6 Trik Mengurangi Barang yang Tidak Terpakai di Rumah, Biar Ruangan Lebih Lega dan Mudah Dirawat

Amellinda Nur Aini • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 10:23 WIB
Rumah minimalis terasa lega saat pemilik memilah pakaian, buku, kotak, dan barang rumah tangga usang (BTV/AI)
Rumah minimalis terasa lega saat pemilik memilah pakaian, buku, kotak, dan barang rumah tangga usang (BTV/AI)

Durasi Baca: 8 Menit

Ikhtisar: Enam trik sederhana membantu memilah barang, mengurangi penumpukan, dan membuat rumah terasa lebih lega tanpa harus membuang semuanya.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Barang yang menumpuk di rumah sering berasal dari benda yang jarang digunakan, tetapi terus disimpan karena merasa masih akan membutuhkannya suatu hari. Kondisi ini dapat membuat ruang penyimpanan cepat penuh dan aktivitas sehari-hari terasa kurang praktis.

Masalahnya, mengurangi barang bukan sekadar mengambil benda lalu memasukkannya ke kantong sampah. Ada barang yang masih layak digunakan, memiliki nilai sentimental, bisa disumbangkan, atau justru masih dibutuhkan pada waktu tertentu. Karena itu, proses decluttering perlu dilakukan dengan keputusan yang jelas.

Yuk, mulai dari enam trik berikut:

1. Mulai dari Barang yang Paling Mudah Diputuskan

Kesalahan yang sering terjadi saat ingin merapikan rumah adalah langsung menyerang area yang paling sulit, seperti lemari pakaian penuh, gudang, atau kotak berisi barang kenangan.

Padahal, proses mengurangi barang akan terasa lebih ringan jika dimulai dari benda yang keputusan akhirnya sudah jelas.

Misalnya, kemasan kosong, kabel rusak, wadah yang sudah tidak layak, alat tulis yang tidak berfungsi, pakaian yang sudah tidak bisa digunakan, atau barang yang memang sudah lama menunggu untuk diperbaiki tetapi tidak pernah dikerjakan.

Buat tiga kelompok sederhana: simpan, keluarkan, dan pikirkan kembali.

Kelompok “simpan” berisi barang yang memang digunakan. “Keluarkan” berarti barang tersebut akan didonasikan, dijual, didaur ulang, atau dibuang sesuai kondisinya. Sementara itu, “pikirkan kembali” menjadi tempat sementara untuk benda yang keputusannya belum jelas.

Cara ini membuat proses tidak terasa seperti harus mengosongkan satu ruangan dalam sekali waktu.

Kenapa cara ini lebih mudah?

Keputusan kecil membantu membangun momentum. Setelah beberapa benda berhasil diseleksi, Anda biasanya memiliki gambaran lebih jelas tentang barang seperti apa yang sebenarnya tidak lagi dibutuhkan.

Jangan mengejar rumah kosong. Tujuannya adalah membuat setiap barang memiliki alasan yang masuk akal untuk tetap berada di rumah.

Mulai dari barang mudah diputuskan membantu proses decluttering terasa ringan, terarah, dan membangun kebiasaan rapi. (BTV/AI)
Mulai dari barang mudah diputuskan membantu proses decluttering terasa ringan, terarah, dan membangun kebiasaan rapi. (BTV/AI)

2. Gunakan Pertanyaan “Kapan Terakhir Dipakai?”

Ada barang yang terasa penting hanya karena kita terbiasa melihatnya.

Coba ambil satu benda dan tanyakan: kapan terakhir kali barang ini benar-benar digunakan?

Pertanyaan tersebut dapat membantu membedakan barang yang masih memiliki fungsi dengan barang yang hanya memenuhi tempat penyimpanan.

Untuk pakaian, misalnya, jangan hanya bertanya apakah modelnya masih bagus. Perhatikan juga apakah pakaian tersebut masih dikenakan, masih sesuai ukuran, dan masih cocok dengan aktivitas sehari-hari.

Hal serupa berlaku untuk peralatan dapur. Jika sebuah alat hanya digunakan sekali dalam beberapa tahun dan memiliki fungsi yang bisa dilakukan dengan alat lain, Anda dapat mempertimbangkan apakah ruang penyimpanannya masih sepadan.

Namun, jangan menerapkan aturan waktu secara kaku.

Barang musiman, perlengkapan acara tertentu, dokumen penting, peralatan darurat, atau benda yang memang hanya digunakan sesekali tetap bisa dipertahankan jika fungsinya jelas.

