Durasi Baca: 7 menit
Ikhtisar: Kebiasaan menyimpan barang sering berkaitan dengan kenangan, rasa memiliki, kegunaan, dan kekhawatiran menyesal setelah membuangnya.
Balikpapan TV - Hai Ces! Pernah membuka laci lalu menemukan kabel lama, kotak kosong, pakaian yang sudah jarang dipakai, atau benda kecil yang sebenarnya tidak dibutuhkan? Anehnya, tangan sering berhenti saat hendak membuangnya. Ada satu kalimat yang muncul, “Siapa tahu nanti kepakai.” Ces!
Barang-barang seperti itu akhirnya kembali masuk ke tempat penyimpanan. Besok, minggu depan, bahkan beberapa tahun kemudian, benda yang sama masih berada di sana tanpa pernah benar-benar digunakan.
Fenomena ini ternyata tidak selalu soal malas merapikan rumah. Hubungan manusia dengan barang bisa dipengaruhi kenangan, rasa memiliki, kegunaan, hingga nilai pribadi yang melekat pada sebuah benda. Penelitian tentang keterikatan pada barang menunjukkan bahwa manusia pada umumnya memang dapat memiliki hubungan emosional dengan benda miliknya.
Kenapa barang yang tidak dipakai terasa sulit dibuang?
Salah satu alasannya sederhana: barang yang sudah dimiliki tidak lagi terasa seperti benda biasa.
Dalam psikologi dan ekonomi perilaku dikenal istilah endowment effect, yaitu kecenderungan seseorang memberikan nilai lebih tinggi pada sesuatu setelah menjadi miliknya. Riset tentang fenomena ini menunjukkan bahwa kepemilikan dapat memengaruhi cara seseorang menilai sebuah barang.
Itulah sebabnya benda yang secara harga sebenarnya tidak seberapa bisa terasa sulit dilepas. Ketika sudah menjadi bagian dari rumah, keputusan membuangnya terasa seperti kehilangan sesuatu yang sudah dimiliki.
Bukan berarti semua orang yang menyimpan barang mengalami masalah psikologis. Menyimpan tiket perjalanan, hadiah, pakaian lama, foto, atau benda peninggalan keluarga karena memiliki nilai kenangan merupakan perilaku yang dapat terjadi pada banyak orang.
Baca Juga: Kamar Anak Jadi Lebih Seru! 5 Inspirasi Dekorasi Kamar Animasi dengan Karakter Favorit
Barang lama kadang sebenarnya menyimpan cerita
Sebuah kaus yang sudah tidak pernah dipakai mungkin mengingatkan seseorang pada masa sekolah. Gelas tertentu bisa menjadi pemberian dari orang terdekat. Bahkan kardus kecil bisa disimpan karena suatu saat pernah digunakan untuk membawa barang penting.
Nilai benda akhirnya tidak hanya berada pada materialnya, tetapi juga pada cerita yang melekat di belakangnya.
Penelitian mengenai keterikatan pada barang menunjukkan bahwa benda dapat menjadi pengingat pengalaman penting dan bagian dari cara seseorang memaknai dirinya. Karena itu, keputusan membuang benda sentimental tidak selalu terasa seperti sekadar membuang barang.
Di sinilah kalimat “sayang dibuang” menjadi menarik. Yang sebenarnya ingin dipertahankan mungkin bukan bendanya, melainkan kenangan yang diasosiasikan dengannya.
“Siapa tahu nanti kepakai” juga punya alasan sendiri
Alasan berikutnya lebih praktis.
Barang yang belum digunakan bukan berarti dianggap tidak berguna. Pemiliknya mungkin membayangkan suatu hari benda tersebut akan dibutuhkan.
Kabel lama disimpan karena takut membutuhkan jenis konektor yang sama. Wadah bekas disimpan karena terasa masih bisa digunakan. Pakaian lama bertahan di lemari karena ada kemungkinan ukurannya atau modelnya kembali cocok suatu saat nanti.
Pola seperti ini berkaitan dengan keinginan mempertahankan pilihan di masa depan. Ada rasa aman ketika mengetahui barang tersebut masih tersedia jika sewaktu-waktu diperlukan.
