Balikpapan TV - Hai Cess! Prestasi pendidikan dari Kaltim kembali jadi sorotan nasional. Dua sekolah—SDN 011 Balikpapan Tengah dan SMKN 9 Samarinda—baru saja menerima apresiasi dari Kemendikdasmen lewat ajang Sayembara 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat 2025.
Acaranya berlangsung pada Rabu (10 Desember 2025) di Ballroom Hotel Redtop, Jakarta, dan jadi panggung pembuktian bahwa praktik sederhana yang konsisten bisa mengangkat nama daerah sampai tingkat nasional.
Mengapa dua sekolah Kaltim bisa menonjol di ajang nasional ini?
Dua sekolah ini unggul karena mengirimkan cerita praktik baik yang benar-benar mereka jalankan di lingkungan belajar. Ceritanya disusun dalam bentuk tulisan feature yang menggambarkan bagaimana tujuh kebiasaan baik diterapkan secara nyata—bukan sekadar program di atas kertas. Inilah yang jadi poin pembeda menurut Abdul Rahmat, guru SDN 011 Balikpapan Tengah.
Ia menjelaskan bahwa pembiasaan yang dilakukan sekolahnya mencakup aktivitas sederhana yang dekat dengan keseharian siswa: disiplin bangun pagi, hadir tepat waktu, hingga konsisten mengisi jurnal digital setiap hari. Pendekatan seperti ini memberikan alur yang jelas bagi guru sekaligus memudahkan orang tua memantau perkembangan anak.
Yang menarik, seluruh kegiatan tujuh kebiasaan ini dikemas dalam bentuk permainan anak-anak agar tidak terasa seperti beban. Jadi anak-anak ikut dengan senang, bukan terpaksa.
Kementerian menilai cara ini inspiratif dan mudah ditiru sekolah lain. Itulah alasannya sekolah ini dan SMK Negeri 9 Samarinda mendapat apresiasi nasional. Prestasi ini bukan muncul tiba-tiba, tapi hasil dari kebiasaan yang dibangun perlahan dan dijaga konsisten Cess.
Baca Juga: 5 Ruas Jalan Tol Gratis Saat Libur Nataru 2025, Salah Satunya Ada di Kaltim!
Apa yang membuat praktik tujuh kebiasaan di SDN 011 Balikpapan Tengah menarik?
Menurut Abdul Rahmat, poin paling menonjol dari praktik di SDN 011 Balikpapan Tengah adalah cara mereka membungkus tujuh kebiasaan itu dalam aktivitas yang ramah anak. Tidak muluk-muluk, tidak rumit, dan tidak membuat siswa merasa tertekan.
“Keunikan praktik kami terletak pada cara kami membungkus kegiatan tujuh kebiasaan menjadi permainan seru bagi anak-anak, lengkap dengan jurnal digital yang mendampingi mereka,” ujarnya.
Jurnal digital menjadi perangkat penting karena guru dan orang tua bisa melihat perkembangan anak setiap hari. Anak yang telaten mengisi jurnal pun mendapat apresiasi bulanan, termasuk hadiah buku sebagai bentuk penghargaan.
Sistem seperti ini mendorong anak lebih bersemangat. Hadiah buku mungkin terlihat sederhana, tapi bagi anak-anak Balikpapan, itu sudah seperti kemenangan kecil yang memotivasi untuk terus disiplin.
Bagaimana sistem apresiasi di sekolah ini membentuk karakter siswa?
Kepala SDN 011 Balikpapan Tengah, Sudiyem, menegaskan bahwa tujuan utama mereka bukan sekadar ikut lomba. Penghargaan hanyalah bonus dari proses panjang membentuk karakter anak. Ia mengatakan setiap anak yang rutin mengisi jurnal tujuh kebiasaan akan dipantau di akhir bulan dan mendapatkan apresiasi bila konsisten.
Bagi sekolah ini, hadiah buku bukan sekadar reward, tapi simbol bahwa setiap kebiasaan baik itu dihargai. Sistem ini perlahan menciptakan budaya disiplin yang menular antarsiswa.
“Ke depannya, kami ingin memastikan kebiasaan baik ini tak sekadar menjadi rutinitas formal, tapi benar-benar menanamkan karakter positif pada anak-anak,” ujar Sudiyem.
Ia menambahkan bahwa harapan sekolah adalah melahirkan anak-anak yang mandiri, disiplin, dan berakhlak baik — karakter yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari Cess.
Dengan kata lain, apa yang mereka bangun bukan program musiman, melainkan budaya yang ingin terus hidup dalam diri siswa dalam jangka panjang.
Apa makna penghargaan ini bagi pendidikan di Kalimantan Timur?
Prestasi dua sekolah ini menjadi bukti bahwa praktik pendidikan sederhana, kalau dilakukan konsisten dan kreatif, bisa mendapat pengakuan nasional. Hal ini sekaligus menguatkan posisi Kalimantan Timur sebagai salah satu daerah yang serius mengembangkan pendidikan karakter.
Tidak perlu program mewah untuk menghasilkan dampak besar. Kadang justru aktivitas paling kecil yang dilakukan setiap hari menumbuhkan perubahan nyata. Inilah pesan besar dari keberhasilan SDN 011 Balikpapan Tengah dan SMK Negeri 9 Samarinda.
Bagi sekolah lain di Kaltim, prestasi ini memberi dorongan moral bahwa pembangunan karakter anak bisa dimulai dari hal-hal yang dekat dengan keseharian siswa. Tantangannya tinggal bagaimana menerapkan kebiasaan itu secara konsisten, itulah kuncinya Cess.
Baca Juga: Kakorlantas Tinjau Kesiapan Operasi Nataru 2025 di Kaltim, ETLE Jadi Sorotan Serius!
Apa inspirasi praktis yang bisa ditiru sekolah lain?
Dari cerita dua sekolah ini, ada beberapa inspirasi yang bisa diterapkan sekolah lain tanpa memerlukan anggaran besar.
1. Membuat jurnal harian sederhana—baik digital atau manual—yang berfungsi mencatat tujuh kebiasaan baik.
2. Memberikan reward kecil seperti buku agar siswa merasa dihargai.
3. Membungkus kegiatan menjadi aktivitas yang menyenangkan seperti permainan. Ini membuat suasana belajar terasa lebih natural dan tidak seperti kewajiban yang berat.
Pendekatan ini terbukti memudahkan guru, menyenangkan siswa, dan mempermudah pemantauan oleh orang tua. Semua pihak terlibat secara natural dalam proses pembentukan karakter.
Yuk, bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak sekolah lain yang terinspirasi, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
1. Apakah metode tujuh kebiasaan ini sulit diterapkan di sekolah lain?
Tidak. Seluruh praktiknya sederhana dan bisa disesuaikan kebutuhan masing-masing sekolah.
2. Apa manfaat jurnal digital bagi orang tua dan guru?
Jurnal mempermudah pemantauan perkembangan anak setiap hari, terutama kedisiplinan dan konsistensi.
3. Apakah reward diperlukan untuk membangun kebiasaan baik?
Reward bukan kewajiban, tapi dapat membantu memotivasi siswa agar lebih semangat mengikuti program.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.