Jangan Dibuang! Air Cucian Beras dan Kulit Pisang Bisa Jadi Pupuk Ampuh untuk Cabai dan Bawang

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 13:45 WIB
Penyiraman pupuk cair organik dari cucian beras menyuburkan tanaman cabai dan daun bawang segar. (BTV/Ai)
Penyiraman pupuk cair organik dari cucian beras menyuburkan tanaman cabai dan daun bawang segar. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 7 Menit

Topik: Memanfaatkan air cucian beras dan kulit pisang yang difermentasi menjadi pupuk organik cair (POC) murah untuk menanam bawang dan cabai di pekarangan rumah.

Ikhtisar: Limbah dapur harian ternyata memiliki nilai lebih apabila diolah menjadi pupuk organik cair. Air cucian beras mengandung nutrisi yang dapat dimanfaatkan tanaman, sedangkan kulit pisang dikenal sebagai sumber kalium alami. Dengan teknik fermentasi yang tepat, keduanya dapat diolah menjadi POC tanpa menghasilkan bau menyengat.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Harga pupuk yang terus berubah membuat banyak penghobi berkebun mulai mencari alternatif yang lebih hemat. Salah satu cara yang semakin diminati adalah memanfaatkan limbah dapur menjadi pupuk organik cair atau POC.

Air cucian beras yang biasanya langsung dibuang ternyata masih mengandung berbagai senyawa organik. Sementara itu, kulit pisang menyimpan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, terutama kalium. Ketika kedua bahan tersebut difermentasi dengan benar, hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk pendukung bagi tanaman bawang maupun cabai.

Penasaran bagaimana cara membuatnya tanpa menghasilkan bau busuk? Simak sampai selesai Ces!

Baca Juga: Tips Mengubah Rutinitas Harian Jadi Petualangan Kecil yang Menyenangkan

Mengapa Air Cucian Beras dan Kulit Pisang Cocok Dijadikan Pupuk Organik Cair?

Air cucian beras sering dianggap limbah rumah tangga biasa. Padahal, cairan ini masih membawa sisa pati, vitamin kelompok B, sedikit mineral, dan senyawa organik yang berasal dari permukaan beras.

Kulit pisang juga memiliki kandungan unsur hara yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Bahan ini dikenal mengandung kalium lebih tinggi dibanding beberapa limbah dapur lainnya sehingga sering dimanfaatkan dalam pembuatan kompos maupun pupuk cair.

Kombinasi kedua bahan tersebut menjadi menarik karena saling melengkapi. Air cucian beras menyediakan sumber makanan bagi mikroorganisme fermentasi, sedangkan kulit pisang menjadi bahan organik yang perlahan melepaskan nutrisi selama proses berlangsung.

Berbeda dengan pupuk kimia yang bekerja relatif cepat, pupuk organik cair dari limbah dapur cenderung memperbaiki kondisi media tanam secara bertahap. Penggunaan rutin membantu menjaga aktivitas mikroorganisme tanah sehingga akar tanaman berkembang lebih baik.

5 Tahapan Membuat POC dari Air Cucian Beras dan Kulit Pisang Tanpa Bau Menyengat

Fermentasi yang benar menjadi kunci utama. Bau tidak sedap biasanya muncul karena proses pembusukan, bukan fermentasi yang terkendali.

1. Gunakan air cucian beras pertama atau kedua

Air cucian pertama umumnya memiliki kandungan pati paling tinggi. Cairan ini dapat langsung digunakan sebagai bahan utama fermentasi setelah disaring dari kotoran yang terbawa.

Gunakan air yang masih segar agar proses fermentasi berlangsung lebih stabil. Hindari menyimpan air cucian beras terlalu lama sebelum dicampurkan dengan bahan lain.

Gunakan air cucian beras segar kaya pati sebagai bahan utama fermentasi yang telah disaring. (BTV/Ai)
Gunakan air cucian beras segar kaya pati sebagai bahan utama fermentasi yang telah disaring. (BTV/Ai)

2. Potong kulit pisang menjadi ukuran kecil

Kulit pisang yang dipotong kecil memiliki permukaan lebih luas sehingga mikroorganisme lebih mudah menguraikannya.

Potongan sekitar satu hingga dua sentimeter sudah cukup untuk mempercepat proses fermentasi tanpa perlu menggunakan alat khusus.

