Jangan Cuma Lihat Model, Ini Cara Memilih Helm yang Aman untuk Dipakai Harian

Arya Kusuma • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 11:32 WIB
Ilustrasi pengendara sepeda motor menggunakan helm full face yang terpasang dengan benar saat melintas di kawasan perkotaan Balikpapan.
Ilustrasi pengendara sepeda motor menggunakan helm full face yang terpasang dengan benar saat melintas di kawasan perkotaan Balikpapan.

Topik: Panduan memilih helm motor harian berdasarkan standar keselamatan, ukuran, perlindungan, dan kenyamanan

Durasi Baca: 6 menit

 

Ikhtisar: Helm untuk aktivitas harian bukan sekadar aksesori berkendara. Standar keselamatan, ukuran yang sesuai, sistem penguncian, cakupan perlindungan, ventilasi, serta kondisi fisik helm menjadi bagian penting yang perlu diperiksa sebelum membeli.

Balikpapan TV - Hai Ces!

Pagi hari berangkat kerja, mengantar anak, pergi kuliah, atau sekadar membeli kebutuhan di ujung jalan. Sepeda motor sering menjadi pilihan paling praktis untuk mobilitas sehari-hari.

Karena sudah menjadi rutinitas, perlengkapan keselamatan kadang justru dipilih secara terburu-buru. Warna cocok, desain keren, harga masuk, lalu helm dibawa pulang.

Padahal ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah helm tersebut benar-benar sesuai untuk melindungi kepala ketika terjadi benturan?

Pertanyaan ini makin relevan karena risiko kecelakaan tidak mengenal jarak perjalanan. Korlantas Polri mencatat 56.510 kecelakaan lalu lintas terjadi pada Januari hingga April 2026, atau rata-rata sekitar 462 kejadian setiap hari. Sepanjang 2025, jumlah kecelakaan tercatat 158.508 kasus.

Pendiri sekaligus Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengingatkan bahwa pemilihan perlengkapan berkendara tidak semestinya berhenti pada urusan penampilan.

“Dalam memilih pelindung kepala untuk penggunaan sehari-hari, pengendara sering kali hanya terpaku pada faktor estetika atau model semata, padahal ada aspek krusial lain yang menentukan tingkat keamanan di jalan raya.”

Pernyataan Jusri tersebut disampaikan pada 5 Oktober 2026 dan menjadi pengingat bahwa helm harian seharusnya dipilih berdasarkan kebutuhan perlindungan, bukan hanya tampilan.

Helm SNI Bukan Sekadar Logo di Batok

Di Indonesia, penggunaan helm bagi pengendara dan penumpang sepeda motor merupakan kewajiban hukum. Pasal 106 ayat (8) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mewajibkan penggunaan helm yang memenuhi Standar Nasional Indonesia atau SNI.

Korlantas Polri kembali menegaskan ketentuan tersebut pada 2026. Pelanggaran terhadap ketentuan penggunaan helm SNI dapat dikenai sanksi berupa kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp250.000.

Dari sisi standar, SNI 1811:2007 tentang Helm pengendara kendaraan bermotor roda dua masih tercatat berstatus berlaku di Badan Standardisasi Nasional. BSN juga mencatat amendemen SNI 1811-2007/Amd1:2010 sebagai standar terkait yang berstatus berlaku.

Artinya, ketika memilih helm untuk penggunaan di Indonesia, keberadaan standar yang sesuai bukan sekadar pelengkap administrasi. Standar berkaitan dengan persyaratan dan pengujian yang dirancang untuk memastikan helm memenuhi karakteristik keselamatan tertentu.

Selain SNI, pembeli juga mungkin menemukan helm dengan penandaan standar internasional seperti DOT atau ECE. Namun ketiganya tidak boleh dianggap sebagai sistem sertifikasi yang persis sama.

