Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: Konektivitas Kaltim meluas, tetapi pengalaman warga pelosok masih menghadapi sinyal, biaya, pendidikan, dan layanan publik.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kalimantan Timur telah menghubungkan 803 desa melalui program internet, namun sejumlah warga masih kesulitan memperoleh akses yang bisa dipakai sehari-hari.
Di Mentawir hingga Long Pahangai, sinyal masih menentukan akses sekolah, komunikasi, layanan publik, bahkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pasted text
Angka 803 Desa Belum Menggambarkan Pengalaman Semua Warga
Data Pemprov Kaltim mencatat 803 dari 841 desa sudah mendapat layanan Internet Desa Gratis pada 2026.
Capaian itu setara sekitar 95,5 persen dari total desa di Kalimantan Timur. Pemerintah menargetkan 38 desa tersisa dapat terjangkau pada 2027.
Namun, angka cakupan desa berbeda dengan pengalaman koneksi di setiap permukiman. Komdigi masih mencatat 269 titik blankspot di Kaltim yang perlu ditangani.
Teknologi yang dipakai juga beragam, yakni fiber optik pada 439 desa, seluler 131 desa, serta satelit 233 desa.
Artinya, persoalan konektivitas kini bukan hanya soal memasang jaringan. Tantangannya mencakup kualitas, jangkauan, stabilitas, dan titik layanan yang benar-benar dapat digunakan warga.
Baca Juga: Pria 48 Tahun Ditemukan Tewas Tertimpa Motor di Dusun Lape Sanggau, Polisi Masih Selidiki
Di Mentawir, Sekolah Pernah Berpindah ke Gubuk dan Bukit
Di Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, akses internet masih menjadi persoalan bagi pendidikan dan komunikasi warga. SDN 007 Sepaku bahkan pernah memindahkan ujian daring ke gubuk tepi jalan. Pasted text
Kepala sekolah Ali Safri menceritakan guru membawa murid mencari titik sinyal agar ujian daring dapat berlangsung. Dalam kondisi tertentu, mereka berjalan menuju perbukitan sekitar lima kilometer. Pasted text
Situasi serupa dirasakan keluarga di rumah. Pesan sekolah melalui WhatsApp dapat terlambat diterima, sementara sebagian orang tua belum memiliki akses internet mandiri. Pasted text
Warga Septi Handayani juga menceritakan pengalaman mengikuti ujian bersama guru di atas bukit menggunakan terpal. “Kalau ujian semester dulu, kami bawa anak-anak ke gubuk pinggir jalan,” ujarnya. Pasted text
Internet Desa Ada, Mengapa Warga Masih Harus Mencari Sinyal?
Mentawir tercatat sebagai salah satu wilayah yang mendapat bantuan akses internet dengan titik layanan di fasilitas publik. Namun, sumber lapangan menyebut pemanfaatannya masih terbatas untuk masyarakat umum. Pasted text
Kondisi ini memperlihatkan perbedaan antara keberadaan fasilitas dan akses yang tersedia sepanjang hari. Bagi keluarga, jarak menuju titik sinyal dapat menjadi beban waktu dan biaya.
Sofia, warga Mentawir, pernah menggunakan modem portabel sekitar Rp350 ribu dengan kebutuhan kuota minimal Rp300 ribu per bulan. Hasilnya pun belum memberi koneksi stabil. Pasted text
Persoalan tersebut ikut menyentuh layanan administrasi. Desapedia belum dapat diterapkan sepenuhnya karena warga kesulitan menginput data dari rumah sebelum mengurus dokumen. Pasted text
Kondisi jaringan juga mengganggu penyaluran bantuan yang membutuhkan verifikasi barcode. Petugas akhirnya melakukan verifikasi dan unggah dokumentasi setelah memperoleh sinyal di luar Mentawir. Pasted text
Dari Mahakam Ulu, Sinyal Berkaitan dengan Keselamatan
Di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, masalah jaringan memiliki konsekuensi jauh dari sekadar sulit membuka media sosial. Sinyal juga berkaitan dengan informasi kebencanaan.
Dari 13 kampung di Long Pahangai, sumber lapangan mencatat sembilan kampung mengalami blankspot. Kondisi geografis hulu Mahakam membuat komunikasi menjadi kebutuhan penting ketika banjir, longsor, atau kecelakaan sungai terjadi. Pasted text
Camat Long Pahangai Thomas Ding menyebut keterbatasan jaringan menyulitkan penanganan bencana. Informasi dari wilayah hulu sulit diteruskan ketika komunikasi digital terputus. Pasted text
Masalah pendidikan ikut muncul ketika pembelajaran daring diperlukan. Guru SD 004 Long Isun menyebut fasilitas yang tersedia membuat hanya sedikit siswa dapat mengikuti pembelajaran daring. Pasted text
Kondisi jaringan Mahakam Ulu memang masih menjadi perhatian. Pada 2026, pengembangan infrastruktur telekomunikasi diarahkan untuk wilayah yang mengalami keterbatasan, termasuk Long Pahangai.
