Durasi Baca: 5 menit
Ikhtisar: Mencuci beras tiga kali cukup untuk membersihkan permukaan, tetapi apakah klaim gizi terpenuhi?
Balikpapan TV - Hai Ces! Mencuci beras sebelum dimasak membantu mengurangi kotoran dan material di permukaan, tetapi terlalu sering mencuci juga dapat melarutkan sebagian vitamin dan mineral yang larut air.
Air cucian yang masih agak putih bukan otomatis berarti beras belum bersih. Warna keruh terutama berkaitan dengan pati permukaan, sehingga mengejar air sampai benar-benar bening bukan ukuran tunggal kebersihan beras.
Tiga kali cuci, apakah sudah cukup?
Buat kebiasaan sehari-hari, mencuci beras beberapa kali dengan air bersih dan gerakan ringan merupakan pilihan yang masuk akal.
Yang perlu dipahami, tidak ada dasar ilmiah yang bisa menetapkan bahwa tepat tiga kali pencucian membuat 90 persen kandungan gizi beras pasti tetap utuh. Kandungan nutrisi yang hilang dipengaruhi jenis beras, tingkat penggilingan, fortifikasi, banyaknya air, lama pencucian, dan cara memasaknya.
FAO mencatat bahwa pencucian beras giling dapat menyebabkan sebagian zat gizi larut air ikut terbuang. Data yang dihimpun FAO menunjukkan kehilangan saat pencucian dapat berbeda menurut jenis beras dan zat gizinya, termasuk tiamin, riboflavin, niasin, zat besi, kalsium, kalium, serta mineral lainnya.
Artinya, jumlah bilasan saja tidak cukup untuk menghitung persentase gizi yang tersisa.
Kenapa air cucian beras tidak langsung bening?
Ini bagian yang sering membuat orang ragu.
Air pertama biasanya tampak putih atau keruh karena membawa pati bebas dan material permukaan dari proses penggilingan. Penelitian yang dibahas oleh Evangeline Mantzioris, Program Director of Nutrition and Food Sciences sekaligus Accredited Practising Dietitian di University of South Australia, juga menjelaskan bahwa air cucian yang keruh berkaitan dengan pati bebas di permukaan beras.
Jadi, air yang masih sedikit keruh setelah beberapa kali bilasan tidak otomatis berarti beras masih kotor.
Sebaliknya, memaksa mencuci terus-menerus sampai air terlihat seperti air biasa juga bukan berarti gizinya semakin terjaga.
Yang hilang bukan cuma “kotoran”
Masalahnya muncul ketika pencucian dilakukan berulang kali atau terlalu lama.
Sebuah penelitian mengenai pengolahan beras menemukan bahwa pencucian dapat menyebabkan kehilangan vitamin B dan sejumlah mineral. Peneliti juga menekankan bahwa kehilangan nutrisi akibat pencucian berlebihan perlu diperhatikan.
Karena itu, ada dua kebutuhan yang perlu diseimbangkan: beras perlu dipersiapkan dengan bersih, tetapi tidak perlu dicuci secara berlebihan.
Panduan WHO mengenai pemeliharaan tiamin bahkan menyarankan, bila beras memang perlu dicuci, membilasnya sekali dengan sedikit air dingin dan menghindari memasak dengan air berlebih yang kemudian dibuang.
Namun, ini bukan berarti semua jenis beras harus diperlakukan persis sama. Jenis beras dan cara pengolahannya tetap penting.
Lalu, bagaimana dengan klaim “gizi tetap 90 persen”?
Nah, bagian ini perlu hati-hati.
Angka 90 persen tidak bisa digunakan sebagai patokan umum bahwa mencuci beras tiga kali akan mempertahankan 90 persen gizi.
Angka 90 persen yang sering muncul dalam pembahasan pencucian beras justru berkaitan dengan penelitian mengenai arsenik yang dapat diakses tubuh, bukan retensi total vitamin dan mineral. Dalam artikel yang ditulis Mantzioris, pencucian disebut dapat mengurangi sekitar 90 persen arsenik yang bioavailable pada kondisi penelitian tertentu, tetapi pada saat yang sama juga dapat membawa sebagian mineral keluar bersama air cucian.
Jadi, 90 persen arsenik berkurang tidak sama dengan 90 persen gizi tersisa.
Dua hal tersebut tidak boleh disama artikan.
Baca Juga: Botol Plastik Bekas 15 Cm Jadi Wadah Alat Tulis, Meja Lebih Rapi
Kalau air masih agak keruh, kapan harus berhenti?
Untuk memasak nasi sehari-hari, tidak perlu menjadikan kejernihan air sebagai satu-satunya target.
Lebih penting menggunakan air yang layak untuk mencuci dan memasak, membilas beras secukupnya, lalu memasaknya dengan metode yang tidak membuang banyak air setelah matang.
