Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: Piring keramik bermotif dapat menjadi dekorasi dinding yang membuat ruang makan terasa lebih personal, hangat, dan tidak monoton.
Balikpapan TV - Hai Ces! Piring biasanya punya tempat tetap di lemari, menunggu waktunya dipakai untuk makan. Padahal, piring keramik bermotif, terutama yang punya corak tradisional atau warna menarik, bisa punya peran lain sebagai dekorasi ruang makan.
Daripada semua piring disusun bertumpuk di dalam lemari, beberapa di antaranya bisa dipajang berkelompok di dinding. Cara ini membuat benda yang sehari-hari dianggap sebagai peralatan makan berubah menjadi bagian dari cerita visual sebuah ruangan.
Kenapa Piring Bisa Jadi Dekorasi?
Dekorasi rumah tidak selalu harus berupa lukisan, poster, atau hiasan khusus yang sejak awal dibuat untuk ditempel di dinding. Benda yang sudah ada di rumah juga bisa dimanfaatkan selama bentuk dan tampilannya mendukung ruang.
Piring punya kelebihan pada bentuknya yang relatif sederhana. Lingkaran, motif, warna, dan ukuran yang berbeda bisa disusun menjadi komposisi yang menarik tanpa membuat dinding terasa terlalu formal.
Pilihan ini juga cocok untuk ruang makan yang ingin memiliki karakter lebih kuat. Apalagi jika piring yang digunakan memiliki motif tradisional, corak etnik, atau warna yang mengingatkan pada suasana rumah lama.
Bukan berarti seluruh koleksi harus dikeluarkan dari lemari. Justru, pilih beberapa piring yang paling menarik untuk menjadi titik perhatian.
Pilih Piring yang Punya Cerita
Piring dekoratif akan terasa lebih personal jika tidak dipilih hanya berdasarkan warna.
Coba lihat kembali koleksi yang sudah dimiliki. Bisa jadi ada piring lama dengan motif yang berbeda dari piring lainnya, oleh-oleh dari daerah tertentu, piring keramik buatan pengrajin, atau benda yang memiliki kenangan tersendiri.
Piring seperti ini memiliki nilai visual sekaligus cerita.
Ruang makan akhirnya tidak hanya terlihat lebih ramai, tetapi juga memiliki elemen yang terasa dekat dengan pemilik rumah. Dekorasi tidak harus selalu mahal untuk membuat ruangan terasa punya karakter.
Kalau ada beberapa piring dengan warna senada, kelompokkan bersama. Jika motifnya sangat kuat, jadikan satu piring sebagai pusat perhatian dan gunakan piring lain sebagai pendamping.
Baca Juga: Kamar Anak Jadi Lebih Seru! 5 Inspirasi Dekorasi Kamar Animasi dengan Karakter Favorit
Jangan Semua Piring Dipasang Sekaligus
Salah satu kesalahan yang mudah terjadi adalah ingin memajang terlalu banyak piring dalam satu bidang dinding.
Padahal, komposisi yang menarik justru membutuhkan ruang untuk bernapas. Dinding tidak harus penuh agar terlihat dekoratif.
Mulailah dengan tiga sampai lima piring. Letakkan ukuran yang berbeda agar susunannya tidak terlihat seperti barisan benda yang sengaja dibuat terlalu simetris.
Piring berukuran besar bisa menjadi titik utama. Di sekelilingnya, letakkan piring yang lebih kecil dengan jarak yang cukup.
Kalau jumlah piring cukup banyak, buat komposisi secara bertahap. Tempelkan beberapa bagian terlebih dahulu, kemudian lihat kembali dari jarak beberapa meter.
Dari sini bisa terlihat apakah susunan sudah seimbang atau justru terlalu berat di salah satu sisi.
Motif Tradisional Justru Bisa Jadi Pemanis
Piring dengan motif tradisional sering dianggap terlalu klasik untuk rumah dengan gaya modern. Padahal, perpaduan keduanya justru bisa menghasilkan tampilan yang lebih menarik.