Masalahnya, kemungkinan “nanti” sering tidak memiliki batas waktu yang jelas.
Akhirnya, rumah bisa dipenuhi benda yang secara teori masih berguna, tetapi dalam praktiknya tidak pernah disentuh.
Kenapa semakin lama barang justru semakin sulit dilepas?
Waktu dapat membuat sebuah benda memperoleh lebih banyak cerita.
Sebuah barang yang awalnya hanya benda biasa bisa menjadi pengingat suatu periode kehidupan setelah bertahun-tahun berada di rumah.
Selain itu, semakin lama seseorang memiliki barang, semakin kuat rasa kepemilikannya dapat terasa. Inilah salah satu alasan keputusan membuang barang terkadang menjadi lebih berat dibanding keputusan untuk tidak membelinya sejak awal. Konsep endowment effect banyak digunakan untuk menjelaskan bagaimana kepemilikan dapat memengaruhi penilaian seseorang terhadap benda.
Jadi, persoalannya bukan selalu “barang ini masih berguna atau tidak?”, tetapi juga “apa arti barang ini bagi saya?”
Ada juga rasa takut menyesal setelah membuang
Bayangkan dua kemungkinan.
Jika barang dibuang dan ternyata suatu hari dibutuhkan, muncul penyesalan karena benda tersebut sudah tidak ada.
Sebaliknya, jika barang tetap disimpan dan ternyata tidak pernah digunakan, kerugiannya terasa lebih samar. Barang hanya mengambil sedikit ruang dan seolah tidak menuntut keputusan apa pun.
Pilihan kedua sering terasa lebih aman.
Karena itu, menyimpan menjadi keputusan yang mudah ditunda. Tidak perlu menentukan sekarang. Tidak perlu mengambil risiko salah membuang. Barang cukup dikembalikan ke laci atau lemari.
Namun, keputusan yang terus ditunda dapat berubah menjadi tumpukan kecil yang semakin sulit dikelola.
Beda antara menyimpan kenangan dan menyimpan terlalu banyak barang
Ada perbedaan penting yang perlu diperhatikan.
Memiliki beberapa benda sentimental atau menyimpan barang karena masih berguna merupakan bagian normal dari kehidupan rumah tangga. Penelitian juga menunjukkan bahwa keterikatan emosional terhadap benda dapat terjadi pada orang yang tidak memiliki gangguan menimbun.
Sementara itu, hoarding disorder merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai kesulitan menetap untuk membuang atau berpisah dari barang hingga penumpukan tersebut mengganggu penggunaan ruang dan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, rumah yang memiliki banyak barang tidak otomatis berarti seseorang mengalami hoarding disorder.
Konteks, tingkat kesulitan berpisah dengan barang, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari menjadi hal yang berbeda untuk setiap orang.
Baca Juga: Belakang Pintu Kamar Bisa Jadi Ruang Simpan, Begini Cara Menata Gantungan Tanpa Membuat Ruang Sempit
Bagaimana membuat barang tetap punya cerita tanpa memenuhi rumah?
Menata barang tidak harus selalu dimulai dengan membuang semuanya.
Salah satu pendekatan yang lebih ringan adalah memisahkan barang berdasarkan alasan mengapa benda tersebut masih disimpan.
Pertama, barang yang memang masih digunakan.
Kedua, barang yang memiliki nilai sentimental.
Ketiga, barang yang sebenarnya disimpan karena “siapa tahu nanti diperlukan”.
Keempat, barang yang sudah lama tidak digunakan dan tidak memiliki fungsi maupun nilai pribadi yang jelas.
Pembagian sederhana ini membantu melihat isi rumah dengan lebih jernih. Benda sentimental tidak harus diperlakukan sama dengan kabel lama yang tidak diketahui lagi kegunaannya.
Untuk barang yang benar-benar memiliki cerita, pilih beberapa benda yang paling bermakna. Kenangan tidak harus diwakili oleh seluruh benda yang pernah menjadi bagian dari sebuah masa.