FAO menjelaskan bahwa memasak dengan air berlebih kemudian membuang airnya juga dapat meningkatkan kehilangan zat gizi yang larut air.
Jadi, kalau setelah beberapa kali bilasan air masih sedikit keruh tetapi tidak menunjukkan kotoran kasatmata, tidak ada alasan ilmiah untuk terus mencuci hanya demi mendapatkan air yang benar-benar bening.
Langkah praktis yang lebih masuk akal
- Periksa beras terlebih dahulu. Singkirkan benda asing atau butiran yang terlihat tidak normal.
- Gunakan air bersih yang layak untuk pangan.
- Bilas dengan gerakan ringan, tidak perlu menggosok atau meremas beras terlalu lama.
- Tiga kali bilasan bisa menjadi kebiasaan praktis, tetapi bukan angka sakral yang menjamin persentase gizi tertentu.
- Tidak perlu mengejar air sampai benar-benar bening.
- Masak dengan air secukupnya dan, bila menggunakan metode serap, hindari membuang air rebusan setelah matang.
- Perhatikan label kemasan. Beras tertentu, terutama yang sudah diproses atau diperkaya, dapat memiliki petunjuk memasak berbeda.
Mantzioris menyimpulkan bahwa saran terbaik tetap mencuci beras sebelum dimasak dan mengonsumsi beragam jenis serealia.
Tiga kesalahan yang sering dilakukan
Terlalu lama mencuci.
Mencuci sampai beras terus-menerus digosok dapat memperbesar kontak dengan air tanpa memberikan manfaat yang sebanding.
Menganggap air bening berarti gizi aman.
Kejernihan air tidak bisa dipakai untuk menghitung berapa persen vitamin dan mineral yang masih berada di dalam beras.
Membuang air rebusan dalam jumlah besar tanpa alasan.
Zat gizi larut air dapat ikut terbuang bersama air masakan. FAO mencatat bahwa metode memasak dengan air berlebih dan kemudian membuangnya dapat meningkatkan kehilangan nutrisi.
Poin Penting
- Mencuci beras membantu menghilangkan material permukaan dan kotoran.
- Air cucian yang agak keruh umumnya berkaitan dengan pati permukaan.
- Tidak ada bukti yang cukup untuk mengatakan “cuci tiga kali = 90 persen gizi pasti tersisa.”
- Pencucian berlebihan dapat menyebabkan sebagian vitamin dan mineral larut air ikut hilang.
- Memasak dengan air berlebih lalu membuangnya juga dapat menyebabkan kehilangan nutrisi.
- Angka 90 persen dalam sebagian pembahasan ilmiah dapat merujuk pada pengurangan arsenik dalam kondisi tertentu, bukan retensi gizi.
Insight Redaksi
Kebiasaan mencuci beras tidak perlu dibuat menjadi perlombaan mencari air paling bening.
Untuk dapur sehari-hari, pendekatan yang lebih masuk akal adalah bersih secukupnya, tidak berlebihan, dan tidak membuang air masakan tanpa kebutuhan. Yang perlu dihindari justru mengubah angka “90 persen” menjadi klaim gizi yang tidak didukung penelitian.
Kalau ingin mempertahankan kualitas gizi, perhatian sebaiknya tidak berhenti pada berapa kali beras dicuci. Jenis beras, proses penggilingan, kemungkinan fortifikasi, jumlah air saat memasak, dan apakah air masakan dibuang juga ikut menentukan.
Kalau kebiasaan kecil di dapur bisa dibuat lebih sederhana tanpa mengorbankan kebersihan, tiga kali bilasan dengan air bersih sudah menjadi titik praktik yang mudah diterapkan—tanpa harus mengejar air cucian sampai sebening kaca.
Bagikan artikel ini kepada keluarga atau teman yang masih mengira air cucian beras wajib bening sebelum nasi masuk rice cooker.
Satu kebiasaan sederhana ternyata punya cerita panjang soal kebersihan dan gizi. Tetap ikuti balikpapantv.id, teman update setia, bukan sekadar info biasa.
FAQ
Apakah beras wajib dicuci sampai airnya bening?
Tidak ada dasar untuk menjadikan air yang benar-benar bening sebagai satu-satunya indikator beras sudah bersih.
Apakah mencuci beras menghilangkan gizi?
Ya, sebagian zat gizi yang larut air dapat ikut hilang bersama air cucian. Besarnya kehilangan berbeda menurut jenis beras dan cara pengolahannya.
Apakah mencuci tiga kali pasti mempertahankan 90 persen gizi?
Tidak. Klaim persentase tersebut tidak dapat digeneralisasi dari bukti yang tersedia.
Mengapa air cucian beras putih dan keruh?
Salah satu penyebab utamanya adalah pati bebas di permukaan beras yang ikut terbawa air.
Apakah mencuci beras bisa mengurangi arsenik?
Pencucian dapat mengurangi sebagian arsenik, tetapi efektivitasnya bergantung pada jenis beras dan metode pengolahan.