Tanyakan kapan terakhir dipakai agar barang tersimpan benar-benar masih memiliki fungsi dan manfaat (BTV/AI)
Tanyakan kapan terakhir dipakai agar barang tersimpan benar-benar masih memiliki fungsi dan manfaat (BTV/AI)

Buat kategori “jarang dipakai tetapi penting”

Tidak semua benda yang jarang digunakan berarti tidak berguna.

Contohnya perlengkapan pertolongan pertama, payung cadangan, koper, perlengkapan perjalanan, atau dokumen tertentu. Barang seperti ini sebaiknya tidak langsung disingkirkan hanya karena jarang disentuh.

Yang perlu dikurangi adalah benda yang jarang digunakan, tidak memiliki fungsi jelas, dan tidak memiliki alasan kuat untuk disimpan.

3. Pisahkan Barang Sentimental dari Barang Sehari-hari

Foto lama, surat, hadiah, pakaian tertentu, hasil karya anak, atau benda peninggalan keluarga sering kali sulit disingkirkan karena memiliki nilai emosional.

Masalah muncul ketika semua barang sentimental bercampur dengan barang sehari-hari. Akibatnya, lemari dan laci yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rutin justru penuh oleh benda yang hanya sesekali dilihat.

Solusinya bukan memaksa diri membuang semuanya.

Buat satu tempat khusus untuk barang sentimental. Bisa berupa satu kotak, laci, atau rak dengan kapasitas yang sudah ditentukan.

Ketika tempat tersebut penuh, keputusan berikutnya menjadi lebih mudah: pilih benda yang paling bermakna dan keluarkan benda yang sebenarnya hanya disimpan karena rasa sungkan untuk membuangnya.

Cara ini juga membuat kenangan terasa lebih terorganisasi.

Sebuah foto lama, misalnya, tidak harus memenuhi beberapa album jika sebagian dapat disimpan dalam bentuk digital. Tetapi untuk benda yang memiliki nilai keluarga tinggi, pertimbangkan untuk tetap menyimpannya secara fisik dengan perlindungan yang baik.

Pisahkan barang sentimental agar kenangan tetap terjaga tanpa membuat ruang penyimpanan sehari-hari menjadi penuh dan berantakan (BTV/AI)
Pisahkan barang sentimental agar kenangan tetap terjaga tanpa membuat ruang penyimpanan sehari-hari menjadi penuh dan berantakan (BTV/AI)

Jangan memaksakan proses sekaligus

Nilai sentimental membutuhkan keputusan yang berbeda dibandingkan barang biasa. Jika sebuah benda membuat Anda ragu, masukkan ke kategori “pikirkan kembali” dan lanjutkan ke barang lain.

Decluttering tidak harus menjadi proses yang melelahkan secara emosional.

4. Terapkan Aturan “Satu Masuk, Satu Keluar”

Mengurangi barang akan sulit bertahan jika barang baru terus masuk tanpa ada yang keluar.

Karena itu, gunakan aturan sederhana: ketika satu barang baru masuk, pertimbangkan satu barang lama untuk keluar.

Aturan ini tidak berarti setiap pembelian harus langsung membuat barang lain dibuang. Prinsipnya adalah menjaga jumlah barang agar tidak terus bertambah tanpa batas.

Misalnya, ketika membeli satu jaket baru karena jaket lama sudah rusak, jaket lama dapat dikeluarkan dari lemari. Saat membeli wadah penyimpanan baru, cek kembali apakah ada wadah lama yang sudah tidak digunakan.

Cara ini sangat berguna untuk kategori yang cepat menumpuk, seperti pakaian, sepatu, tas, peralatan dapur, dan aksesori rumah.

Saat satu barang baru masuk, pertimbangkan satu barang lama untuk dikeluarkan agar jumlah barang tetap terkendali (BTV/AI)
Saat satu barang baru masuk, pertimbangkan satu barang lama untuk dikeluarkan agar jumlah barang tetap terkendali (BTV/AI)

Lebih baik berhenti sebelum membeli

Decluttering sebenarnya tidak hanya terjadi ketika Anda membereskan rumah. Prosesnya dimulai ketika hendak membawa barang baru ke rumah.

Sebelum membeli, tanyakan tiga hal:

  1. Apakah barang ini benar-benar dibutuhkan?

  2. Di mana barang ini akan disimpan?

  3. Apakah saya sudah memiliki barang dengan fungsi yang sama?

Jika ketiganya sudah terjawab, keputusan pembelian menjadi lebih terukur.

5. Sediakan Kotak Khusus untuk Barang yang Akan Keluar

Setelah barang dipilah, sering muncul masalah baru: barang sudah diputuskan untuk dikeluarkan, tetapi masih berada di rumah selama berminggu-minggu.

Akhirnya barang tersebut kembali masuk ke lemari.