Dinding ruang makan dengan warna netral dapat menjadi latar yang membuat motif pada piring lebih menonjol. Warna putih, krem, kayu, atau warna lembut juga memberi ruang bagi corak piring untuk tampil tanpa terasa bertabrakan.
Untuk rumah bergaya Japandi atau minimalis, misalnya, tidak semua benda harus polos. Satu kelompok piring bermotif dapat menjadi aksen yang membuat ruangan terasa lebih hidup.
Kuncinya bukan menghilangkan motif, tetapi mengatur jumlah dan komposisinya.
Baca Juga: Belakang Pintu Kamar Bisa Jadi Ruang Simpan, Begini Cara Menata Gantungan Tanpa Membuat Ruang Sempit
Bagaimana Menentukan Susunan yang Enak Dilihat?
Ada beberapa pola sederhana yang bisa dicoba sebelum piring benar-benar dipasang.
Pola mengelompok.
Beberapa piring dengan ukuran berbeda dikumpulkan dalam satu area. Pola ini cocok untuk membuat satu bidang dinding menjadi pusat perhatian.
Pola bertingkat.
Piring besar ditempatkan di bagian tengah atau bawah, kemudian piring berukuran lebih kecil mengikutinya. Susunan ini memberikan kesan visual yang lebih dinamis.
Pola tidak terlalu simetris.
Tidak semua piring harus berada dalam garis yang sama. Sedikit perbedaan posisi dapat membuat tampilan terasa lebih santai dan tidak seperti pajangan toko.
Sebelum memasang, letakkan piring di lantai mengikuti bentuk dinding yang diinginkan. Cara sederhana ini membantu melihat komposisi tanpa harus berkali-kali memindahkan pajangan.
Dinding Mana yang Cocok?
Ruang makan menjadi pilihan paling mudah karena piring masih berhubungan langsung dengan aktivitas di ruangan tersebut.
Dinding di belakang meja makan bisa digunakan sebagai titik utama. Jika area tersebut cukup kosong, kelompok piring dapat mengisi bidang yang sebelumnya terasa terlalu polos.
Namun, jangan berhenti di ruang makan. Piring dekoratif juga dapat digunakan pada area dapur yang memiliki dinding kosong, sudut ruang keluarga, atau area transisi yang membutuhkan aksen visual.
Yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara pajangan dengan benda di sekitarnya.
Jika meja makan sudah memiliki banyak dekorasi, susunan piring sebaiknya dibuat lebih sederhana. Sebaliknya, dinding yang kosong dapat menampung komposisi yang sedikit lebih berani.
Pastikan Pemasangannya Tidak Asal
Piring memang terlihat ringan ketika hanya diletakkan di meja. Tetapi ketika dipasang di dinding, sistem penyangganya perlu diperhatikan.
Gunakan pengait atau dudukan yang memang sesuai untuk pajangan piring dan pastikan pemasangannya kuat. Hindari menempelkan piring dengan cara seadanya, terutama jika dinding berada di area yang sering dilewati.
Pertimbangkan juga posisi meja, kursi, pintu, serta aktivitas sehari-hari di ruangan tersebut.
Dekorasi yang menarik tetap harus masuk akal untuk kehidupan sehari-hari. Jangan sampai pajangan justru mudah tersenggol ketika kursi ditarik atau meja sedang digunakan.
Baca Juga: Agus Sulistriyono Soroti Nusron dan Raja Juli, Evaluasi Menteri Dinilai Tak Harus Menunggu Vonis
Kalau Bosan, Komposisinya Bisa Diganti
Salah satu keuntungan menggunakan piring sebagai dekorasi adalah tampilannya tidak harus permanen.
Ketika suasana rumah mulai terasa monoton, susunan piring bisa diubah. Piring yang sebelumnya berada di tengah dapat dipindahkan ke sisi lain, sementara koleksi lain bisa dimasukkan sebagai aksen.
Cara ini membuat dekorasi rumah terasa lebih fleksibel tanpa harus membeli banyak benda baru.