Di Amerika Serikat, misalnya, standar DOT mengacu pada Federal Motor Vehicle Safety Standard atau FMVSS No. 218. NHTSA menjelaskan bahwa sistem tersebut menggunakan mekanisme self-certification oleh produsen, sementara pemerintah dapat melakukan pengujian terhadap helm yang beredar dan mengambil tindakan apabila ditemukan ketidaksesuaian.

Jadi, jangan berhenti pada tulisan besar “DOT” di kemasan. Penandaan dan keaslian produk juga perlu diperhatikan.

Baca Juga: Cara Membersihkan Nat Lantai Kamar Mandi Menghitam, Bukan Sekadar Disikat

Ukuran Pas Lebih Penting daripada Sekadar Terasa Nyaman

Helm yang aman tidak boleh terlalu longgar. Namun terlalu sempit juga bukan pilihan yang tepat.

NHTSA menyarankan pengukuran lingkar kepala dilakukan menggunakan pita ukur yang melewati area sedikit di atas alis dan bagian kepala yang paling tebal. Hasil pengukuran kemudian dicocokkan dengan tabel ukuran dari produsen helm.

Yang sering dilupakan adalah bentuk kepala.

Dua orang dengan lingkar kepala sama belum tentu cocok menggunakan model helm yang sama. Ada bentuk kepala yang lebih bulat, oval sedang, atau oval memanjang. Karena itu, mencoba helm secara langsung sebelum membeli menjadi langkah yang penting.

Helm yang tepat seharusnya terasa cukup rapat dengan tekanan yang merata, tetapi tidak menimbulkan titik tekanan yang menyakitkan.

NHTSA bahkan menyarankan calon pengguna mencoba mengenakan helm selama sekitar 30–45 menit untuk mengetahui apakah muncul titik tekanan yang sebelumnya tidak terasa. Helm yang benar juga tidak seharusnya mudah bergerak ketika kepala digoyangkan.

Jadi, ukuran “L” atau “XL” di kotak bukanlah jawaban akhir. Kepala manusia, seperti biasa, menolak mengikuti tabel yang terlalu sederhana.

Full Face atau Open Face, Mana yang Lebih Cocok?

Jenis helm juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan.

Full face memberikan cakupan perlindungan lebih luas karena mencakup bagian kepala, wajah, dan dagu. NHTSA mencatat helm full face memiliki karakteristik yang mendukung perlindungan sekaligus kenyamanan, termasuk desain aerodinamis dan ventilasi.

Sementara itu, helm half atau open face memiliki cakupan perlindungan lebih terbatas karena tidak mempunyai pelindung dagu.

Pilihan tersebut perlu dikaitkan dengan pola penggunaan.

Bagi pengendara yang melakukan perjalanan rutin dengan jarak lebih jauh atau sering melintasi jalan dengan kecepatan lebih tinggi, cakupan perlindungan menjadi pertimbangan yang semakin penting.

Dalam konteks penggunaan harian, pertanyaan yang lebih tepat bukan “helm mana yang paling keren?”, melainkan seberapa besar bagian kepala dan wajah yang ingin dilindungi dan untuk kondisi berkendara seperti apa helm tersebut digunakan?

Baca Juga: Barang di Rumah Sering Hilang? Bikin “Stasiun Pulang” agar Tak Buang Waktu Mencari

Ventilasi Penting untuk Perjalanan di Cuaca Panas

Helm yang aman tetapi membuat kepala terasa sangat panas sepanjang perjalanan juga dapat mengurangi kenyamanan berkendara.

Ventilasi membantu mengalirkan udara ke dalam dan keluar dari helm. Faktor ini menjadi relevan untuk mobilitas di wilayah dengan suhu dan kelembapan tinggi.

WHO dalam panduannya mengenai helm sepeda motor juga menempatkan kenyamanan dan ventilasi sebagai bagian yang perlu diperhatikan dalam penggunaan helm, terutama dalam kondisi iklim panas dan lembap.

