Durasi Baca: 6 Menit
Ikhtisar: Islam mengajarkan rahmat melalui akhlak, termasuk menjaga ucapan, sikap, dan perilaku saat berinteraksi di dunia digital.
Balikpapan TV - Hai Ces! Islam adalah agama yang membawa rahmat. Rasulullah Muhammad SAW tidak diutus hanya untuk satu kelompok, suku, atau bangsa, melainkan membawa pesan kebaikan bagi seluruh alam.
Hal tersebut ditegaskan dalam QS Al-Anbiya ayat 107:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kehadiran Rasulullah SAW membawa nilai kedamaian, kasih sayang, keadilan dan kemanfaatan.
Namun, pesan tentang rahmat tidak berhenti pada pemahaman bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Nilai tersebut juga perlu terlihat dalam perilaku setiap Muslim.
Pertanyaannya kemudian, sudahkah keberadaan kita menjadi rahmat bagi orang-orang di sekitar?
Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi jawabannya membutuhkan introspeksi.
Seseorang mungkin fasih berbicara mengenai Islam, rajin mengutip ajaran agama, memperbanyak shalawat atau mengajak orang lain melakukan kebaikan. Tetapi semua itu idealnya berjalan seiring dengan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, agama bukan hanya sesuatu yang disampaikan melalui perkataan. Nilai agama juga tercermin melalui cara seseorang memperlakukan orang lain.
Baca Juga: Kabut Asap Ganggu Aktivitas Sekolah, Kemenag Tarakan Terapkan BDR untuk Madrasah dan Ponpes
Rahmat Itu Bermula dari Akhlak
Akhlak menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Ilmu agama yang tidak disertai akhlak berisiko membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Begitu pula semangat beragama tanpa kebijaksanaan dapat membuat seseorang mudah menyalahkan, merendahkan atau memusuhi orang yang berbeda pandangan.
Padahal, kehidupan masyarakat memang dipenuhi perbedaan.
Perbedaan suku, latar belakang, organisasi, pilihan maupun cara memahami persoalan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari.
Persoalannya bukan semata-mata terletak pada perbedaan, melainkan bagaimana seseorang menyikapinya.
Berbeda pendapat tidak harus berakhir dengan kebencian. Menegur tidak harus mempermalukan. Mengkritik tidak harus menghina.
Seseorang tetap dapat bersikap tegas terhadap sesuatu yang diyakininya benar tanpa kehilangan kelembutan dalam menyampaikan pendapat.
Kutipan Komen
“Kita boleh berbeda, tetapi jangan kehilangan adab. Kita boleh tegas, tetapi jangan kehilangan kasih sayang.”
Pesan tersebut menjadi inti penting dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghilangkan rasa hormat kepada sesama.
Persaudaraan bahkan tidak selalu membutuhkan kesamaan. Justru ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan, akhlak seseorang mendapatkan ujian.
Ujian Akhlak Ada di Ujung Jari
Perkembangan teknologi membuat cara manusia berinteraksi mengalami perubahan.
Dahulu, komunikasi lebih banyak berlangsung ketika seseorang berhadapan langsung dengan orang lain. Kini, seseorang dapat menyampaikan pendapat kepada banyak orang hanya melalui layar ponsel.
Kondisi tersebut membuat ujian akhlak tidak hanya terjadi ketika bertatap muka.
Ujian juga dapat muncul ketika seseorang mengetik komentar, mengunggah sesuatu atau membagikan informasi.
Satu komentar dapat melukai perasaan orang lain. Satu unggahan dapat menimbulkan prasangka. Sementara satu potongan video dapat membuat seseorang mengambil kesimpulan sebelum memahami persoalan secara utuh.
Masalah lainnya muncul ketika seseorang membagikan informasi hanya karena informasi tersebut sesuai dengan pandangannya.
Padahal, sesuatu yang beredar di media sosial belum tentu benar hanya karena banyak orang membicarakannya.
Karena itu, kehati-hatian menjadi penting sebelum menekan tombol kirim atau membagikan sebuah informasi.
Beberapa pertanyaan sederhana dapat menjadi pengingat:
Apakah informasi ini benar?
Apakah informasi ini perlu?
Apakah informasi ini bermanfaat?
Apakah cara saya menyampaikannya sudah mencerminkan akhlak seorang Muslim?
