Ikhtisar: BPBD Kaltim mendorong mitigasi sejak pra-bencana agar risiko korban, kerusakan, dan krisis kesehatan akibat berbagai ancaman dapat ditekan secara bersama.
Balikpapan TV - Hai Ces! BPBD Kalimantan Timur menekankan pentingnya mitigasi sejak pra-bencana untuk mengurangi dampak bencana dan potensi krisis kesehatan di daerah.
Langkah ini menjadi perhatian karena ancaman bencana dan perubahan kondisi iklim dapat memengaruhi kesehatan sekaligus kesiapan layanan masyarakat.
Baca Juga: APBD Mahulu 2027 Turun, Pemkab Prioritaskan Layanan Publik dan Pemerataan
Mitigasi Dimulai Sebelum Bencana Terjadi
Penanggulangan bencana kini diarahkan pada pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan sebelum kejadian berlangsung. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menekan korban serta kerugian yang mungkin muncul.
Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Kaltim, Tresna Rosano, menyebut bencana tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Namun, dampaknya masih dapat dikurangi melalui kesiapan yang dilakukan sejak awal.
“Bencana itu pasti terjadi dan kita tidak dapat menghilangkannya. Tapi kita dapat mengurangi dampak dari bencana,” kata Tresna.
Ancaman Bencana Bisa Berujung pada Krisis Kesehatan
Ancaman yang dihadapi masyarakat berasal dari berbagai jenis bencana, mulai banjir hingga kebakaran hutan dan lahan. Cuaca ekstrem, kekeringan, wabah penyakit, serta kegagalan teknologi juga termasuk potensi ancaman.
Dinas Kesehatan Kaltim sebelumnya menyoroti kekeringan, suhu ekstrem, karhutla, dan bencana alam sebagai faktor yang dapat meningkatkan gangguan kesehatan. Paparan asap dan debu, misalnya, berisiko memicu infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Kondisi tersebut membuat kesiapan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam menghadapi bencana. Sistem pelayanan perlu mampu bergerak sejak mitigasi, kewaspadaan dini, tanggap darurat, hingga pemulihan.
Data Gempa Kaltim Jadi Pengingat Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan juga diperlukan untuk menghadapi ancaman gempa yang selama ini dianggap relatif jarang terjadi di Kalimantan Timur. BPBD Kaltim mencatat 56 kejadian gempa sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Kabupaten Berau mencatat 28 kejadian, disusul Kutai Timur sebanyak 25 kejadian. Sementara Paser mencatat dua kejadian dan Kutai Barat satu kejadian dalam periode tersebut.
Balikpapan dan Bontang menjadi perhatian mitigasi karena memiliki sejumlah objek vital yang dapat menghadirkan dampak besar ketika gempa terjadi. Data ini memperkuat pentingnya kesiapan lintas sektor di daerah.
Baca Juga: Karhutla 1.511 Hektare, Kemenhut Bekukan Izin Satu Perusahaan di Kalimantan
Kesiapan Kesehatan Perlu Terhubung dengan Mitigasi
Dalam pertemuan koordinasi di Samarinda pada Rabu, 26 Agustus 2026, Dinkes Kaltim mempertemukan unsur kesehatan dan kebencanaan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat respons terhadap penyakit sensitif iklim dan krisis kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin menekankan perlunya pengelolaan mitigasi agar pelayanan masyarakat tetap berjalan saat kondisi lingkungan berubah. Kesiapan tersebut juga mencakup ancaman gempa dan kekeringan.
Tresna menegaskan penanggulangan bencana bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu. Masyarakat, dunia usaha, fasilitas kesehatan, dan pemangku kepentingan perlu memahami ancaman serta langkah kesiapsiagaan bersama.
Poin Penting
- Mitigasi bencana perlu dilakukan sejak tahap pra-bencana.
- Banjir, karhutla, kekeringan, cuaca ekstrem, wabah, dan gempa menjadi sejumlah ancaman yang perlu diantisipasi.
- Krisis kesehatan dapat muncul ketika bencana mengganggu kehidupan masyarakat dan pelayanan kesehatan.
- BPBD Kaltim mencatat 56 kejadian gempa sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
- Kolaborasi pemerintah, fasilitas kesehatan, masyarakat, dan dunia usaha menjadi bagian penting kesiapsiagaan.
Insight Redaksi
Mitigasi bencana di Kaltim perlu dibaca sebagai bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat. Ancaman banjir, karhutla, kekeringan, cuaca ekstrem, dan gempa dapat menekan layanan kesehatan. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci karena kapasitas fasilitas kesehatan menentukan kecepatan respons. Jangan menunggu kejadian membesar. Kesiapan dari sekarang bikin penanganan terarah, kuat, dan cepat di lapangan.
Fasilitas kesehatan dan pemda perlu menyamakan peta risiko, jalur komunikasi, serta skenario respons sebelum keadaan darurat datang.
Bagikan jua informasi ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak warga memahami pentingnya kesiapsiagaan bencana.
Mau terus update soal kesiapsiagaan bencana dan isu kesehatan di Kaltim? Ikuti Balikpapan TV teman update setia setiap hari, bukan sekadar info biasa! Bagikan juga ke bubuhan ikam.
FAQ
1. Mengapa mitigasi bencana penting bagi sektor kesehatan?
Mitigasi membantu mengurangi korban, kerusakan, dan gangguan pelayanan kesehatan ketika bencana terjadi.
2. Apa saja ancaman yang perlu diwaspadai di Kaltim?
Ancaman meliputi banjir, karhutla, kekeringan, cuaca ekstrem, wabah penyakit, kegagalan teknologi, dan gempa.
3. Berapa kejadian gempa yang tercatat di Kaltim pada 2026?
BPBD Kaltim mencatat 56 kejadian gempa sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
4. Siapa saja yang perlu terlibat dalam kesiapsiagaan?
Pemerintah, fasilitas kesehatan, masyarakat, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan perlu terlibat.
Sumber Informasi: Media RRI, dengan judul “BPBD Kaltim Tekankan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko Krisis Kesehatan”, oleh Denny Kartikasari. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.