Kering Melanda Tarakan, FKUB Ajak Warga Muhasabah dan Perbanyak Doa

Riafandi • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 17:35 WIB
Kekeringan Tarakan mendorong masyarakat memperkuat doa, amal, ketakwaan, serta ikhtiar menghadapi krisis air. (AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN)
Kekeringan Tarakan mendorong masyarakat memperkuat doa, amal, ketakwaan, serta ikhtiar menghadapi krisis air. (AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN)

Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Kekeringan di Tarakan menjadi pengingat untuk memperkuat ikhtiar menghadapi krisis air sekaligus meningkatkan doa, amal, dan ketakwaan.

 

Balikpapan TV – Hai Ces! Kekeringan yang melanda Tarakan tidak hanya berdampak pada kebutuhan air masyarakat. Kondisi tersebut juga dimaknai sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri dan memperkuat ketakwaan.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tarakan, KH Zainuddin Daililah, mengajak masyarakat tidak hanya melihat kekeringan dari sisi persoalan alam, tetapi juga menjadikannya kesempatan untuk bermuhasabah.

Kekeringan Tak Hanya Soal Air

Kondisi minim hujan membuat kebutuhan air menjadi perhatian masyarakat. Namun, di tengah situasi tersebut, muncul ajakan agar warga juga melakukan refleksi terhadap kehidupan dan meningkatkan rasa syukur.

Zainuddin mengatakan, masyarakat perlu memperbanyak doa, istighfar, memperbaiki amal, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Kita jangan hanya melihat kekeringan ini sebagai persoalan tidak turunnya hujan. Ini juga menjadi kesempatan bagi kita untuk bermuhasabah, memperbanyak istighfar dan memperbaiki diri. Hujan adalah nikmat dari Allah SWT yang harus kita syukuri,” jelasnya, Minggu (13/9).

Pesan tersebut menempatkan persoalan kekeringan tidak semata sebagai kondisi yang harus dihadapi secara teknis, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkuat kepedulian dan refleksi masyarakat.

Baca Juga: Karhutla Tarakan Masih Diselidiki, Polisi Belum Temukan Bukti Pembakaran Sengaja

Ikhtiar Lahiriah Tetap Berjalan

Menurut Zainuddin, manusia memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan berbagai kondisi alam. Karena itu, menghadapi kekeringan membutuhkan ikhtiar dari berbagai sisi.

Upaya spiritual melalui doa dan istighfar dinilai perlu berjalan beriringan dengan usaha masyarakat dalam menghadapi dampak kekeringan.

Dengan begitu, ajakan bermuhasabah tidak berarti mengesampingkan upaya nyata. Masyarakat tetap perlu melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi keterbatasan air.

Salat Istisqa Jadi Salah Satu Ikhtiar

Salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang dilakukan adalah pelaksanaan Salat Istisqa, yakni salat yang dilaksanakan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.

Momentum tersebut menjadi bagian dari upaya bersama masyarakat untuk memanjatkan doa di tengah kondisi kekeringan yang terjadi di Tarakan.

Bagi masyarakat, datangnya hujan bukan hanya berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan air. Hujan juga dipandang sebagai nikmat yang patut disyukuri.

Baca Juga: Keselamatan Siswa Jadi Prioritas, MPLS Sekolah Rakyat Tarakan Masih Menunggu

Perbanyak Doa dan Amal Kebaikan

Zainuddin juga mengajak masyarakat menjadikan kondisi kekeringan sebagai kesempatan untuk meningkatkan amal kebaikan.

“Kekeringan ini menjadi cobaan bagi kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak doa, istighfar dan amal kebaikan. Mudah-mudahan dengan ikhtiar bersama ini Allah SWT memberikan pertolongan dan menurunkan hujan yang membawa keberkahan,” pungkasnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menghadapi kondisi sulit membutuhkan kebersamaan. Doa, kepedulian terhadap sesama, dan langkah nyata dalam menghadapi dampak kekeringan dapat berjalan bersamaan.

Poin Penting

Insight Redaksi

Kekeringan memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dan kebutuhan dasar masyarakat dapat memiliki dimensi sosial sekaligus spiritual.

Di satu sisi, keterbatasan air membutuhkan respons nyata agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Di sisi lain, situasi tersebut dapat menjadi momentum untuk membangun kepedulian, memperkuat kebersamaan, dan melakukan refleksi.

Yang penting, ikhtiar menghadapi kekeringan tidak berhenti pada doa. Langkah nyata untuk mengelola kebutuhan air dan membantu masyarakat terdampak tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi tersebut.

Bagikan informasi ini kepada keluarga dan bubuhan ikam agar semakin banyak yang memahami pentingnya menjaga kepedulian di tengah kondisi kekeringan.

Ikuti info terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa kekeringan di Tarakan disebut momentum muhasabah?

Karena kondisi tersebut dinilai dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak doa, dan meningkatkan ketakwaan.

2. Siapa yang mengajak masyarakat melakukan muhasabah?

Ajakan tersebut disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tarakan, KH Zainuddin Daililah.

3. Apa yang dianjurkan kepada masyarakat selama kekeringan?

Masyarakat diajak memperbanyak doa, istighfar, memperbaiki amal, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

4. Apa itu Salat Istisqa?

Salat Istisqa merupakan salat yang dilakukan sebagai bentuk ikhtiar dan permohonan kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.

5. Apakah ikhtiar spiritual menggantikan upaya menghadapi kekeringan?

Tidak. Pesan yang disampaikan adalah agar ikhtiar spiritual berjalan bersama berbagai upaya nyata untuk menghadapi dampak kekeringan.

6. Mengapa hujan disebut sebagai nikmat?

Dalam pernyataan Zainuddin, hujan dipandang sebagai nikmat dari Allah SWT yang perlu disyukuri.

7. Apa pesan utama FKUB Tarakan?

Masyarakat diajak menghadapi kekeringan dengan memperbanyak doa, istighfar, amal kebaikan, serta tetap melakukan ikhtiar menghadapi dampaknya.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Radar TarakanBerjudul"Kekeringan di Tarakan Jadi Momentum Muhasabah dan Tingkatkan Ketakwaan",oleh penulis Zakaria RT. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sumber : Radar Tarakan
Salat Istisqa FKUB kekeringan tarakan