Untuk menghindarinya, sediakan satu kotak atau area sementara yang khusus menampung barang yang sudah diputuskan untuk keluar.

Beri label sederhana seperti donasi, jual, daur ulang, atau buang.

Jangan menjadikan kotak ini sebagai gudang baru. Tentukan waktu untuk menindaklanjuti isinya.

Barang yang masih layak pakai dapat diberikan kepada orang lain atau disalurkan melalui lembaga yang menerima donasi. Barang yang masih memiliki nilai jual dapat dipasarkan jika memang sepadan dengan waktu dan tenaga yang dibutuhkan. Sementara benda rusak perlu dipilah sesuai jenis material dan aturan pembuangan yang berlaku di wilayah masing-masing.

Sediakan kotak khusus agar barang terpilah segera keluar rumah dan tidak kembali menumpuk, demi hunian lebih lega (BTV/AI)
Sediakan kotak khusus agar barang terpilah segera keluar rumah dan tidak kembali menumpuk, demi hunian lebih lega (BTV/AI)

 Baca Juga: 5 Kebiasaan Sederhana Agar Barang Rumah Tangga Terhindar dari Noda

Mengapa langkah ini penting?

Keputusan decluttering baru benar-benar selesai ketika barang tersebut keluar dari ruang hidup utama.

Kalau barang hanya berpindah dari lemari ke sudut kamar, sebenarnya masalahnya belum selesai. Ruang terlihat lebih kosong sementara jumlah barang tetap sama.

6. Jadwalkan Decluttering dalam Sesi Pendek

Rumah tidak menjadi penuh dalam satu hari, sehingga Anda juga tidak harus menguranginya dalam satu hari.

Daripada menunggu akhir pekan lalu mencoba membereskan seluruh rumah sekaligus, buat sesi pendek dan teratur.

Misalnya, pilih satu laci, satu rak, satu bagian lemari, atau satu kategori barang. Setelah selesai, berhenti.

Pendekatan ini cocok untuk orang yang memiliki rutinitas padat karena prosesnya dapat disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

Buat target yang realistis. Misalnya, hari ini fokus pada meja kerja. Beberapa hari kemudian beralih ke satu bagian lemari pakaian. Minggu berikutnya, periksa area penyimpanan dapur.

Yang penting bukan seberapa cepat seluruh rumah berubah, melainkan apakah keputusan yang sudah dibuat bisa dipertahankan.

Jadwalkan decluttering secara rutin dalam sesi singkat agar rumah lebih teratur tanpa terasa melelahkan (BTV/AI)
Jadwalkan decluttering secara rutin dalam sesi singkat agar rumah lebih teratur tanpa terasa melelahkan (BTV/AI)

Clutter bukan sekadar persoalan tampilan

Psikolog Deacon Joseph Ferrari, PhD, profesor psikologi di DePaul University dan peneliti yang banyak mengkaji clutter, menjelaskan bahwa penelitian mengenai clutter berkaitan dengan stres, kecemasan, produktivitas, serta alasan psikologis mengapa seseorang sulit melepaskan barang.

Penelitian UCLA yang dilakukan Darby E. Saxbe, PhD dan Rena Repetti, PhD juga menemukan hubungan antara cara seseorang menggambarkan rumahnya sebagai penuh tekanan dengan pola kortisol harian dan suasana hati pada partisipan perempuan dalam studi tersebut. Temuan ini tidak berarti semua rumah yang penuh barang otomatis menyebabkan masalah kesehatan, tetapi menunjukkan bahwa persepsi terhadap lingkungan rumah dapat berkaitan dengan pengalaman stres.

Karena itu, mengurangi barang dapat dipandang sebagai upaya menciptakan ruang yang lebih mudah digunakan, bukan sekadar mengejar tampilan rumah yang sempurna.

Baca Juga: Uang Saku Sering Habis Sebelum Akhir Bulan? 7 Tips Mengatur Uang Saku agar Tetap Aman

Berapa Biaya untuk Mengurangi Barang di Rumah?

Decluttering sebenarnya dapat dilakukan tanpa membeli perlengkapan khusus. Kantong bekas yang masih layak, kardus, atau kotak yang sudah tersedia di rumah dapat digunakan untuk proses pemilahan.

Jika ingin membuat sistem penyimpanan sementara yang lebih rapi, berikut gambaran kebutuhan sederhana:

Kebutuhan Jumlah Estimasi Harga Total
Kotak penyimpanan sederhana 2 Rp20.000–Rp50.000 Rp40.000–Rp100.000
Label/stiker 1 set Rp10.000–Rp20.000 Rp10.000–Rp20.000
Kantong reusable 2 Rp10.000–Rp20.000 Rp20.000–Rp40.000
Total perkiraan     Rp70.000–Rp160.000

Harga tersebut merupakan perkiraan kebutuhan sederhana, bukan biaya wajib. Jika di rumah sudah tersedia kardus, kotak, atau tas yang dapat digunakan kembali, proses decluttering bisa dilakukan tanpa pengeluaran tambahan.

