Bukan Otak Rusak, 3 Kebiasaan Ini Bisa Membantu Mengembalikan Fokus Setelah Kebanyakan Scroll

kholiefatul Jannah • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 10:41 WIB
Kebiasaan scrolling berlebihan dapat mengganggu fokus, tetapi tiga latihan sederhana bisa membantu membangun kembali kendali atas perhatian.(BTV/AI)
Kebiasaan scrolling berlebihan dapat mengganggu fokus, tetapi tiga latihan sederhana bisa membantu membangun kembali kendali atas perhatian.(BTV/AI)

Durasi Baca: 6 menit

Ikhtisar: Kebiasaan scrolling berlebihan dapat mengganggu fokus, tetapi tiga latihan sederhana membantu membangun kembali kendali atas perhatian.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kebiasaan menghabiskan waktu dengan konten pendek dan scrolling tanpa tujuan dapat membuat fokus harian terasa menurun dan waktu cepat berlalu tanpa terasa.

Pernah baru membuka HP sebentar, lalu tiba-tiba sudah satu jam berlalu? Kalau pola ini mulai sering terjadi, ada tiga kebiasaan yang bisa dicoba untuk melatih kembali perhatian.

“Brain rot” sebenarnya bukan otak yang membusuk

Istilah brain rot ramai digunakan untuk menggambarkan kebiasaan mengonsumsi konten online yang dianggap ringan, tidak menantang, atau berlebihan. Oxford kemudian memasukkan istilah tersebut ke dalam Oxford English Dictionary, tetapi maknanya bukan diagnosis bahwa jaringan otak seseorang benar-benar “membusuk”.

Yang lebih masuk akal untuk diperhatikan justru kebiasaannya. Ketika waktu luang hampir selalu diisi scrolling, seseorang bisa semakin terbiasa berpindah perhatian dari satu konten ke konten lain.

Persoalannya bukan sekadar berapa lama layar menyala. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah berjam-jam melihat layar, apakah perhatian masih mudah diarahkan ke hal yang memang ingin dikerjakan?

Dari sinilah tiga latihan berikut menjadi relevan.

1. Latih perhatian dengan mindfulness

Mindfulness tidak harus berarti duduk lama dengan posisi tertentu. Latihan sederhananya adalah memilih satu objek perhatian, lalu berusaha tetap menyadarinya tanpa terus mengikuti gangguan yang muncul.

Dalam materi video, objek tersebut bisa berupa napas, suara di sekitar, atau sensasi sentuhan pada jari. Atur waktu sekitar 5–10 menit. Ketika pikiran beralih ke hal lain, perhatian diarahkan kembali secara perlahan.

Bagian pentingnya justru bukan berhasil “mengosongkan pikiran”. Pikiran yang melayang adalah hal yang wajar. Latihannya berada pada proses menyadari bahwa perhatian sudah berpindah, kemudian mengembalikannya.

Riset tentang mindfulness memang menunjukkan hasil yang menjanjikan, tetapi manfaatnya tidak boleh dibesar-besarkan. Meta-analisis 111 uji acak terkontrol menemukan efek kecil hingga sedang pada beberapa aspek kognitif, termasuk perhatian berkelanjutan dan beberapa ukuran fungsi eksekutif. Namun, hasilnya berbeda menurut jenis kemampuan kognitif dan kelompok pembanding.

Jadi, mindfulness lebih tepat dilihat sebagai latihan mengelola perhatian, bukan tombol instan untuk memperbaiki semua masalah konsentrasi.

Baca Juga: Sering Bingung Mau Masak Apa? Ini 7 Trik Menyiapkan Menu Harian agar Tidak Boros

2. Tukar sebagian waktu scrolling dengan membaca

Scrolling memberi rangsangan yang datang silih berganti. Membaca bekerja dengan ritme yang berbeda karena pembaca perlu mengikuti informasi secara berurutan, memahami konteks, lalu menghubungkan bagian-bagian yang sudah dibaca.

Itulah sebabnya membaca bisa menjadi latihan yang menarik ketika perhatian mulai mudah terpecah.

Tidak perlu langsung memasang target puluhan halaman setiap hari. Pilih buku yang memang membuat penasaran. Bisa novel misteri, psikologi populer, sejarah, kebiasaan manusia, teknologi, atau topik apa pun yang membuat tangan lebih memilih membuka buku daripada membuka aplikasi.

Riset tentang membaca fiksi juga menemukan hubungan positif berukuran kecil dengan sejumlah manfaat kognitif, meski peneliti menekankan bahwa efeknya tidak besar dan hasilnya berbeda berdasarkan kemampuan yang diukur.

Jadi, anggapan bahwa membaca adalah “gym untuk otak” boleh dipakai sebagai gambaran sederhana, tetapi bukan berarti membaca otomatis membuat seseorang lebih cerdas dalam semua hal.

Yang lebih realistis: membaca memberi otak kesempatan untuk bertahan lebih lama pada satu alur informasi.

3. Jangan biarkan waktu luang diatur algoritma

Masalah lain sering muncul ketika hari berjalan tanpa batas waktu yang jelas. Ada waktu kerja, waktu belajar, waktu istirahat, tetapi tidak ada batas yang tegas kapan HP harus berhenti mengambil perhatian.

Di sinilah time blocking bisa digunakan.