Pertanyaan tersebut semakin relevan karena media sosial memungkinkan sebuah tulisan atau unggahan tersebar jauh lebih cepat daripada komunikasi secara langsung.
Baca Juga: PM2.5 Pantai Amal Tarakan Capai 101, Warga Diimbau Waspada
Tidak Semua Kebenaran Harus Disampaikan dengan Kasar
Membela kebenaran membutuhkan keberanian. Namun, keberanian tidak berarti seseorang harus menggunakan bahasa yang kasar.
Kebenaran juga membutuhkan kebijaksanaan.
Seseorang dapat memberikan kritik tanpa menghina. Dapat memberikan nasihat tanpa mempermalukan. Dapat berbeda pendapat tanpa menjadikan orang lain sebagai musuh.
Hal tersebut menjadi semakin penting dalam komunikasi digital.
Ketika seseorang membaca komentar di layar, ia tidak selalu mengetahui nada suara atau ekspresi wajah penulis. Akibatnya, kalimat yang dianggap biasa oleh seseorang dapat diterima sebagai sesuatu yang menyakitkan oleh orang lain.
Karena itu, memilih kata sebelum menulis merupakan bagian dari menjaga akhlak.
Jangan sampai seseorang merasa sedang berdakwah, tetapi cara berbicaranya justru membuat orang lain semakin jauh dari nilai agama.
Kutipan Komen
“Kebenaran memang membutuhkan keberanian, tetapi menyampaikan kebenaran juga membutuhkan kebijaksanaan.”
Pesan ini mengingatkan bahwa substansi yang benar tetap perlu disampaikan dengan cara yang tepat.
Cara penyampaian menjadi penting karena tujuan komunikasi bukan sekadar menunjukkan bahwa seseorang benar, tetapi juga memastikan pesan dapat diterima tanpa menimbulkan luka yang tidak perlu.
Rahmat Tidak Selalu Hadir dalam Hal Besar
Menjadi rahmat bagi orang lain tidak selalu membutuhkan tindakan besar.
Rahmat dapat muncul dari hal sederhana.
Senyum, kesediaan mendengarkan keluhan, membantu seseorang yang sedang mengalami kesulitan, memaafkan kesalahan dan tidak membalas keburukan dengan keburukan merupakan bentuk kebaikan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan, memilih diam dalam situasi tertentu juga dapat menjadi bentuk kebijaksanaan.
Ada kalanya seseorang mampu membalas perkataan orang lain dengan kalimat yang lebih tajam. Namun, memilih untuk berhenti dapat menjadi keputusan yang lebih baik jika perdebatan tersebut hanya akan memperkeruh keadaan.
Begitu pula dengan mengalah.
Mengalah tidak selalu berarti kalah. Dalam kondisi tertentu, mengalah dapat menjadi cara untuk menjaga hubungan dan mencegah konflik berkembang lebih jauh.
Memaafkan juga bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan dapat menjadi pilihan untuk tidak terus membawa persoalan menjadi konflik yang berkepanjangan.
Kutipan Komen
“Ada kalanya diam lebih baik daripada kata-kata yang melukai.”
Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan menahan diri juga merupakan bagian dari akhlak.
Seberapa Banyak Manfaat dari Kehadiran Kita?
Ukuran keberagamaan seseorang tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa banyak ia melakukan ibadah.
Ada pertanyaan lain yang juga layak diajukan: seberapa banyak orang yang mendapatkan manfaat dari kehadiran kita?
Jika menjadi seorang pemimpin, apakah orang-orang yang dipimpin merasa aman dan mendapatkan ketenteraman?
Jika menjadi guru, apakah kehadirannya membuat murid berkembang dan percaya diri?
Jika menjadi orang tua, apakah anak merasa mendapatkan kasih sayang dan ruang untuk berbicara?
Jika menjadi teman, apakah keberadaannya memberikan ketenangan?
Dan ketika berada di media sosial, apakah kehadirannya memberikan manfaat atau justru memperbesar pertengkaran?
Pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi terhadap diri sendiri.
Sebab, nilai akhlak tidak hanya terlihat ketika seseorang melakukan sesuatu yang besar. Justru tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Menjadi Rahmat Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Menjadi rahmat dapat dimulai dari lingkungan paling dekat.
