Dari Atap ke Drainase, Mengapa Taman Atap Menarik Dibahas di Samarinda

Tania Putri Nuraini • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 07:33 WIB
Taman atap rumah tropis menahan sebagian limpasan hujan sebelum air dialirkan menuju sistem drainase Samarinda. (BTV/AI)
Taman atap rumah tropis menahan sebagian limpasan hujan sebelum air dialirkan menuju sistem drainase Samarinda. (BTV/AI)

Durasi Baca: 7 Menit

Ikhtisar: Green roof membantu menahan sebagian limpasan hujan, tetapi tetap membutuhkan drainase dan desain bangunan yang tepat.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Ketika hujan turun di Samarinda, air yang jatuh di atap rumah biasanya segera mencari jalan keluar melalui talang menuju saluran pembuangan. Dari satu rumah, jumlahnya mungkin terasa kecil. Tetapi jika pola yang sama terjadi pada banyak permukaan kedap air di kawasan perkotaan, limpasan menjadi bagian dari beban sistem drainase.

Di sinilah green roof atau taman atap menarik dibahas. Bukan karena satu rumah bisa menyelesaikan persoalan banjir kota, melainkan karena atap dapat diberi fungsi tambahan: menahan sebagian air hujan untuk sementara sebelum akhirnya dilepas kembali melalui sistem drainase.

Samarinda sendiri masih menempatkan pengendalian banjir sebagai salah satu program penting kota. Pemerintah Kota Samarinda pada September 2026 kembali membahas sejumlah pekerjaan pengendalian banjir, termasuk kawasan Gunung Kapur-Damanhuri, Sungai Karang Mumus, dan kawasan Teras Samarinda II.

Jadi pertanyaannya bukan sekadar, “Apakah taman di atap terlihat bagus?” Melainkan, “Apa yang terjadi pada air hujan setelah jatuh di rumah kita?”

Air Hujan yang Jatuh di Atap Tidak Hilang Begitu Saja

Atap rumah merupakan permukaan yang relatif kedap air. Ketika hujan turun, air tidak meresap seperti ketika jatuh ke tanah terbuka. Air dikumpulkan oleh kemiringan atap, dialirkan menuju talang, kemudian diteruskan ke saluran pembuangan.

Green roof mengubah sebagian alur tersebut.

Lapisan vegetasi dan media tanam dapat menyimpan sebagian air untuk sementara. Air kemudian dapat menguap, digunakan oleh tanaman, atau perlahan bergerak menuju lapisan drainase hingga akhirnya keluar dari sistem.

Artinya, green roof bekerja sebagai penahan sementara, bukan penghilang air hujan.

Kajian global terhadap 2.375 sampel eksperimen dari 21 negara menemukan tingkat retensi limpasan green roof sangat bervariasi, dengan rata-rata sekitar 62 persen per kejadian hujan dalam kumpulan penelitian tersebut. Besarnya retensi dipengaruhi antara lain intensitas hujan, kedalaman media, luas green roof, jenis vegetasi, iklim, dan musim.

Angka itu tidak bisa langsung dianggap sebagai kapasitas semua taman atap di Samarinda. Justru variasi tersebut menunjukkan bahwa desain dan kondisi hujan sangat menentukan.

Green roof menahan limpasan hujan sementara, tetapi drainase tetap diperlukan agar sistem atap bekerja optimal. (BTV/AI)
Green roof menahan limpasan hujan sementara, tetapi drainase tetap diperlukan agar sistem atap bekerja optimal. (BTV/AI)

Mengapa Samarinda Punya Alasan Membicarakan Atap Hijau?

Konteks kota membuat persoalan ini lebih menarik.

BPS Kota Samarinda menyediakan pengamatan unsur iklim bulanan, termasuk curah hujan dan jumlah hari hujan. Publikasi Kota Samarinda Dalam Angka 2026 juga memuat berbagai data statistik kota yang dihimpun dari BPS, perangkat daerah, dan instansi terkait.

