Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Bukan Sekadar Bercanda, Psikolog Jelaskan Tanda Bullying Verbal dan Silent Treatment yang Sering Dianggap Sepele

AdminBTV • Jumat, 3 Juli 2026 | 11:55 WIB
Bullying verbal dan relasional dapat memicu trauma psikologis, menurunkan kepercayaan diri, serta berdampak hingga dewasa. (BTV/AI)
Bullying verbal dan relasional dapat memicu trauma psikologis, menurunkan kepercayaan diri, serta berdampak hingga dewasa. (BTV/AI)

Durasi: 6 menit

Topik: Bullying verbal dan relasional dapat meninggalkan dampak psikologis hingga masa dewasa.

Ikhtisar: Artikel ini membahas perbedaan konflik dan bullying, bentuk perundungan nonfisik, dampak pengucilan terhadap kesehatan mental, serta langkah yang dapat dilakukan korban untuk melindungi diri.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Perundungan tidak selalu berbentuk pukulan atau kekerasan fisik. Psikolog Klinis Rumah Dandelion, Rizqina P. Ardi Wijaya, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa bullying verbal maupun relasional sama-sama dapat meninggalkan luka psikologis yang bertahan hingga dewasa karena melibatkan ketimpangan kekuasaan dan intimidasi.

Masih menganggap ejekan atau pengucilan hanya perkara biasa? Coba simak sampai tuntas. Ada banyak hal yang sering luput disadari, Ces!

Baca Juga: Tips Membuat Makanan Sehat di Rumah Tanpa Ribet untuk Pemula

Apa saja bentuk bullying yang tidak melibatkan kekerasan fisik?

Banyak orang menganggap bullying hanya terjadi ketika ada kontak fisik. Padahal, bentuk perundungan yang paling sering muncul justru dilakukan melalui ucapan maupun hubungan sosial.

Menurut Rizqina P. Ardi Wijaya, M.Psi., Psikolog, terdapat bullying verbal yang dilakukan melalui kata-kata, seperti ejekan, hinaan, atau komentar yang terus-menerus merendahkan seseorang.

Selain itu, terdapat bullying relasional. Bentuknya berupa mengucilkan seseorang, sengaja tidak mengajak bergabung dalam kelompok, memperlakukan seseorang seolah-olah tidak ada, hingga berpura-pura menjadi teman hanya untuk memanfaatkan korban.

Meski tidak meninggalkan luka fisik, posisi korban tetap berada dalam situasi yang tidak seimbang. Hubungan sosialnya dipermainkan sehingga muncul rasa takut, malu, dan terintimidasi.

Dalam praktiknya, bullying relasional sering kali sulit dikenali karena terlihat seperti dinamika pertemanan biasa. Padahal, dampaknya dapat berlangsung lama apabila dilakukan secara berulang terhadap orang yang sama.

Mengapa konflik biasa berbeda dengan bullying?

Tidak semua perselisihan dapat disebut bullying. Perbedaan utamanya terletak pada adanya ketidakseimbangan kekuasaan atau imbalance power.

Rizqina menjelaskan:

"Perbedaan antara konflik dan bullying itu yang pertama adalah syaratnya ada imbalance power (ketidakseimbangan kekuasaan) jadi yang satu lebih kuat daripada yang lain. Kalau bullying, si orang satu lagi yang posisinya lebih rendah itu dia enggak bisa ngelawan karena dia ngerasa dia terintimidasi."

Dalam konflik biasa, kedua pihak memiliki posisi yang relatif setara. Masing-masing masih dapat menyampaikan pendapat, berdebat, atau mempertahankan argumentasi secara seimbang.

Sebaliknya, pada bullying korban merasa tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Pelaku berada pada posisi yang lebih kuat, baik karena kepribadian, jumlah kelompok, maupun kekuasaan yang diberikan oleh sistem.

Kondisi tersebut dapat ditemukan dalam berbagai lingkungan, misalnya hubungan guru dengan murid, atasan dengan bawahan, atau kakak kelas terhadap adik kelas.

Psikolog menilai kekuasaan yang diberikan oleh sistem sebenarnya bukan masalah. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kewenangan itu disalahgunakan untuk menekan pihak lain secara terus-menerus.

Bullying juga umumnya dilakukan secara sistematis dengan sasaran yang sama berulang kali, bukan sekadar insiden sesaat.

Baca Juga: Panduan Health Hack 5 Menitan Praktis untuk Rutinitas Kerja Lebih Sehat

Benarkah ucapan "cuma bercanda" bisa menjadi bentuk pembenaran?

Candaan bukan pembenaran menyakiti orang lain, empati dan tanggung jawab menjaga hubungan tetap sehat serta saling menghargai. (BTV/AI)
Candaan bukan pembenaran menyakiti orang lain, empati dan tanggung jawab menjaga hubungan tetap sehat serta saling menghargai. (BTV/AI)

Dalam kehidupan sehari-hari, candaan sering menjadi bagian dari interaksi sosial. Namun, candaan dapat berubah menjadi masalah ketika melukai orang lain dan pelaku menolak bertanggung jawab.

Menurut Rizqina, apabila seseorang merasa tersinggung atau terpicu, bisa jadi pengalaman tersebut mengingatkan pada luka yang pernah dialaminya.

Korban memang dianjurkan menyampaikan ketidaknyamanan secara asertif. Namun, di sisi lain, orang yang melontarkan candaan juga perlu peka terhadap respons lawan bicara.

