DPRD HST Usul Stiker “Keluarga Miskin” Diperbesar, Data Bansos Ikut Disorot

Riafandi • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 06:54 WIB
DPRD HST usulkan stiker Keluarga Miskin diperbesar untuk mendorong evaluasi data penerima bansos. (Foto: Jamaluddin/Radar Banjarmasin).
DPRD HST usulkan stiker Keluarga Miskin diperbesar untuk mendorong evaluasi data penerima bansos. (Foto: Jamaluddin/Radar Banjarmasin).

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: DPRD HST mengusulkan ukuran stiker “Keluarga Miskin” diperbesar sebagai penanda penerima bansos sekaligus mendorong evaluasi data.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Ukuran stiker bertuliskan “Keluarga Miskin” yang dipasang di rumah penerima bantuan sosial di Hulu Sungai Tengah atau HST kembali menjadi perhatian.

Ketua Komisi I DPRD HST, Yajid Fahmi, mengusulkan agar ukuran stiker tersebut diperbesar. Menurutnya, penanda yang lebih terlihat diharapkan bisa mendorong warga yang kondisi ekonominya sudah mampu untuk mengevaluasi status mereka sebagai penerima bantuan.

Usulan itu disampaikan Yajid pada Kamis, 24 September 2026. Ia menegaskan persoalan yang disorot bukan tulisan pada stiker, melainkan ukurannya.

“Saya berharap ukuran stiker diperbesar lagi. Agar warga yang selama ini mampu, mau mengundurkan diri sebagai penerima bantuan sosial.”

Yajid juga meminta warga yang merasa sudah tidak layak menerima bansos untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan.

DPRD HST Masih Temukan Penerima yang Dinilai Mampu

Yajid mengatakan, persoalan tersebut muncul dari kondisi yang ditemukannya di lapangan.

Menurut dia, masih ada warga HST yang dinilai sudah mampu secara ekonomi tetapi masih tercatat sebagai penerima bantuan sosial.

Di sisi lain, terdapat masyarakat yang dinilai lebih membutuhkan bantuan. Kondisi inilah yang membuat evaluasi data penerima menjadi bagian penting dalam penyaluran bansos.

“Ternyata yang tidak layak bantuan masih ada. Semoga ini segera disikapi dinas terkait,” kata Yajid.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa penyaluran bantuan tidak hanya berkaitan dengan pemberian bantuan, tetapi juga bagaimana data penerima diperbarui ketika kondisi ekonomi keluarga mengalami perubahan.

Baca Juga: Enam Perda Baru Bulungan Atur APBD, Investasi, Aset hingga Kebun Raya

Stiker Bukan Sekadar Penanda Rumah

Pemasangan stiker “Keluarga Miskin” di HST sebelumnya memang didorong sebagai salah satu instrumen untuk melihat kondisi penerima bantuan secara lebih terbuka.

Dalam evaluasi mekanisme bansos pada Desember 2025, DPRD HST menyebut stiker dapat menjadi instrumen validasi langsung di lapangan. Masyarakat juga didorong ikut memberikan informasi mengenai kelayakan penerima bantuan.

Namun, keberadaan stiker tetap tidak menggantikan proses pendataan.

Data penerima perlu terus diperiksa karena kondisi ekonomi sebuah keluarga dapat berubah. Ketika penerima sudah tidak memenuhi kriteria, statusnya perlu dievaluasi sehingga bantuan dapat dialihkan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan.

Ada Dinamika di Tengah Masyarakat

Usulan memperbesar stiker juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial yang muncul ketika label penerima bantuan ditempel di rumah.

Di sejumlah daerah, pemasangan label serupa pernah memunculkan perdebatan. Sebagian masyarakat menilai penanda dapat membantu transparansi, sementara sebagian lainnya mempertanyakan dampaknya terhadap penerima bantuan.

Karena itu, persoalan stiker bukan hanya soal ukuran. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana transparansi penerima bansos dapat berjalan tanpa mengabaikan kondisi sosial masyarakat.

Di HST sendiri, Yajid menilai pemasangan stiker telah membuka ruang untuk melihat kembali kondisi penerima bantuan di lapangan.

Kutipan Komen: Publik Soroti Data dan Ketepatan Sasaran

Perdebatan mengenai stiker keluarga miskin juga pernah memunculkan beragam respons publik di ruang digital.

Dalam pemberitaan mengenai kasus serupa, sejumlah warganet mempertanyakan ketepatan pendataan ketika penerima bantuan dinilai sudah memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik. Ada pula yang menilai stiker bisa menjadi salah satu cara mendorong transparansi.