Sementara itu, dokumen RTRW Kota Samarinda 2023–2042 memang memuat ketentuan terkait kawasan rawan banjir dan kawasan resapan air. Pada kawasan rawan banjir tingkat tinggi, ketentuannya mencakup penyediaan biopori dan sumur resapan, perbaikan atau penyediaan drainase, serta pengembangan bangunan yang mampu beradaptasi terhadap kejadian bencana.

Pada kawasan resapan air, RTRW juga mengatur penanaman vegetasi yang dapat mendukung penyimpanan atau resapan air, termasuk penyediaan sumur resapan dan biopori sesuai karakteristik tanah dan batuan.

Konteks tersebut penting karena menunjukkan bahwa pengelolaan air tidak hanya berbicara tentang satu jenis infrastruktur.

Ada drainase. Ada ruang terbuka hijau. Ada resapan. Ada pemanenan air hujan. Dan pada skala bangunan, ada pula kemungkinan menggunakan atap sebagai bagian dari pengelolaan limpasan.

Atap hijau membantu mengelola limpasan hujan, melengkapi drainase dan resapan air dalam menghadapi curah hujan Samarinda. (BTV/AI)
Atap hijau membantu mengelola limpasan hujan, melengkapi drainase dan resapan air dalam menghadapi curah hujan Samarinda. (BTV/AI)

Dari Atap Rumah ke Drainase, Apa yang Sebenarnya Berubah?

Bayangkan dua rumah dengan ukuran atap yang sama.

Pada rumah pertama, hujan jatuh ke permukaan atap dan segera dialirkan menuju talang. Pada rumah kedua, sebagian permukaan atap dilengkapi vegetasi, media tanam, lapisan penyimpanan dan drainase.

Ketika hujan turun, rumah kedua memiliki satu tahapan tambahan sebelum air keluar dari atap.

Hujan → vegetasi dan media → retensi sementara → drainase/overflow.

Penelitian mengenai green roof menunjukkan sistem tersebut dapat mengurangi jumlah limpasan sekaligus menunda awal keluarnya limpasan dibandingkan permukaan atap konvensional. Namun performanya tidak seragam karena dipengaruhi struktur sistem, material dan kedalaman media, vegetasi, kemiringan serta kondisi hujan.

Pada hujan deras, kemampuan menahan air juga dapat menurun karena media lebih cepat mencapai kondisi jenuh. Artinya, green roof tetap membutuhkan jalur pembuangan yang mampu menangani air berlebih.

Jadi, jangan membayangkan taman atap sebagai spons raksasa yang mampu menyerap semua hujan.

Lebih tepat melihatnya sebagai lapisan tambahan yang memperlambat dan menahan sebagian limpasan.

Green roof menahan sebagian limpasan hujan, memperlambat aliran, namun tetap memerlukan drainase tepat untuk overflow. (BTV/AI)
Green roof menahan sebagian limpasan hujan, memperlambat aliran, namun tetap memerlukan drainase tepat untuk overflow. (BTV/AI)

Taman Atap Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Green roof bukan sekadar menaruh tanah dan tanaman di atas dak.

Ada persoalan struktur bangunan, kedap air, lapisan drainase, media tanam, vegetasi, akses pemeliharaan dan sistem pembuangan air yang harus dipikirkan sejak awal.

Yang paling penting adalah jalur air tidak boleh berhenti hanya karena media tanam sudah penuh.

Ketika kapasitas retensi tercapai, air harus mempunyai jalan keluar. Sistem overflow dan drainase menjadi bagian penting agar air berlebih tidak justru mencari jalur yang tidak diinginkan.

Karena itu, rumah yang ingin melakukan retrofit green roof perlu memeriksa kemampuan struktur bangunan terlebih dahulu. Beban sistem tidak hanya berasal dari tanaman dan media dalam kondisi kering, tetapi juga harus diperhitungkan ketika media menyimpan air.

Perawatan juga bukan pekerjaan sekali jadi. Saluran dan titik pembuangan harus dijaga agar tidak tersumbat oleh daun, akar, atau material lain.

Taman boleh hijau, tetapi jalur air harus tetap jelas.

