Durasi Baca: 5 Menit
Ikhtisar: PIHC ke-5 Poltekkes Pontianak menggabungkan edukasi kesehatan dan restorasi mangrove bersama warga Kubu Raya.
Balikpapan TV - Hai Ces! Menjaga kesehatan ternyata tidak hanya soal pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan. Lingkungan tempat masyarakat tinggal juga punya kaitan dengan kualitas hidup.Hal itu coba ditunjukkan dalam Pontianak International Health Conference atau PIHC ke-5 Tahun 2026. Poltekkes Kemenkes Pontianak mengajak peserta dan warga menanam mangrove di Pelangi Kapuas Park, Desa Jeruju Besar, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Global Collaboration: Mangrove Restoration for a Healthy and Sustainable Community” dan menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat internasional.
Peserta PIHC Turun Langsung Menanam Mangrove
Penanaman mangrove mempertemukan berbagai unsur, mulai dari warga, akademisi, tenaga kesehatan, organisasi profesi hingga pemerintah daerah.
Dari lingkungan akademik, kegiatan diikuti dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Pontianak. Perwakilan Politeknik Aisyah Pontianak dan Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah juga turut terlibat.
Kegiatan tersebut juga melibatkan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia dari Pontianak, Kubu Raya, Landak dan Mempawah serta Kelompok Tani Hutan Pelestari Lingkungan Buih Muara.
Kehadiran warga Desa Jeruju Besar menjadi bagian penting karena tanaman mangrove yang ditanam membutuhkan perawatan setelah kegiatan penanaman selesai.
Kenapa Mangrove Dikaitkan dengan Kesehatan?
Mangrove dipilih bukan sekadar karena kawasan tersebut berada di wilayah pesisir.
Ekosistem mangrove memiliki fungsi sebagai pelindung kawasan pesisir sekaligus habitat berbagai biota. Lingkungan pesisir yang terjaga juga berkaitan dengan kondisi perairan dan sumber pangan masyarakat.
Karena itu, kegiatan PIHC membawa pesan bahwa upaya menjaga kesehatan masyarakat dapat dimulai dari lingkungan.
Konsep tersebut juga sejalan dengan tujuan kegiatan yang menghubungkan restorasi lingkungan dengan terciptanya komunitas yang sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga: RSDSS Tanjung Selor Terus Diperkuat, Pemkab Bulungan Pantau Fasilitas dan Listrik
Kolaborasi Melibatkan Mitra dari Australia
PIHC ke-5 tidak hanya melibatkan institusi di Kalimantan Barat. Kegiatan tersebut juga mempertemukan Poltekkes Kemenkes Pontianak dengan mitra internasional dari University of Newcastle, Australia.
Kolaborasi internasional itu menjadi bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat dengan fokus restorasi mangrove.
Dalam kegiatan yang sama, penggagas Pelangi Kapuas Park, Haji Widodo, menyebut kolaborasi tersebut bukan hanya berkaitan dengan penanaman.
“Ini bukan hanya tentang menanam mangrove. Ini adalah bagaimana kita membangun kolaborasi dan kesadaran bersama bahwa lingkungan harus kita jaga untuk kesehatan dan keberlanjutan masyarakat.”
Ia juga berharap kerja sama tersebut dapat berlanjut melalui penelitian, edukasi masyarakat dan program restorasi mangrove secara berkelanjutan.
Pemerintah dan Warga Ikut Terlibat
Dari unsur pemerintah, kegiatan dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kapuas, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya.
Pemerintah kecamatan dan desa juga terlibat bersama Bhabinkamtibmas serta pengelola Pelangi Kapuas Park.
Keterlibatan banyak pihak tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan kawasan pesisir tidak hanya menjadi pekerjaan satu institusi.
Perguruan tinggi membawa unsur pendidikan dan pengetahuan, pemerintah mendukung dari sisi kelembagaan, sedangkan masyarakat memiliki peran dalam menjaga kawasan setelah kegiatan selesai.
Bukan Berhenti Setelah Bibit Ditanam
Penanaman mangrove sering kali terlihat sebagai kegiatan utama. Namun, keberhasilan restorasi tidak berhenti pada jumlah bibit yang masuk ke tanah.
Poltekkes Kemenkes Pontianak berharap kerja sama dalam PIHC dapat berlanjut melalui perawatan tanaman dan keterlibatan warga.
Hal tersebut penting karena keberlanjutan kawasan mangrove membutuhkan perhatian setelah kegiatan seremonial berakhir.
Dengan keterlibatan masyarakat, kawasan yang telah ditanami dapat terus dipantau dan dirawat sehingga tujuan pemulihan lingkungan memiliki peluang untuk berlangsung lebih panjang.
Baca Juga: Karhutla Dekati Permukiman Tanjung Limau, Warga yang Ikut Padamkan Api Ditemukan Meninggal
Poin Penting
-
PIHC ke-5 Tahun 2026 digelar Poltekkes Kemenkes Pontianak.
-
Peserta bersama warga menanam mangrove di Pelangi Kapuas Park, Desa Jeruju Besar, Kubu Raya.
-
Kegiatan mengusung tema restorasi mangrove untuk membangun masyarakat sehat dan berkelanjutan.
-
Kegiatan melibatkan akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah, organisasi profesi dan masyarakat.
-
University of Newcastle, Australia, turut menjadi mitra dalam kolaborasi internasional.
-
Perawatan mangrove dan keterlibatan warga menjadi perhatian setelah proses penanaman.
Insight Redaksi
Kegiatan PIHC ke-5 memperlihatkan bahwa isu kesehatan masyarakat dapat dibahas dari sudut yang lebih luas, termasuk kondisi lingkungan.
Penanaman mangrove menjadi titik temu antara edukasi kesehatan, perlindungan pesisir, pendidikan dan keterlibatan masyarakat.
Namun, tantangan berikutnya justru berada setelah kegiatan penanaman selesai. Perawatan, pemantauan dan keterlibatan warga akan menjadi bagian penting agar restorasi tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari.
Ikuti info terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa itu PIHC?
PIHC merupakan Pontianak International Health Conference yang diselenggarakan Poltekkes Kemenkes Pontianak.
2. Di mana penanaman mangrove dilakukan?
Penanaman dilakukan di Pelangi Kapuas Park, Desa Jeruju Besar, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
3. Kapan kegiatan penanaman mangrove berlangsung?
Kegiatan berlangsung pada Rabu, 23 September 2026.
4. Apa tema kegiatan PIHC ke-5?
Tema yang diangkat adalah “Global Collaboration: Mangrove Restoration for a Healthy and Sustainable Community”.
5. Siapa saja yang terlibat?
Kegiatan melibatkan warga, akademisi, tenaga kesehatan, mahasiswa, organisasi profesi, pemerintah daerah, kelompok pelestari lingkungan serta mitra internasional dari University of Newcastle, Australia.
6. Mengapa mangrove dikaitkan dengan kesehatan?
Mangrove membantu menjaga kawasan pesisir dan menyediakan habitat bagi berbagai biota. Kondisi lingkungan pesisir juga berkaitan dengan kualitas perairan dan sumber pangan masyarakat.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Pontianak Post" Berjudul"Poltekkes Pontianak Gelar PKM PIHC ke-5 Tahun 2026: Mangrove Ditanam, Pesisir Dijaga",oleh penulis Miftahul Khair. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma
Sumber : Pontianak Post