Untuk perjalanan harian, ventilasi yang baik dapat membantu mengurangi rasa gerah sehingga helm lebih nyaman digunakan dalam waktu lama.

Namun ventilasi tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan perlindungan. Helm tetap perlu memenuhi standar dan memiliki konstruksi yang sesuai.

Tali Dagu Harus Benar-Benar Dikunci

Salah satu kesalahan yang terlihat sederhana tetapi penting adalah menggunakan helm tanpa mengunci tali dagu dengan benar.

Kombes Pol. Wisnu dari Korlantas Polri mengingatkan bahwa helm bukan sekadar diletakkan di kepala.

“Helm itu bukan hanya seperti topi ditaruh gitu saja.”

Ia kemudian menekankan pentingnya memastikan helm terpasang dan terkunci dengan benar.

Pesannya sederhana: helm yang tidak terikat dengan benar dapat kehilangan fungsi perlindungannya ketika terjadi benturan.

Hal yang perlu diperiksa sebelum membeli antara lain:

Korlantas juga mengingatkan masyarakat agar memastikan kondisi helm masih baik dan tali pengaman berfungsi sebelum digunakan.

Baca Juga: Sering Lupa Bawa Barang? Siapkan Keranjang 'Besok' Sebelum Tidur

Jangan Menganggap Jarak Dekat Berarti Aman

“Cuma ke warung.”
“Dekat saja.”
“Sebentar juga sampai.”

Alasan seperti itu justru menjadi salah satu kebiasaan yang disoroti Korlantas Polri pada 2026.

Dalam edukasi keselamatan yang dilakukan pada Juli 2026, Korlantas mencatat masih menemukan pengendara yang tidak menggunakan helm karena merasa perjalanan terlalu dekat.

Briptu Ecklesia mengingatkan:

“Mau bepergian sejauh atau sedekat apa pun, kalau sudah berkendara menggunakan sepeda motor, pastikan memakai helm.”

Pesannya bukan soal seberapa jauh perjalanan, tetapi soal membangun kebiasaan keselamatan setiap kali sepeda motor digunakan.

Risiko kecelakaan tidak menunggu perjalanan panjang. Benturan dapat terjadi beberapa menit setelah kendaraan meninggalkan rumah.

Karena itu, helm seharusnya diperlakukan seperti sabuk pengaman pada mobil: bagian dari rutinitas sebelum kendaraan bergerak.

Lima Menit Memilih Helm Bisa Lebih Berarti daripada Lima Menit Memilih Warna

Sebelum membeli helm baru, ada pemeriksaan sederhana yang bisa dilakukan.

Pertama, periksa standarnya. Pastikan helm memenuhi ketentuan yang berlaku dan penanda standarnya dapat diverifikasi.

Kedua, ukur kepala. Jangan hanya mengandalkan ukuran helm yang biasa digunakan.

Ketiga, coba langsung. Kenakan helm dan rasakan apakah tekanannya merata.

Keempat, gerakkan kepala. Helm seharusnya tidak mudah bergeser ketika kepala digerakkan.

Kelima, periksa tali dagu. Pastikan sistem penguncian berfungsi dan dapat digunakan dengan benar.

Keenam, perhatikan ventilasi. Untuk mobilitas harian di wilayah tropis, sirkulasi udara dapat sangat memengaruhi kenyamanan.

Ketujuh, periksa kondisi fisik. Hindari helm yang batok, busa pelindung, tali, atau bagian penting lainnya sudah rusak.

Yang tidak kalah penting, jangan melakukan modifikasi sembarangan pada bagian dalam helm. NHTSA mengingatkan bahwa perubahan tertentu pada interior dapat memengaruhi integritas helm dan bahkan berdampak pada garansi produk.

