Ikhtisar: Perusahaan Pers Kaltim sedang menghadapi tekanan serius dari penurunan iklan, dominasi platform digital, ancaman KUHP Baru, hingga tantangan AI yang memengaruhi keberlanjutan bisnis dan kesejahteraan pekerja media.
Balikpapan TV - Hai Cess! Pers daerah di Kalimantan Timur lagi diuji habis-habisan. Pendapatan iklan turun tajam, kompetisi dengan platform digital terasa timpang, sementara ancaman kriminalisasi lewat KUHP Baru ikut bikin ruang gerak makin sempit. Situasi ini dirasakan hampir semua lini media, dari cetak, televisi, radio, sampai online.
Biar gambaran makin terang, simak terus sampai akhir ya. Banyak hal penting yang perlu dipahami, terutama soal masa depan pers lokal, peran jurnalisme berkualitas, dan kenapa isu ini dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari bubuhan Balikpapan Cess!
Baca Juga: Gleneagles JPMC Brunei Darussalam Perkenalkan Pusat Jantung Premier di Balikpapan
Apa tekanan paling berat yang dialami perusahaan pers daerah saat ini?
Perusahaan pers daerah menghadapi tekanan berlapis yang saling tumpang tindih. Penurunan pendapatan iklan terjadi drastis, sementara biaya operasional terus berjalan. Kondisi ini membuat banyak media lokal masuk mode bertahan hidup, fokus utama bukan lagi berkembang, tapi sekadar tetap terbit.
Ajid Kurniawan, Ketua SPS Kaltim sekaligus Direktur Balikpapan Pos, menjelaskan situasi tersebut dalam podcast Balikpapan Televisi.
"Dari sudut pandang SPS Kaltim, saya perlu bicara apa adanya: kondisi perusahaan pers daerah saat ini tidak sedang baik-baik saja. Berbagai tekanan datang bertubi-tubi, membuat banyak media lokal terpaksa bertahan dalam mode survival," ujarnya, Senin (9 Februari 2026).
Media cetak merasakan dampak paling berat. Dalam satu dekade terakhir, oplah turun sampai 60–70 persen. Dari puluhan ribu eksemplar, kini hanya tersisa beberapa ribu. Biaya cetak dan distribusi tetap tinggi, sementara harga jual koran sulit naik signifikan, nah’ itu sudah, posisi serba sulit Cess!
Bagaimana kondisi tiap platform media menghadapi perubahan digital?
Setiap platform media menghadapi tantangan berbeda. Media cetak terpaksa mengurangi hari terbit atau merampingkan halaman. Televisi lokal terdesak oleh platform streaming dan YouTube yang lebih fleksibel serta mudah diakses audiens.
Iklan UMKM kini banyak beralih ke influencer karena dinilai lebih murah dan terukur. Radio relatif masih bertahan berkat kedekatan personal dan karakter lokal, namun tetap harus beradaptasi lewat podcast dan audio streaming agar relevan.
Media online mencatat traffic tinggi, tapi monetisasi jadi masalah besar. CPM iklan digital rendah, sementara sebagian besar pendapatan iklan justru dinikmati platform global seperti Google dan Meta. Traffic tinggi tidak otomatis berarti pemasukan memadai, pahamlah ikam Cess!
Kenapa SPS Kaltim mendesak revenue sharing platform digital?
SPS Kaltim menilai skema bagi hasil pendapatan iklan sangat mendesak diatur. Konten jurnalistik diproduksi media lokal, namun nilai ekonomi lebih banyak mengalir ke platform digital global.
"Kami yang memproduksi konten, tetapi platform global yang menikmati iklannya. Berita kami dibaca lewat Google News, Facebook, hingga Twitter, namun aliran pendapatan justru mengarah ke sana. Traffic boleh tinggi, tapi itu tidak otomatis berbanding lurus dengan pemasukan," tutur Ajid.
SPS mendorong regulasi wajib bagi hasil, transparansi algoritma agar tidak diskriminatif, serta perlindungan hak cipta konten jurnalistik. Contoh dari Australia dan Prancis menunjukkan kebijakan ini bisa diterapkan untuk melindungi media lokal.
3 poin utama yang didorong SPS Kaltim:
1. Regulasi revenue sharing iklan digital.
2. Transparansi algoritma platform.
3. Perlindungan hak cipta konten jurnalistik.
Apa dampak KUHP Baru dan AI bagi masa depan jurnalisme lokal?
Implementasi KUHP Baru menjadi kekhawatiran serius. Beberapa pasal dinilai multitafsir dan berpotensi mengkriminalisasi karya jurnalistik, terutama terkait penghinaan dan pencemaran nama baik. SPS menekankan UU Pers harus menjadi lex specialis dalam penyelesaian sengketa pers.
Di sisi lain, perkembangan AI membawa dua sisi. Sebagai ancaman, AI bisa menggerus pekerjaan jurnalis pemula dan memicu disinformasi lewat deepfake. Namun sebagai peluang, AI membantu riset, pengecekan fakta, analisis data, dan otomasi tugas repetitif.
"Di tengah maraknya hoaks, pembeda utama media arus utama terletak pada proses verifikasi berlapis, akuntabilitas yang jelas, kepatuhan pada Kode Etik Jurnalistik, serta rekam jejak kredibilitas yang teruji," tegas Ajid. Jurnalisme berkualitas justru menjadi produk bernilai tinggi.
Insight: Pers daerah memegang peran penting dalam demokrasi lokal. Tekanan ekonomi, regulasi, dan teknologi menuntut adaptasi cepat tanpa mengorbankan etika dan kesejahteraan pekerja. Dukungan kebijakan adil dan kolaborasi menjadi kunci menjaga keberlanjutan media lokal Cess!
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham kondisi pers daerah hari ini!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"
FAQ
1. Apa tantangan utama pers daerah saat ini?
Penurunan iklan, dominasi platform digital, serta tekanan regulasi menjadi tantangan utama.
2. Kenapa revenue sharing penting bagi media lokal?
Agar nilai ekonomi konten jurnalistik tidak hanya dinikmati platform global.
3. Bagaimana peran AI dalam jurnalisme?
AI menjadi alat bantu produktivitas, namun tetap perlu pengawasan etika dan verifikasi manusia.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.