Misalnya, pagi hingga menjelang siang ditetapkan sebagai zona fokus. Selama periode tersebut, pekerjaan utama, belajar, membaca, atau aktivitas penting dikerjakan tanpa membuka media sosial secara impulsif.

Setelah zona fokus selesai, barulah tersedia waktu untuk bersantai atau mengecek media sosial.

Cara ini bukan berarti seluruh hari harus dibuat kaku. Justru batas waktu membantu membedakan kapan sedang memilih hiburan dan kapan sedang terseret ke dalamnya.

Penelitian lapangan terhadap pekerja informasi juga menemukan bahwa pemblokiran distraksi daring membuat peserta melaporkan produktivitas lebih tinggi dan mampu fokus lebih lama. Namun, penelitian tersebut juga menemukan bahwa respons tiap orang berbeda dan pembatasan distraksi perlu tetap memberi ruang untuk istirahat.

Baca Juga: Bikin Buket Sendiri di Rumah? Ini 6 Trik Menata Bunga agar Rapi dan Tampil Profesional

Jangan mengejar “detoks otak” dalam semalam

Tiga cara tadi tidak perlu dilakukan sekaligus dengan target ekstrem.

Justru perubahan kecil lebih mudah dijadikan kebiasaan. Misalnya, mulai dari lima menit mindfulness, membaca beberapa halaman, lalu menetapkan satu blok waktu tanpa scrolling setiap hari.

Ada satu hal yang juga penting: jangan langsung menganggap sulit fokus sebagai tanda brain rot. Istilah tersebut adalah istilah populer untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap konsumsi konten digital berlebihan, bukan diagnosis medis bahwa otak mengalami kerusakan. Oxford sendiri mencatat tidak ada bukti bahwa otak benar-benar mengalami kemunduran secara langsung hanya karena perilaku tersebut.

Kalau kesulitan konsentrasi terasa menetap dan mulai mengganggu pekerjaan, belajar, tidur, atau aktivitas sehari-hari, persoalannya bisa jauh lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan scrolling.

Istilah brain rot bukan diagnosis medis; perubahan kecil seperti mindfulness, membaca, dan waktu tanpa scrolling bisa membantu menjaga fokus.(BTV/AI)
Istilah brain rot bukan diagnosis medis; perubahan kecil seperti mindfulness, membaca, dan waktu tanpa scrolling bisa membantu menjaga fokus.(BTV/AI)

Tiga latihan, satu tujuan: mengambil kembali kendali perhatian

Pada akhirnya, ketiga cara ini punya benang merah yang sama. Mindfulness melatih kemampuan mengembalikan perhatian, membaca memberi ruang untuk mengikuti informasi secara lebih mendalam, sedangkan time blocking membantu menentukan kapan perhatian digunakan untuk pekerjaan atau hiburan.

Jadi, bukan soal membuang HP atau menghilangkan media sosial sepenuhnya.

Yang perlu dilatih adalah kemampuan untuk berkata, “Sekarang saya memilih melakukan ini,” bukan baru berhenti setelah algoritma selesai membawa perhatian ke mana-mana.

Poin Penting

Insight Redaksi

Masalahnya bukan HP semata, melainkan siapa yang memegang kendali atas perhatian. Di Balikpapan, ritme kerja dan perjalanan harian bisa sama-sama padat. Kalau waktu senggang selalu habis untuk scroll, ruang untuk berpikir ikut mengecil. Pelan-pelan saja. Yang penting, jangan sampai algoritma lebih rajin mengatur hari daripada diri sendiri.

Mulai dari lima menit tanpa scroll, baca beberapa halaman, lalu bikin satu blok waktu fokus yang realistis. Biar santai, asal konsisten dan terasa jalan.

Kalau ingin tetap dapat insight kebiasaan digital dan informasi terbaru yang dekat dengan keseharian, pantau terus Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apakah brain rot berarti otak benar-benar rusak?

Tidak. Brain rot merupakan istilah populer untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap konsumsi konten online yang berlebihan atau tidak menantang, bukan diagnosis medis kerusakan otak.

2. Berapa lama mindfulness perlu dilakukan?

Materi sumber menyarankan latihan sederhana sekitar 5–10 menit dengan satu objek perhatian. Durasi tersebut dapat menjadi titik awal, bukan aturan medis yang wajib diikuti.

3. Apakah membaca otomatis membuat otak lebih pintar?

Tidak otomatis. Penelitian menunjukkan adanya hubungan atau efek positif kecil pada sejumlah kemampuan kognitif, tetapi manfaatnya bergantung pada jenis bacaan dan kemampuan yang diukur.

4. Apa fungsi time blocking?

Time blocking membagi hari menjadi blok waktu dengan tujuan tertentu. Cara ini membantu memberi batas antara waktu fokus, istirahat, dan hiburan sehingga aktivitas tidak berjalan sepenuhnya secara impulsif.

5. Apakah harus berhenti menggunakan media sosial?

Tidak harus. Fokus utamanya adalah membangun kendali atas kapan dan untuk apa media sosial digunakan, bukan menghapus seluruh aktivitas digital.

Sumber Informasi:

Informasi ini telah tayang sebelumnya di YouTube Pertajam Pola Pikir, dengan judul “OTAK LU UDAH DIRUSAK, INI CARA BENERINNYA.” Dipublikasikan kembali dengan penyesuaian angle dan style artikel Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
time blocking Brain rot fokus Mindfulness