Coba tanyakan tiga hal sebelum menyimpan barang lagi
-
Kapan terakhir kali benda ini digunakan?
-
Jika benda ini hilang besok, apa yang sebenarnya akan terasa hilang: fungsinya atau kenangannya?
-
Apakah ada alasan konkret benda ini akan digunakan dalam waktu yang masuk akal?
Pertanyaan tersebut bukan aturan mutlak. Fungsinya hanya membantu membuat keputusan lebih sadar.
Untuk barang sentimental, foto juga dapat menjadi cara menyimpan catatan visual tanpa harus mempertahankan seluruh benda. Namun, untuk benda tertentu yang memang memiliki nilai keluarga atau budaya, menyimpannya tetap bisa menjadi pilihan yang bermakna.
Rumah bukan gudang masa lalu
Pada akhirnya, rumah memang menjadi tempat menyimpan banyak bagian kehidupan.
Ada barang yang dibeli karena kebutuhan, hadiah yang menyimpan cerita, benda yang pernah menemani perjalanan, sampai barang yang bertahan hanya karena pemiliknya belum siap mengatakan “cukup”.
Karena itu, merapikan rumah bukan sekadar mencari ruang kosong. Ada proses memilah antara fungsi, kenangan, kebutuhan, dan rasa memiliki.
Barang boleh tinggal karena memang berarti. Tetapi tidak semua benda harus tinggal hanya karena pernah berarti.
Kalau ada satu laci di rumah yang isinya penuh benda dengan status “nanti saja”, mungkin ini waktunya membuka laci tersebut dan melihat ceritanya satu per satu, Ces!
Baca Juga: Serasa Menjelajah Alam Semesta! 6 Inspirasi Kamar Bertema Astronomi yang Unik dan Menenangkan
Poin Penting
-
Keterikatan emosional terhadap barang merupakan hal yang dapat dialami banyak orang.
-
Nilai sebuah benda tidak selalu ditentukan oleh harga atau fungsi.
-
Kenangan dapat membuat benda lama terasa lebih sulit dilepas.
-
Rasa takut menyesal bisa membuat keputusan membuang barang terus ditunda.
-
Tidak semua kebiasaan menyimpan barang berarti hoarding disorder.
-
Menata barang dapat dimulai dengan memahami fungsi dan makna setiap benda.
Insight Redaksi
Kadang yang memenuhi rumah bukan cuma barang, tetapi cerita yang belum selesai kita putuskan. Ada benda yang memang layak dipertahankan karena punya makna, tetapi ada juga yang bertahan hanya karena keputusan terus ditunda. Jadi, Ces, kalau ada barang yang sudah lama tidak disentuh, coba tanya dulu: yang ingin disimpan sebenarnya bendanya atau kenangannya?
Kalau artikel ini terasa dekat dengan kondisi rumah, bagikan ke orang yang punya satu laci penuh barang dengan status “nanti masih kepakai”. Bisa jadi, setelah membacanya, isi rumah terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya.
Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apakah menyimpan barang lama selalu berarti seseorang sulit move on?
Tidak. Barang dapat disimpan karena fungsi, kenangan, nilai keluarga, kebutuhan masa depan, atau alasan praktis lainnya.
2. Mengapa barang milik sendiri terasa lebih berharga?
Kepemilikan dapat memengaruhi cara seseorang menilai sebuah benda. Fenomena ini antara lain dibahas dalam konsep endowment effect.
3. Apakah semua orang yang rumahnya penuh barang mengalami hoarding disorder?
Tidak. Hoarding disorder memiliki kriteria klinis tertentu dan berkaitan dengan kesulitan membuang barang yang sampai mengganggu kehidupan atau penggunaan ruang.
4. Mengapa barang sentimental lebih sulit dibuang?
Karena benda dapat menjadi pengingat terhadap orang, tempat, pengalaman, atau periode tertentu dalam kehidupan.
5. Apa langkah sederhana untuk mulai menata barang?
Pisahkan barang berdasarkan fungsi, nilai sentimental, kemungkinan penggunaan, dan apakah benda tersebut benar-benar masih memiliki alasan kuat untuk disimpan.