadukan dengan upaya menghasilkan pangan dari lingkungan sekitar. Keluarga dan kelompok desa tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi didorong memiliki sumber pangan sendiri.
Rika berharap Rumah Pangan B2SA dapat berjalan secara berkelanjutan. Pembiayaannya ke depan diharapkan dapat disinergikan dengan instrumen ekonomi lokal seperti Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Model tersebut membuka peluang agar kegiatan pangan desa tidak berhenti ketika bantuan pemerintah selesai. Program dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi sekaligus mendukung kualitas konsumsi pangan masyarakat.
Poin Penting
- Rumah Pangan B2SA menyasar kelompok rentan, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.
- Anak stunting serta anak dengan gizi kurang atau buruk juga menjadi penerima manfaat.
- Intervensi makanan sehat dilakukan sebanyak 40-60 kali.
- Setiap KPM menyasar sedikitnya 40 penerima manfaat.
- Kader PKK dilibatkan sebagai penggerak program di desa.
- Teras Pangan dikembangkan melalui kebun sayur, kolam lele, dan peternakan skala kecil.
- Program diarahkan menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan.
Insight Redaksi
Rumah Pangan B2SA menarik karena bantuan gizi disambungkan dengan produksi pangan lokal. Ini bukan sekadar urusan makanan hari ini. Kalau kelompok desa mampu mengelola kebun dan usaha pangan secara konsisten, program punya peluang hidup lebih panjang. Kada cukup bagi-bagi bantuan, pangan harus berputar di desa.
Penguatan kelembagaan desa menjadi kunci berikutnya agar fasilitas dan keterampilan yang sudah diberikan tidak berhenti setelah program selesai.
Bagikan informasi ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham pentingnya pangan bergizi dari lingkungan sendiri.
Ingin mengikuti perkembangan pangan, kesehatan, dan kabar daerah lainnya? Selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa itu Rumah Pangan B2SA?
Rumah Pangan B2SA merupakan program yang mendorong ketersediaan pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman di tingkat masyarakat.
2. Siapa penerima manfaat program ini?
Sasarannya mencakup anak stunting, anak gizi kurang atau buruk, ibu hamil, ibu menyusui, dan calon pengantin.
3. Berapa kali makanan B2SA diberikan?
Intervensi makanan sehat dilakukan sebanyak 40 hingga 60 kali kepada penerima manfaat.
4. Apa peran kader PKK dalam program?
Kader PKK menjadi penggerak di desa sekaligus mendapat fasilitas dan bimbingan untuk mengembangkan pengolahan pangan serta Teras Pangan.
5. Apa tujuan jangka panjang Rumah Pangan B2SA?
Program diarahkan menjadi kegiatan berkelanjutan yang mendukung kemandirian pangan dan dapat disinergikan dengan ekonomi desa seperti BUMDes.
Sumber Informasi: Informasi ini mengacu pada keterangan Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan DPTPH Kaltim Rika Nuzli Furkanti yang diberitakan RRI. Artikel disusun ulang secara orisinal dengan angle dan gaya jurnalistik BalikpapanTV.id. Konteks tambahan mengenai perkembangan Rumah Pangan B2SA Kaltim diperiksa melalui sumber pemerintah daerah dan ANTARA.