Baca Juga: Kabut Asap Kembali Selimuti Palangka Raya, Jarak Pandang Menurun dan Udara Memburuk
Gunung Lumut dan Kampung Mului Menunjukkan Sisi Lain Jurang Digital
Di Kampung Mului, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser, warga harus berjalan menuju bukit untuk mendapatkan sinyal seluler. Ponsel modern pun kehilangan fungsi komunikasi ketika berada di rumah. Pasted text
Ketua Adat Mului Jidan menyebut warga perlu naik sekitar 1,5 kilometer untuk berkomunikasi. Dalam kebutuhan tertentu, ia bahkan menetap dua hingga tiga hari di pondok penerima sinyal. Pasted text
Kondisi Mului juga memperlihatkan bahwa listrik dan internet merupakan persoalan berbeda. Kampung tersebut mendapat pasokan listrik 24 jam dari PLTS, sementara jaringan PLN belum menjangkau permukiman. Pasted text
Situasi serupa menunjukkan mengapa pembangunan konektivitas Kaltim memerlukan kombinasi teknologi. Pemerintah sendiri menyatakan pendekatan fiber, VSAT, satelit, dan jaringan lain perlu disesuaikan kondisi lapangan.
Baca Juga: Kasus Dua Siswa Tenggelam Saat Kemah Akbar HW di UMB, Polisi Periksa 18 Saksi
Pekerjaan Berikutnya Bukan Sekadar Menambah Titik Internet
Kaltim telah mencapai capaian besar dengan 803 desa terlayani Internet Desa Gratis. Pemerintah menargetkan 38 desa tersisa dapat terjangkau, dengan penyelesaian seluruh program diarahkan pada 2027.
Namun, cerita Mentawir, Long Pahangai, dan Mului menunjukkan pekerjaan konektivitas memiliki lapisan berbeda. Desa yang tercatat terlayani belum tentu seluruh rumah menikmati kualitas akses serupa.
Karena itu, ukuran keberhasilan perlu bergerak dari jumlah desa menuju manfaat yang dirasakan. Pendidikan, layanan administrasi, komunikasi keluarga, ekonomi, dan kebencanaan menjadi indikator penting.
Bagi warga pelosok, internet bukan sekadar ikon transformasi digital. Sinyal menentukan apakah informasi sampai tepat waktu atau sebuah layanan dapat digunakan tanpa perjalanan tambahan.
Poin Penting
- Kaltim memiliki 841 desa, dengan 803 desa telah terlayani Internet Desa Gratis pada 2026.
- Dari 803 desa tersebut, 439 menggunakan fiber optik, 131 jaringan seluler, dan 233 teknologi satelit.
- Komdigi masih mencatat 269 titik blankspot di Kaltim yang perlu mendapat penanganan.
- Di Mentawir, keterbatasan jaringan berdampak pada ujian sekolah, komunikasi keluarga, administrasi, dan penyaluran bantuan. Pasted text
- Long Pahangai menghadapi blankspot yang berpengaruh terhadap komunikasi kebencanaan dan pendidikan. Pasted text
- Kampung Mului menunjukkan warga masih perlu mendaki bukit untuk memperoleh sinyal seluler. Pasted text
Insight Redaksi
Capaian 803 desa diapresiasi, tetapi angka cakupan belum otomatis berarti koneksi terasa sampai rumah warga. Mentawir memberi pelajaran penting: kualitas akses harus dibaca dari fungsi, bukan jumlah titik. Kaltim punya pekerjaan berikutnya, memastikan internet bekerja saat sekolah, layanan publik, ekonomi, dan keadaan darurat membutuhkan koneksi. Di wilayah terpencil, sinyal adalah infrastruktur dasar.
Kalau internet masih susah, dorong layanan yang dekat warga, bukan cuma tambah angka pemasangan di lapangan.
Bagikan cerita ini ke bubuhan ikam supaya persoalan konektivitas pelosok kada berhenti menjadi angka statistik.
Saat pembangunan digital terus bergerak, pengalaman warga menjadi pengingat bahwa jaringan harus terasa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Pantau cerita lainnya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Berapa desa di Kaltim yang sudah mendapat Internet Desa Gratis?
Sebanyak 803 dari total 841 desa telah terlayani pada 2026, berdasarkan data Pemprov Kaltim.
2. Apakah 803 desa berarti seluruh wilayah Kaltim sudah memiliki sinyal?
Belum. Angka tersebut menunjukkan cakupan desa dalam program, sementara titik blankspot masih ditemukan di sejumlah wilayah.
3. Teknologi apa yang digunakan untuk Internet Desa Gratis?
Program menggunakan fiber optik, jaringan seluler, dan satelit sesuai kondisi geografis wilayah.
4. Mengapa Mentawir masih menghadapi kendala internet?
Bahan lapangan menunjukkan akses di Mentawir masih terbatas pada titik tertentu, sehingga warga harus mencari lokasi dengan sinyal. Pasted text
5. Mengapa internet penting untuk Long Pahangai?
Koneksi diperlukan untuk pendidikan, komunikasi, layanan masyarakat, dan penyampaian informasi ketika terjadi bencana
Bahan Sumber: Kaltim Post, "Ironi Pedalaman Kaltim: Masuk Wilayah IKN, Warga dan Murid Harus Naik Bukit Demi Sinyal Internet". Oleh Dina Angelina, dan Kementerian Komunikasi dan Digital.
Editor : Arya Kusuma