Kesalahan yang Sering Membuat Barang Kembali Menumpuk

Ada beberapa kebiasaan yang perlu diperhatikan setelah proses pemilahan selesai.

Pertama, jangan membuang barang hanya karena sedang ingin mengikuti tren hidup minimalis. Minimalis bukan berarti semua orang harus memiliki jumlah barang yang sama.

Kedua, jangan membeli terlalu banyak organizer sebelum mengetahui barang apa saja yang benar-benar perlu disimpan. Organizer seharusnya membantu sistem penyimpanan, bukan menjadi alasan untuk menyimpan lebih banyak benda.

Ketiga, jangan memindahkan barang yang tidak terpakai dari satu ruangan ke ruangan lain. Jika fungsi barang sudah tidak dibutuhkan, perpindahan tempat tidak menyelesaikan masalah.

Keempat, jangan menjadikan barang sentimental sebagai alasan untuk menyimpan semuanya. Pilih benda yang benar-benar memiliki makna.

Kelima, jangan memaksakan satu sesi decluttering terlalu lama. Rumah yang lebih tertata seharusnya membuat hidup terasa lebih praktis, bukan menambah beban.

Baca Juga: 7 Ide Konten Kreatif sebagai Hobi Seru Tanpa Harus Mengejar Jadi Influencer

Poin Penting

  1. Mulai dari barang yang paling mudah diputuskan.

  2. Tanyakan kapan terakhir kali sebuah barang benar-benar digunakan.

  3. Pisahkan barang sentimental dari kebutuhan sehari-hari.

  4. Terapkan prinsip satu barang masuk, satu barang keluar.

  5. Buat tempat khusus untuk barang yang sudah diputuskan keluar.

  6. Lakukan decluttering secara bertahap dan terjadwal.

Insight Redaksi

Mengurangi barang bukan perlombaan untuk membuat rumah terlihat kosong. Yang lebih penting adalah menciptakan ruang yang mendukung aktivitas sehari-hari.

Barang yang masih digunakan dan memberi manfaat tentu layak dipertahankan. Sebaliknya, benda yang hanya memenuhi tempat tanpa fungsi jelas perlu dievaluasi kembali.

Rumah yang terasa lega sering kali bukan karena ukurannya bertambah, tetapi karena barang di dalamnya lebih sesuai dengan kebutuhan penghuninya.

Tidak perlu menunggu rumah benar-benar penuh untuk mulai merapikan barang. Pilih satu laci hari ini, keluarkan benda yang sudah tidak dibutuhkan, lalu lihat seberapa besar perubahan kecil tersebut membuat ruang terasa lebih nyaman.

Bagikan artikel ini kepada keluarga atau teman yang sedang ingin merapikan rumah dan ikuti terus informasi lifestyle terbaru dari Balikpapan TV.

FAQ

1. Apa langkah pertama untuk mengurangi barang di rumah?

Mulai dari area kecil dan barang yang keputusan akhirnya mudah. Hindari langsung membongkar seluruh rumah agar proses tidak terasa terlalu berat.

2. Apakah barang yang jarang digunakan harus dibuang?

Tidak selalu. Barang yang jarang digunakan tetapi memiliki fungsi penting, seperti perlengkapan darurat atau barang musiman, tetap dapat disimpan.

3. Bagaimana dengan barang pemberian atau hadiah?

Nilai sebuah hadiah tidak selalu mengharuskan benda tersebut disimpan selamanya. Jika sudah tidak digunakan, pertimbangkan apakah barang tersebut masih memiliki fungsi atau makna yang benar-benar penting.

4. Apakah membeli organizer membantu decluttering?

Organizer dapat membantu setelah barang selesai dipilah. Namun, membeli terlalu banyak tempat penyimpanan sebelum mengurangi barang justru berpotensi mempertahankan penumpukan.

5. Berapa lama proses decluttering?

Tidak ada durasi yang berlaku untuk semua rumah. Sesi pendek dan rutin dapat menjadi pilihan yang lebih realistis dibandingkan memaksakan seluruh proses dalam satu hari.

6. Apakah rumah harus minimalis agar terlihat rapi?

Tidak. Rumah tetap dapat memiliki banyak barang dan terasa nyaman selama barang tersebut terorganisasi, mudah digunakan, dan sesuai dengan kebutuhan penghuninya.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
tips rumah Barang Tidak Terpakai Kerapian Rumah rumah minimalis organisasi rumah