Rizqina menegaskan:

"Kata 'cuma bercanda' itu kalau bisa jangan menjadikan tameng untuk membenaran apa yang kita lakukan, karena itu jadinya hanya pembenaran dan kita bersembunyi di balik kata itu. Kita tidak boleh menihilkan perasaan orang lain."

Perubahan ekspresi wajah, mendadak diam, atau menarik diri dari percakapan dapat menjadi sinyal bahwa seseorang sedang merasa terluka.

Alih-alih mempertahankan alasan bercanda, langkah yang lebih tepat adalah mengklarifikasi situasi dan meminta maaf apabila memang telah membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Baca Juga: Mengapa Toxic Relationship Membuat Mudah Sakit? Psikolog Ungkap Hubungan Mental dan Tubuh

Mengapa dikucilkan dan silent treatment terasa sangat menyakitkan?

Bagi sebagian orang, dikucilkan terasa lebih menyakitkan dibanding dimarahi secara langsung. Hal itu terjadi karena manusia memiliki kebutuhan dasar untuk diterima dalam hubungan sosial.

Ketika seseorang menerima silent treatment atau sengaja diabaikan tanpa penjelasan, otak berusaha mengisi kekosongan informasi dengan berbagai kemungkinan.

Sering kali skenario yang muncul justru bersifat negatif.

Menurut Rizqina, korban mulai mempertanyakan nilai dirinya sendiri. Mereka merasa mungkin kurang pintar, kurang baik, atau memang pantas diperlakukan demikian.

Ia mengatakan:

"Ketika dikucilkan, pemaknaan untuk orang yang dijauhi itu adalah semuanya jadi salah dia. Itu mempengaruhi self-esteem dan self-worth karena kita mempertanyakan diri sendiri, mempertanyakan capability dan kompetensi diri sendiri."

Dampak tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah.

Di dunia kerja, bentuk bullying relasional dapat muncul ketika seseorang sengaja tidak diundang rapat, tidak dilibatkan dalam diskusi penting, atau terus-menerus diabaikan dalam proses pengambilan keputusan.

Situasi itu membuat karyawan merasa keberadaannya tidak dihargai. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi motivasi bekerja hingga mendorong seseorang memilih mengundurkan diri.

Apa yang dapat dilakukan jika menjadi korban bullying?

Psikolog menilai langkah pertama adalah berani menyampaikan keberatan ketika merasa perlakuan yang diterima sudah melewati batas.

Kemampuan untuk berbicara secara tegas dan menetapkan batasan menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan mental.

Rizqina menekankan:

"Yang paling penting adalah mengembangkan kemampuan diri sendiri itu untuk bisa stand up for yourself (membela diri sendiri) dan membuat batasan (boundaries)."

Menurutnya, pelaku bullying kerap mengulangi tindakan karena menganggap korban tidak akan memberikan perlawanan.

Ketika korban mulai menunjukkan batas yang jelas, pelaku sering kali baru menyadari bahwa perilakunya telah mengganggu kenyamanan orang lain.

Selain itu, apabila bullying terjadi di sekolah atau tempat kerja, korban juga dapat mencari dukungan dari guru, pihak sekolah, atasan, divisi sumber daya manusia, atau orang yang memiliki kewenangan untuk menangani persoalan tersebut.

Baca Juga: Reset Mood Saat Stres Tanpa Mengganggu Aktivitas, Cukup Luangkan 2 Menit

Tips mengenali tanda bullying nonfisik

1. Perhatikan apakah perlakuan dilakukan berulang kepada orang yang sama.

2. Amati ada atau tidaknya ketimpangan kekuasaan antara pelaku dan korban.

3. Jangan menganggap pengucilan atau silent treatment sebagai hal sepele.

4. Sampaikan ketidaknyamanan secara asertif apabila merasa dirugikan.

5. Cari dukungan dari pihak yang dipercaya jika situasi terus berulang.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Fenomena bullying nonfisik masih sering luput karena bentuknya tampak biasa dalam pergaulan sehari-hari. Padahal, fakta yang dijelaskan psikolog menunjukkan dampaknya bisa terbawa sampai dunia kerja. Di Balikpapan maupun daerah lain, budaya saling menghargai perlu dibangun dari komunikasi sederhana. Kada semua candaan harus dipertahankan kalau sudah melukai orang lain. Peka pang penting. Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami batas antara bercanda dan perundungan. Terus ikuti informasi yang relevan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa perbedaan utama konflik dengan bullying?
Bullying melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sehingga korban merasa terintimidasi dan sulit melawan, sedangkan konflik terjadi pada posisi yang relatif setara.

2. Apakah mengucilkan seseorang termasuk bullying?
Ya. Mengucilkan, mengabaikan, atau memperlakukan seseorang seolah tidak ada merupakan bentuk bullying relasional.

3. Mengapa silent treatment bisa berdampak besar?
Karena korban cenderung menyalahkan diri sendiri sehingga memengaruhi harga diri dan rasa berharga.

4. Apa langkah awal jika menjadi korban bullying?
Berani menyampaikan keberatan, menetapkan batasan, dan mencari dukungan dari pihak yang memiliki kewenangan bila diperlukan.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media YouTube Rahasia Sehat, dengan judul "Bullying Bukan Sekadar Bercanda", oleh pembawa acara Ajeng bersama narasumber Rizqina P. Ardi Wijaya, M.Psi., Psikolog. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Redaksi BTV
#Rizqina P. Ardi Wijaya #bullying #silent treatment