Memotong kulit pisang menjadi kecil mempercepat proses fermentasi karena mikroorganisme lebih mudah menguraikannya. (BTV/Ai)
Memotong kulit pisang menjadi kecil mempercepat proses fermentasi karena mikroorganisme lebih mudah menguraikannya. (BTV/Ai)

Baca Juga: Rahasia Restorasi Sepatu Kulit Kusam Cuma Pakai Minyak Alami

3. Tambahkan bahan pemicu fermentasi

Sebagian pegiat urban farming menggunakan larutan gula merah atau molase sebagai sumber energi bagi mikroorganisme.

Larutan tersebut membantu proses fermentasi berlangsung lebih cepat dibanding hanya menggunakan air cucian beras dan kulit pisang.

Larutan gula merah atau molase ditambahkan untuk mempercepat proses fermentasi bahan pemicu pupuk organik. (BTV/Ai)
Larutan gula merah atau molase ditambahkan untuk mempercepat proses fermentasi bahan pemicu pupuk organik. (BTV/Ai)

4. Simpan dalam wadah tertutup tetapi masih dapat membuang gas

Fermentasi menghasilkan gas sehingga wadah tidak boleh ditutup terlalu rapat tanpa ruang pelepasan tekanan.

Simpan di tempat teduh yang tidak terkena sinar matahari langsung agar suhu fermentasi tetap stabil.

Simpan wadah fermentasi di tempat teduh tanpa ditutup terlalu rapat agar gas dapat terbuang. (BTV/Ai)
Simpan wadah fermentasi di tempat teduh tanpa ditutup terlalu rapat agar gas dapat terbuang. (BTV/Ai)

5. Saring sebelum digunakan

Setelah proses fermentasi selesai, cairan dipisahkan dari ampasnya menggunakan kain atau saringan halus.

Ampas yang tersisa masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos sehingga hampir tidak ada limbah yang terbuang.

Cairan hasil fermentasi disaring halus, sementara sisa ampasnya dimanfaatkan menjadi bahan kompos ramah lingkungan. (BTV/Ai)
Cairan hasil fermentasi disaring halus, sementara sisa ampasnya dimanfaatkan menjadi bahan kompos ramah lingkungan. (BTV/Ai)

Baca Juga: Sering Meletakkan Tas di Kursi? Kebiasaan Sepele Ini Bisa Membuat Bentuknya Cepat Berubah

Bagaimana Cara Menggunakan POC untuk Tanaman Bawang dan Cabai?

Setelah proses fermentasi selesai, pupuk organik cair tidak langsung diberikan dalam kondisi pekat. Pengenceran diperlukan agar konsentrasi larutan tidak terlalu tinggi sehingga lebih aman bagi akar tanaman.

Pada tanaman bawang merah maupun bawang daun, POC dapat disiramkan ke media tanam pada pagi atau sore hari. Waktu tersebut dipilih karena suhu udara lebih rendah sehingga penyerapan nutrisi berlangsung lebih optimal dibanding saat terik matahari.

Untuk tanaman cabai, pupuk cair dapat diberikan secara berkala pada media tanam di sekitar pangkal batang. Hindari menyiramkan larutan terlalu dekat dengan batang utama agar kelembapan berlebih tidak memicu gangguan pada tanaman.

Selain melalui akar, sebagian pekebun juga memanfaatkan POC sebagai semprotan daun setelah diencerkan. Cara ini bertujuan membantu tanaman memperoleh nutrisi tambahan melalui permukaan daun.

Apa Saja Manfaat POC bagi Pertumbuhan Bawang dan Cabai?

Meski bukan pengganti pupuk utama, pupuk organik cair dari limbah dapur dapat menjadi pendukung pertumbuhan tanaman apabila digunakan secara rutin.

Pada bawang, media tanam yang memperoleh tambahan bahan organik umumnya menjadi lebih gembur sehingga perkembangan akar berlangsung lebih baik.

Sementara pada cabai, penggunaan pupuk organik membantu menjaga kondisi tanah tetap aktif secara biologis. Tanah yang sehat akan mendukung penyerapan unsur hara dari pupuk utama maupun dari lingkungan sekitar.

Selain itu, pemanfaatan limbah dapur sebagai pupuk juga membantu mengurangi jumlah sampah organik rumah tangga yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Mengapa Fermentasi Tidak Selalu Berbau Busuk?