Bagi yang suka mengubah suasana rumah, koleksi piring bahkan bisa dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan warna atau tema. Saat ingin tampilan yang lebih hangat, gunakan piring bernuansa tanah. Ketika ingin suasana lebih ringan, pilih kelompok dengan warna yang lebih terang.
Dekorasi akhirnya tidak hanya soal membeli barang baru, tetapi juga melihat kembali benda lama dengan cara berbeda.
Piring Lama Bisa Mendapat Peran Baru
Ada kepuasan tersendiri ketika benda yang sebelumnya hanya tersimpan di lemari akhirnya memiliki tempat di ruang yang terlihat setiap hari.
Piring bermotif tradisional dapat membawa nuansa nostalgia. Piring dengan warna cerah bisa membuat dinding yang polos terasa lebih hidup. Sementara piring dengan desain sederhana dapat membantu menciptakan aksen tanpa membuat ruangan kehilangan kesan tenang.
Yang penting, jangan mengejar tampilan sempurna sampai semua harus seragam.
Justru sedikit perbedaan ukuran, motif, dan warna bisa membuat susunan terlihat lebih personal. Rumah tidak harus seperti ruang pamer. Ada baiknya dekorasi tetap memperlihatkan karakter orang yang tinggal di dalamnya.
Poin Penting
-
Piring keramik bermotif dapat digunakan sebagai dekorasi dinding ruang makan.
-
Pilih piring berdasarkan motif, warna, ukuran, atau nilai personal.
-
Tidak perlu memajang seluruh koleksi; beberapa piring sudah cukup menjadi aksen.
-
Campurkan ukuran berbeda agar susunan tidak terlihat monoton.
-
Gunakan dinding kosong sebagai area utama untuk membuat komposisi.
-
Pastikan pengait dan dudukan sesuai agar pajangan tetap aman.
-
Sisakan ruang agar dinding tidak terasa terlalu penuh.
-
Komposisi piring dapat diganti ketika suasana rumah mulai terasa membosankan.
Insight Redaksi
Piring pajangan bukan sekadar cara mengisi dinding kosong. Di rumah Kalimantan yang dekat dengan budaya kerajinan dan benda warisan, motif lama justru bisa menjadi aksen modern. Tidak perlu semuanya seragam. Sedikit perbedaan membuat ruang makan terasa lebih punya cerita. Yang penting, jangan sampai estetika mengalahkan fungsi dan keamanan sehari-hari.
Kalau ada piring lama yang masih bagus, jangan buru-buru disimpan terus. Coba pilih beberapa, susun santai, lalu lihat bagaimana ruang makan berubah.
Bagikan ide ini ke keluarga atau teman yang sedang cari cara bikin rumah lebih berkarakter tanpa belanja banyak barang.
Punya benda lama yang masih kece? Jadikan bagian dari dekorasi, dan temukan inspirasi rumah lainnya bersama Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apakah semua jenis piring bisa dijadikan dekorasi dinding?
Tidak harus. Pilih piring yang memiliki bentuk, motif, warna, atau nilai personal yang memang ingin ditampilkan.
2. Berapa banyak piring yang sebaiknya dipajang?
Tidak ada jumlah yang wajib. Untuk memulai, beberapa piring dalam satu kelompok sudah cukup, kemudian sesuaikan dengan luas dinding.
3. Apakah piring bermotif tradisional cocok untuk rumah modern?
Cocok. Motif tradisional dapat menjadi aksen pada ruangan modern, terutama ketika warna dan jumlah pajangan diatur dengan baik.
4. Apakah susunan piring harus simetris?
Tidak. Susunan yang sedikit asimetris justru dapat memberikan kesan lebih santai dan personal selama komposisinya tetap seimbang.
5. Apa yang harus diperhatikan sebelum memasang piring?
Perhatikan kekuatan pengait atau dudukan, posisi dinding, serta kemungkinan pajangan tersenggol oleh aktivitas di sekitar ruang tersebut.
Editor : Arya Kusuma