Green Roof, Rainwater Harvesting, atau Sumur Resapan?

Ketiganya sering dibicarakan bersama karena sama-sama berhubungan dengan air hujan. Padahal fungsi utamanya berbeda.

Kebutuhan rumah Sistem yang relevan Fungsi utama
Menahan sebagian limpasan di atap Green roof Retensi sementara
Menyimpan air untuk digunakan kembali Rainwater harvesting Tampungan dan pemanfaatan air
Membantu infiltrasi di lahan Sumur resapan/biopori Mendukung resapan sesuai kondisi tanah
Mengurangi limpasan dari permukaan Kombinasi sistem Pengelolaan air dari beberapa titik
Mengurangi panas permukaan atap Green roof/cool roof Respons termal sesuai desain

Samarinda bahkan memiliki pengalaman program pemanenan air hujan, tandon, sumur resapan dan biopori dalam kegiatan lingkungan di Samarinda Utara. Pada 2021, Pemkot mencatat pemasangan 28 tandon air, 1.500 lubang biopori berbasis sekolah, serta pembuatan sumur resapan dalam kegiatan tersebut.

Artinya, green roof tidak perlu diposisikan sebagai pengganti semua sistem tersebut.

Justru rumah dapat memilih kombinasi berdasarkan kondisi lahannya.

Rumah dengan lahan cukup mungkin lebih membutuhkan pengelolaan air di permukaan tanah. Rumah dengan lahan terbatas dapat mengeksplorasi atap sebagai ruang tambahan, selama struktur dan sistem airnya memungkinkan.

Baca Juga: Halaman Depan Cuma 3×4 Meter, Begini Cara Mengubahnya Jadi Ruang Kumpul Keluarga yang Nyaman

Berapa Banyak Air yang Bisa Ditahan?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua green roof.

Penelitian menunjukkan performa retensi dapat berubah berdasarkan kedalaman dan karakter media, vegetasi, kemiringan atap, kondisi media sebelum hujan, serta karakteristik hujan.

Studi Indonesia yang dilakukan di IPB pada empat sistem green roof juga memperlihatkan adanya perbedaan retensi antarvegetasi dan sistem yang diuji. Dalam sepuluh kejadian hujan, nilai retensi rata-rata yang dilaporkan berbeda menurut jenis vegetasi dan kontrol yang digunakan.

Karena itu, klaim seperti “green roof mampu menahan sekian persen hujan” sebaiknya selalu disertai konteks desain dan kondisi pengujiannya.

Bagi pemilik rumah, pertanyaan yang lebih berguna justru:

Berapa luas atap yang akan dibuat hijau, bagaimana susunan lapisannya, berapa kapasitas penyimpanan airnya, dan ke mana air berlebih dialirkan?

Kapan Taman Atap Justru Tidak Tepat?

Tidak semua rumah harus memiliki green roof.

Kalau struktur bangunan belum siap, memaksakan taman atap bukan keputusan yang bijak. Begitu juga jika akses pemeliharaan sulit atau sistem overflow belum dirancang dengan baik.

Ada kondisi ketika pemilik rumah sebenarnya hanya membutuhkan tempat menyimpan air. Dalam situasi seperti itu, rainwater harvesting dapat lebih sesuai dengan tujuan dibandingkan membuat seluruh sistem green roof.

Begitu pula dengan rumah yang memiliki lahan tanah cukup dan kondisi tanah memungkinkan. Sumur resapan atau biopori dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan air yang berbeda, sesuai ketentuan dan karakteristik lokasi.

Jadi, jangan mulai dari pertanyaan “Mau bikin green roof atau tidak?”

Mulailah dari “Masalah air di rumah ini sebenarnya apa?”

Kalau Mau Mulai, Jangan Langsung Tanam

Ada beberapa hal yang lebih masuk akal dilakukan terlebih dahulu.

Pertama, periksa struktur. Pastikan bangunan memang dirancang atau dapat direkayasa untuk menerima sistem tambahan di atap.

Kedua, tentukan tujuan. Apakah ingin menahan limpasan, membuat ruang hijau, membantu kenyamanan termal, atau menggabungkan beberapa fungsi?