Banyak orang menganggap proses fermentasi pasti menghasilkan bau menyengat. Padahal, bau busuk justru menjadi tanda bahwa proses yang terjadi lebih mengarah pada pembusukan daripada fermentasi yang terkendali.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

Fermentasi yang berjalan baik biasanya menghasilkan aroma asam manis ringan, mirip tape atau buah yang sedang difermentasi, bukan bau busuk yang menyengat.

Baca Juga: Gunting Baru Cepat Tumpul? Kebiasaan Memotong Benda Ini Ternyata Menjadi Penyebabnya

Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula

Penggunaan pupuk organik cair sebenarnya cukup sederhana, tetapi masih banyak kesalahan yang menyebabkan hasilnya kurang maksimal.

Menggunakan bahan yang sudah busuk

Kulit pisang yang telah membusuk dapat membawa mikroorganisme yang tidak diinginkan sehingga proses fermentasi menjadi tidak stabil.

Memberikan pupuk terlalu pekat

Larutan yang terlalu pekat dapat meningkatkan tekanan osmotik pada media tanam sehingga akar kesulitan menyerap air.

Menyimpan di tempat panas

Suhu yang terlalu tinggi dapat mengganggu aktivitas mikroorganisme selama fermentasi.

Tidak menyaring hasil fermentasi

Ampas yang masih ikut tersiram dapat menyumbat alat semprot maupun menimbulkan lapisan yang menghambat distribusi larutan.

Menganggap POC sebagai satu-satunya pupuk

Pupuk organik cair lebih tepat digunakan sebagai pelengkap program pemupukan. Tanaman tetap membutuhkan unsur hara yang seimbang sesuai fase pertumbuhannya.

Baca Juga: Banyak Orang Keliru Memilih Antrean, Trik Sederhana Ini Bisa Menghemat Waktu

Poin Penting

Insight Redaksi

Menanam sayuran di pekarangan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Dengan memanfaatkan limbah dapur seperti air cucian beras dan kulit pisang, masyarakat dapat mulai menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam skala rumah tangga. Meski hasilnya tidak instan seperti pupuk kimia, penggunaan pupuk organik cair secara konsisten menjadi langkah sederhana untuk mengurangi limbah sekaligus mendukung kebun yang lebih ramah lingkungan. Kada perlu menunggu lahan luas, bahkan beberapa pot cabai dan bawang di halaman rumah sudah bisa menjadi awal kebiasaan berkebun yang berkelanjutan, Ces.

Jika baru pertama kali membuat POC, buatlah dalam jumlah kecil terlebih dahulu. Cara ini memudahkan mengevaluasi proses fermentasi sekaligus mengurangi risiko bahan terbuang apabila hasilnya belum sesuai harapan.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang mengetahui bahwa limbah dapur sehari-hari masih bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik yang berguna.

Berkebun tidak harus mahal. Dengan kreativitas memanfaatkan bahan yang ada di rumah, setiap orang bisa mulai menanam pangan sendiri. Tetap ikuti informasi gaya hidup, pertanian rumahan, dan inspirasi sehari-hari hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

Baca Juga: Jangan Langsung Mengisi Penuh Koper, Urutan Menata Barang Ternyata Menentukan Banyaknya Ruang

FAQ

1. Apakah semua air cucian beras bisa digunakan?

Sebaiknya gunakan air cucian pertama atau kedua yang masih segar agar kandungan bahan organiknya masih optimal.

2. Berapa lama proses fermentasi berlangsung?

Umumnya sekitar 7–14 hari, tergantung suhu lingkungan dan metode fermentasi yang digunakan.

3. Mengapa hasil fermentasi berbau busuk?

Biasanya disebabkan oleh proses pembusukan, bahan yang kurang bersih, atau fermentasi yang tidak berjalan dengan baik.

4. Apakah POC dapat menggantikan pupuk kimia sepenuhnya?

Tidak. POC lebih tepat digunakan sebagai pupuk pendukung untuk membantu memperbaiki kondisi media tanam dan menambah nutrisi organik.

5. Tanaman apa saja yang cocok menggunakan POC ini?

Selain bawang dan cabai, pupuk organik cair dari air cucian beras dan kulit pisang juga dapat dimanfaatkan pada berbagai tanaman sayuran, tanaman hias, maupun tanaman buah dalam pot.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
POC air cucian beras pupuk kulit pisang fermentasi pupuk organik untuk cabai pupuk organik untuk bawang Pupuk Organik Cair