Balikpapan TV - Hai Cess! Ada kabar yang bikin hati campur aduk dari tepian Sungai Mahakam. Pesut Mahakam—si mamalia air manis yang jadi ikon Kalimantan Timur—kini berada di ujung tanduk. Populasinya yang makin menipis bikin para pegiat lingkungan siaga satu. Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) Kementerian ESDM dan Yayasan Konservasi RASI sepakat: penyelamatan pesut bukan lagi wacana, tapi keharusan mendesak!
Menurut data Yayasan RASI, jumlah pesut Mahakam kini hanya sekitar 60 ekor saja. Bayangin, 60 ekor untuk satu spesies yang cuma hidup di sungai itu! Ancaman terbesar datang dari jaring insang yang menyebabkan lebih dari setengah kasus kematian. Belum lagi lalu lintas tongkang yang makin padat, serta pencemaran dari limbah tambang dan perkebunan.
Pesut Mahakam: Penjaga Sungai yang Kian Terpojok
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK, Inge Retnowati, bilang bahwa pesut Mahakam sudah masuk kategori critically endangered dalam daftar IUCN dan tercatat di Appendix I CITES. Artinya, spesies ini berada di level ancaman tertinggi—selangkah lagi menuju kepunahan total.
“Perkembangbiakannya sangat sulit, sehingga setiap individu yang hilang sangat berarti bagi kelestarian spesies ini,” ujar Inge. Ia menegaskan, penyelamatan pesut bukan cuma urusan moral, tapi juga kewajiban hukum sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Baca Juga: Nikmati Menu Buket Doi Rocket Chicken MT Hariyono, Favorit Keluarga Balikpapan!
Payung Hukum Sudah Ada, Tapi Aksi Masih Minim
Menurut Inge, ada tiga pijakan hukum utama dalam menyelamatkan pesut Mahakam: menjaga keanekaragaman hayati, menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan, dan melindungi lingkungan hidup. Ia menyoroti bahwa semua itu sudah jelas tertulis dalam pasal-pasal UU, tapi tantangannya ada di implementasi nyata di lapangan.
“Kalau aturan hanya jadi dokumen tanpa implementasi, percuma,” tegasnya. Pesannya sederhana tapi mengena—jangan biarkan aturan hanya berhenti di kertas, sementara pesut terus berkurang di sungai.
RASI Gaungkan 5 Agenda Darurat Penyelamatan
Yayasan Konservasi RASI, yang sudah dua dekade lebih mendampingi upaya pelestarian pesut, juga bergerak cepat. Direktur RASI, Danielle Krab, mengingatkan agar Indonesia tak mengulang tragedi seperti baiji di Sungai Yangtze, Tiongkok—lumba-lumba air tawar yang punah pada 2006.
“Kita butuh intervensi nyata. Tidak cukup hanya penelitian. Harus ada aksi bersama pemerintah, masyarakat, dan aparat penegak hukum,” tegas Danielle. Ia menguraikan lima langkah prioritas:
-
Kurangi kematian akibat jaring insang dengan alat tangkap ramah lingkungan.
-
Perbaiki kualitas habitat sungai dan tekan pencemaran.
-
Batasi kebisingan kapal dengan pengaturan ponton dan kecepatan.
-
Dorong alternatif ekonomi hijau seperti ekowisata.
-
Perkuat kerja sama lintas sektor agar regulasi berjalan efektif.
Desa Pela: Bukti Nyata Harapan Masih Ada
Harapan masih menyala, Cess! Desa Pela di Kutai Kartanegara jadi contoh keren bagaimana masyarakat bisa berperan aktif. Melalui kelompok sadar wisata, warga di sana sukses mengembangkan wisata edukasi pesut yang memberdayakan masyarakat sekaligus melindungi habitat alami.
“Kalau masyarakat ikut terlibat, pesut akan lebih terlindungi. Kesadaran mereka adalah kunci utama,” kata Danielle. Ia juga mendorong revisi Perda Perikanan Kutai Kartanegara agar melarang jaring insang berdiameter besar, serta mendesak pemerintah menyediakan alat tangkap ramah lingkungan untuk nelayan.
Danielle menutup pesannya dengan kalimat yang menggugah:
“Kalau pesut hilang, itu tanda sungai kita sakit. Menyelamatkan pesut berarti juga menyelamatkan manusia yang hidup dari Sungai Mahakam.”
Pesut Bukan Sekadar Satwa, Tapi Cermin Kehidupan Sungai
Lebih dari sekadar simbol, pesut Mahakam adalah indikator kesehatan ekosistem sungai. Kalau mereka masih bisa berenang bebas, artinya Sungai Mahakam masih hidup dan memberi kehidupan. Tapi jika mereka lenyap, bukan mustahil giliran manusia yang kehilangan sumber air, ikan, dan udara bersih.
Kini, waktu berpacu dengan kenyataan. Apakah kita akan diam dan menyaksikan ikon Kalimantan itu hilang? Atau ikut ambil bagian menjaga pesut tetap berputar di arus Sungai Mahakam?
Yuk, Cess! Sebarkan semangat peduli lingkungan. Karena pesut bukan cuma cerita masa lalu—ia warisan hidup untuk generasi masa depan.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”