Helm yang Baik Adalah Helm yang Dipakai dengan Benar

Pada akhirnya, tidak ada gunanya memiliki helm berstandar tinggi jika ukurannya tidak sesuai, tali dagu tidak dikunci, atau helm hanya digunakan ketika perjalanan dianggap jauh.

Kanit Keamanan dan Keselamatan Satlantas Polres Pamekasan, Ipda Dedy Dwi Purnomo, menyampaikan pesan yang sederhana tetapi relevan:

“Jangan anggap helm ini keharusan karena ada aturan lalu lintas.”

Menurut Dedy, helm digunakan untuk membantu mengurangi risiko ketika kecelakaan terjadi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kampanye keselamatan berlalu lintas pada Oktober 2026.

Di sinilah inti memilih helm untuk mobilitas harian.

Standar memberikan dasar keselamatan. Ukuran memastikan helm dapat berada pada posisi yang tepat. Tali menjaga helm tetap terpasang. Ventilasi membantu kenyamanan. Sementara kedisiplinan penggunaan membuat seluruh perlindungan tersebut benar-benar bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Memilih helm karena warna atau model tentu tidak salah. Namun urutannya perlu dibalik.

Cari perlindungan terlebih dahulu, kemudian pilih gaya yang sesuai.

Sebab setiap perjalanan dengan sepeda motor memiliki tujuan yang sama: bukan sekadar sampai di tempat tujuan, tetapi bisa kembali dengan selamat.

Poin Penting

Buat pengendara motor harian, memilih helm sebenarnya bukan keputusan yang rumit. Yang diperlukan hanya mengubah urutan prioritas: keselamatan dulu, kenyamanan berikutnya, baru gaya.

Karena helm yang benar-benar berguna bukan yang paling menarik ketika dipajang di rak, melainkan yang terpasang pas di kepala ketika perjalanan dimulai.

FAQ

Apakah helm SNI wajib digunakan saat berkendara motor?

Ya. Pengemudi dan penumpang sepeda motor diwajibkan menggunakan helm yang memenuhi SNI berdasarkan ketentuan UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Apakah helm full face lebih aman daripada half face?

Full face memberikan cakupan perlindungan lebih luas karena memiliki pelindung dagu dan wajah. Half atau open face tidak memberikan perlindungan pada bagian dagu.

Bagaimana mengetahui helm terlalu longgar?

Helm terlalu longgar apabila mudah bergerak atau bergeser ketika kepala digerakkan. Helm yang sesuai seharusnya terasa cukup rapat dengan tekanan merata tanpa menimbulkan rasa sakit.

Apakah helm perlu dicoba sebelum membeli?

Sangat disarankan. Bentuk kepala setiap orang berbeda sehingga ukuran yang sama belum tentu memberikan kecocokan yang sama.

Apakah perjalanan dekat tetap membutuhkan helm?

Ya. Korlantas Polri menegaskan penggunaan helm berlaku setiap kali berkendara sepeda motor, termasuk untuk perjalanan dekat.

Apa yang perlu diperiksa pada helm selain standar SNI?

Periksa ukuran, kecocokan bentuk kepala, kondisi batok dan busa, tali dagu, sistem penguncian, visor, serta ventilasi.

Apakah DOT dan ECE sama dengan SNI?

Tidak persis. Ketiganya merupakan standar atau regulasi keselamatan dengan sistem, persyaratan, dan mekanisme penilaian yang berbeda. Karena itu, penjelasannya tidak sebaiknya disederhanakan menjadi satu sistem sertifikasi yang sama.

Sumber Informasi

Badan Standardisasi Nasional (BSN); Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Korlantas Polri); National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA); World Health Organization (WHO); Jusri Pulubuhu, Pendiri sekaligus Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC); Kombes Pol. Wisnu, Korlantas Polri; Briptu Ecklesia; Ipda Dedy Dwi Purnomo, Kanit Kamsel Satlantas Polres Pamekasan.

 

Editor : Arya Kusuma
tips otomotif helm motor Keselamatan berkendara safety riding