Salah satu komentar publik yang dikutip Suara.com mempertanyakan penerima bansos yang dinilai sudah memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

“Bantuan tidak tepat sasaran, masa rumah bagus punya mobil masih dapat bantuan, smoga dgn video ini beredar pemerintah bisa lebih selektif lagi,” kata akun @kay****.

Komentar lain justru menekankan bahwa persoalan utamanya adalah pembaruan data, bukan semata keberadaan stiker.

Di forum Reddit, misalnya, ada pengguna yang menilai persoalan pendataan perlu dibenahi karena kondisi ekonomi penerima bisa berubah. Sementara pengguna lain mempertanyakan apakah pemasangan stiker benar-benar efektif sebagai solusi.

Beragam komentar tersebut menunjukkan bahwa persoalan penerima bansos tidak berhenti pada setuju atau tidak setuju terhadap stiker. Ketepatan data dan mekanisme evaluasi tetap menjadi persoalan utama.

Data Penerima Perlu Terus Dievaluasi

DPRD HST sebelumnya juga menekankan pentingnya akurasi data dalam penyaluran bantuan sosial.

Dalam evaluasi yang dilakukan DPRD HST, data kemiskinan perlu diperbarui dan masyarakat diminta memberikan informasi secara jujur. Akurasi menjadi penting karena kesalahan data dapat berdampak terhadap penyaluran bantuan pada periode berikutnya.

Basis data yang digunakan dalam penyaluran bantuan sosial saat ini adalah Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN, dengan basis rujukan SIKS-NG.

Dengan begitu, stiker dapat menjadi salah satu penanda di lapangan, tetapi penentuan penerima bantuan tetap membutuhkan data dan mekanisme pendataan yang tepat.

Baca Juga: Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang, Siswi SMK Tewas dalam Kecelakaan di Kotim

Warga Mampu Diminta Mengundurkan Diri

Yajid berharap warga yang sudah mengalami perubahan kondisi ekonomi memiliki kesadaran untuk tidak lagi menerima bantuan apabila memang sudah tidak memenuhi kriteria.

Ia bahkan meminta warga yang keberatan rumahnya dipasangi stiker untuk memilih mengundurkan diri dari penerima bansos dan memberikan kesempatan tersebut kepada warga yang lebih membutuhkan.

“Jika memang keberatan rumahnya dipasangi stiker, silakan mengundurkan diri berikan kepada orang yang berhak,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus mengembalikan persoalan kepada tujuan utama bantuan sosial, yakni memastikan bantuan pemerintah diterima oleh masyarakat yang memang membutuhkan.

Poin Penting

Insight Redaksi

Usulan memperbesar stiker “Keluarga Miskin” di HST pada dasarnya membuka kembali pembahasan mengenai ketepatan sasaran bantuan sosial.

Penanda di rumah dapat membuat status penerima lebih mudah terlihat, tetapi persoalan yang lebih menentukan tetap berada pada kualitas data. Ketika kondisi ekonomi warga berubah, data penerima juga perlu mengikuti perubahan tersebut.

Di sinilah evaluasi menjadi penting. Tujuannya bukan sekadar mengetahui siapa yang menerima bantuan, tetapi memastikan bantuan pemerintah tetap diberikan kepada warga yang memenuhi kriteria.

Ikuti info terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Siapa yang mengusulkan ukuran stiker diperbesar?

Ketua Komisi I DPRD Hulu Sungai Tengah, Yajid Fahmi.

2. Mengapa ukuran stiker ingin diperbesar?

Yajid menyebut ukuran yang lebih besar diharapkan membuat penanda lebih terlihat dan mendorong warga yang sudah mampu mengevaluasi statusnya sebagai penerima bansos.

3. Apa masalah yang ditemukan DPRD HST?

DPRD HST menyoroti masih adanya warga yang dinilai sudah mampu tetapi tercatat sebagai penerima bantuan sosial.

4. Apakah stiker menjadi penentu penerima bansos?

Tidak. Stiker merupakan salah satu instrumen penanda dan pemantauan di lapangan. Penyaluran bantuan tetap berkaitan dengan data penerima dan proses pendataan.

5. Mengapa data penerima bansos perlu diperbarui?

Karena kondisi ekonomi keluarga dapat berubah. Pembaruan data diperlukan agar bantuan tetap menyasar masyarakat yang memenuhi kriteria.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Radar Banjarmasin" Berjudul"Ketua Komisi I DPRD HST Usul Agar Ukuran Stiker 'Keluarga Miskin' Diperbesar",oleh penulis Jamaluddin Radar Banjarmasin. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sumber : Radar Banjarmasin
DPRD HST bansos HST keluarga miskin