Keluarga, teman, tetangga, lingkungan pendidikan, tempat kerja hingga ruang digital merupakan tempat seseorang dapat mempraktikkan nilai tersebut.
Tidak berarti setiap orang harus selalu menyetujui pendapat orang lain.
Perbedaan tetap diperbolehkan. Namun, perbedaan tersebut sebaiknya tidak membuat seseorang kehilangan adab.
Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tetap menghormati. Kita boleh tegas, tetapi tetap mengendalikan diri. Kita boleh mengingatkan, tetapi tidak harus mempermalukan.
Di era media sosial, pesan tersebut menjadi semakin penting.
Sebab, apa yang ditulis seseorang dapat dibaca oleh banyak orang dan berpotensi meninggalkan dampak yang lebih luas.
Karena itu, sebelum menulis komentar atau membagikan sebuah informasi, ada baiknya seseorang berhenti sejenak.
Bukan hanya untuk memeriksa apakah informasi tersebut benar, tetapi juga untuk mempertimbangkan apakah informasi itu perlu disebarkan dan bagaimana dampaknya bagi orang lain.
Pada akhirnya, pesan Islam sebagai rahmat dapat dimulai dari hal yang paling sederhana: bagaimana kita memperlakukan sesama.
Dan pada zaman ketika satu sentuhan jari dapat menjangkau banyak orang, menjaga akhlak tidak lagi hanya menjadi ujian ketika bertatap muka.
Ujian akhlak juga berada di ujung jari.
Poin Penting
- Islam mengajarkan nilai rahmat bagi seluruh alam.
- QS Al-Anbiya ayat 107 menjadi salah satu landasan tentang Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.
- Akhlak menjadi bagian penting dalam penerapan nilai agama.
- Perbedaan pendapat tidak harus berujung pada permusuhan.
- Media sosial menjadi ruang baru untuk menjaga adab dan akhlak.
- Informasi perlu diperiksa sebelum dibagikan.
- Kritik dan nasihat dapat disampaikan tanpa menghina atau mempermalukan.
- Menjadi rahmat dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Insight Redaksi
Era digital membuat setiap orang memiliki kemampuan untuk menyampaikan sesuatu kepada khalayak luas.
Kemampuan tersebut membawa manfaat, tetapi juga tanggung jawab. Sebuah komentar yang ditulis dalam hitungan detik dapat memengaruhi orang lain jauh lebih lama.
Karena itu, akhlak seharusnya tidak berhenti pada interaksi tatap muka.
Cara berbicara, cara memberikan kritik, cara merespons perbedaan hingga cara membagikan informasi juga menjadi bagian dari bagaimana seseorang menunjukkan nilai yang diyakininya.
Menjadi rahmat tidak berarti selalu diam atau menghindari perbedaan. Yang lebih penting adalah memastikan perbedaan tersebut tetap dikelola dengan adab, kebijaksanaan dan penghormatan terhadap sesama.Ujian akhlak bukan cuma saat bertatap muka, tapi juga ketika jari mulai mengetik. Ikuti informasi religi dan inspirasi kehidupan hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa makna Islam sebagai agama yang membawa rahmat?
Islam membawa ajaran yang menekankan kasih sayang, kedamaian, keadilan dan kemanfaatan. QS Al-Anbiya ayat 107 menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.
2. Mengapa akhlak penting dalam Islam?
Akhlak menjadi salah satu bentuk nyata penerapan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hubungan dengan sesama.
3. Mengapa media sosial dapat menjadi ujian akhlak?
Karena seseorang dapat menyampaikan komentar, pendapat dan informasi kepada banyak orang dengan cepat. Jika tidak dilakukan dengan hati-hati, komunikasi tersebut dapat menimbulkan konflik atau menyakiti orang lain.
4. Apa yang harus diperhatikan sebelum membagikan informasi?
Informasi sebaiknya diperiksa kebenarannya, dipertimbangkan manfaatnya dan disampaikan dengan cara yang tidak merugikan atau mempermalukan orang lain.
5. Apakah berbeda pendapat berarti tidak bisa bersaudara?
Tidak. Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan. Persaudaraan tetap dapat dijaga selama masing-masing pihak menghormati dan menjaga adab.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Radar Tarakan",Ujian Akhlak Ada di Ujung Jari",oleh penulis Zakaria RT. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.
Editor : Support
Sumber : Radar Tarakan