Ikhtisar: BIGmall Samarinda catat okupansi 82 persen, brand lama bertahan, tenant baru bersiap buka, restoran fit out berjalan, manajemen optimistis pertengahan 2026 jadi momen akselerasi baru.
Balikpapan TV - Hai Cess! BIGmall Samarinda memperkuat amunisi di tengah fase pemulihan. Hingga akhir tahun lalu, tingkat okupansi tenant sudah mencapai 82 persen. Sejumlah brand baru bersiap membuka gerai, melengkapi deretan nama lama yang masih bertahan dan tetap jadi magnet pengunjung.
Jangan berhenti di sini, Cess. Ada strategi, ada pola belanja unik warga Samarinda, dan ada target pertengahan 2026 yang dipatok jadi momentum penting. Simak sampai tuntas supaya makin paham arah pergerakan pusat belanja ini, pahamlah ikam.
Bagaimana Kondisi Okupansi BIGmall Samarinda Saat Ini?
Okupansi BIGmall Samarinda telah menyentuh angka 82 persen hingga akhir tahun lalu. Angka ini disampaikan langsung oleh GM BIGmall Samarinda, Tumpal MP Silalahi yang akrab dipanggil Olan.
“Dari total semuanya kita punya ini sebenarnya okupansi kita sudah 82 persen. Kita harapkan nanti di Juni itu sudah hampir semua terbuka,” ujar Olan.
Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa proses pemulihan berjalan progresif. Target Juni disebut sebagai fase ketika hampir seluruh ruang terisi dan operasional tenant semakin optimal. Artinya, pengunjung akan menemukan lebih banyak pilihan dalam satu waktu kunjungan.
Brand Apa Saja yang Tetap Bertahan di BIGmall?
Sejumlah brand lama tetap eksis dan menjadi fondasi kekuatan BIGmall. Nama seperti Amazone, Matahari, dan Uniqlo masih bertahan dan terus beroperasi.
Keberadaan brand-brand ini penting karena menjadi penopang traffic pengunjung. Mereka sudah memiliki pasar tersendiri dan loyalitas konsumen yang kuat.
Konsistensi tenant lama juga memberi rasa stabilitas. Di tengah dinamika pasar, mempertahankan brand mapan adalah langkah strategis. Nah, itu sudah… fondasinya jelas dulu, baru ekspansi diperluas.
Tenant Baru Apa yang Siap Meramaikan BIGmall?
BIGmall tidak hanya bertahan, tetapi juga menambah energi baru. Sejumlah tenant baru bersiap membuka gerai, di antaranya Nada Puspita, Laskada, Gelis, JD Sport, Delamibrands, hingga konsep gabungan Man Zone dan Minimal dalam satu toko.
Olan juga menambahkan, “Ada Kipling nanti, ada Pandora.” Dua brand luar negeri ini memperkaya variasi pilihan fashion dan aksesori.
Masuknya brand baru mempertegas strategi diferensiasi. Pengunjung tidak hanya menemukan merek lama, tetapi juga opsi fresh yang relevan dengan tren. Kombinasi ini membuat pengalaman belanja jadi lebih lengkap dalam satu lokasi.
Tips singkat memaksimalkan kunjungan saat tenant baru buka:
1. Datang di jam non-prime untuk pengalaman lebih nyaman.
2. Pantau promo pembukaan gerai baru.
3. Gabungkan agenda belanja dan kuliner dalam satu kunjungan.
Bagaimana Perkembangan Tenant Kuliner di BIGmall?
Selain fashion, sektor kuliner juga bergerak. Beberapa restoran tengah menjalani proses fit out, seperti Leko dan Cabe Merah. Sementara BLTS sudah selesai lebih dulu.
Pergerakan tenant F&B ini penting karena pusat belanja modern tidak hanya soal belanja barang. Area makan sering menjadi alasan utama kunjungan keluarga dan komunitas.
Dengan bertambahnya pilihan restoran, BIGmall memperkuat daya tarik sebagai destinasi nongkrong sekaligus belanja. Datang untuk makan, lanjut belanja. Datang belanja, sekalian kulineran. Polanya saling menguatkan.
Apa Kata Manajemen Soal Karakter Belanja Warga Samarinda?
Manajemen menilai karakter belanja masyarakat Samarinda berbeda dibanding kota-kota di Jawa. Olan menyebut, “Kalau di sini mix. Belanja barang juga.”
Artinya, pola konsumsi tidak didominasi satu sektor saja. Fashion dan kuliner berjalan beriringan. Ini menjadi pertimbangan penting dalam menyusun komposisi tenant.
Strategi mix tenant tersebut disesuaikan dengan kebiasaan pasar lokal. Bukan sekadar mengikuti tren nasional, tetapi membaca karakter pembeli di wilayah sendiri. Nah, di sinilah kuncinya, pahamlah ikam.
Mengapa Pertengahan 2026 Disebut Titik Akselerasi Baru?
Dengan okupansi 82 persen dan tambahan tenant baru, BIGmall mematok pertengahan 2026 sebagai momen akselerasi. Kombinasi brand lama, brand baru, serta restoran yang mulai beroperasi penuh diharapkan mendorong peningkatan aktivitas.
Optimisme ini bukan tanpa dasar. Penguatan komposisi tenant dan hampir penuhnya ruang sewa menunjukkan kesiapan memasuki fase berikutnya.
Jika target Juni hampir seluruh gerai terbuka tercapai, maka pertengahan 2026 bisa menjadi fase di mana pergerakan pengunjung, transaksi, dan aktivitas pusat belanja meningkat signifikan. Strateginya jelas, eksekusinya bertahap.
Insight: Pergerakan BIGmall Samarinda menunjukkan bahwa pemulihan pusat belanja memerlukan kombinasi konsistensi dan pembaruan. Mempertahankan brand lama sambil menghadirkan tenant baru menciptakan keseimbangan yang relevan dengan karakter belanja lokal. Bagi pembaca, ini memberi gambaran bagaimana strategi ritel disusun berbasis data okupansi dan pola konsumsi masyarakat, bukan sekadar tren musiman.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham perkembangan pusat belanja di Kalimantan Timur, Cess.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”
FAQ
1. Berapa tingkat okupansi BIGmall Samarinda saat ini?
Tingkat okupansi telah mencapai 82 persen hingga akhir tahun lalu berdasarkan keterangan manajemen.
2. Brand luar negeri apa saja yang akan hadir di BIGmall?
Manajemen menyebut akan ada Kipling dan Pandora yang menambah deretan brand internasional.
3. Kapan target seluruh tenant hampir terbuka?
Manajemen menargetkan pada Juni mendatang hampir seluruh gerai sudah terbuka dan beroperasi.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.