Ketiga, hitung jalur air. Air yang tertahan tetap akan keluar. Pastikan talang, drainase dan overflow mampu bekerja ketika hujan besar.

Keempat, pikirkan pemeliharaan. Tanaman membutuhkan perawatan dan sistem drainase membutuhkan pemeriksaan berkala.

Kelima, lihat kondisi rumah secara keseluruhan. Atap bukan satu-satunya tempat mengelola air. Halaman, permukaan keras, talang, tangki tampung, biopori dan sumur resapan dapat menjadi bagian dari sistem yang lebih utuh.

Pendekatan seperti ini lebih realistis daripada menganggap satu teknologi sebagai jawaban tunggal.

Dari Satu Rumah, Cara Pandangnya Bisa Diperbesar

Ada hal menarik dari green roof ketika ditempatkan dalam konteks Samarinda.

Nilainya bukan semata-mata karena satu rumah mampu menahan sejumlah air. Nilai lainnya ada pada perubahan cara melihat bangunan: atap bukan hanya pelindung dari hujan, tetapi juga bagian dari hubungan rumah dengan sistem air di sekitarnya.

Ketika banyak bangunan memiliki pendekatan berbeda dalam mengelola air hujan, skala rumah dan skala kota mulai dapat dibaca sebagai satu rangkaian.

Namun tetap ada batasnya.

Green roof tidak menggantikan drainase kota. Tidak menggantikan ruang terbuka hijau di tingkat kawasan. Tidak menggantikan pengelolaan sungai. Dan tidak otomatis menyelesaikan genangan.

Ia lebih tepat disebut salah satu elemen pengelolaan limpasan pada skala bangunan.

Bagi Samarinda, cara berpikir seperti ini justru lebih masuk akal: air hujan dikelola dari banyak titik, sementara sistem kota tetap bekerja sebagai jaringan yang lebih besar.

Poin Penting

Insight Redaksi

Taman atap bukan obat banjir. Ia lebih menarik sebagai potongan kecil dari cara kota mengelola air. Di Samarinda, rumah, drainase, RTH, dan sungai memang tidak berdiri sendiri. Jadi, jangan kada cuma bikin atap hijau; pikirkan juga airnya mau ke mana.

Mulai dari audit struktur, tujuan dan jalur air; kalau tiga hal ini jelas, baru tentukan sistem atap yang paling masuk akal.

Kalau menurutmu pembahasan ini berguna, bagikan ke keluarga atau teman yang sedang mikir bikin rumah lebih adaptif menghadapi hujan.

Mau rumah lebih siap menghadapi hujan? Ikuti update Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apakah green roof bisa membantu mengurangi genangan?

Green roof dapat mengurangi dan menunda sebagian limpasan dari atap, tetapi tidak dapat dianggap sebagai solusi tunggal untuk genangan kota.

2. Apakah taman atap menggantikan sumur resapan?

Tidak. Green roof menahan air pada sistem atap, sedangkan sumur resapan dirancang untuk membantu infiltrasi ke tanah sesuai kondisi lokasi.

3. Berapa banyak air hujan yang dapat ditahan green roof?

Tidak ada angka tunggal. Kapasitasnya bergantung pada desain, media, vegetasi, kondisi media dan karakteristik hujan.

4. Apa hubungan taman atap dengan drainase?

Green roof dapat memperlambat dan mengurangi sebagian limpasan, tetapi air berlebih tetap harus dialirkan melalui sistem drainase atau overflow.

5. Apakah green roof cocok untuk semua rumah di Samarinda?

Tidak otomatis. Kesesuaian bergantung pada struktur bangunan, desain atap, sistem kedap air, drainase, pemeliharaan dan tujuan pemilik rumah.

6. Apa yang harus diperiksa sebelum membuat taman di atas atap?

Periksa kemampuan struktur, sistem waterproofing, kemiringan, drainase, overflow, akses pemeliharaan dan rancangan media serta vegetasi.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
rumah tropis samarinda Green Roof pengelolaan air hujan