Balikpapan TV – Hai Cess! Transisi energi berkeadilan dan peluang green jobs kembali jadi sorotan di Kalimantan Timur usai dialog hangat bareng Maria Yuno, Koordinator Lapangan Yayasan Mitra Hijau Kaltim dan Happy Aprillia, Kepala UPA Laboratorium Terpadu Institut Teknologi Kalimantan (ITK) sekaligus dosen S2 Manajemen Teknologi ITK di Studio Balikpapan TV, Rabu (19 November 2025).
Obrolan ini menyingkap bagaimana Kaltim menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus mencari jalan baru bagi generasi muda di tengah peralihan dari industri ekstraktif.
Perubahan cuaca yang makin sulit diprediksi, banjir musiman yang terus berulang, hingga kebutuhan energi bersih yang makin mendesak, menjadi topik utama diskusi tersebut. Di sisi lain, anak muda Kaltim mulai bersiap menghadapi dunia kerja yang berubah.
Baca Juga: Pemprov Kaltim Gencar Dorong Transisi Energi ke EBT, Era Batu Bara Mulai Ditinggalkan!
Kenapa Transisi Energi Jadi Mendesak di Kaltim?
Transisi energi disebut penting karena perubahan iklim sudah terasa di banyak wilayah Kaltim.
Koordinator Lapangan Yayasan Mitra Hijau Kaltim, Maria Yuno, menegaskan bencana seperti banjir bukan lagi fenomena baru, melainkan dampak nyata dari kerusakan lingkungan.
“Mayoritas bencana di Indonesia dipicu kerusakan alam, salah satunya akibat penggunaan energi berbasis industri ekstraktif seperti batubara. Karena itu sudah waktunya beralih menuju energi yang lebih hijau,” ujarnya.
Menurutnya, transisi energi harus inklusif. Anak muda, masyarakat sekitar tambang, hingga penyandang disabilitas perlu ikut dalam prosesnya.
Tantangan terbesar saat ini adalah sebaran literasi energi bersih yang masih jauh dari merata. Yayasan Mitra Hijau terus mendorong kampanye publik dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Bagaimana Kaltim Mempersiapkan Ekonomi Baru Pasca Batubara?
Meski menjadi lumbung batubara nasional, Kaltim kini berada di fase mencari arah baru. Maria menyebut adanya jarak antara kebijakan pemerintah dan kondisi masyarakat rentan yang selama ini bergantung pada industri ekstraktif.
Ia menjelaskan Mitra Hijau bersama Bappeda tengah merumuskan sektor ekonomi prioritas pengganti batubara. Targetnya, rekomendasi tersebut bisa rampung pada 2026 sebagai pijakan ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan.
Siapa Saja yang Bersiap Masuk Dunia Green Jobs?
Dari dunia kampus, Happy Aprillia menuturkan bahwa ITK sudah memasukkan prinsip keberlanjutan ke dalam kurikulum. Laboratorium Terpadu menjadi pusat pengembangan inovasi energi bersih yang melibatkan mahasiswa, dosen, serta desa mitra.
“Mahasiswa Gen Z banyak mendapat informasi dari internet. Kami tidak hanya memberi teori, tetapi membawa mereka membangun prototipe dan memasangnya langsung di desa. Itu membentuk pengalaman nyata sebagai modal masuk ke dunia green jobs,” jelasnya.
Ia menambahkan kekhawatiran hilangnya pekerjaan di sektor batubara memang ada, tetapi teknologi justru membuka peluang baru seperti PLTS, bioenergi, efisiensi energi, hingga rekayasa limbah.
Apa Peluang Green Jobs di Kaltim yang Paling Dekat dengan Warga?
Happy menjelaskan sejumlah wilayah terpencil mulai beralih ke PLTS, terutama daerah yang belum tersambung listrik terpusat. Salah satunya di pelosok Samboja yang hanya bisa diakses motor. Warga memasang panel surya rumah tangga untuk kebutuhan dasar.
Wilayah pesisir seperti Bontang Atas dan Desa Sepatin di Anggana juga mulai menggunakan energi surya. Menurut Happy, PLTS cocok untuk Kaltim karena sinar matahari tersedia sepanjang tahun.
Maria melihat minat generasi muda terhadap green jobs sudah mulai tumbuh. Namun, sebagian lulusan perguruan tinggi masih memilih sektor tambang karena pertimbangan pendapatan.
“Kami ingin memastikan bahwa green jobs tidak hanya hijau tetapi juga layak,” tuturnya.
Baca Juga: Tingkat Pengangguran Kaltim 2025 Naik, Ini Sektor yang Paling Banyak Menyerap Tenaga Kerja!
Apa Saja Skill yang Dibutuhkan Anak Muda untuk Masuk Green Jobs?
Happy menegaskan peluang green jobs mencakup konsultan energi terbarukan, ahli PLTS, ahli bioenergi, rekayasa limbah, hingga pengembang waste-to-energy seperti yang diterapkan di TPA Manggar.
Mahasiswa dapat mempelajari cara kerja radiasi matahari sebagai sumber listrik, turbin angin yang memutar generator, hingga membuat prototipe energi bersih. Laboratorium ITK juga membuka literasi energi untuk masyarakat umum melalui kunjungan sekolah.
“Mahasiswa harus menguasai teknis teknologi, wawasan lingkungan, manajemen proyek energi jangka panjang, hingga kemampuan interpersonal membangun relasi dengan dinas, investor, dan stakeholder,” pungkasnya.
Dialog antara akademisi dan pegiat lingkungan ini memperlihatkan bahwa Kaltim sedang masuk fase penting: meninggalkan ketergantungan batubara dan melangkah menuju energi bersih. Generasi muda pun sudah mulai terlibat langsung dalam inovasi, riset, hingga peluang kerja masa depan.
Kalau menurutmu masa depan energi bersih di Kaltim bakal seperti apa? Yuk, share artikel ini biar makin banyak yang tahu, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”
FAQ
1. Apa itu green jobs?
Green jobs adalah pekerjaan yang mendukung pengurangan emisi, penggunaan energi bersih, dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
2. Apakah peluang pekerjaan hijau di Kaltim besar?
Ya, terutama di sektor PLTS, bioenergi, efisiensi energi, rekayasa limbah, dan waste-to-energy.
3. Apakah mahasiswa perlu skill teknis untuk masuk green jobs?
Dibutuhkan kemampuan teknis, wawasan lingkungan, manajemen proyek, dan kemampuan bekerja dengan berbagai pihak.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.